Menikahi Adik Sahabatku

Menikahi Adik Sahabatku
Soal Hadiah


__ADS_3

"Ehmm iya aku penasaran saja, jangan-jangan kau mencintai dosen Arka!" Megan setengah bermonolog setengah bertanya.


"Sudah ku bilang, jika dosen Arka itu sudah memiliki pacar" sergah Icha.


"Iya juga ya" Megan mengiyakan ucapan Icha.


"Lalu kenapa kamu membelikan jam tangan begitu mahal padanya" tanya Megan sambil membolak balikan jam tangan yang ada di tangannya ini.


"Ya hitung-hitung sebagai ucapan terimakasih saja lah, kalau selama ini aku sudah banyak merepotkan dirinya."


"Benarkah, merepotkan dalam hal apa." Tanya Megan penasaran.


"Cek kau ini, jangan terlalu banyak kepoan, nanti bisa pendek umur kamu lho" Icha mengingatkan sahabatnya.


"Baiklah kalau begitu aku meminta parfum ini, ini, ini dan ini."


Megan mengambil beberapa pakaian, parfum, serta make up yang berada ditangannya.


"Lalu sisa sebanyak ini mau kau kasihkan siapa" tanya Megan lagi.


"Ya kamu ini, kan masih ada teman kantor" jelas Icha lagi.


Megan mengangguk paham. barang-barang yang sudah di keluarkan itu dirapikan kembali oleh Icha yang dibantu Megan. Sepertinya suatu berkah tersendiri baginya, memiliki teman sebaik Icha ini.


Bagaimana tidak, Icha tak pernah perhitungan dalam hal apapun, dan selalu menolongnya jika dirinya mengalami kesulitan. Tetapi Megan juga bukan tipe orang yang suka memanfaatkan kebaikan temannya seperti Icha.


Lalu mereka kembali merebahkan tubuhnya kembali diatas tempat tidur. Disana Megan bercerita tentang banyak hal yang di alaminya selama ini. Megan juga bercerita jika kemaren dosen Arka mencarinya. Icha bertekad, besuk pagi akan menemui dosen Arka di unit apartemennya.


"Kita lanjut besuk pagi saja ceritanya, sekarang aku sudah sangat mengantuk" kata Icha, detik berikutnya sudah terdengar denguran halus.


"Cepat sekali dia tertidur" Megan menoleh, tetapi tidak dengan dirinya. Matanya jadi sulit di pejamkan setelah tadi menunggu Icha dirinya ketiduran.


"Sepertinya kamu ini bukan anak orang biasa" batin Megan, Megan merubah posisi menjadi menyamping menghadap Icha.


Selama ini Icha tak memperlihatkan siapa dirinya pada Megan, Icha hanya ingin memiliki teman yang tulus tanpa memandang kasta dan kekurangannya.


Megan juga sepertinya hidup sederhana dan apa adanya. Sehingga mampu menjadi saling melengkapi diantara dirinya dan juga Megan.


"Mata ini kenapa sulit ku pejamkan" Megan bergumam pelan.


Hingga waktu dinihari Icha sudah berlayar ke pulau mimpi, tetapi matanya masih saja cerah. Dengan ia paksakan, akhirnya tidur juga menyusul Icha.


Esuk hari, Icha bangun lebih dulu, dirinya bersih-bersih seluruh ruangan, memasak dan terakhir mandi membersihkan dirinya.

__ADS_1


Icha sudah rapi dengan pakaian kerjanya, kemudian berjalan keluar apartemen menuju tempatnya dosen Arka, sambil membawa sesuatu di tangannya.


Sepertinya masih terlalu pagi Icha pergi unit sebelah. Tangan Icha menekan bel, beberapa saat dosen Arka membuka pintu. Masih dengan muka bantalnya bangun pagi.


"Apa...." Arka


Dosen Arka masih belum sadar siapa yang berdiri di depannya itu siapa. Icha langsung nylonong saja masuk.


"Kak kamu ini sudah siang masih saja tidur, sana cuci mukakmu" omelnya, datang-datang membuat kerusuhan saja.


"Tetapi yang di omeli malah melanjutkan tidurnya di kursi sofa di depan televisi"


"Kak bangun tidak, aku akan mengambil air lho"teriaknya lagi, padahal Icha juga pura-pura nakut-nakutin dosennya itu. Eh tetapi siapa sangka dosen Arka malah menuruti perkataan Icha itu.


Tanpa berkata, langsung bangun dari tidur tengkurapnya dan berjalan ke arah kamar mandi. Sekitar lima belas menit barulah keluar lagi.


Icha yang menunggu disana, sudah meletakkan barang bawaannya tadi dan menata dimeja. Iya Icha membawakan Arka sarapan pagi, dan barang oleh-olehnya semalam.


