Menikahi Adik Sahabatku

Menikahi Adik Sahabatku
Perkiraan Yang Salah


__ADS_3

Aksara dan Arka berbincang hingga tengah malam, mereka mengobrol banyak hal sambil meminum kopinya.


Tidak jauh dari apartemen Arka terdapat kedai kopi yang buka hingga dua puluh empat jam, "Apa kesibukanmu sekarang?" Tanya Aksara pada Arka.


"Aku sedang menangani proyek baru di bidang entertainmen."


"Heh kau ternyata Fuckboy juga." Aksara mencibir.


"Jangan samakan aku dengan pria diluar sana." Arka tak senang dirinya di samakan dengan pria yang suka bergonta ganti pasangan.


"Ck nyatanya kau menangani artis-artis cantik, apa kau yakin akan tahan godaan."


Arka hanya melirik Aksara malas, Aksara dan Devan adalah kakak beradik, mereka berdua juga sahabatnya, karena Aksara sering bersama Devan, sehingga entah banyak atau sedikit tentu saja Aksara juga tahu tentang Arka itu bagaimana.


"Aku sama sekali tak tertarik dengan mereka." Arka menjawab malas.


"Lalu artis cantik mana yang berhasil membuat seorang Arka patah hati?"


"Itu berbeda, dia yang dulu wanita yang polos dan baik hati, suka manja dan kemana pun ingin di temani."


"Tapi..."


Arka menjeda ucapannya, lalu pikirannya menerawang jauh ketika ingatannya masih bersama Icha dulu, mereka telah melakukan banyak hal bersama.


"Tapi apa?" Aksara menyesap kopinya dan mendengarkan cerita Arka dengan seksama.


"Seiring berjalannya semua telah berubah."


"Dia tidak sama dengan yang dulu lagi, dia sering bersama lelaki lain jika sedang tak bersamaku."


"Bagiamana mungkin bisa begitu?"


"Apa komunikasi kalian baik?"


"Dulu, dulu memang tak ada masalah dengan komunikasi kami."


"Tapi dirinya sering mengabaikan aku akhir-akhir dari sebelum perpisahannya hubungan kami."


"Lalu?" Aksara masih saja penasaran dengan cerita Arka, tidak tahu saja orang yang diomongin Arka itu adalah adiknya sendiri. Jika tahu begitu entahlah apa yang akan terjadi dengan Arka, Aksara dan juga Devan.


Mungkin bisa saja terjadi perang dunia ke tiga jika sedikit saja telah melukai adik kesayangan mereka.


"Aku menyewa wanita panggilan, malam ketika ia akan mengunjungi apartemen aku."


"Hah caramu membalas sakit hatimu sungguh meninggalkan trauma besar baginya." Aksara.


"Tidak, aku rasa itulah cara aku membalas sakit hatiku atas pengkhianatnya."


"Kenapa kamu begitu yakin, jika dia telah mengkhianatimu?"


"Banyak bukti foto-foto yang telah terkirim padaku dari orang suruhanku."


"Heh kau ini tak lebih dari seorang pecundang saja."


"Aku rasa caramu ini sungguh kuno, apa tak ada cara lain untuk memperbaiki hubungan kalian?"


"Aku rasa tidak."


"Bohong." Aksara membantah pengakuan Arka.


"Jika aku lihat matamu, masih menyisakan cinta di hatimu untuknya, walaupun aku tak tahu siapa perempuan yang kau cintai itu " Aksara menatap mata Arka dengan seksama.


"Sok tahu sekali kau ini."


"Ehmm iya, hubungan itu harus saling berkomunikasi dengan baik."

__ADS_1


"Aku rasa yang terjadi dengan kalian itu sebuah kesalahpahaman."


"Bisa saja kam pujaan hatimu itu sedang jalan dengan kakak laki-lakinya."


"Seperti aku dan adikku yang selalu jalan bersama dan kemana pun juga bersama." Aksara mengibaratkan dirinya dan adiknya yang selalu bersama ketika liburan atau sekedar jalan-jalan.


"Kau tahu, bahkan banyak yang mengira kami pacaran."


"Tetapi masalah kami dan kalian itu berbeda." Arka tetap kekeh dengan pendiriannya.


"Terserah kau saja, aku doakan semoga saja mantan pacarmu itu tak meninggalkan trauma besar untuk ke depannya."


"Perempuan seperti itu sudah tak akan pernah memikirkan masalah trauma."


Arka berbicara seperti ini karena dirinya hanya menyimpulkan yang dia tahu tanpa merasakan apa yang dirasakan oleh Icha.


"Itulah sebabnya aku selalu menjaga adikku dengan baik, agar tak ternodai buaya-buaya seperti..." Aksara melirik ke arah Arka.


"Kau mengataiku." Arka.


"Bukan mengatai, tetapi memang kenyataan."


Seketika camilan di atas piring Arka mendarat ke arah Aksara, tetapi masih bisa ditangkap baik Aksara.


Padahal obyek yang mereka omongkan juga adiknya, bagaimana bisa Aksara dan Devan kecolongan seperti ini.


***


.


.


.


Pagi hari Icha memulai aktivitas paginya, membuka jendela kamarnya, obyek pertama yang ia lihat sudah membuat moodnya sangat berantakan.


