Menikahi Adik Sahabatku

Menikahi Adik Sahabatku
Pikiran Megan


__ADS_3

Begitu Megan pergi, mereka masih sama-sama terdiam. Larut dalam pikirannya masing-masing, baik Icha maupun Arka. Icha sangat enggan untuk memulai pembicaraan lebih dulu, suaranya seakan tercekat berhenti di tenggorokannya. Baru saja dirinya akan melangkah, namun tangannya lebih dulu ditarik oleh Arka. Sehingga masuk ke dalam dekapan suaminya, dan susah untuk menggerakkan tubuhnya. Seakan pergerakannya terkunci.


"Lepaskan aku, aku masih ada urusan lain, tolong lepaskan aku." Icha tidak diam begitu saja, tetapi dirinya begitu berontak agar bisa melarikan diri.


"Tidak akan." suara datar Arka.


"Selama istriku masih marah padaku. Tidak akan kuizinkan kau melarikan diri dariku."


"Biarkan semua orang tahu, bahwa kamulah istriku satu-satunya." kata Arka.


Suaranya tenang namun terdengar sangat tegas. "Aku masih memiliki urusan dengan Megan, kau tidak berhak menahanku seperti ini."


"Lepaskan aku, ini terasa sesak. Apa kau mau membunuhku?" teriak Icha meronta-ronta dari dekapan suaminya.


Icha begitu terkejut kala tubuhnya terasa melayang, dan ternyata suaminya mengangkatnya ala bridal style. Dengan refleks kedua tangannya mengalungkan ke lehernya, tetapi kali ini tangannya yang jahil menjambak rambut suaminya.


Dalam hati Icha, rasakan pembalasanku aku sangat kesal padamu. Tetapi tak ada keluhan sedikitpun dari Arka. Hal itu malah membuatnya begitu bertambah sangat-sangat kesal.


Arka malah melempar dirinya di atas ranjang dan menciumnya dengan sangat brutal. Tubuhnya terkunci oleh tubuh gagah Arka, kedua tangannya Arka bertumpu dengan kedua tangannya, sehingga tubuhnya sendiri sulit melakukan pergerakan.


Ciuman brutal itu lama-kelamaan turun ke lehernya, dengan sensasi lain. Icha yang semula berontak malah tubuhnya merespon lain. "Tubuh sialan. Kau menghianati pemiliknya." geram Icha dalam hati, giginya sendiri bahkan bergemelutuk.


Sensasi bagaikan disengat listrik. Otaknya yang semula berontak berubah tidak bisa berpikir jernih lagi, bahkan kali ini dirinya sedang mabuk. Mabuk ingin disentuh lagi Dan lagi.


Nafas Arka terdengar sangat memburu bercampur kabut gairah, dengan gerakan gesit. Arka mampu membuka seluruh pakaian istrinya, dan mencumbunya. Membuat pemiliknya menggelinjang bercampur frustasi, karena tidak bisa menolak sentuhan hangat suaminya.


Tangan kaki dan semua, seluruh tubuhnya. Melakukan tugasnya masing-masing, Arka bagaikan singa yang sedang kelaparan ketika melihat tubuh istrinya yang halus bagaikan susu.


Detik berikutnya terjadi hal tak terduga antara suami istri yang sedang bertengkar. Mereka malah saling menyalurkan hasrat masing-masing untuk meredam emosi mereka. Terdengar suara menderu dan nafas yang naik turun akibat puncak dari percintaan panas kali ini.

__ADS_1


Tak ada lagi kata-kata yang keluar dari mulut istrinya. Icha malah merasa dikerjai habis-habisan oleh suaminya, namun dirinya tidak ada lagi tenaga untuk protes ataupun berbicara sepatah kata. Sehingga untuk mengatur nafasnya saja ia perlu beristirahat lebih dulu. Arka menyeringai melihat istrinya yang terkulai lemas tak ada perlawanan, ketika dirinya menyentuh istri imutnya ini.


"Jika kamu nurut begini bagaikan kelinci kecil sayangku." bisik Arka pelan. Begitu percintaan selesai.


Icha tertidur dengan posisi miring, membelakangi Arka suaminya, tetapi tidak dengan Arka. Arka malah memeluknya dari belakang, tangannya terlulur meraba istrinya yang rata.


" Semoga saja kamu segera hadir di sana, kau tahu harapan terbesarku adalah kamu hadir di sana. Untuk membuat ibumu berhenti dengan karirnya."


