
"Baiklah ayo, benar benar seperti seorang penguntit saja kita hari ini."
"Bukan seperti seorang penguntit, memang kita sudah menguntit begini." jawab Megan mencibir Icha.
Membuat Icha menahan tawanya, hal konyol yang ia lakukan ini menyeret Megan asistennya juga.
"Baiklah sebagai gantinya aku akan mentraktirmu, apa saja yang kau minta kau boleh membelinya." kata Icha, kini mereka sudah berjalan menjauh dari tempatnya tadi menguntit Hana dan juga Alex.
"Benarkah?" tanya Megan memastikan.
"Iya, asalkan tidak menyulitkanku."
"Hemm baiklah, tidak sulit, aku hanya ingin di traktir tas Chan** saja." kata Megan.
"Oke, aku rasa tidak sulit kan." kata Icha mengangkat bahunya.
Mereka berjalan menuju hotel terlebih dulu untuk membersihkan diri dan berganti pakaian. Lalu barulah jalan jalan kembali tidak lupa Frans pengawal yang dikirim Arka untuk Icha, yang selalu mengikuti kemana pun mereka pergi.
"Aku sudah selesai ayo." kata Icha, tangannya menyahut tas di atas meja.
"Hemm iya sebentar, apa aku sudah cantik?" tanya Megan bercermin sekali lagi.
Icha melirik Megan yang masih berputar putar di depan cermin sedari tadi. "Aku rasa kamu seperti orang yang akan pergi berkencan jika begitu."
"Aku jadi curiga, apa jangan jangan." ucapan Icha menggantung. Lalu salah satu tangannya menutup mulutnya.
"Apa??" tanya Megan.
"Kau jangan ngada ngada iya, aku hanya ingin tampil cantik saja hari ini." kata Megan.
"Aku merasa jika kamu menyukai seseorang, karena tidak biasanya kamu tampil seperti ini."
Icha mengamati penampilan Megan dari atas ke bawah, lalu kembali lagi ke atas.
"Udah ahh ayo,"
Megan tidak menanggapi dugaan dugaan aneh dari Icha. Ia sendiri pura pura pura tidak tahu.
"Kenapa diam di tempat saja, ayo." kata Megan menoleh ke belakang.
"Apa kamu menyukai Frans?" bisik Icha di telinga Megan.
Blushhhh seketika membuat pipi Megan merona merah, bagaikan tomat yang warnanya merah merekah. "Tuh kan, aku meyakini jika kau menyukainya."
Kini mereka berjalan, menuju sebuah outlet terdekat, lewat pencarian di g**gling search.
"Kau jangan bilang siapa siapa," balas Megan pelan pada Icha.
"Kenapa malah kamu menertawakanku." tanya Megan.
"Tidak, tidak ada."
__ADS_1
"Sudah ayo," ajak Icha lagi.
Dalam benaknya Icha ia membayangkan hal hal konyol selanjutnya apa yang akan terjadi, seketika ide jahilnya muncul.
"Mampir dulu makan di restauran." teriak Icha pada Frans.
Saat ini mereka sudah berada di dalam mobil yang mereka sewa dari hotelnya tempat menginap, Icha tidak membutuhkan tour guide, karena daerah ini masih daerah kakek dan nenek buyutnya.
"Loh kok makan?" tanya Megan bingung, dengan detak jantung yang tak karuan.
"Kenapa memangnya, apa kamu tidak lapar??"
"Ohh atau jangan jangan kamu sedang diet?" tanya Icha pada Megan dengan matanya yang masih fokus menatap layar ponselnya, berbalas pesan dengan suaminya Arka.
"Ahh iya aku juga lapar." jawab Megan kaku.
"Jangan kaku seperti ini, atau kau akan dianggap perempuan aneh sama lelaki dingin itu." bisik Icha di telinga Megan.
Membuat Megan melirik ke arah depan, yang wajahnya bisa dilihat dari kaca spion, membuat hati Megan terasa meletup letup bahagia.
"Bersikaplah biasa saja, jangan kau tunjukkan sesuatu yang aneh di hadapannya." bisiknya Icha lagi.
"Sudah sampai nona."
Mobil yang membawa mereka sudah sampai di depan restauran, namun kedua perempuan yang duduk dibelakang itu tidak menyadari. Hingga suara bariton menginterupsi keduanya.
"Ah benarkah, baiklah." jawab Megan tergagap.
"Ayo kamu juga ikut makan bersama kami." perintah Icha pada Frans.
