Menikahi Adik Sahabatku

Menikahi Adik Sahabatku
Gugur


__ADS_3

Nyatanya saat ini Arka masih berada di ruang tunggu di bandara yang disediakan khusus untuk tamu penerbangan VVIP.


Sewaktu pesawat akan lepas landas tiba-tiba saja hujan disertai dengan angin badai, sehingga membuat seluruh aktivitas baik pilot dan crewnya harus menunda penerbangan untuk menghindari pesawat hilang kontak bahkan bisa saja terjadi kecelakaan.


Arka terlihat mondar-mandir beberapa kali ia berjalan ke sana kemari dan mengusap wajahnya kasar, terlihat sekali jika Arka saat ini sedang frustasi.


"Duduklah kau jangan membuat kepalaku pusing." kata Alex datar kedua tangannya bersedekap dan matanya melirik Arka.


"Kau tidak tahu apa yang aku rasakan saat ini, jangan mengaturku." bantah Arka.


"Aku sangat tahu apa yang kau rasakan."


"Kau hanya memikirkan dirimu sendiri." kata Alex.


Mendengar suara Alex baru saja membuat kepala Arka bertambah panas, tanpa persiapan. Satu kepalan melayang ke perut Alex dan membuat Alex mengaduh.


"Kau jangan sok tahu seperti media yang memberitakan tentang diriku yang tidak tidak, di sini siapa bosnya? Aku atau kamu?" bentak Arka matanya menatap nyalang ke manik biru Alex.


"Memang seperti itulah yang terlihat, kau sedang berjalan dengan teman istrimu, dan itu kau lakukan di belakangmu." Alex sama sekali tidak takut dengan Arka, malah ia menantang balik Arka jika tangan itu melayang lagi kepadanya. Ia bersiap akan membalasnya. Kali ini kemejanya sudah ia tarik ke atas.


Alex membalas tatapan tajam Arka, "Jika kau sudah bosan dengan istrimu, lepaskanlah masih banyak yang akan memeliharanya bagaikan berlian. Bukan seperti dirimu yang memperlakukannya habis manis sepah dibuang, dia bukan makanan yang harus kau cicipi sesuka hatimu."


Kata-kata pedas Alex sangat menusuk hingga sampai ke tulang rusuk Arka, kali ini entah ia merasa tertampar atau bukan tapi memang benar adanya seperti itu. Alex berani berbicara seperti itu karena ia mengantongi semua bukti-buktinya.


Bahkan ada foto Arka saat mencium bibir Yuju di salah satu restoran private dan masih banyak lagi foto-foto Arka berjalan dengan yuju ketika memasuki sebuah hotel mewah di kawasan New York.


***


.


.


"Aduh nenek, perutku sakit sekali. Aku tidak tahu apakah masih bisa melanjutkan tour duniaku atau tidak nanti." kata Icha salah satu tangannya memegang perutnya yang saat ini masih kesakitan.


"Diamlah, kau jangan berpikir yang macam-macam. Pikirkan dulu kesehatanmu saat ini, Frans tolong ambilkan air hangat akan aku kompres."

__ADS_1


Frans tanpa menjawab perintah dari nenek langsung bertindak secepat mungkin dan Tak lama kemudian air hangat sudah berada di dalam botol dan french menyerahkannya kepada nenek Icha.


"Nenek ini aku rasa bukan solusi yang tepat, aku rasa aku seperti sedang mau mengeluarkan sesuatu." keluh Icha.


Seluruh tubuhnya sudah berkeringat dingin dan seluruh tenaganya sudah hampir habis, sepertinya tinggal 5 watt lagi tenaga yang masih tersisa di dalam dirinya.


"Bagaimana Nek apa kita harus membawanya ke rumah sakit?" tanya Frans pada nenek Icha.


"Tidak, aku tidak mau ke rumah sakit. Bau rumah sakit sangat tidak enak. Yang ada aku akan kehilangan seluruh tenagaku jika aku harus dibawa ke sana, bahkan aku akan pingsan di tengah jalan mungkin."


"Bagaimana ini nenek aku sudah tidak kuat." rintih Icha matanya sudah mengeluarkan air mata.


Sedangkan nenek Icha masih sibuk mengompres perut Icha, dan kakeknya memijit kaki Icha.


Seumur hidup Icha baru kali ini mengalami hal yang seperti ini dalam dirinya. Biasanya jika asam lambung nya naik. Maka Icha akan meminum obat dari resep dokter, tidak lama kemudian akan mereda. Tetapi ini malah semakin menjadi-jadi.


