Menikahi Adik Sahabatku

Menikahi Adik Sahabatku
Cemburu


__ADS_3

"Kau sudah bangun." Megan yang fokus melihat-lihat ponselnya menoleh ke arah Icha.


"Ehmm iya, ini jam berapa?" tanya Icha pada Megan.


"Ini baru jam tujuh."


"Sana cuci muka atau mandi." perintah Megan pada Icha.


Icha mengucek matanya perlahan dan menguap, sepertinya masih ada sisa-sisa rasa lelahnya akibat terlalu lama menangis.


"Aku sangat lapar."


"Tentu saja kamu sangat lapar, karena kamu sudah melewatkan makan siangmu dan juga ini sudah jam tujuh malam."


"Baiklah aku akan mandi dulu," turun dari tempat tidurnya dan bergegas menuju kamar mandi.


Selesai dengan ritual mandinya Icha kembali menghampiri Megan setelah dirinya selesai ganti baju. "Apa kamu tak salah memakai baju?" Megan yang mengamati Icha.


"Kenapa?"


"Udaranya sangat dingin diluar, apa kamu akan memaki baju terbuka seperti itu?"


"Ehmm iya, karena aku merasa gerah sehabis mandi."


"Baiklah kalau begitu, ayo." Megan berjalan lebih dulu didepan Icha, membuka daun pintu.


"Tunggulah aku, kenapa jalanmu cepat sekali?" Icha yang merasa jalannya tertinggal beberapa langkah berteriak pada Megan.


"Oh iya, maaf aku lupa kalau aku sedang bersama kamu." Megan kembali memelankan jalannya.


"Kau ingin makan apa?" tanya Megan pada Icha.


"Aku rasa aku ingin makan asam-asam daging."


"Makanan apa itu?" tanya Megan yang tak mengerti makanan khas Indonesia.


"Kau akan tahu nanti."


"Baiklah, "


Mereka meneruskan langkah kakinya menuju meja makan. Tetapi melewati ruangan tengah tempat berkumpulnya para pengusaha muda itu.


"Kenapa mereka semua berkumpul disana?" tanya Icha pada Megan.


"Kenapa memangnya." Megan.


"Ah tidak, aku sepertinya malas makan di meja makan sendirian." kata Icha berhenti sejenak.


"Kenapa malas, ada aku, aku akan menemanimu."


"Tidak, aku tidak mau."


"Lalu?" tanya Megan menaik turunkan alisnya.


"Aku akan makan di cafe sana saja."


Karena di kawasan Villa itu juga lumayan ramai, biasanya cafe akan buka sampai tengah malam, dan menyediakan berbagai macam menu makanan khas Indonesia.


"Baiklah terserah kau saja,"


"Ayo..."


Megan menggandeng tangan Icha, menuju cafe. Lalu memesan makanan yang dia inginkan tadi."Megan kau tau?"


"Tahu apa?" tanya Megan yang sedang mengamati ponsel ditangannya.


"Siapa perempuan berambut pirang tadi?"

__ADS_1


"Yang mana?" tanya Megan masih tak mengalihkan pandangannya dari ponselnya.


"Ck kau ini, lihatlah aku jika berbicara."


"Aku jadi merasa kau sedang mengabaikanku." omelnya pada Megan.


"Baiklah nona," menaruh ponselnya dimeja.


"Katakan, apa yang ingin kau tanyakan?"


"Siapa perempuan itu?"


"Yang duduk di sofa tunggal tadi?"


Icha mengangguk,"Bukankah kamu yang rapat dengan mereka tadi."


"Lalu kenapa malah kau tanyakan padaku." Megan.


"Aku rasa kamu mengetahui sesuatu dari pada aku." tanya Icha menyelidik, memandang Megan tajam.


"Ehmm iya baiklah, dia asisten dosen Arka."


"Kenapa?"


"Asisten dosen Arka."


"Kenapa ikut kemari, tak biasanya juga kan jika dia kemana-mana membawa asistennya."


"Padahal dia sendiri seorang karyawan, tapi sok-sok an menjadi bos segala." dumelnya.


"Itu haknya dia, lalu apa masalahnya denganmu?" tanya Megan mengompori.


"Tak ada," menggelengkan kepalannya pelan.


Setelahnya pemilik cafe itu menyajikan pesanan mereka, "Ini yang dinamakan asam-asam daging."


"Enak saja, diam dulu." menepis tangan Megan.


"Kenapa memangnya?"


"Kau belum cuci tangan."


