Menikahi Adik Sahabatku

Menikahi Adik Sahabatku
Hampir Saja


__ADS_3

"Kau itu kenapa dari tadi menggedor pintu?" tanya Icha seperti tak ada salah.


"Hah kamu..., seharusnya aku yang bertanya begitu padamu?"


"Karena tadi aku mendengar suara teriakan seseorang dari dalam sana." sindir Megan mencibir.


"Ehmm tadi aku sedang bermimpi buruk saja."


"Mimpi buruk?"


"Memangnya apa yang kau lakukan di dalam sana?"


"Apa kamu ketiduran."


Yang ditanya malah menyengir kuda merasa tak bersalah. "Aku bingung, tak ada waktu lagi untuk menolak pernikahan sialan ini." umpatnya.


"Yahh aku hanya bisa membantumu lewat doa saja."


"Semoga kamu bahagia dengan pernikahanmu ini, dan semoga dosen Arka tak mengganggumu lagi."


"Tak mengganggu apanya, dia malah akan menggangguku seumur hidupku, oh sialnya hidupku" batin Icha bermonolog.


"Hei... kenapa kau malah melamun."


"Aku sangat lapar sekali, apa kau tak ingin mengajakku makan siang nona."


"Ck... kau ini, habis makan keripik kentang juga, masih bilang tak makan apa-apa."


"Tapi itu tak membuatku kenyang nona."


"Ehmm iya-iya ayo..."


Mereka berjalan keluar menuju cafe sebelah, menggunakan motor pelayan. Icha yang mengendarai dan Megan yang membonceng.


"Kita akan naik ini?" tanya Megan bingung.


"Iya... ayo naiklah, jangan banyak tanya."


"Apakah tak ada kendaraan lain?" Megan masih berdiri ditempatnya.


"Kau jadi ikut apa tidak...? aku akan jalan nih..."


"Iya... iya, aku naik." Megan dengan muka terpaksa naik juga di motor Icha.


"Memangnya kita mau makan siang dimana?"


"Dimana iya...? pokoknya aku mau mencari suasana baru..."


"Iya..., tapi kau jalannya pelan-pelan saja kenapa." Megan sudah memegang pinggang Icha erat. takut jika dirinya kenapa-kenapa.


"Kenapa? apa kau takut aku bonceng begini?" tanya Icha.


"Aku tak pernah tau kalau dirimu naik motor. Makanya wajar saja kalau aku merasa takut."


"Makanya pegangan aku yang bener, nanti biar kalau jatuh berdua kamu tak jauh-jauh dariku." ucap Icha konyol.


"Kau jangan sembarangan bicara, aku masih ingin hidup, aku tak mau mati konyol karena naik motor denganmu."


"Makanya kamu tak usah gemetaran seperti itu.."

__ADS_1


Icha dapat melihat wajah panik dan pucat Megan ketika dirinya melihat spion.


"Sebentar lagi akan sampai tenanglah..." pasalnya Icha saat ini menggunakan motor trail milik tukang kebun belakang.


"Nahh itu tempatnya sudah kelihatan."


Icha menghentikan motornya di rumah makan sederhana di pinggir jalan raya, tempatnya lesehan, tetapi berada di ketinggian, sehingga dapat melihat pemandangan sayuran dari rumah makan tersebut.


"Icha kenapa ada kak Arka dan juga kak Devan." ucap Megan bisik-bisik.


"Mana...?"


"Itu..., mereka duduk di lantai dua."


Megan menunjuk mereka sembunyi-sembunyi. "Oh Tuhan... niat hati mau melihat suasana baru malah mereka yang aku lihat."


"Lah ini jadi makan disini apa tidak?" tanya Megan.


"Iya jadilah, biarkan saja mereka..."


"Ayo kita masuk, nanti kita cari tempat duduk yang lain aja." Icha menarik tangan Megan masuk. Mereka mencari posisi di pinggir, agar dapat melihat pemandangan sayur-sayuran dari ketinggian rumah makan sederhana itu.


"Wahhh ternyata tempatnya bagus banget iya." Megan memandang ke bawah takjub.


"Sebentar, aku akan memesan menunya." Icha meninggalkan Megan sendirian, kemudian berjalan menuju ke pemilik rumah makan, untuk memesan menu mereka.


Setelah kembali, "Menu apa yang kau pesan?" tanya Megan yang melihat Icha sudah duduk di tempatnya.


"Semuanya aku pesan." jawabnya santai.


