
"Masih ada waktu kosong banyak jika kau mau mengisi liburanmu." kata Megan, begitu mereka telah sampai di hotel tempat menginap mereka.
Icha mendudukkan tubuh lelahnya, menaruh tasnya asal, dan memejamkan matanya. "Berapa hari?" tanyanya masih tak merubah posisi duduknya.
"Lima hari."
"Benarkah?" ucap Icha girang.
"Hei seharusnya kau bersedih, kenapa malah seceria ini." kata Megan.
"Bersedih kenapa?" tanya Icha, lalu menaikkan sebelah alisnya.
"Ya karena kau memiliki banyak masalah, tapi aku senang melihatmu ceria kembali, tidak murung seperti hari-hari sebelumnya." kata Megan mengangkat bahunya tidak tahu.
Megan mengambil tas Icha yang tadinya ditaruh asal. Meletakkan kembali di atas meja rias lalu dirinya duduk berseberangan dengan Icha.
"Untuk apa meratapi masalah ini berlarut-larut. Jika memang pernikahan ini tidak bisa dipertahankan kita sudahi saja." kata Icha tanpa beban.
Megan yang mendengarkan ucapan Icha baru saja menggelengkan kepalanya, tidak seharusnya Icha berbicara seperti ini. Tetapi Megan tidak pernah berada di posisi Icha, sehingga ia berusaha memahami bagaimana hancurnya perasaan Icha saat ini.
"Aku memang tidak pernah berada di posisi kamu, jadi aku tidak tahu harus membantumu dengan cara apalagi."
"Kau sudah banyak membantuku melakukan banyak hal. aku berterima kasih padamu." kata Icha masih memejamkan matanya, sepertinya ia sangat lelah.
Malam semakin larut, dinginnya kota New York sama seperti apa yang dialami Icha saat ini. Hatinya begitu gundah gulana. Sampai saat ini Megan Masih memikirkan cara supaya pernikahan sahabatnya itu bisa bertahan, agar cinta segitiga tidak terjadi. Tapi mengingat padatnya jadwal konser Tour, Megan harus mengatur cara bagaimana caranya supaya Icha dan Arka bertemu untuk saling meluruskan masalah mereka.
***
.
__ADS_1
.
"Maafkan aku hanya bisa mengantarmu sampai sini," kata Megan. Begitu Megan mengantarkan Icha sampai di bandara. Karena Megan akan pulang kampung selama liburan lima hari yang diberikan oleh Icha.
"Hah ya kau tenang saja, sekarang ada Frans. Kemanapun aku pergi sudah ada yang menggantikanmu untuk menjagaku. Sekarang kau harus menjaga dirimu sendiri untukku, kau mengerti. Kamulah sumber kekuatanku. kata Icha pada Megan.
Mereka saling berpelukan sebelum akhirnya mereka berpisah. Frans yang sudah sejak tiga puluh menit berlalu menunggu drama ala mereka sebelum perpisahan sementara itu terjadi, lalu Frans melihat jam tangannya yang sebentar lagi pesawat akan lepas landas .
"Nona sudah ada tanda peringatan, jika pesawat sebentar lagi akan lepas landas." kata Frans mengingatkan Icha.
Kali ini Icha akan terbang ke Tokyo, selain ke Tokyo dia juga akan pergi ke Kyoto mengelilingi kota Kyoto, di mana kedua kota itu adalah tempat kelahiran nenek dan kakeknya di sana. Ia bisa menenangkan kembali pikirannya dan bisa berpikir jernih untuk menentukan masalahnya sendiri bagaimana kelanjutan hidupnya dengan Raka apakah berpisah atau masih bertahan.
Tidak banyak bicara, sepanjang perjalanan di dalam pesawat Icha hanya bisa memejamkan matanya. Bahkan ia sama sekali tidak memegang ponselnya. Ponselnya juga entah ke mana, sepertinya Frans yang mengurus semua barang-barang milik Icha, yang biasanya hal-hal sepele ini diurus oleh Megan, kali ini digantikan oleh Frans.
"Apakah anda sangat lelah nona?" tanya Frans sambil menyodorkan sebotol minuman pada Icha, karena melihat nona mudanya sepertinya terlihat pucat.
Icha yang semula berdiam diri, perlahan membuka kelopak matanya. Walaupun outfit hari ini yang ia gunakan begitu tertutup, tetapi tubuhnya masih menggigil kedinginan.
