
"Kau sedang di mana?" tanya Arka pada Alex dalam sambungan teleponnya.
"Aku sedang menyelesaikan proyek baruku. Ada apa kau menelponku? apa hanya mau menanyakan keberadaanku saja." tanya Alex datar.
"Apa kau tak ingin menyusulku aku sekarang berada di London."
"Di mana?"tanya Alex.
"Berada di hotel X." Arka.
"Ck, kau rupanya sedang menyusul istrimu."
"Tentu saja tapi tidak hanya itu sambil mengerjakan proyek baru." jawab Arka santai, dirinya masih fokus berhadapan dengan MacBooknya, mengecek email satu persatu.
"Cepat kemarilah, ada hal lain yang ingin kusampaikan padamu." perintah Arga pada Alex.
"Tunggu pekerjaanku selesai dulu, bos memang selalu benar dan karyawan memang tempatnya salah." jawab Alex.
Percakapan mereka hanya seputar bisnis, pekerjaan, proyek dan juga kolega, serta tempat di mana proyek baru akan diadakan. Mungkin menurut perempuan itu adalah hal yang membosankan, tetapi tidak dengan lelaki yang berotak bisnis seperti Alex dan juga Arka. Mereka begitu lihai menjalankan bisnisnya, terlebih Arka yang di sana berposisi sebagai bos utama dan Alex sebagai tangan kanannya.
Alex segera menyelesaikan proyek yang saat ini ia kerjakan. Seperti menyusun strategi pemasaran produk baru, agar penjualan lebih meningkat dari statistik bulan lalu. dan setelahnya jika proyeksi sudah sudah selesai, ia ingin segera menyusul terbang ke London sesuai perintah bosnya.
Perkiraan dua hari lagi dirinya baru selesai, mengingat pekerjaannya yang begitu banyak. Mengecek setiap aktivitas finishing produk, mengecek administrasi dan juga barang-barang yang akan diimpor ke luar negeri. Alex harus memastikan semuanya berjalan dengan lancar melalui pengawasannya sendiri, walaupun banyak orang yang ia bawahi yang dapat ia percaya.
Berbeda dengan Arka, ia sebagai bosnya bisa bekerja di manapun ia berada, seperti saat ini Arka sedang melakukan pekerjaannya di kota London. Hanya dengan berbekal MacBook dan juga laptop, serta iPhone yang iya miliki, yang ia bawa ke mana saja.
Dirinya baru saja melakukan rapat virtual melalui zoom meeting dan diakhiri dengan pembangunan proyek baru. Arka merasa bosan berada di ruangan kamar yang megah ini sendirian, akhirnya ia memutuskan untuk berjalan-jalan pergi ke cafe yang berada di hotel mewah ini. Hanya sekedar duduk santai sambil menyesap secangkir kopi.
"Anda mau ke mana tuan?" tanya Frans ketika Arka sedang berpapasan dengan dirinya.
"Aku sedang ingin mencari udara segar, sambil meminum kopi. Kau bisa temani aku." ajak Arka pada Frans.
__ADS_1
"Terima kasih tuan atas tawaran anda. Tetapi saya baru saja meminum kopi dari cafe."
"Baiklah kalau begitu, nanti malam setelah istriku selesai konser. Temui aku di cafe bawah, ada yang ingin aku bicarakan padamu."
"Baik tuan," kata Frans mengangguk sopan pada Arka.
Frans kembali kepada tujuannya, begitu pula dengan Arka. Kembali kepada tujuan awalnya, yaitu pergi ke cafe hanya untuk menyesap kopi, sambil bersantai dan melihat suasana sekitar.
Yuju yang saat itu ingin mencari snack, tidak sengaja. manik matanya menangkap sosok seseorang yang membuat jantungnya bisa berdetak dua kali lebih cepat dari orang normal. Seketika langkahnya terhenti dan kakinya memaksanya membawa untuk menyapa.
"Tuan Arka." sapa Yuju ramah namun sedikit jaim.
"Ah ya, anda nona Yuju bukan?" tanya Arka datar namun sedikit menarik sudut bibirnya.
Yuju mengangguk tangannya masih memegang snack, "Apakah anda habis dari membeli snack nona Yuju?" tanya Arka, karena netranya menangkap banyak snack di tangan lucu.
"Ah iya tuan Arka, hanya untuk mengganjal perut, ketika tiba-tiba saja sedang lapar." jawab Yuju terbata, karena dirinya merasa grogi berhadapan dengan Arka.
" Tidak juga Tuan."