"Aku tak bisa menghentikannya, mungkin saja dengan kehadiranmu bisa menghentikan karir ibumu dan menurut pada ayahmu." bisik Arka pelan.


Megan mondar-mandir di taman hotel sendirian. Taman itu terdapat berbagai fasilitas seperti area playground untuk bermain anak-anak, area permainan untuk orang dewasa. Kursi di setiap sudut pohon yang rindang. Terdapat juga mini Cafe. Megan merasa dirinya lebih dari tiga jam berada di sini.


Tetapi kenapa belum ada kabar dari keduanya. Apakah Icha dianiaya oleh suaminya, atau Icha malah menganiaya suaminya. pikiran Megan bertanya-tanya, dirinya berjalan mondar-mandir bagaikan setrikaan kusut.


"Kau sedang apa di sini? apa sedang menunggu seseorang teman kencan butamu?" tanya Frans yang tidak sengaja, lewat di area taman hotel. Netranya menangkap sosok orang yang dia kenal, lalu berjalan mendekat ke arah Megan dan menyapanya.


" Apa sih yang kamu bicarakan?" ketus Megan.


"Bertanya dengan sembarangan, apa Kau pikir aku ini haus akan belaian laki laki?"


"Sehingga pertanyaanmu itu terdengar sangat konyol." kata Megan berapi-api.


"Lalu kenapa dirimu di sini sedari tadi? seperti sedang menunggu seseorang." tanya Frans merendahkan suaranya.


"Aku sedang menunggu Icha. Dia sedang ada masalah dengan suaminya."


"Aku rasa dirimu sudah tahu, tak perlu aku kasih tahu juga."


"Baru ditanya sekali saja, sudah begitu sensi." kata Frans.

__ADS_1


"Pasarnya Aku sudah di sini lebih dari tiga jam aku rasa, tetapi sama sekali belum ada kabar kelanjutannya bagaimana dari Icha."


Mendengar penjelasan dari Megan demikian, malah membuat Frans tertawa tipis. " Kenapa kau menertawakanku? Apa ada yang lucu dengan jawabanku barusan?" kata Megan memicingkan matanya ke arah Frans.


"Bagaimana tidak lucu. Apa kau tidak menyadarinya Apa yang dilakukan oleh suami istri jika sedang bertemu?" ucapkan Frans.


"Ya Aku khawatir, jika Icha akan babak belur dianiaya oleh suaminya, atau malah sebaliknya, suaminya yang malah babak belur karena bogem mentah dari Icha." kata Megan dengan wajah polosnya.


"Sudahlah kembali sana kau ke teman-temanmu, dari pada pikiranmu itu berpikir yang tidak-tidak."


"Kau akan menyesal memikirkan mereka." kata Frans. Tetapi Megan masih belum mengerti dari ucapan Frans baru saja.


" Apa maksud kamu, kau menyuruhku kembali ke teman-temanku?"


Frans mengangkat bahunya tak tahu. " Itu terserah padamu. Aku hanya menyarankanmu demikian, atau kau akan menjamur di tempat ini."


Frans beranjak dari tempatnya untuk melangkah pergi, meninggalkan Megan, tetapi Megan masih mencerna setiap ucapan dari kata-katanya Frans.


" Tunggu dulu." Megan menahan lengan Frans.


"Apalagi ?" tanya Frans.


Kali ini Megan harus menurunkan gengsinya demi pernikahan Icha yang tidak terbongkar lebih cepat. Karena ia berpikir jika dirinya kembali ke teman-temannya Icha. Maka semuanya akan bertanya kemana perginya Icha. Kenapa kamu kemari sendirian? dan masih banyak lagi pertanyaannya yang mungkin akan keluar dari mulut ketiga member itu padanya.


"Kau temani aku di sini dulu, kau tahu? jika aku kembali ke atas maka ketiga member itu akan bertanya yang tidak tidak padaku."


" Ke mana perginya Icha? dan mungkin masih banyak lagi pertanyaan yang akan keluar dari mulut mereka, lalu aku harus menjawab apa ke mereka."


"Tidak mungkin juga jika aku menjawab Icha pergi menemui suaminya, itu akan menjadi malapetaka bagi Icha dan Agensinya, Icha akan terkena penalti bahkan seluruh panggung entertainment di seluruh dunia akan heboh dengan hal ini." terang Icha pada Frans.

__ADS_1


"Alsan yang masuk akal." kata Frans.


__ADS_2