
Hampir satu setengah jam Icha terjebak di dalam kamar pengantin itu. Dirinya dijadikan guling hidup oleh Arka.
Dirasa Arka sudah tidur dengan nyenyak, pelan pelan Icha memindahkan tangan serta kaki Arka dari tubuhnya, dan dirinya turun dari ranjang sangat hati-hati.
"Hahh..., berhasil juga akhirnya, bisa sesak nafas aku jika terus-terusan menjadi gulingnya."
"Oh jantungku, ada apa dengan jantungku?" Icha memagang dadanya sendiri, "Aku rasa ada yang salah dengan diriku."
"Sebaiknya keluar saja dari ruangan ini," Icha mengambil langkah seribu untuk pergi dari kamar pengantin itu.
***
.
.
"Apa yang kalian lakukan?"
"Kenapa lama sekali tak keluar keluar?" tanya Megan bertubi-tubi.
"Pengantin baru iya melakukan apa seharusnya dilakukan." ide jahil Icha seketika muncul begitu saja.
"Ck, aku tak percaya, kau jangan mengarang cerita deh. " Megan mencibir.
"Lalu kenapa kamu sangat kepo sekali?" Icha membalik kata-kata Megan.
"Tapi apa kalian sudah melakukan..." ucapan Megan terhenti, namun pandangannya fokus melihat langkah kaki Icha.
"Tapi biasanya kalau di novel novel yang aku baca setelah melakukan hubungan suami istri yang pertama kalinya akan sakit, dan jalannya agak aneh."
"Sepertinya otak kamu itu sudah terkontaminasi dengan novel iya." Icha bersedekap dada berdiri di depan Megan.
"Tapi kalau aku lihat dari langkah kaki kamu itu tidak ada randa yang aneh." ucap Megan memicingkan matanya ke arah Icha.
"Sudahlah jangan pakai panduan novel halumu itu, berbeda iya dengan yang kenyataan." Icha masih saja mengelak.
"Kau disini?" tanya Devan yang tiba-tiba saja muncul.
"Kakak, ada apa kakak mencariku?" tanya Icha.
"Dimana suami kamu?"
"Suami?" Icha membeo, dirinya jika sudah menikah, mendengar kata suami membuatnya geli sendiri.
"Iya suami kamu dimana?"
"Kak Arka sedang tidur kak."
"Baiklah, jika sudah bangun temani dia makan, sejak pagi tadi dia belum makan." ucap Devan lalu berbalik.
"Kak tunggu aku kak," Icha menghentikan langkah kaki Devan.
"Ada apa?" tanya Devan.
__ADS_1
"Ehmmm tidak jadi deh."
"Iya sudah, karena kamu sekarang sudah menikah, aku akan pindah di kamar sebelah," Megan juga berbalik meninggalkan dirinya sendirian disana.
Icha kembali ke dalam kamarnya, lalu melihat tas yang tergelak diatas meja, tas itu tidak sengaja ia jatuhkan, dan hampir semua isinya keluar dari sana.
Satu persatu barang barang yang ada di dalam tas itu Icha punguti. "Gelang perempuan?" ketika dirinya tidak sengaja memunguti gelang yang tergelar keluar dari tas suaminya itu.
"Apa dia sudah memiliki wanita idaman?" Icha menggelengkan kepalanya, lalu mengembalikan lagi ke dalam tempatnya semula.
Icha mondar mandir di dalam ruangan kamar yang tidak terlalu luas itu, dirinya menjadi bingung sendiri apa yang akan dilakukan setelah ini.
"Kau sedang apa?" tanya Arka masih dengan memejamkan matanya.
"Ehh kak, kam...kamu sudah bangun?" tanya Icha tergagap, dirinya menjadi gugup sendiri menghadapi suaminya, iya suaminya, gelar terbaru dalam dirinya saat ini adalah seorang istri.
"Menurutmu?"
"Tapi sepertinya kakak masih mengantuk, tidurlah lagi aku akan keluar dulu kalau mengganggu tidur kakak." Icha berbalik dan bersiap melangkah keluar.
"Tunggu dulu,"
Icha berhenti ditempatnya, tapi tidak membalikkan badannya.
"Akan sangat tidak sopan jika dipanggil suaminya tapi malah membelakangi." sindir Arka.
"Apa lagi?" Icha berbalik dan menatap kesal suaminya.
