Menikahi Adik Sahabatku

Menikahi Adik Sahabatku
Butuh Masukan


__ADS_3

"Sayang jangan marah padaku lagi, atau kamu tidak di ijinkan keluar dari kamar ini." kata Arka mengeluarkan sebuah ancaman.


Tidak boleh keluar akan mengerikan bagi Icha, lebih baik dirinya berbaikan saja dengan suaminya. "Aku tidak marah hanya sedang kesal saja." kata Icha. Tetapi nada bicaranya masih terdengar ketus.


"Baiklah, janji jangan marah lagi," jawab Arka sambil sesekali menciumi puncak kepala Icha penuh perasaan.


"Kamu memakai sampo apa? kenapa wangi sekali?" tanya Arka.


"Ya tidak tahu,"


"Mana bisa tidak tahu begitu." jawab Arka.


"Iya memang tidak tahu, aku kan memakai sampo yang ada di dalam kamar mandi itu, ya sudah aku pakai saja." jawab Icha.


"Kenapa wanginya beda dengan yang aku pakai." kata Arka, lalu kembali melayang ciuman bertubi tubi dipuncak kepala Icha. Hingga menimbulkan sensasi geli.


"Sayang jangan seperti ini, aku tidak mau mandi lagi, kepalaku sudah terasa panas tahu." kata Icha protes pada suaminya.


"Iya tidak usah mandi lagi, mandinya nanti saja."


Tatapan memuja begitu terlihat jelas diwajah Arka. Suaminya terlihat menyeringai, ada maksud terselubung.


Pagi setengah siang itu terjadi lagi kegiatan suami istri. Sepertinya Arka sedang dimabuk asmara. Seluruh pakaian Icha sudah entah kemana perginya. Kali ini berganti posisi Icha yang ada diatas tubuhnya.


"Kok aku yang diatas?"


"Menarilah sayang?"


"Menari?" Icha membeo.


Lalu tangan Arka membimbing Icha, agar sesuai yang dia inginkan. Ini kegiatan yang paking memabukkan sepanjang hidup mereka. Dan sepertinya Arka tidak akan bisa jauh jauh dari suaminya.


Tangan Icha sesekali mencengkram pundak Arka, dan mengeluarkan suara erotis yang membuat Arka sangat bersemangat.


Hingga dititik puncaknya, milik Arka dicengkram oleh istrinya. membuat keduanya berteriak saling memanggil nama keduanya masing masing.


Belum puas sampai disitu, Ternyata Arka membalikkan badan istrinya. Memompa dengan gerakan dan nafas yang terengah engah.


"Kau membuatku gila sayang." bisiknya ditelinga Icha.


"Ahhh Kak Arkkkkaaaaaa."


******* kedua kalinya telah terjadi, tubuh Arka ambruk diatas tubuh istrinya, dengan mengecupi wajah Icha yang kembali basah akibat keringat yang bercucuran di dahinya.


"Sepertinya aku sangat kelelahan, bagaimana kalau aku tidak bisa jalan."


"Penampilanku diatas panggung pasti tidak bisa maksimal." keluh Icha yang sudah bersandar di dasboard ranjang tempat tidur.


"Berendam di air hangat akan membuat area inti kamu rileks." kata Arka. Yang baru saja keluar kamar mandi dengan handuk yang melilit ditubuhnya. Dan rambutnya yang basah membuatnya sangat terlihat mempesona berkali kali lipat dibanding biasanya.

__ADS_1


"Apaan," jawab Icha tidak jelas lantaran dirinya terpesona dengan rupa suaminya yang membuatnya mabuk kepayang.


"Apanya? kenapa wajahmu memerah?"


"Apa kamu sedang sakit?" tanya Arka memandangi wajah istrinya.


"Tidak siapa yang sakit,"


"Aku hanya memikirkan sesuatu saja." jawab Icha memalingkan wajahnya. Dirinya menjadi salah tingkah dibuatnya.


"Apa perlu aku mandikan?" tawar Arka lagi. Yang membuat Icha mengangguk.


Arka mengangkat tubuh Icha dan membawanya ke dalam bathup, untuk berendam disana. "Jangan macam macam lagi, aku sudah lelah."


"Tidak, mungkin hanya satu macam." jawab Arka. Yang malah mendapatkan cubitan diperutnya.


"Ahhhhh sayang, ini namanya Kdrt." teriak Arka.


"Biarin saja, kamu tidak ada lelah lelahnya, ini sudah siang, mereka nanti akan mencariku." ucapnya kesal.


"Baiklah, tapi kenapa aku tidak rela melepas istriku." katanya lagi.