"Ah tidak nona terimakasih." tolak Frans sopan sambil membungkukkan badannya.
"Ini perintah tidak ada penolakan." kata Icha sambil melirik Megan.
Tetapi Megan menggelengkan kepalannya, tanda ia tak setuju. Icha tak lagi bersuara, namun langkah kakinya malah mendekat ke arah Frans, dan tanpa di duga Icha sendiri yang menggandeng tangan Frans dan menyeretnya masuk ke dalam restauran.
"Nona saya masih kenyang nona."
Icha seolah menulikan pendengarannya, sedangkan Megan masih terdiam di tempatnya untuk beberapa saat, tetapi ketika dirinya menyadari, barulah menyusul Icha dan Frans masuk kedalam.
Mereka memilih tempat duduk yang nyaman, dipinggir jendela yang viewnya mengarah langsung pada tanaman di luar.
"Ini silahkan kalian pilih dulu."
Megan dan Frans memegangi buku menu secara bersamaan, hingga tangan keduanya saling tertaut, namun bukan tautan yang romantis, ini tidak sengaja, "Ah kamu dulu tidak apa apa." kata Megan menarik tangannya.
"Tidak, kamu duluan saja." jawab Frans dengan suara datarnya tanpa ekspresi.
"Tidak kamu saja."
"Hei kalian tidak usah berantem seperti ini iya, hanya perkara soal memilih makanan, bukan ajang untuk berdebat." teriak Icha reflek. Icha memandang keduanya bergantian.
__ADS_1
Terlihat sekali jika wajah Megan memerah menahan detak jantungnya yang tak bisa dikondisikan, sedangkan Frans terlihat lebih santai dan tenang.
"Baiklah ini jadi makan apa tidak, kenapa malah jadi diam begini?" tanya Icha, menyilangkan kedua tangannya di dada.
"Maafkan saya nona." Frans.
"Ayo sekarang kalian pilih."
Tanpa menjawab lagi Frans mengucapkan pesanannya pada pelayan, lalu kembali menyodorkan buku menu pada Megan.
"Ak..aku samakan saja denganmu." ungkap Megan sampai tergagap ketika berbicara.
"Kau dengar itu?" tanya Frans 0ada pelayan.
"Baik tuan,"
"Aku Sashimi, natto, malatang level 5." sahut Icha.
Begitu pelayan itu pergi, Icha mengamati Megan dan Frans bergantian. "Mereka sangat kaku." batin Icha ingin tertawa dalam hati.
"Frans."
"Iya nona."
"Kamu kerja apa?"
"Saya kerja mengawal anda nona."
"Ck, bukan itu maksud itu, kamu sebelum ikut aku kerja apa?"
"Seadanya nona." jawab Frans datar tanpa ekspresi.
"Ck, menyebalkan, sebelas dua belas dengan suami aku lagi, pantas saja menyuruhnya menjadi pengawalku." batin Icha bermonolog, rasanya tangannya sudah gatal ingin menonjok muka menyebalkan Frans.
"Contohnya?" tanya Megan menimpali. Namun sama sekali tak ada tanggapan dari Frans, hal itu membuat Megan berkecil hati, terlihat dari ekspresi wajahnya.
"Contohnya apa?" Icha mengulang pertanyaan yang sama.
"Menjadi sopir pribadi, tukang kebun, atau kerjaan apa saja saya lakukan nona." jawab Frans akhirnya.
"Ck, kau bisa banyak bicara juga ternyata, aku mengira jika kau sangat irit bicaramu." Icha menyilangkan kedua tangannya setelah berkata demikian.
"Kau tinggal dimana sebelum bersama kami?" tanya Icha.
"Saya rasa saya tidak sedang melakukan wawancara kan nona." jawab Frans, membuat Icha jengkel untuk yang ke beberapa kalinya.
"Ck, kau ini, pantas saja tak memiliki pasangan, karena bicaramu yang sangat menyebalkan." Balas Icha pada Frans.
"Kalau soal jodoh itu urusan Tuhan nona, saya rasa anda tidak perlu repot repot untuk mengurusnya."
"Iya kau benar, jodoh memang urusan Tuhan, tapi jika ada perempuan yang bertemu laki macam kamu jadi ogah mau dekat dekat." kata Icha, berbicara pelan namun penuh penekanan. Ekor matanya melirik ke arah Megan. Mengisyaratkan jangan berbicara yang tidak tidak. Tapi jiwa bar bar Icha tidak bisa ditahan.
__ADS_1