Menikahi Adik Sahabatku

Menikahi Adik Sahabatku
Balik


__ADS_3

"Silahkan duduk nak Icha" kata pria paruh baya itu.


"Baik om, maaf iya om, saya terlalu senang melihat kebun bunga yang sangat luas dan berwarna warni membuatku betah berlama-lama berada di sana" Icha.


"Oh iya" ucap tuan Felix.


"Oh iya nak Icha perkenalkan ini istrinya om, namanya Felicya" sambil menunjuk ke arah istrinya itu.


Mereka lalu berjabat tangan dan saling memperkenalkan duri masing-masing. "Tidak ku sangka jika nona Icha ini anak yang manis dan sangat menyenangkan" kata nyonya Felix.


"Ahh anda bisa saja nyonya" Icha malu-malu dirinya yang dipuji berlebihan seperti itu.


"Jangan memanggilku nyonya, bolehkan panggil dengan sebutan yang lain saja" usul nyonya Felix pada Icha.


"Baiklah, bagaimana kalau aku memanggil tante Felice saja" usul Icha lagi.


"Ehmmm itu lebih baik sepertinya" lalu mereka tertawa bersama.


"Baiklah silahkan di makan hidangan ini, semoga semuanya suka."


Mereka makan bersama sambil bercerita banyak hal. Seperti menceritakan pengamalan apa saja yang mereka lalui selama ini.


"Nona Icha selama ini di mana" tanya nyonya Felice penasaran.


"Saya selama ini sedang kuliah tante" jawab Icha sambil mengunyah makanan di depannya.


"Kuliah disini saja atau dimana" nyonya Felice.


"Ehmm saya kuliah di Universitas Oxford tante" Icha.


"Benarkah, nak Icha kuliah di sana"


"Kebetulan sekali anak tante juga mengajar di sana" kata nyonya Felice antusias.


Mereka berbicara banyak hal mulai dari sekolah Icha, hingga cita-cita Icha ke depannya. "Seandainya saja anak tante berada disini, pasti ku ajak ke sini bertemu kalian" bayangan nyonya Felice menerawang jauh, membayangkan jika saat ini Arka berada di rumah.


"Tante tak usah bersedih, kapan-kapan kan bisa bertemu lagi" kata Icha.


"Benarkah boleh bertemu lagi" nyonya Felice.


"Tentu saja boleh tante"


"Tante jadi menginginkan menantu yang manis seperti nak Icha" ungkapnya.

__ADS_1


Sedangkan nenek dan kakek buyutnya menyimak pembicaraan mereka, sesekali juga menimpali, sama juga dengan yang dilakukan tuan Felix.


" Padahal anak om sangat penasaran dengan gadis yang sudah menolong om" kata Felix.


"Aduuh om dan tante tak usah berlebihan seperti itu. Saya hanya membantu yang saya bisa saja kok. Selebihnya juga atas campur tangan Tuhan" kata Icha merendah.


"Iya sayang, tetapi berkat bantuan nak Icha om Felix jadi sembuh seperti sedia kala, dan bisa makan apa saja yang dia mau, tanpa takut lagi" nyonya Felice.


"Dilain hari kami akan mengundang nyonya dan tuan Felix ke rumah kami" balas kakek buyut Icha.


Acara makan siang itu di selingi canda tawa juga. Icha merupakan anak yang periang, siapa saja yang dekat dengannya akan merasa senang. Itu karena dirinya selalu memiliki banyak ide cerita dan pembawaannya yang menyenangkan. Sehingga mudah bergaul dengan siapa saja.


Selesai acara makan, mereka mengelilingi taman itu, lalu menghampiri gazebo yang berada di tengah-tengah taman.


Disana ternyata sudah ada pihak notaris serta saksi-saksi. Jika seluruh kebun bunga ini telah di hadiahkan pada gadis cantik Bernama Arumaysa Araya Indrarwan.


Ada juga orang yang mengabadikan gambar-gambar rekan sebagai dokumentasi.


"Seperti yang sudah saya bilang sebelumnya, jika seluruh taman bunga ini aku hadiahkan kepada saudara Arumaysa Araya Indrarwan"


"Dan di sini sudah berkumpul semuanya, maka sebagai pengesahan kita mulai dengan penandatangan atas pindah tangan kepemilikan" kata tuan Felix pada semua orang yang telah hadir di sana.


