Menikahi Adik Sahabatku

Menikahi Adik Sahabatku
Jalan Bertiga


__ADS_3

"Hey aku ini bukan sopir kalian iya."


Tersangkanya malah tertawa cekikikan merasa tak bersalah, Icha malah seperti meledek Arka.


"Sebaiknya kalian bersikap sopan pada guru kalian, bukannya malah menyuruhnya begini." Katanya menghentikan tawa Icha yang ditahan. Icha dan Megan saling berpandangan dan mengedikkan bahunya tak tahu.


"Hey siapa yang mau ikut kita, aku kan tak mengajak kak Arka." Jawabnya telak di telinga Arka.


"Tapi aku tak tega membiarkan kalian berkeliaran di kota seluas ini."


"Apa lagi kamu." Arka menunjuk Icha.


"Aku....kenapa dengan diriku." Icha mengulangi kata-kata Arka. Memangnya apa yang salah dengan dirinya. Pikir Icha bertanya-tanya.


"Kamu anak yang tidak pernah keluar sendiri, aku hanya takut saja jika nanti orang yang ingin membuatmu tersesat."


Benar juga apa kata dosen Arka, jika dirinya tinggal di sana tak sekalipun dirinya jalan-jalan keluar, jika jalan-jalan keluar pasti akan ditemani dosen Arka, Megan atau Mika teman dikantornya.


Icha salah satu orang yang penakut, dirinya bukan takut pada hal-hal soal kejahatan, jika soal kejahatan dirinya sudah dibekali ilmi Taekwondo sejak kecil, hingga dirinya bisa menguasai beberapa ilmu mengalahkan musuh.


Tetapi satu yang ditakutkan Icha, yaitu ketika dirinya melihat hal lain, karena Icha merupakan anak indigo, dirinya akan meminta ditemani kemana saja, bahkan ke kamar mandi pun Arka rela berdiri menunggunya didepan kamar mandi lelaki.


Arka rela di cibir perempuan, itu tak masalah baginya, asalkan keselamatan Icha adalah yang utama. Sedangkan Arka juga tidak mengetahui selama ini jika Icha memiliki mata batin yang lain.


Yang ada dimatanya adalah, seorang Icha ini penakut, hingga dirinya perlu melindunginya tanpa diminta.


"Kenapa kak Arka mengira jika diriku ini sangat penakut?"


"Tanyakan saja pada dirimu sendiri, kenapa malah bertanya padaku."


"Adduhhhhh...iya...iya." Tiba-tiba saja Arka mengaduh kesakitan memegang lengan tangannya yang reflek dipukul Icha.


"Ditanya bukanya menjawab malah tanya balik, apaan tuh."


Megan bingung sendiri melihat tingkah mereka berdua, ternyata sedekat ini.


"Cha kamu ini, kalau reflek pukulan kamu ini lumayan bisa membuat orang pingsan loh." Megan.

__ADS_1


"Benarkah, coba sini aku pukul kamu kalau begitu."


"Hey enak saja, pukul saja sana pohon dijalanan." Protes Megan.


Belum berangkat saja mereka sudah ribut-ribut seperti kucing dan tikus yang tak pernah akur. Tapi berbeda dengan mereka. Sebentar akur sebentar lagi bertengkar. Menjengkelkan terkadang. Tetapi itulah mereka, selalu saja ada yang membuat mereka ceria.


"Kak nanti tempat yang pertama kita kunjungi di Trafalgar Square ya," usul Icha.


Trafalgar Square merupakan alun-alun yang berada di bagian pusat London yang digunakan untuk mengenang pertempuran Trafalgar.


Pertempuran ini merupakan pertempuran laut dimana kapal perang Angkatan Laut Inggris memenangkan Perang Napoleon.


Tempat ini menyimpan berbagai macam galeri dan sejarah monumen hingga patung.


"Sepertinya kamu menyukai tempat-tempat sejara." Megan yang duduk di jok belakang berpendapat.


"Kamu tanya aku tempat apa saja yang aku sukai, masalahnya banyak sih tempat yang aku sukai. "


"Bahkan aku ingin keliling dunia." Antusias Icha.


"Tetapi sayangnya aku harus menyelesaikan belajarku dulu, agar kakakku mau mengajakku jalan-jalan keliling dunia."


