Menikahi Adik Sahabatku

Menikahi Adik Sahabatku
Suasana Hati Yang Kurang Baik


__ADS_3

"Aku rasa kau tahu kan apa yang aku maksud." ancam Devan berkata lirih, namun terdengar menakutkan.


"Iya aku tahu, "


"Bagaimana jika kau tahu tentang sebuah fakta, kalau Arkalah yang telah menyakiti adik kesayanganmu." batin Alex.


"Bagaimana pertemuanmu dengan rekan bisnis tadi?"


"Semua berjalan lancar, dan di luar dugaan, aku kira bakalan memakan waktu banyak."


"Ternyata lebih cepat dari yang aku perkirakan."balas Alex santai, memasukkan sebelah tangannya ke dalam saku celananya. Berjalan di sebelah Devan yang duduk mengamati Icha.


"Iya bagus dong kalau begitu,"


"Katanya kau ingin berkuda?"


"Pergilah kesana, untuk mencari kuda yang bisa kau pakai."


"Ehmmm baiklah."


Devan dan juga Alex berjalan ke arah dimana Kuda berada, "Bagaimana kalau kita kekuatan." tantang Devan.


"Siapa takut,"


"Ayo."


Akhirnya Alex menerima tantangan dari Devan, mereka bermain kuda dengan berkejar-kejaran, kuda siapa yang lebih kuat.


"Hei kakak dan kak Alex, kalian kenapa begitu." teriak Icha.


Namun dua orang itu tak ada yang mendengarkan suara Icha, bahkan Alex dan Devan terlihat seperti anak kecil yang menemukan mainan baru.


Kini berganti Icha yang turun dari kudanya, berjalan menuju kursi santai dan melihat mereka berdua yang sedang asyik bermain kuda.


"Kenapa aku seperti melihat anak kecil yang menemukan mainnya." gumam Icha.


"Ahhh sudahlah biarkan saja, memangnya apa peduliku." Icha duduk dan memakan cemilan yang tadi dibelikan Devan sebelum bermain kuda.


Satu jam kemudian, mereka terlihat lelah, tak ada yang kalah dan tak ada yang menang, semuanya terlihat sama.


Alex dan Devan berhenti dari bermain kudanya, berjalan menghampiri dimana Icha berada.


"Hahhh ternyata kak Alex jago juga bermain kuda." Icha yang masih memakan cemilan keripik kentangnya itu.


"Kau benar, aku juga suka bermain kuda." Alex.


"Kalau begitu kapan-kapan kak Devan bisa mengajaknya jika kita akan bermain kuda lagi."


"Tidak akan," ketus Devan.


"Ck, pelit sekali kau ini." Alex mengambil air minum di meja itu dan meneguknya hingga tandas.


"Sudahlah, kak aku lapar." keluh Icha memegangi perutnya.


"Ayo kita cari makan,"


"Aku ingin makan kebab yang tadi."


"Tidak, kau tak boleh makan sembarangan."


"Hei kau ini jangan terlalu galak dengan adikmu." Alex memberikan tegurannya.


"Itu terserah padaku, kau tak usah ikut campur." ketus Devan.


"Aku akan mentraktir kalian makan di restauran yang menyajikan menu berbagai kebab."


"Bagaimana?" tanya Alex meminta persetujuan Icha.

__ADS_1


"Baiklah kak aku mau ditraktir kak Alex."


"Ck, pintar sekali kau merayu adikku."


"Awas saja jika kamu memiliki niat tersembunyi." ancamnya pada Alex.


"Memangnya kenapa, hanya sebuah traktiran, aku rasa tak masalah kan."


Icha yang sudah berjalan lebih dulu, mereka malah masih adu perdebatan.


🌷🌷🌷


Waktu berlalu begitu cepat, Alex telah kembali, sedangkan Icha dan juga kakaknya masih meneruskan perjalannya.


Namun ditengah-tengah liburan mereka, malah Devan mendapatkan sebuah telepon dari Alex.


"Iya hallo ada apa?"


"Hei, hari ini adalah hari pernikahan Arka, apa kau tak berniat datang?" tanya Alex di dalam percakapan ponselnya.


"Aku masih melanjutkan liburanku."


"Lain kali saja aku akan kesana."


"Kenapa pernikahannya di majukan, salahnya sendiri kan mengganggu acara liburanku saja."


"Mana aku tahu, mungkin dia sudah tidak tahan." Alex berbicara random.


"Jangan dengarkan mulut buaya satu ini, aku harap kau bisa datang kemari."


"Tak bisa, aku sedang berada di luar."