"Kau gila, ujung-ujungnya aku yang memakan semuanya." rajuk Megan.


"Yang penting memanjakan lidah dulu kan." Icha memberikan ketenangan pada Megan.


"Dah lah terserah kau saja."


Karena suara Icha yang berisik ketika sedang tertawa, hingga menimbulkan pengunjung lain untuk melihat kearahnya.


Begitu pula Devan dan juga kawan-kawannya. "Bukankah itu adikmu?" tanya Raka pada Devan.


"Ehmmm iya, sejak kapan dia kemari." gumam Devan pelan.


"Apa kau tak ingin nyamperin adik kamu?" tanya Alex.


"Biarkan saja, dia akan merasa terganggu jika bersama kita nanti.


"Apa adikmu itu sudah memiliki kekasih?" tanya Albern temannya Devan yang satunya.


"Kenapa? apa kau mau daftar?" Alex.


"Sepertinya, dia tipe perempuan yang riang."


"Mudah bergaul, dan memiliki wawasan yang luas, aku rasa semua laki-laki akan menyukainya." kata Albern.


"Kau jangan macam-macam, karena kau akan berhadapan langsung dengan kakaknya jika kau menyukainya." Alex mengingatkan Albern.


"Tak apa, cukup satu macam saja."


Seketika itu rahang Arka mengeras, tangannya yang berada di bawah meja mengepal kuat. Hingga terlihat memutih buku-buku jarinya.

__ADS_1


"Apa kau siap dengan segala konsekuensinya?" tanya Devan menoleh pada Albern.


"Hemm tak apa, aku berterus terang di depan semua orang, jika aku tertarik untuk menjadikan adikmu seorang istri." Albern.


"Tapi bagaimana jika dia tidak tertarik denganmu?" tanya Alex. Melirik pada Arka yang wajahnya sudah merah padam siap menerkam mangsanya.


"Aku bisa melakukan segala cara, agar dia mencintaiku."


"Kau tahu, pesona laki-laki adalah saat membahagiakan orang yang dia sayang."


"Ck, kata-katamu itu seperti pepatah saja." cibir Raka.


"Sudahlah lupakan saja keinginanmu itu, kau bukan tipe pria idaman adikku." telak Devan pada Albern.


"Cieh sombong sekali kau ini."


Suara tawa Icha yang menggema membuyarkan perdebatan mereka, pandangan mata tajam Devan dan kawan-kawannya beralih.


"Apa yang sedang mereka tertawakan?" Alex.


"Tanya saja sana." ketus Arka tak bersahabat.


"Hei mulut kamu itu bisa di kondisikan tidak, malu tahu kita menjadi bahan pusat perhatian orang-orang." bisik Megan pelan, melirik ke segala penjuru ruangan itu.


"Uppp benarkah, oh Tuhan benar-benar lepas kendali karena ceritamu tadi."


Pasalnya Megan sedang menceritakan hal lucu pada Icha, jika dirinya berbincang dengan lelaki tampan yang motornya mereka pinjam saat ini.


"Aku rasa kau sangat cocok jika menikah dengannya."


"Benarkah, baiklah..."


"Kau bisa bantu aku tidak, untuk mendekatkan aku dengannya." tanya Megan pada Icha.


"Apa balasannya jika aku bisa mendekatkan kalian?" tanya Icha.


"Ck, kau ini..., katanya teman, tapi belum apa-apa saja sudah merancang imbalan saja." Megan berdecak malas.


"Hemm baiklah, kau harus membuat suasana hatiku menjadi baik sepanjang hari, agar aku bisa merayunya."


"Merayunya?" Megan membeo.


"Iya merayunya untukmu maksud aku, kau jangan menjadi lelet dong, baru juga berapa hari tinggal di pegunungan."


"Hah baiklah-baiklah, aku tunggu iya." Megan membayang wajah lelaki tampan pemilik trail yang saat ini mereka pinjam. Pasalnya tidak hanya tampan saja, tetapi juga sangat baik hati.


"Oh Tuhan, kau sudah selesai makannya?" tanya Icha melihat makanan Megan yang masih separuh.


"Kau kan bisa melihatnya, kenapa bertanya lagi?"


"Ehmm tidak, aku hanya ingin kembali saja ke aula,"


"Katakan, kenapa kau tiba-tiba menjadi terburu-buru?"


"Hehe..., itu aku malu ada teman-teman kakak, dan juga."


"Upppsss." Icha menutup mulutnya sendiri hampir saja dirinya keceplosan menyebutkan calon suaminya.


dan

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2