Icha maju selangkah lalu mulai penandatanganan dokumen-dokumen itu. Setelah berganti kepemilikan, secara resmi kebun bunga seluas itu sudah menjadi miliknya.


Acara pemindahan kepemilikan telah selesai. Icha merasa sangat dijunjung tinggi oleh tuan Felix dan juga istrinya itu. Tak bisa berkata-kata lagi dirinya. Menangis haru dan bahagia bercampur menjadi satu.


"Terimakasih om dan tante"


"Icha tak bisa membalas kebaikan om dan juga tante"


"Kau tak perlu membalas nak Icha, cukup kunjungi kami, jika kau sedang berkunjung kerumah nenek dan kakek buyut nak Icha saja, kami sudah bahagia" kata om Felix.


"Baiklah aku juga tak akan lupa atas kebaikan om dan juga tante Felice" Icha.


Mereka menghabiskan waktu di kebun hingga sore hari. Banyak hal yang mereka lakukan di sana, seperti berfoto dan berkeliling.


***


Satu minggu sudah Icha berada di kota Tokyo, kini saatnya dirinya kembali ke tempat dimana dirinya mencari ilmu. Icha di antar oleh kakek dan nenek buyutnya serta saat akan ke bandara.


Mereka berpisah dengan penuh drama. Kakek dan nenek buyut itu juga memberikan banyak nasehat dan juga pesan padanya.


Icha tiba di unit apartemennya pada malam hari. Sebelumnya dirinya sudah mengabari Megan, sehingga Megan menunggunya hingga ketiduran di sofa ruang tamu.

__ADS_1


Ting....tong...!!! Suara bel apartemen berbunyi, Megan menyipitkan matanya dengan malas karena dirinya sudah sangat mengantuk.


"Kenapa kamu tiba dimalam hari, itu sangat mengganggu waktu tidurku tahu" Megan.


"Ya kan sebelumnya juga sudah aku kabari kan, tak usah banyak protes buka matamu, lihatlah nanti isi koperku, aku membawakan kamu banyak oleh-oleh".


"Benarkah, mana...!!!"


"Cek kau ini, begitu mendengar kata oleh-oleh jadi cerah saja mata kamu ini, sudah sana cuci mukamu dulu" Icha berdecak malas dan mendorong Megan agar dirinya segera mencuci mukanya.


"Hah teman tapi membuatku kesal kau ini" gumam Megan pelan sambil berjalan ke arah wastafel.


Icha segera masuk kamar dan menaruh barangnya disana. Megan yang selesai cuci muka itu, berjalan riang ke arah koper.


"Ini di dalam sini, kau bisa pilih mana saja yang kamu suka, karena kamu telah menjaga apartemenku selama satu minggu"


"Aku akan mandi dan berganti pakaian dulu, tubuhku sudah sangat lengket" Icha berlalu pergi meninggalkan Megan.


Megan membuka koper Icha dengan binar bahagia. Di sana sebelum Icha kembali dirinya telah membeli banyak oleh-oleh, seperti parfum, alat make up, jam tangan serta pakaian.


"Tunggu....tunggu...ini kan jam tangan lelaki, apakah Icha sudah punya pacar, setahuku belum, lalu jam tangan lelaki ini untuk siapa" Megan bertanya-tanya pada dirinya sendiri sambil mengamati bentuk jam tangan yang di desain sederhana, tetapi sepertinya sangat mewah.


"Bukankah ini jam tangan mahal yang limited edition ya"


"Benar-benar gila itu bocah"


"Siapa yang gila" Icha yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan mengusap rambutnya menggunakan handuk itu samar-samar mendengar Megan yang sedang berbicara sendiri tak jelas.


"Kau berhutang penjelasan padaku, ini kamu membeli jam tangan pria, memangnya untuk siapa" sepertinya mulut Megan sudah sangat gatal jika tak segera bertanya pada si empunya.


"Untuk dosen Arka lah, siapa lagi"


"Heyy are you crazy" Teriak Megan di tengah malam itu.


Icha seketika menutup kedua telinganya dengan tangan.


"Hey kau tak perlu berteriak, aku sudah dengar tahu" Icha.


"Ehmm iya aku penasaran saja, jangan-jangan kau mencintai dosen Arka!" Megan setengah bermonolog setengah bertanya.


.


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2