
Makan siang kali ini bertiga bersama Alex. Diselingi obrolan soal pekerjaan dan yang lainnya.
"Apa kau tak ada niatan untuk membuka usahamu sendiri?" tanya Devan pada Alex.
"Belum ada kepikiran kesana."
"Lalu kapan kau akan memulainya?"
"Entahlah, untuk saat ini aku rasa perusahaan Arka masih membutuhkan tenagaku."
Icha mendongak menatap Alex, menghentikan kegiatan mengunyah makanannya. Hatinya masih saja berdebar kala nama itu di sebut.
"Ehmmm apa kau selamanya akan bekerja dengan anak itu?"
"Belum tahu juga."
"Aku rasa kau bisa memulai usahamu, tak apa kau bekerja dengannya, tapi juga lebih baik jika kau memiliki usaha sampingan."
"Baiklah, akan aku pikirkan lagi nanti."
"Jangan berpikir terlalu lama, tidak baik untuk kemajuanmu."
"Ehmm iya kau benar."
"Aku rasa tidak apa-apa jika kau memiliki usaha sampingan, dan kau tetap bekerja dengan Arka."
"Bukankah sekarang ini semuanya serba canggih, kau bisa memantaunya lewat MacBookmu nanti."
"Ehmm iya, sepertinya menarik juga ide darimu."
"Bagaimana kabarnya anak itu?? ... aku rasa sudah lama tak bertemu dengannya."
"Iya begitulah, sebentar lagi akan menikah."
"Menikah ?" Ulang Devan. Menaikkan sudut bibirnya disela kegiatan mengunyah makanannya.
"Yang benar saja, aku merasa dia tak pernah menggandeng satu perempuan mana pun."
Selama ini pacaran yang dialami Arka dan juga Icha sangat rapi, sehingga walaupun beberapa kali dirinya jalan. Tetapi orang suruhan Devan tak dapat melihat wajah Arka dengan jelas.
"Kau benar, bahkan dia sangat jijik jika didekati perempuan manapun." Alex melirik kearah Icha. Melihat ekspresi Icha kala dirinya sedang membicarakan Arka.
"Lalu bagaimana bisa dia akan menikah."
"Dia dijodohkan oleh ibunya."
"Hah, bisa nurut sama orang tua juga itu anak." Devan mengelap mulutnya dengan tisu. Mengakhiri makan siangnya.
"Mungkin karena sebuah ancaman dari orang tuanya, kalau tidak mana bisa menurut anak itu."
"Sepertinya tak mudah mengancam seorang Arka Alfis Pawiyatan."
"Tak tahulah, lihat saja nanti."
"Apakah dirinya bisa meneruskan pernikahannya atau malah putus ditengah jalan."
"Tetapi yang jelas, aku belum tahu pasti kelanjutannya bagaimana hubungan dia dengan tunangannya."
"Tetapi sepertinya aku melihat dirinya digosipkan sudah menikah." Devan membantah pernyataan Alex.
__ADS_1
"Itu hanya gosip tak bermutu, tadi pagi dia sudah menghubungiku, untuk menghapus jejak digital gosip tentang dirinya."
"Jadi itu semua tidak benar."
""Tidak," Alex.
"Baiklah, kapan kita akan berkumpul dengan teman yang lainnya?" tanya Devan pada Alex.
"Nanti aku akan atur ulang jadwalnya, untuk sekarang ini sedang menyelesaikan proyek pembangunan real estate dulu."
"Benar-benar pemilik kerajaan bisnis anak itu."
"Aku rasa kau tak kalah dengannya, usahamu juga berkembang dimana-mana." ucap Alex pada Devan.
"Hemm, bagaimana jika kita berkumpul dengan teman yang lainnya untuk membahas kerjasama untuk proyek pertambangan." ide cemerlang Devan muncul seketika.
"Apa bisa seperti itu?" tanya Alex meminum kembali jus buah lemon nya.
"Kenapa tidak, jika berkumpul biasa akan sangat sulit, lain halnya jika berkumpul membahas soal kerjasama nanti."
Alex terdiam sejenak, memikirkan kembali ucapan Devan.
"Baiklah aku menyetujuinya."
Icha yang dari tadi makan sambil menyimak dua orang sedang berbincang itu merasa bosan. Dirinya akan berpamitan pada kakaknya dan jalan-jalan pagi mengelilingi area tempat yang belum pernah ia kunjungi.
Tring....
Suara tanda panggilan masuk di ponsel Alex. Ternyata Arka yang melakukan panggilan padanya.
"Sebentar aku akan angkat telpon dulu."
"Kau sedang apa, kenapa tak membalas chat ku sama sekali?"
"Maafkan aku, aku sedang makan siang."
"Lalu ada apa kau menelponku?" tanya Alex pada Arka.
"Orang tuaku meminta, agar pernikahanku segera dipercepat."
"Lalu apa masalahnya denganku," Alex.
"Kau ini bagaimana, beri aku ide untuk menolaknya, aku tak mau menikah dengan perempuan itu."