Icha melangkahkan kakinya mendekat ke arah Arka, pikirannya sudah campur aduk, bahkan keringat dingin ditangannya sudah seperi terkena air es seharian.
"Mendekatlah..."
"Mendekat kemana lagi? ini sudah mendekat kak." rajuk Icha lagi.
"Duduk kemari, aku tak akan berbuat macam- macam."
Mendengar kata Arka tadi membuat hatinya Icha lega, Icha mengambil posisi duduk di pinggiran tempat tidur.
"Sebenarnya kakak ini mau apa sih?"
"Kalau mau bicara iya bicara saja." protes Icha.
Kemudian Arka merogoh saku celananya, mengambil sesuatu disana.
Ternyata sebuah kotak cincin, disana terukir cincin yang sangat indah, bentuknya polos terdapat ukiran nama Arka love Icha yang terbuat dari berlian di tengah-tengah cincin polosan itu.
"Mana jari manismu?"
Icha yang sangat kesal habis menemukan gelang perempuan, membuatnya lupa ketika mendapatkan kejutan tak terduga dari Arka.
"Jadi kakak sudah menyiapkan ini jauh-jauh hari? kakak sudah tahu kalau ternyata kita dijodohkan?" Icha memberondong berbagai pertanyaan yang tiada habisnya.
"Sebenarnya kau itu mau bertanya atau mau wawancara?"
__ADS_1
Seketika muka Icha bersemu merah karena malu, "Iya kakak tinggal jawab aja satu persatu."
"Diamlah dulu, bahkan aku belum memasangkan cincin ini dijari manismu."
"Tidak mau kakak curang."
Arka mendongak menatap wajah manis oriental Icha. "Curang apanya?"
"Masak iya aku saja yang memakai cincin ini, kakak tidak, lalu kalau banyak yang mendekati kakak di luaran sana bagaimana?" Icha merajuk.
"Baiklah aku juga akan menggunakannya, karena pernikahan kita mendadak tanpa adanya prosesi pertunangan, maka kamu saja yang memasangkan cincin ini di jariku."
"Bagaimana?"
Icha nampak berpikir, pasalnya dia belum mengetahui jika kotak cincin beludru berwarna merah itu ternyata isinya dua buah cincin dengan ukuran berbeda dan bentuknya sama.
"Jadi kakak mau prank aku lagi."
"Ahh aku sedang kesal sama kakak."
"Mulutnya dikondisikan, jika tak ingin melewati malam ini dengan hal lain."
Seketika membuat Icha bungkam, kemudian dirinya mengambil cincin itu bergantian memasangkan. "Sejak kapan kakak menyiapkan ini semua?" tanya Icha penasaran.
"Aku lupa," jawab Arka santai.
"Ihhh kakak curang, ya udah kalau tak mau jawab aku mau keluar dulu." Icha bangkit dari duduknya, namun tangannya ditarik Arka hingga dirinya terjatuh ke pangkuan Arka dan mengenai intinya.
Ketika sedang berdekatan dengan Icha, Arka merasakan gelombang cinta yang lain pada dirinya, seperti tersengat listrik ribuan volt.
"Kakak aku merasakan ada sesuatu yang lain." ucap Icha kala tangannya tak sengaja memegang area inti Arka. Sadar dengan apa yang dilakukannya membuatnya berteriak.
"Ahhh kakak...." berlari keluar kamar seperti habis ketemu setan disiang bolong.
"Ini gila..." Icha memegang dadanya sendiri.
"Kau kenapa, seperti habis lari maraton saja?" tanya Megan yang tiba-tiba nongol.
"Sudahlah, aku perlu air, tolonglah aku ambilkan air, aku habis memegang tombak." ucap Icha random.
"Tombak, tombak apa." kala Megan kembali lagi dengan segelas air putih.
"Kau tak akan tahu, karena yang tahu hanya orang-orang yang sudah menikah saja."
"Ck, kau ini berbicara tidak jelas sekali."
"Duduklah sini, kau atur dulu lah nafasmu itu," Megan menarik Icha ke tempat duduk yang tak jauh dari mereka berdiri.
"Megan, sepertinya malam ini aku akan ikut tidur bersama kamu saja, karena aku takut bertemu tombak kokoh."
"Tidak, aku tak mau, nanti kamu akan di cari suami kamu, nanti juga malah membuat tidurku tidak nyenyak saja." kesal Megan menolak permintaan Icha. "Ck, kau ini pelit sekali." keluh Icha.
"Biarin..."
__ADS_1