"Oh Tuhan, kamu.." Megan sudah ingin mengeluarkan taringnya. Namun menuruti juga apa kata Icha.


"Nah begini baru benar." Icha yang ingin menahan tawa itu.


Makan malam mereka selingi dengan berbincang lagi, Icha tak ingin membahas lagi perihal Arka, dirinya sudah terlanjur sakit hati.


Tetapi ditengah-tengah makan malamnya, Arka berjalan di temani sekretarisnya yang bernama Jeni.


Mereka terlihat akrab, Icha yang melihatnya menjadi tak nafsu makan lagi. Bukankah ini kemauannya agar Arka tak mengganggunya lagi, tapi kenapa melihat pemandangan seperti ini membuatnya risau.


"Kenapa makanmu hanya kau aduk-aduk saja."


"Katanya kau sedang lapar?" tanya Megan yang tak sengaja melihat isi piring Icha itu.


"Aku menjadi tak nafsu makan."


"Ini kau habiskan saja semua."


"Selalu saja seperti itu kau ini kalau makan, bagaimana aku tidak kelebihan berat badan."


"Kau hanya makan seperempatnya saja, dan kau suruh menghabiskan aku semua."


"Besuk-besuk lagi jangan pesan banyak menu."


"Awas saja aku akan memintamu menemaniku buat nge-gym."

__ADS_1


"Baiklah, aku akan menemanimu."


Padahal Icha juga baru makan beberapa suap saja, melihat hal tak biasa membuat hatinya terbakar api cemburu. Megan tentu saja tidak mengetahui hal ini, karena posisi tempat duduk Megan berhadapan dengan Icha. Sedangkan Arka dan asistennya Jeni berjalan melewati punggung Megan.


Icha menaruh sendoknya di atas piring, ia berusaha mencuri dengar apa yang dibicarakan Arka dan juga Jeni. Tetapi sialnya hanya terdengar samar-samar saja di indera pendengarannya.


"Sudah habis, mau kembali apa kau masih ingin bengong saja?" tanya Megan yamg baru saja mengelap mulutnya dengan tisu.


"Baiklah ayo kembali."


🌷🌷🌷


Bilangnya ingin kembali, tapi malah bermain digazebo yang ditemani oleh Megan, padahal udara di pegunungan sangat dingin.


"Kau tahu, aku sangat menyukai tempat pegunungan seperti ini." Icha menghirup udara dan mengeluarkannya perlahan.


"Tapi aku rasa udara malam tak bagus untuk kesehatan." Megan.


"Bilang saja kalau kamu ingin ke kamar."


"Tidak, aku akan menemanimu dulu."


Ehmmm


Suara deheman dari seseorang di belakang mereka,"Siapa?" tanya Icha menoleh ke sumber suara. Ternyata Arka berdiri dibelakangnya. Ia telah mengisyaratkan lewat matanya pada Megan agar pergi dari sana.


"Hah dosen Arka, baiklah aku akan kembali ke kamar dulu,"


"Hei kau mau meninggalkan aku sendirian?" Icha berusaha menahan Megan.


"Tidak, bukan begitu, sepertinya urusan kalian perlu di selesaikan." Megan melepaskan tangan Icha dan kabur dari sana.


"Hah, sepertinya dia dan dosen Arka bersekongkol, awas saja nanti." dalam hatinya bermonolog.


"Apakah aku boleh duduk disini?" tanya Arka hati-hati.


"Duduk saja semaumu, aku akan pergi menyusul Megan."


Icha sudah akan bangkit dari tempat duduknya, tapi ditahan oleh dosen Arka.


"Tunggu dulu, aku perlu bicara padamu."


"Tak ada yang perlu dibicarakan."


Mereka terdiam beberapa saat, "Aku minta maaf soal tadi siang." lirihnya.


Icha menoleh kearah Arka,"Aku sudah memaafkannya."


"Lalu, apa artinya aku akan mendapatkan kesempatan kedua."


"Aku rasa kakak sudah mendapatkan ganti yang lebih romantis."


"Ganti, kau ini berbicara apa?"


"Iya, bukankah perempuan cantik tadi sangat cocok menjadi pasangan kakak."


Arka terdiam lagi, mencerna ucapan Icha, apakah Jeni yang dimaksud dari perkataan Icha.


"Jeni maksud kamu?"


"Dia tak ada hubungan apa pun selain asisten."


Arka memasukkan kedua tangannya kedalam saku jaketnya,"Tapi kenapa aku merasa jika kalian berpasangan akan sangat cocok."


"Tidak, aku akan tetap menunggu jawaban kamu."


dan

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2