Icha bangkit dari tempat tidurnya dan berlari ke kamar mandi, Frans melihat sesuatu yang tak biasa di kaki Icha.


"Nek, kek apa kalian melihat sesuatu?" tanya Frans.


Tiba-tiba saja terdengar suara Icha yang menjerit kesakitan dari dalam kamar mandi. "Tunggu dulu biar aku saja yang masuk, kalian berdua tunggu di sini." perintah nenek pada kakek dan juga Frans.


Begitu masuk ke dalam kamar mandi. Nenek Icha begitu syok melihat ada sesuatu gumpalan yang keluar menetes ke lantai. Tak lama kemudian Icha pingsan di dalam kamar mandi. Nenek menangis histeris dan berteriak memanggil frans dan juga kakek Icha.


Ekspresi Frans dan juga kakek sama kagetnya, tanpa berpikir panjang Frans langsung membopong Icha dan membawanya menuju pemukiman untuk menemukan ambulan. Untung saja di sana tersedia ambulans dan jarak rumah sakit tidak begitu jauh.


"Bagaimana ini apa yang terjadi dengan cucuku, kenapa nasibnya begitu malang. Apakah kita harus menelpon kedua orang tuanya? Bagaimana jika mereka marah pada kita? Bagaimana jika Devan tidak terima pada kita." racau nenek yang menangis sepanjang perjalanan, dan saat ini mereka sudah berada di depan ruang IGD.


Kakek tidak bisa berkata apa-apa lagi, Ia hanya terdiam dan memeluk nenek. Sedangkan Frans sama dengan nenek Icha yang begitu panik, walaupun terlihat tenang.


Begitu dokter keluar dari ruangan. Mereka bertiga berebut tanya keadaan Icha. "Bagaimana dokter keadaan cucuku?"


"Maafkan kami nyonya tuan, anak yang ada dalam kandungan nya tidak bisa di selamat kan."


Kata-kata yang sangat tidak ingin di dengar oleh mereka. Bahkan nenek Icha mengulang pertanyaan berulang, Ia mengira jika dirinya salah dengar.

__ADS_1


Tetapi nyatanya memang Icha sedang hamil berjalan tiga bulan, tetapi takdir berkata lain. Icha kehilangan calon anaknya tanpa ia ketahui.


"Apa yang harus aku jelaskan pada cucuku nanti." tangis Nenek begitu pecah memenuhi seluruh ruangan yang senyap di malam hari itu.


Beberapa kali Frans melakukan panggilan Vidio call pada Arka, namun sama sekali tidak aktif, mungkin Arka sudah melakukan penerbangan pikir Frans.


Kali ini Frans menyuruh nenek dan kakek Icha pulang, biarkan dirinya saja yang menjaga Icha malam ini. Begitu Icha di pindah ruangan perawatan setelah tindakan pembersihan rahim. Frans yang menunggu di samping Icha hingga siuman.


"Dimana ini?"


"Apa yang terjadi dengan diriku?" tanya Icha, matanya mengerjap perlahan menelisik setiap sudut ruangan.


"Nona anda sudah bangun?"


"Apakah anda butuh sesuatu nona?"


"Aku bertanya, kenapa malah kau tanya balik padaku?" kesal Icha.


"Eh Anda saat ini berada di rumah sakit, karena semalam Anda pingsan." kata Frans.


"Pingsan? memangnya apa yang terjadi dengan diriku? tolong katakan?"


"Bagaimana aku bisa menjaga kesehatan tubuhku, padahal dalam waktu dekat aku harus terbang ke berbagai negara melanjutkan konserku." kata Icha. Ia berusaha bangkit dari brankar.


"Dalam keadaan begini saja masih memikirkan pekerjaan nya, padahal kondisinya sedang tidak baik-baik saja, ah aku bingung bagaimana pemikiran wanita-wanita kaya." batin Frans menggeleng.


"Hei kenapa kau melamun?" teriak Icha.


Frans bingung harus memulai dari mana untuk menjelaskan pada Icha.


Hallo gais, aku menulis harus dengan perasaan yang senang. supaya lancar.


Semoga para pembacaku juga bahagia selalu iya. Jangan kayak Icha dan Arka yang berantem mulu. hehe


tap-tap jempolnya dong untuk mereka

__ADS_1


__ADS_2