Arka mengangguk lalu, lalu menawari Yuju hanya sekedar minum kopi bareng dengan dirinya. Menerima tawaran itu, Yuju terdiam untuk beberapa saat, mengulur waktu. Ia pikir baru sebentar keluar dari kamar hotelnya, tidak apa-apa kan jika hanya menemani ngopi sebentar Tuan Arka, batin Yuju bermonolog.
Segelas kopi latte, yang Yuju pesan. "Wah ternyata selera anda sama dengan saya nona."
"Benarkah?" tanya Yuju, melihat kopi yang baru saja disajikan oleh pelayan di hadapannya.
"Tetapi saya hanya menyukai kopi ketika pekerjaan saya sedang padat saja tuan. Jika saya sedang free, saya tidak akan meminumnya. "
"Karena akan membuat mata saya tidak bisa terpejam sepanjang hari dan malam." ucap Yuju sedikit bercanda, tetapi mampu membuat Arka menarik kedua sudut bibirnya walaupun sangat tipis.
"Bisa begitu juga rupanya nona."
__ADS_1
"Iya Tuan, mungkin ini terdengar aneh, tetapi itulah yang saya alami."
Yuju lalu meminumnya hingga tandas tak tersisa, berbeda dengan Arka. Arka menyesap kopinya sedikit demi sedikit. Sambil menikmati panorama keindahan hotel di kota London.
Walaupun Arka terlihat cuek, tanpa disadari Yuju, ternyata Arka mengamati gelas Yuju yang kopinya sudah habis tak tersisa. Hingga membuat Arka bereaksi melihat hal tersebut.
"Apakah semua perempuan jika meminum kopi langsung habis seperti itu ya." tanya Arka pada Yuju.
Mendengar hal demikian, membuat Yuju tertawa. Yang membentuk sebuah puppy ice di matanya, lalu beralih menatap ke arah kopinya. Antara malu dan juga bingung mau menjawab apa pertanyaan Arka.
"Sudah kubilang Tuan, jika saya tidak terbiasa meminum kopi jika hari-hari biasa. Saya meminum kopinya di hari-hari tertentu saja, di saat saya sibuk." terang Yuju.
"Emm ngomong-ngomong, Tuan Arka kenapa berbicara seperti itu. Apa Tuan Arka sering melihat perempuan jika meminum kopi langsung ditenggak hingga habis tak tersisa? seperti saya ini?" tanya Yuju menaikkan sebelah alisnya, menunggu jawaban apa yang akan keluar dari mulut Arka.
"Ya saya sering melihatnya seperti itu, ketika saya melihat kekasih saya."
Bukan kekasih lebih tepatnya istri batin Arka bermonolog. Namun ia masih belum berani untuk membuka pernikahannya dengan Icha di hadapan publik.
Mendengar ucapan Arka baru saja, membuat Yuju menarik nafas sebanyak-banyaknya, lalu membuangnya dengan perlahan. Kedua tangannya ia turunkan di bawah meja, lalu mengepal dan ia katupkan menjadi satu. Yuju bahkan menggigit bibirnya sendiri untuk menetralkan rasa cemburu yang sedang menyerang dalam dirinya.
"Tenang Yuju tenang, kamu tidak berhak cemburu seperti ini. Tuan Arka adalah impian semua wanita. Pasti dia sudah memiliki idamannya." batin Yuju meronta-ronta.
Berbicara soal siapa yang menjadi wanita idaman Arka. Hal itu malah membuat Yuju semakin penasaran. Berharap ia bisa bertemu, atau bahkan bisa dekat dengan wanita yang menjadi idaman Arka itu seperti apa.
Wanita idaman Tuan Arka tentu saja sangat pandai, cantik, cerdas, memiliki strata yang setara dengan Tuan Arka batin Yuju berperang sendiri.
Pembicaraan Yuju dan juga Arka itu tidak terasa memakan waktu hingga satu jam lamanya. Namun Yuju masih belum menyadarinya, jika dirinya keluar dari kamar hotel terlalu lama. Hingga membuat teman-temannya ingin menyusulnya terlebih lagi Hyun.
Hyun turun ke lantai bawah, untuk menyusul Yuju diikuti oleh Icha. Semula Icha sedang bersantai, namun dirinya juga merasa bosan, akhirnya ia ingin ikut Hyun menyusul Yuju.
Hyun berjalan lebih dulu, sedangkan Icha mengekor dari belakang. Dari kejauhan, Icha seperti sedang menangkap sosok lelaki yang ia kenal sedang duduk berhadapan dengan sahabatnya. Hal itu membuat detak jantungnya berdebar dan juga gemetaran kaki dan tangannya.
__ADS_1