"Awas saja jika kamu yang menikah nanti, aku juga tak akan menghadirinya." ancam Arka pada Devan.


"Kau merencanakan balas dendam."


"Menurutmu, pokoknya tak ada alasan, kau harus kemari." telepon Alex yang tadi direbut oleh Arka dan mengambil alih isi pembicaraan itu.


"Dia teman kakak, sudahlah tak usah dipikirkan,"


"Ayo kesana, katanya kau ingin menaiki Speedboat."


Ichan dan Devan masih bermain di tepi pantai, namun juga masih memikirkan pernikahan sahabatnya.


Mereka bermain di air hingga waktu sore hari, berkeliling dengan Speedboat yang mereka sewa.


"Aku lelah sekali kak,"


"Habis ini mandilah, kakak akan mengajakmu pergi ke suatu tempat."


"Baiklah."


Seperti yang dijanjikan Devan pada Icha, jika mereka akan pergi melihat matahari tenggelam, namun cahayanya begitu indah.


Malam harinya, ia mendapatkan sebuah kiriman vidio yang dikirim oleh Alex pada Devan, yang isinya pernikahan Arka dan perempuan yang akan menjadi calon istrinya.


Devan hanya membuka setengahnya saja, karena sudah dipanggil oleh Icha, ke tempat yang lain.


🌷🌷🌷


Tepat satu bulan, mereka liburan berkeliling di berbagai negara dengan kapal pesiar yang telah ia sewa. Kapal pesiar milik temannya.


"Habis ini akan ada sopir yang akan mengantarmu pulang,"


"Kakak masih ada kerjaan,"


"Jadi kakak tak ikut pulang bersamaku?" tanya Icha memastikan.

__ADS_1


"Tidak, nanti tasmu akan dikembalikan oleh asisten kakak."


"Baiklah kakak, pergilah aku akan jalan-jalan lagi nanti." reflek Icha memeluk kakaknya.


"Jangan seperti ini, kakak rak bisa bernafas."


"Hah aku hanya terlalu senang saja." Icha senang karena tasnya akan dikembalikan oleh kakaknya, setelah sekian lama mendapatkan hukuman tak bisa menggunakan kartu ajaibnya dan semacamnya.


"Itu sopirnya sudah datang, pergilah." Devan mengantarkan Icha sampai memasuki mobil jemputan.


"Kau antarkan adikku pulang, dan hati-hati membawa mobilnya."


"Apa kau mengerti?"


"Baik tuan, " jawab sang sopir itu.


Icha pergi diantarkan oleh sopir, dan Devan meneruskan perjalananya dengan mobil jemputan lain untuk pergi ke suatu tempat.


"Semoga saja aku tidak terlambat." gumam Devan melihat jam yang melingkar ditangannya.


🌷🌷🌷


"Aku rasa kau harus membuat sebuah perayaan." ucap Alex pada Arka.


"Maksud kamu?"


"Perayaan karena batalnya pernikahan kamu."


"Jadi, kau mau menertawaiku..., begitu?" ketus Arka.


"Hei, kenapa kau menjadi sensi seperti ini karena batal menikah."


"Bukankah ini yang kau inginkan,"


"Kau tak jadi menikah dengannya, yang menjadi harapan kamu."


"Lalu sekarang, kenapa malah seperti kamu yang kecewa."


"Tidak, aku hanya malas saja membicarakan hal ini."


Saat ini mereka sedang berada di apartemen Arka yang berada di Kyoto, dia membeli apartemen di sana, karena menurutnya, pemandangan disana sangatlah indah.


"Baiklah, Devan tadi menelponku, jika dia akan kemari."


"Baiklah," Arka yang duduk bersandar di sofa tunggal, memejamkan matanya sejenak.


Tring...


Suara bel apartemen berbunyi,"Aku rasa itu dia sudah datang."


Alex berjalan kearah daun pintu, dan membukanya. "Kau hadir diwaktu yang tepat." ketika pintu sudah terbuka dan menampakkan sosok lelaki gagah.


"Ada apa?" tanya Devan melewati Alex.


"Mau lihatlah sendiri."


"Apa yang terjadi?" ketika Devan baru saja tiba, dan duduk didepan Arka.


"Aku tak tahu, dia sedang hamil dengan lelaki lain." jawab Arka malas.


"Kau tak usah frustasi seperti itu,"


"Aku rasa dia bukan jodohmu, dan masih banyak perempuan diluar sana."


"Aku tak memikirkan hal ini." jawab Arka.


"Lalu...?" Devan menaikkan sebelah alisnya.

__ADS_1


dan


bersambung


__ADS_2