"Dia sangat licik, mendekati orangtuaku hanya ingin yang lain."
"Baiklah, nanti akan aku pikirkan lagi."
"Hei, kenapa tak kau nikahi saja, dia perempuan pilihan orang tuamu, aku rasa orangtuamu ingin yang terbaik untukmu." Devan menyahut ponsel yang dipegang Alex hampir saja ia matikan itu.
Icha yang tadi akan berpamitan pada kakaknya, kini berubah haluan. Memelankan acara kegiatan makannya. Malah nambah beberapa cemilan lagi yang ia pesan. Demi bisa mendengarkan lebih lanjut lagi obrolan mereka.
"Ck, rupanya kau sedang bersama Alex saat ini." suara Arka diseberang sana.
"Kau jangan mengalihkan pembicaraan. Aku rasa kau nikahi saja perempuan pilihan ibumu, dan urusanmu dengan orang tuamu akan selesai." Devan menertawakan Arka dalam hati.
"Kau bertepuk tangan untukku, karena perjodohan ini?" tanya Arka pada Devan.
"Aku hanya memberimu saran untuk masalahmu, lalu salahku dimana?" Devan sekuat tenaga menahan tawanya, agar tak pecah dan bisa didengarkan oleh Arka di seberang telepon ini.
__ADS_1
"Aku tak berminat menikahinya, kau bisa mengambilnya jika mau, maka aku akan merelakannya dengan ikhlas."
"Lalu perempuan seperti apa yang ingin kau nikahi nanti," Devan masih saja meneruskan rasa ingin tahunya.
"Belum tahu, aku belum ingin menikah untuk saat ini."
"Dia sedang patah hati, belum bisa move on dari seseorang." ups Alex menutup mulutnya sendiri, dirinya keceplosan berbicara di depan Devan.
Tapi terlambat, Devan sudah mendengarnya dengan jelas. Icha hampir saja menyemburkan minumannya, kala ia sedang meminum air putihnya. Lalu terbatuk-batuk dan hal itu menajamkan pendengaran Arka diseberang sana.
"Kalian bersama siapa saja." tanya Arka.
"Kita di sini sedang makan bersama adiknya Devan, kau tahu bahwa adiknya Devan sangat cantik dan imut. Aku rasa kau akan menyukainya jika bertemu dengannya." kala ponselnya kembali ia rebut dan Alex keluar ide jahilnya. Walaupun mata Devan sedang memelototinya tapi ia tak menghiraukan.
"Ck, buat kau saja, kalian ini kenapa suka sekali melihat orang menderita." kesal Arka.
"Benarkah kau tak mau, padahal sayang sekali kau nanti akan iparan dengan Devan."
"Aku tak akan sudi menjadi iparmu." sahut Devan bersedekap dada dan melirik kearah Alex.
"Iya siapa tahu aja bisa di coba kan, namanya juga usaha." Alex.
Kali ini ponsel Alex ia letakkan di atas meja, dan dirubah menjadi loudspeaker agar bisa didengar oleh semua orang.
"Aku rasa tak buruk juga iparan dengan Devan, dan jika kali ini kau menolak, aku pastikan kau akan menyesal nantinya."
"Omong kosong apa kau ini, sudahlah berikan aku solusi dulu untuk masalah perjodohan dari orang tuaku. Aku tunggu sampai nanti malam."
"Tunggu dulu jangan kau matikan teleponnya, ini ada kabar dari Devan, jika kita akan melakukan kerjasama dengan yang lain sambil reuni, bagaimana menurutmu?" tanya Alex.
"Kau tak boleh menolaknya." Devan menyela pembicaraan Alex.
"Ehmm soal itu kau bisa nentukan jadwal untukku."
"Aku akan mengikutinya saja nanti."
"Baiklah aku tutup dulu teleponnya, sebentar lagi wanita jadi-jadian itu akan kemari."
Panggilan dimatikan sepihak dari Arka, dirinya sepertinya sedang kesal dengan masalahnya sendiri.
Icha yang dari tadi menyimak merasakan nyeri dihatinya, masih tersisakah cinta Arka untuknya. Walau pun ekspresinya sulit ditebak tetapi hatinya masih belum bisa menerima ini. Bahkan dirinya tak memiliki kesempatan untuk menjelaskan tentang hal kesalahpahaman ini.
"Ehmm kakak, aku akan berjalan-jalan dulu, apa tidak apa?"
Icha bangkit dari duduknya, dan bersiap menggunakan topi pantainya yang sudah berada ditangannya.
"Ehmm iya, jangan terlalu jauh, jangan melakukan hal yang berbahaya, jangan kembali terlalu sore."
"Apa kau mengerti?" Devan.
"Baiklah tidak, aku pergi dulu dahhh kakak." Sudah berlalu menjauh dari tempat awal mula mereka makan.
"Ck, kau ini kenapa seperti sedang mengurusi anak bayi saja, banyak aturan." Alex berdecak mendengarkan banyak yang diberikan pada adiknya.
"Kau tak mengerti, maka diamlah."
dan
jangan lupa tinggalkan jejak
__ADS_1