Menikahi Adik Sahabatku

Menikahi Adik Sahabatku
Pergi Tanpa Pamit


__ADS_3

"Ayo siapkan peralatanmu sekarang." Kata Icha datar tanpa ekspresi.


Megan yang saat ini membaca novel di tangannya mendongak menatap wajah Icha, pasti terjadi sesuatu, tetapi apa, Megan sendiri tak tahu itu.


Tanpa banyak kata Megan mengikuti saja apa yang di perintahkan oleh Icha. Dirinya memasukan sisa perlengkapannya yang perlu di bawa.


Setelah itu Megan menyiapkan perlengkapan milik Icha, karena koper miliknya dan milik Icha sudah di packing dari semalam, seperti pakaian dan perlengkapan lainnya. Sisanya hanya tinggal yang kurang-kurang saja.


"Aku rasa semuanya sudah siap semua." Kata Megan, sambil menyeret koper itu satu persatu, menaruh diruang tamu.


Icha diam tak menjawab, dirinya sibuk dengan ponselnya, lalu masuk ke kamar mandi, dan membersihkan diri di sana, Sedangkan Megan dari tadi hanya mengamati pergerakan Icha.


Tetapi Megan merasa jika dirinya belum saatnya untuk bertanya. Mungkin nanti saja jika pikiran Icha sudah dingin.


Di susul Megan yang bersiap membersihkan diri dan berganti pakaian.


"Ayo..." Ajaknya sambil menyeret kopernya.


"Sudah tak ada yang ketinggalan, semua karti identitasmu dan juga pasport kamu." Kata Icha mengingatkan.


"Sudan aku masukkan tas semua." Megan menjawab singkat pula.


Mereka menaiki pesawat komersil, dirinya memang sudah meminta kakaknya untuk pemesanan tiket pesawat yang akan di tumpangi dirinya.


Sepanjang jalan, Megan hanya diam tak berani berbicara banyak pada Icha, selama raut wajahnya belum berubah ceria.


Saat ini mereka berada di kabin pesawat, Icha duduk bersebelahan dengan Megan, Icha dari tadi masih betah terdiam. Pada hal dirinya paling usil pada Megan, hingga terjadi pertengkaran-pertengkaran kecil.


"Ada apa dengan dirinya, ini seperti bukan Icha." Batin Megan bergumam, sambil mengamati Icha.


Sedangkan Icha malah memasang handset di telinganya, mendengarkan musik kesukaannya. Tetapi bayangan wanita cantik tadi selalu saja muncul dalam bayangannya.


"Ada apa dengan diriku." Batin Icha memegang dadanya yang berdetak kencang.


Sedangkan Megan lelah dengan pikirannya sendiri, akhirnya memilih memejamkan matanya.


Di lain tempat, waktu sudah menunjukan sore hari waktu setempat, Arka bersiap pulang bersama dengan seorang perempuan cantik yang berjalan menggandeng tangannya.


Tentu saja banyak Fans Arka yang merasa patah hati saat ini, seakan tak rela jika idolanya ini menggandeng wanita.

__ADS_1


Tetapi Arka hanya berjalan cuek saja tanpa memperhatikan orang-orang di sekelilingnya.


"Kak, malam ini aku ingin makan masakan kakak."


"Baiklah." Jawab Arka singkat.


Yara masih tak melepaskan lilitan tangannya. Mereka berjalan santai melewati para mahasiswa dan mahasiswi Arka.


Sore ini artinya dirinya akan memasak untuknya dan juga Yara. Sebelum pulang tentu saja harus mampir ke supermarket terlebih dahulu.


Berbelanja bahan-bahan yang akan dimasak nanti, aneka sayuran, buah-buahan dan juga daging.


Malam ini Arka memasak di bantu Yara menyiapkan bahan masakannya.


"Kakak akan memasak apa?" Tanya Yara.


"Apa saja akan ku masak." Jawab Arka asal. Padahal dirinya saat ini secara tak sadar telah memasak makanan kesukaan Icha.


"Ihhh kakak ini ditanya serius juga." Kesal Yara cemberut.


"Nanti juga dirimu akan tahu sendiri." Jawab Arka singkat, dirinya masih serius memotong-motong sayuran. Memang berbeda sayuran hasil potongannya dan juga Yara.


Nika hasil potongannya akan membentuk seni, jika Yara yang memotong bentuknya saja tak karuan, ini sudah jelas menandakan siapa diri Yara sebenarnya.


