
Makanan yang dibawakan oleh fans mereka berupa biskuit macaron warna warni, ditengahnya terdapat cream, dan bila digigit sangat renyah, ada Tanghulu juga dari buah-buahan. Tanghulu merupakan manisan yang terbuat dari buah-buahan yang berasal dari Tiongkok, tetapi di Korea Selatan sendiri sudah banyak ditemukan, serta ada juga Jeli warna wani dari bentuk buah, panjang dan masih banyak lagi. Semua ini adalah desert kesukaan Icha.
"Tunggu-tunggu, coba deh kalian amati makanan ini semua." Hyun menghentikan aktivitas mereka yang sedang asyik mengunyah.
"Kenapa?" Tanya Yuju berhenti sejenak.
"Kalian ini bagaimana sih, sadar tidak jika semua desert ini adalah kesukaan Icha." Hyun bersuara lagi.
Lalu Hana, Mega, dan Yuju menoleh pada banyak desert yang tersedia lalu menoleh pada Icha, begitu terus bergantian.
Icha yang sedang mengotak atik ponselnya merasa ada yang aneh ditatap teman-temannya seperti itu.
"Hei kenapa kalian menatapku heran?" Tanya Icha berhenti memelototi mereka.
"Aku rasa ini semua bukan dari fans deh." Hana berpendapat.
Seketika Megan menyimpulkan sendiri, jika ini semua apakah dosen Arka yang mengirimnya, mengingat mereka pernah bertetanggaan lama.
Tetapi Megan masih menyimpulkan dalam hati, bekum berani bersuara.
"Udahlah mau makan ya makan saja, tidak usah mikir yang tidak-tidak." Icha.
Lalu mereka sibuk dengan aktivitas mengunyah, sedangkan Icha duduk santai sambil meminum jus buahnya dan berbalas pesan dengan kakeknya.
"Kenapa dia selalu muncul di pikiranku, dalam keadaan ramai seperti ini saja masih muncul." Gumam Icha pelan hampir tak terdengar.
Icha menganggap jika pertemuannya dengan dosen Arka tadi adalah sebuah halusinasinya saja.
Nanti dirinya akan bercerita banyak pada Megan jika sudah berdua di dalam kamarnya.
Malam harinya, Megan selesai membersihkan diri lalu bermain ponsel di balkon kamarnya, Icha yang habis mandi menyusul Megan di balkon kamarnya dan duduk seberang kursi yang saat ini Megan duduki.
"Megan aku ingin bicara padamu."
"Ehmm iya bicaralah, aku siap mendengarkan."
Megan meletakkan ponselnya di atas meja kecil di depan mereka, lalu pandangannya mengamati ekspresi Icha dengan seksama dan siap mendengarkan ceritanya.
"Apa kamu pernah dengan apa yang aku alami saat ini?"
"Maksud kamu?"
"Aku merasa halusinaku semakin menjadi-jadi, apa perlu aku pergi ke psikoterapi?"
__ADS_1
"Hal apa yang mengganggu pikiranmu?" Tanya Megan memastikan.
"Aku merasa jika halusinasiku dosen Arka selalu muncul di pikiranku, seperti tadi sehabis konser aku melihat orang lain seperti melihatnya."
"Benarkah, dimana itu?"
"Iya dia duduk di kursi penonton bagian Vip "
Kesimpulan Megan kemungkinan benar jika yang mengirimkan banyak desert tadi adalah dosen Arka, tetapi sedikit pun Icha tak mau memakannya, tadi sempat meminta tapi ada temannya sesama Artis yang membawa makanan lain, sehingga dirinya tidak jadi makan makanan desert kesukaannya tadi.
"Sekarang aku mau bertanya padamu?"
"Soal apa?"
"Apa kamu masih mencintai dosen Arka?"
"Aku tidak tahu, aku tidak mau memikirkan hal itu lagi, aku hanya memikirkan soal karirku dan usahaku saat ini."
Memang tidak ada kebohongan pada bola mata Icha yang ia amati dengan seksama. Sepertinya Icha serius dengan ucapannya.
"Baiklah itu bagus untukmu."
"Ehmm iya, aku merasa jika Yara saudara sepupunya itu mencintai dosen Arka, sehingga ingin mencelakai aku."
Icha menutup mulutnya dengan kedua tangannya, kalau ia baru saja keceplosan dengan bicaranya sendiri.