"Hey...nona hidup ini hanya sekali, jadi nikmati saja waktumu, kemana pun kamu ingin pergi datangi saja."


"Itu mindset kamu yang memiliki banyak uang." Kata Arka.


"Makanya aku akan bekerja keras, supaya aku menghasilkan banyak uang, dan aku bisa kemana saja, serta membeli apa saja yang aku mau." Kata Icha.


Omongan Icha mungkin hanya di anggap angin lalu saja sama Arka, dirinya hanya melirik Icha sekilas lalu pandangan matanya kembali fokus ke arah jalanan didepannya.


"Nanti tempat ke dua, tempat apa yang akan kita kunjungi dulu." Tanya Megan, disela-sela perdebatannya Icha dan juga Arka itu.


"Buckingham Palace,"


Buckingham Palace merupakan kediaman resmi dari Ratu Inggris yang berada di London.


Istana ini menjadi sangat penting dalam berbagai acara pertemuan seperti penyambutan tamu kenegaraan, dan sebagai tempat kunjungan pariwisata. Jika dilihat dari luar sangat indah. Banyak pengunjung di sana yang berdatangan dari berbagai negara.

__ADS_1


Di sepanjang perjalanan mereka di dalam mobil, banyak sekali yang mereka bahas, Arka terkadang juga menimpali pembicaraan Icha dan Megan. Tetapi Icha lebih mendominasi banyak ceritanya.


Jika dilihat saat ini Arka seperti sedang mengawal dua anak remaja yang takut lupa arah pulang, Arka memiliki banyak larangan ini dan itu.


Saat ini mereka sudah sampai di lokasi pertama yang menjadi tempat tujuan mereka. yaitu di Trafalgar Square, Icha dan Megan Megan mengambil banyak gambar dan pose, tentu saja dosen Arka yang menjadi fotografernya, siapa lagi.


Icha berlari ke arah Arka, dirinya ingin mengambil kenang-kenangan itu, jika suatu hari Icha tak bisa bertemu Arka kembali. Setidaknya dirinya pernah mengunjungi berbagai tempat dan di temani oleh dosen yang selama ini baik padanya dan melindunginya, jika kapan saja dirinya kesulitan makan Arka adalah orang pertaman yang membantu mengatasi masalahnya.


"Kak Arka aku ingin berfoto denganmu," Icha merebut kamera ditangan Arka dan memberikan pada Megan.


"Megan ayo foto aku dengan kak Arka, aku akan berpose yang manis." Katanya sudah mengambil pose manisnya dengan memeluk tubuh atletis Arka.


"Ck..kau ini genit sekali." Megan berdecak.


"Hey tak usah cemberut seperti itu, nanti kita bisa bergantian jika kau ingin berfoto dengan kak Arka." Tawarnya pada Megan.


"Hah...tidak..tidak, tidak kau saja sana yang berfoto." Megan menolaknya sambil merebut kamera dari tangan Icha.


Bukan apa-apa hanya saja nanti dirinya akan sangat canggung jika berpose berdua saja dengan dosen Arka. Dirinya tak Se akrab seperti Icha ketika bersama dosen Arka.


Lebih baik menolak secara halus saja, pikir Megan dari pada memperumit hidupnya kan.


Kali ini Icha dan dosen Arka berganti-ganti pose dan gaya, tentu saja Icha yang mengatur gayanya. Karena jika Icha yang mengikuti gaya Arka pasti akan sangat kaku tanpa ekspresi seperti kanebo kering.


Itu pun jika dosen Arka tak menurut padanya, Icha akan mengomel tanpa henti. Seperti saat ini, Icha yang melihat hasilnya sangat ingin mencubit pipi pria itu agar mau membuka mulutnya untuk tersenyum.


"Kak Arka..bisa tidak kalau berfoto itu jangan kayak kerupuk yang habis dijemur."


Arka yang tidak tahu apa yang dimaksud Icha hanya santai saja tanpa dosa. Sedangkan Icha tangannya sudah gatal saat ini.


"Kak...aku serius ini."


"Iya kenapa," Dirinya malah bertanya santai.


"Megan, ulangi lagi yang bagus."


"Kak Arka senyum yang lebar jangan kaku tanpa ekspresi." Omelnya.

__ADS_1


dan


Bersambung


__ADS_2