Arka berjalan keluar mengetuk pintu sebelah, namun setelah beberapa menit tak kunjung juga pintunya terbuka. Dirinya malah menemukan surat terjatuh di pintu masuk unit apartemen Icha.


Lalu Arka memungutnya, dan akan membukanya nanti setelah makan malam bersama Yara nanti.


Arka hanya mengira jika Arka mungkin hanya pergi keluar sebentar. Dirinya tak tahu jika Icha sudah kembali lagi ke negeri Ginseng, karena Icha tadi tak jadi pamit padanya.


Selesai makan malam, Arka pergi ke kamarnya, lalu mengunci pintu kamarnya, agar Yara tak memasuki kamarnya tiba-tiba.


Perlahan Arka membuka lipatan kertas itu, dan membuka isinya.


"Dear Kak Arka"


Terimakasih kak, selama ini sudah menjadi teman aku yang baik, selalu ada di saat aku membutuhkan, selalu meluangkan waktumu untukku, walaupun kadang kita sebentar akur sebentar baikan, tetapi tak menyurutkan pertemanan kita, aku tak bisa membalas kebaikan kakak selama ini, tetapi aku juga merasa tak rela jika kakak dekat dengan wanita lain. Tetapi apalah dayaku, aku tak bisa selamanya di samping kakak, begitu juga sebaliknya, karena aku harus mengejar impianku, semoga kakak bahagia dengan wanita pilihan kakak saat ini, kebaikanmu akan aku ingat kemana pun aku melangkah. Kalau surat ini berada di tangan kakak, itu artinya aku sudah pergi.


Salam hangat, temanmu Icha.

__ADS_1


Tanpa sadar Arka meneteskan air matanya, lalu dirinya merogoh saku celananya, dan mendial nomor Icha di sana, namun sudah di coba beberapa kali tak tersambung.


Arka lalu meminta asistennya Alex untuk menyiapkan pesawat pribadinya.


"Siapkan aku pesawat, malam ini juga." Perintah Arka pada Alex, tentu saja di sini siapa yang kelabakan jika bukan Alex.


Sepertinya dirinya tak rela jika harus ditinggal Icha begitu saja.


Dirinya harus memastikan sendiri, Icha sekarang berada dimana, dan bersama siapa.


Icha memang tak pernah membicarakan soal kepergiannya saat ini.


Tetapi bagaimana dirinya mau mengejar Icha, jika dirinya saja tak tahu Icha pergi ke mana sekarang. Dirinya meminta Alex mengecek bandara dikota London untuk penerbangan hari ini. Tetapi tak ada yang namanya Icha.


"Itu tidak mungkin." Kata Arka setelah mendapatkan kabar, jika apa yang di carinya tak ketemu.


***


.


.


Tak terasa Arka menjalani hari-harinya tanpa Icha sudah seminggu, selama seminggu ini dirinya sudah mencari info dimana kepergian Icha, namun tak ada yang tahu, informasi tentangnya seolah aksesnya ditutup.


Memang benar adanya, jika informasi tentangnya di tutup aksesnya, sehingga tidak dapat di deteksi oleh sistem.


Selama itu pula, penampilan Arka sedikit berantakan seperti tak terurus, hari-harinya yang kemaren berwarna sekarang menjadi sepi lagi.


Yara juga sudah kembali ke tempat tinggalnya. Yara adalah adalah adik sepupu dari ayahnya. Kemaren datang hanya untuk mengunjunginya saja, sehingga dirinya menginap di unit apartemen Arka.


"Kemana pergimu." Saat ini Arka duduk di kursi santai di balkon kamarnya sambil melihat ponselnya, yang kemaren dikirimi Icha foto dirinya saat jalan-jalan bersama Icha.


Tanpa sadar Arka mengganti layar wallpaper di ponselnya menjadi foto dirinya saat merangkul Icha.


"Kenapa kamu tak pamit padaku." Gumamnya pelan, tangannya meraba foto itu.


Sekarang kemana lagi dirinya harus mencari, pikirnya putus asa. Arka menjadi lebih pendiam seperti dulu lagi dan tak banyak bicara. Padahal semenjak kenal dengan Icha dirinya sudah memiliki senyuman ramah, namun sekarang menjadi lelaki dingin tak berhati.


dan

__ADS_1


Kita lanjut besuk


jangan lupa tinggalkan jejak teman-temanku


__ADS_2