"Tidak, tadi aku hanya bicara ngawur saja."
"Benarkah?" Megan.
"Tapi sayangnya aku tak percaya sama sekali." Megan sekarang sudah tahu biang masalahnya jika yang ingin memisahkan Icha dan dosen Arka adalah Yara.
"Si wanita kuntilanak itu, awas saja aku akan memberinya pelajaran." Megan sudah gemas ingin menghampiri dan mencakar wajahnya.
"Sudahlah aku tak masalah dengan hal ini, jangan kau pikirkan." Icha.
"Kamu ini selalu saja baik pada semua orang, bahkan sama orang yang jahat padamu saja, kamu masih bisa baik padanya,"
"Sungguh aku tak mengerti terbuat dari apa hatimu ini."
"Menyimpan dendam pada seseorang sama saja menyimpan bibit penyakit dalam diri kita, kau tahu itu."
"Aku tak peduli, pokoknya aku akan membalasnya dengan tanganku sendiri " Megan wajahnya memerah menahan amarah dan giginya gemelutuk.
__ADS_1
"Aku tak rela kau mengotori tanganmu yang suci itu hanya demi kepuasan hatimu saja."
"Baiklah terserah padamu saja, mungkin kali ini dirinya bisa selamat, tetapi awas saja jika hari-hari berikutnya dia berusaha mencelakaimu, akan aku pastikan dia lenyap di tanganku."
"Sudahlah ini sudah larut, ayo tidur."
Icha berlalu masuk kamar meninggalkan Megan yang masih mengunyah kentang gorengnya dengan perasaan kesal akibat tadi mendengarkan cerita Icha.
Pagi hari menyambut, kali ini Icha bangun lebih awal untuk pergi joging di area taman yang dekat dengan tempat tinggalnya.
Tempat tinggalnya terdapat hotel, dan penghuninya banyak yang joging di area taman. Hal ini membuat suasana di tanan itu sangat ramai. Karena di sana terdapat fasilitas olahraga dan dapat menghirup udara segar dengan gratis.
Dari kejauhan Icha berhenti, lalu duduk di kursi yang tak jauh darinya.
"Oh Tuhan, seperti hantu saja, dimana-mana aku bahkan melihatnya." Gumam Icha.
Dirinya melihat dosen Arka sedang joging diarea taman, tidak lama kemudian di belakangnya menyusul Yara.
Icha kembali bangkit dan berdiri, dirinya berjalan putar arah untuk balik ke tempat tinggalnya lagi. Ia tak ingin melihat wajah dua orang yang membuat mood paginya berantakan.
"Ternyata aku sedang tidak berhalusinasi." Lirihnya sambil berlari kecil.
"Aku bahkan tak ingin melihat wajahnya lagi, tapi kenapa dia seperti sengaja melakukan hal ini." Icha meneteskan air matanya sedikit. Padahal sekuat tenaga ia tahan.
"Aku sangat membencinya, aku tak ingin mengenalnya lagi, dia tak pantas untukku." Icha menyemangati dirinya sendiri dan menguatkan hatinya.
Arka masih dua bulan lagi kurang lebih berada dikota ini, selama berada dikota ini dirinya dirinya akan tinggal di Hotel dekat tempat tinggal Icha.
Jalan kakinya ia pelankan, lalu mengusap air matanya kasar, hari ini ia butuh sesuatu yang dapat mengembalikan moodnya menjadi membaik.
Lalu Icha berhenti di kedai es krim di seberang jalan, "Es krim satu."
Icha duduk di kedai es krim sendirian, untuk menikmati harinya yang sepertinya kurang menyenangkan ini.
"Ini nona pesanan anda."
Icha memesan es krim coklat mix durian, dengan porsi super jumbo. Lalu melahapnya dengan buru-buru. Hal itu membuat mulutnya belepotan akibat es krim itu.
Seseorang telah menyodorkan sapu tangan padannya. "Hati-hatilah nona jika makan es krim, tak akan ada yang merebutnya."
Icha mengambil tanpa melihat wajah pemilik sapu tangan itu. Lalu mengusapnya dengan kasar. Mungkin akibat hati dan pikirannya yang capek juga mempengaruhinya.
Lelaki itu duduk di kursi seberang mejanya tanpa diminta.
__ADS_1
dan
Bersambung