Icha turun ke lantai dasar, membuat sarapan untuk dirinya dan teman-temannya, dengan memanggang roti dan selesai saja, terdengar bunyi dering panggilan di ponselnya.


"Kakak akan ke sini, baiklah aku tunggu."


Icha segera menghabiskan sarapannya dengan cepat, lalu segera membersihkan diri, jangan sampai ketika kakaknya datang dirinya masih acak-acakan.


Bisa-bisa mendapatkan cibiran dari kakak keduanya itu. Brakkk pintu terbuka dengan kasar. "Icha kau ini pagi-pagi sudah sangat berisik." Megan yang masih tidur menutup kedua telinganya dengan bantal.


"Aku akan pergi, kau mau pesan apa?" Icha.


"Terserah kau saja, jika mau pergi ya pergi saja, jangan menggangguku."


"Hah baiklah miss pemalas." Icha berlalu meninggalkan Megan yang masih terlelap dalam mimpinya.


Sedangkan Yuju, Hana dan Hyun sudah menjadi kebiasaan mereka jika akhir pekan seperti ini akan bangun siang.


Icha yang sudah rapi menunggu di teras depan, dirinya menggunakan Pegged pants dan kaos tanpa lengan yang di balut dengan mantel panjang dan sepatu boot.


Musim dingin sudah tiba, sehingga kemana pun ia pergi tak pernah meninggalkan mantelnya. "Mau berkencan iya nona." Tanya pekerja yang sedang memotong rumput di taman.


"Iya begitulah pak, namanya juga anak muda, iya berkencan cari pacar baru." Canda Icha.


"Jangan lupa oleh-olehnya iya non, jika kembali nanti."


"Ehmm iya bapaknya pesan apa?" Icha.


Arka yang melihat dari balkon apartemennya merasa murka melihat keakraban mereka berdua,"Cieh sungguh murahan."


"Tidak tahu malu, bisa-bisanya merayu tukang potong rumput."

__ADS_1


Jika sudah gelap mata dan gelap hati, apa pun yang dilakukan orang di benci akan selalu salah, seperti Arka saat ini.


Dirinya berlalu dari sana dan kembali lagi menutup pintu balkon apartemennya.


"Hah itu dia datang." Icha menyambut dengan sangat antusias.


Lalu berlari mengejar Aksara dan memeluknya, ketika kakaknya itu baru saja keluar dari mobil.


Bukkk


Icha menabrakkan dirinya pada tubuh Aksara,"Kau ini masih saja seperti anak kecil, bisa tidak lebih hati-hati dalam bertindak."


"Sudah iya stop, kakak kesini mau mengajakku jalan-jalan kan."


"Iya, kenapa memangnya."


"Kalau begitu ayo, aku tak mau mendengarkan ceramah kakak lagi."


Icha menyeret kakaknya masuk ke dalam mobil, padahal kakaknya belum selesai bicara.


"Hei kau ini tak sopan iya, orang tua bicara malah main ditarik-tarik saja."


"Kakak, ini bukan waktunya ceramah iya, sudahlah simpan saja ceramahnya nanti untuk calon istri kakak."


"Dasar adik durhaka kau ini." Aksara menyentil kening adiknya gemas.


"Auuuh sakit tahu." Memegang keningnya dan mengaduh kesakitan.


Diatas balkon sana Hana si ratu heboh juga mengamati interaksi antara Aksara dan juga Icha. "Yuju...sini, Yuju...cepetan."


"Apaan sih kamu ini teriak-teriak saja seperti di hutan."


"Aku masih dengar tahu."


"Lihatlah temanmu itu, sudah berganti teman kencan lagi sepertinya."


"Siapa?" Yuju ikut mengamati arah pandang Hana.


"Itu." Tunjuk Hana pada Icha dan juga Aksara.


"Bilang saja kalau kamu iri non."


"Cielah mana ada seperti itu, aku hanya penasaran saja, bagaimana caranya Icha menggaet lelaki tampan dan kaya."


"Bisa-bisanya para lelaki tampan, muda dan kaya terpikat padanya." Hana malah berkhayal.


"Bangun nona, bangun...!!! kalau mimpi itu jangan ketinggian iya, nanti kalau jatuh bisa nyungsep." Yuju malah meladeni kekonyolan Hana.


"Hei kau tahu, para miliader itu hidupnya berawal dari mimpi, lalu mereka berusaha mewujudkannya." Hana.


"Aku juga akan seperti itu." Hana senyum-senyum sendiri jika membayangkan.


"Ck...terserah kau saja, yang penting jangan kau ambil laki orang." Yuju.


"Ogahlah aku mengambil laki orang."


"Berkhayal nya teruskan nanti saja, mandi sana bau tahu." Yuju pura-pura menutup kedua hidungnya dengan tangannya.


"Walaupun belum mandi gini putri cantik tetap wangi kok." Hana sengaja membuka keteknya ke arah hidung mancung Yuju. Dasar teman tak ada akhlaknya memang Han ini.


Icha saat ini sedang dalam perjalanan menuju ke sebuah perbelanjaan pakaian dam perhiasan.


dan


Bersambung

__ADS_1


Jika waktu luang aku suka loh baca komenan kalian.


Readernya Arka ditunggu komennya dong


__ADS_2