Dengan perdebatan panjang lebar, akhirnya Arka melepaskan Icha. Membawanya keluar dan dan mendudukkan diatas meja Wastafel kamar mandi. Lalu mengelap tubuh halus Icha. Padahal tadi dirinya sudah berniat ikut nyebur masuk kedalam bathup.


"Setelah ini aku akan konser keliling Negara, apa kamu juga akan membuntutiku?" tanya Icha lagi.


Mereka makan dengan terburu buru, bukan mereka lebih tepatnya Icha yang terburu lantaran dirinya takut dicari oleh teman temannya. Terlebih lagi Megan. Kemana perginya anak itu, kenapa tidak ada mencari dirinya.


"Aduh bagaimana ini, leherku merah merah semua?" kata Icha, ketika melihat bayangan dirinya sendiri yang penuh dengan stempel merah dilehernya.


"Pakai bedakmu,"


"Ah iya, kenapa tidak dari tadi." teriak Icha. Icha menjadi curiga pada suaminya sendiri, kenapa benda seperti itu ada ditas suaminya.


"Aku tanya padamu, kamu jawab jujur, kenapa benda seperti ini ada ditas kakak?" tanya Icha,matanya menajam mengintimidasi suaminya.


"Aku menyiapkan khusus untuk istriku, jadinya benda itu selalu ada ditasku." jawab Arka santai.


Icha menelisik wajah suaminya, untuk mencari kebohongan disana, namun tak juga ia temukan.


"Baiklah aku percaya padamu." katanya.


"Sini biar aku saja yang pakaikan." Arka sudah mau merebut bedak Foundation dari tangan Icha. Tetapi Icha mengangkatnya ke udara.


"Tidak, aku tidak mau, karena aku tidak akan tertipu lagi untuk yang kedua kalinya." ucapnya sarkas. Tetapi malah mengundang tawa suaminya.


"Setelah ink kamu bekerja yang benar, jangan membuntutiku terus menerus."


"Aku juga sedang mengejar impianku."

__ADS_1


"Jangan halangi aku." ceramah Icha begitu panjang lebar.


Arka terdiam saja mendengarkan ocehan istrinya, karema semakin diladeni akan semakin membuatnya naik pitam.


"Baiklah aku pergi dulu."


"Tunggu dulu."


"Apa lagi sih."


"Kasih aku penyemangat dulu."


"Apaan?" Icha sudah bersungut sungut.


Lalu cup, beberapa kecupan mendarat di seluruh wajah halus Icha, terakhir mendarat di bibirnya.


"Sekarang kamu boleh pergi." kata Arka. Setelah mendapatkan apa yang ia mau.


"Ck, kalau sudah dapat maunya saja aku di usir, awas saja iya, tak akan ada jatah selama satu bulan."


Berjalan keluar dari kamar dengan kaki dihentakkan kesal. "Kenapa kamu bicara sendiri?"


Suara Alex menginterupsi, Icha yang sedang ngedumel tidak jelas. "Tidak apa apa, hanya sedang ingin makan orang saja."


"Lagi mau dapat tamu bulanan iya, makanya berubah jadi kayak nenek lampir." ledek Alex.


"Apaan, orang cantiknya begini dibilang kayak nenek lampir." ketus Icha.


"Habisnya aku merasakan aura negatif keluar darimu."


"Terserahlah, aku tak peduli." jawab Icha. Lalu berjalan tanpa menghiraukan Alex lagi.


"Ck, dia marah marah, apa kurang sajen. Sampai membuat mukanya berubah kayak nenek sihir seperti itu." gumam Alex pelan, lalu menggelengkan kepalanya.


"Atau karena tidak mendapatkan jatah." gumamnya lagi.


Alex sudah tahu, jika seperti ini akan terjadi pada bosnya. Sepertinya dirinya juga membutuhkan Arka agar misinya berhasil untuk mendekati Hana. Maka dari itu Alex berniat untuk menemui Arka kembali.


Tetapi malah bertemu Icha. "Ada apa?" setelah Arka membuka pintu unit kamarnya ketika mendengar suara ketukan pintu.


"Tidak apa apa, aku ingin membicarakan hal penting padamu."


Padahal Alex paling anti dekat dan tertarik dengan perempuan mana pun, tetapi kali ini sepertinya membuat hatinya mencair. Terbukti ketertarikannya pada Hana.


Membuat Arka memberikan sebuah taruhan padanya. "Masuklah." jawab Arka datar.


Alex membuntuti Arka, masuk kedalam kamar hotelnya dan duduk di balkon kamar Arka.


Baru saja duduk, terlihat pemandangan yang membuat jantungnya berdetak tidak karuan.

__ADS_1


__ADS_2