"Ku kira kau tak akan pulang kemari lagi" berjalan ke arah Icha.


"Iya...emang" jawab Icha santai.


Arka malah menatap tajam dirinya dengan alis berkerut siap menerkam mangsanya. "Kenapa dengan kakak?" Icha.


"Kan maksud aku nanti setelah lulus kuliah."


"Ini sarapan untuk kakak, ini, ini dan ini oleh-oleh untuk kakak, semoga saja kakak menyukainya" kata Icha menjawab dengan ekspresi imutnya.


"Lalu mana oleh-oleh untukku kemaren yang kakak janjikan?" tangan Icha menengadah, menagih oleh-oleh yang dijanjikan dirinya kemaren.


"Kancil kecil ini, ingat saja dengan janjinya" gumamnya pelan, berjalan ke arah kamar mengambil sesuatu di sana, tetapi sialnya gumaman itu masih bisa di dengar oleh Icha.


"Kakak mengataiku Kancil" teriak Icha yang malah membuat telinga Arka serasa berdengung.


"Kau salah dengar, kau tunggulah sini" kata Arka cuek.


"Ihhh dasar dosen menyebalkan, ingin saja remas-remas tu mulut" Icha malah tangannya menirukan gaya orang yang sedang menganiaya sesuatu. Seolah-olah Arka berada di depannya.


Selang beberapa menit, Arka keluar dari kamarnya sambil membawa dua kotak. Kotak yang satunya bentuknya kecil dan yang satu lagi bentuknya besar.


"Wahhh terimakasih kakak" Icha saking girangnya tak sadar jik saat ini tubuhnya tengah memeluk erat dosennya itu. Gerakannya hanya reflek ia lakukan. Menunjukkan ekspresi senangnya.


"Iya tapi jika kamu seperti ini aku tak bisa bernafas" Arka.

__ADS_1


Lalu Arka duduk di meja makan, sedangkan Icha berdiri di sampingnya sambil membuka kotak yang besar, ternyata isinya adalah bando, penjepit rambut beraneka macam bentuk, ada juga tali rambut.


Reflek saja Icha menciumi pipi Arka bertubi-tubi saking girangnya, hal itu biasa dirinya lakukan jika sedang mendapatkan hadiah dari ke dua kakak laki-lakinya.


Masih juga belum sadar dengan apa yang dirinya lakukan. Icha bersorak senang seperti anak kecil. Arka yang mendapat serangan itu antara kaget dan senang.


"Icha kamu juga seperti ini jika bersama laki-laki lain?" tanya Arka datar. Dirinya menatap tajam perempuan berdagu lancip itu di depannya.


"Hahh apa..." Icha malah bertanya balik.


"Apa yang kamu lakukan padaku tadi, menciumiku tadi juga kamu lakukan pada laki-laki lain?" tanya Arka memperjelas.


Seketika itu pipi tirusnya memerah menahan malu. Ingin rasanya dirinya menghilang saat ini juga akibat perbuatannya. Icha menutup dengan kedua telapak tangannya.


"Itu tak boleh kau tunjukkan dengan lelaki lain, hanya boleh bersamaku saja" godanya.


"Ahhhhh kakaaaaakk mesum" teriaknya pada Arka.


"Siapa yang memulai duluan" jawab Arka santai.


"Ahhh sudahlah aku mau pulang, daa" berlari keluar sambil membawa hadiahnya dan menutup pintu dengan keras saking malunya.


"Ini gila...gila...gila" menoyor kepalanya sendiri. Membuka pintu dan ternyata Megan baru saja bangun dan membersihkan dirinya.


"Ada apa dengan dirimu?" tanya Megan bingung.


"Hahh tidak ada"


"Apa yang kau bawa di tanganmu" Megan merebut dua kotak itu. Dan membukanya.


"Wahhhh ini kalung berlian limited edition keluaran Tiffany co" Megam menutup mulutnya takjub kala dirinya membuka kotak kecil berwarna hitam. Seketika Icha penasaran dan iku menengok.


"Benarkah, aku tak tahu soal beginian, kenapa kamu bisa tahu" tanya Icha pada Megan.


"Tentu saja aku tahu, aku sering baca majalah artis"


"Cek kau ini, ku kira kau tadi mau bilang kalau aku sering belanja di Tiffany Co" kesal Icha berdecak.


"Itu kenyataan, lebih mending tau dari baca majalah nona, dari pada tidak sama sekali" Megan.


"Kau menyindirku" garangnya.


Megan tak menjawab, lalu menyahut kotak yang besar dan membukanya..

__ADS_1


dan


Bersambung


__ADS_2