"Terima kasih, tapi aku tidak apa-apa." kata Icha. Lalu kembali memposisikan tubuhnya seperti semula.
Perjalanan dari New York ke Tokyo memakan waktu empat belas jam. Selama perjalanan di dalam kabin Icha sama sekali tidak mau membuka matanya. Membuat Frans mau tak mau harus menggoyangkan tubuh Icha, karena Icha sudah melewatkan jam makan siangnya tadi.
"Ada apa? Kenapa kamu mengganggu tidurku?" tanya Icha sedikit ketus.
"Makanlah dulu nona, setidaknya makan sedikit tidak apa-apa untuk energi anda selama dalam masa perjalanan." kata Frans tangannya masih sibuk menata makanan diatas piring untuk membuka agar Icha mudah ketika nanti melahap hidangan itu.
"Buat kamu saja aku sedang tidak ingin makan."
"Sedikitlah nona. Selama anda bersamaku Anda adalah tanggung jawab saya, jadi menurutlah." kata Frans dingin dan memaksa.
__ADS_1
Frans yang semula duduk agak jauh dari Icha. Kini sudah berpindah bersebelahan dengan Icha, ia sudah bersiap untuk menyuapi Icha.
"Aku bukan anak kecil, sini biar aku makan sendiri." kata Icha merebut piring yang ada di tangan Frans.
"Begitu lebih baik, daripada Anda tidak makan sama sekali nona, setidaknya semua berjalan baik-baik saja." batin Frans bermonolog.
"Uhukkkk uhuuuuk."
Terlihat Icha tersedak makanannya sendiri. " Pelan lah sedikit nona, tidak akan ada yang merebut makanan dari Anda. Ini minum dulu." Frans kembali menyodorkan minuman pada Icha.
Icha kembali meneruskan makanannya walaupun tenggorokannya tidak bisa menerima makanan enak yang tersaji di atas piring itu.
Dan Frans hanya bisa memperhatikan gerak-gerik Icha, "Dia begitu cantik, anggun dan juga seorang superstar. Semua lelaki menginginkannya." setelah sadar dari lamunannya sendiri Frans menggelengkan kepalanya. " Apa yang aku pikirkan ." batinnya. Ia segera mengusir angan-angan yang membuatnya terlena nanti. "Dia perempuan terhormat dan terjaga kau tidak boleh menodainya." Frans berbicara dalam hati pada dirinya sendiri.
Icha yang semula konsentrasi makan, ia masih bisa menyadari jika Frans sepertinya sedang melamun. Hingga ia menoleh pada frans, dan melototkan matanya. " Apa yang kamu pikirkan, jangan-jangan kamu sedang berpikiran mesum ya?" kata Icha, salah satu jarinya menunjuk ke arah muka Frans.
" Oh ya ampun dia begitu imut." batin Frans lagi.
Frans masih terbuai dalam lamunannya, hingga beberapa detik kemudian setelah konsentrasinya terkumpul ia baru menjawab pertanyaan Icha.
"Anda salah nona, saya sedang memikirkan kenapa orang secantik Anda begitu susah untuk diberitahu."
"Kau mengejekku?" Icha langsung naik pitam mendengar kata-kata dari Friends baru saja.
"Bukan nona, tapi ini kenyataan. Mana berani saya mengejek anda, bisa-bisa gaji saya dipotong oleh tuan Arka."
Mendengar nama tersebut membuat Icha terdiam beberapa saat, makanannya yang semula enak, mendadak menjadi pahit di dalam lidahnya. Lalu ia menaruh piringnya di atas pangkuan Frans, dan minum beberapa teguk untuk mengantarkan sisa makanan didalam mulutnya.
"Aku sudah kenyang, bisa kau kembalikan makanan ini ke tempatnya." Perintah Icha pada Frans memotong ucapan Frans baru saja.
__ADS_1
Tanpa banyak membantah. Frans menuruti apa permintaan Icha, lalu kembali duduk ke tempatnya semula. Sepertinya pesawat sebentar lagi akan landing.
Begitu pesawat landing. Mereka keluar dari sana. Selain Frans juga banyak beberapa bodyguard yang ditugaskan dari agensi, tetapi Frans lah yang lebih ke asisten karena harus berada di dekat Icha. Ketika mereka memasuki kendaraan umum. Icha terdiam sejenak melihat berita internasional jika salah satu member k-pop digosipkan dan berkencan dengan salah satu pengusaha ternama. Mendengar pembacaan berita itu di televisi tempat umum membuat Icha murung.