
"Kenapa tidak memakan Malatang setelah dari London?" tanya Arka begitu dirinya menyuapkan capcay kedalam mulutnya.
"Ehmmm iya, karena disana ada kenangan pahitnya." jawab Icha asal. Padahal itu benar.
"Tapi sekang aku jadi menyukainya lagi, karena suamiku yang masak." Icha dalam sekejap saja sudah menghabiskan semangkuk jumbo Malatang dihadapannya.
"Ehhmm sayang, aku ingin bicara padamu." ucap Icha mengambil tisu lalu mengusap mulutnya.
"Katakan."
"Aku besuk harus kembali ke Seoul."
"Secepat itu?" Arka menghentikan kegiatan makannya.
"Iya pihak Agensi sudah menghubungiku, jika masa cuti telah habis,"
"Lalu kegiatan selanjutnya apa?"
"Kami akan melakukan Around the World mungkin."
"Lalu bagaimana jika aku ingin menemui kamu?" tanya Arka kini mulai serius.
"Ehhh jangan."
"Kenapa?"
"Kamu hubungi aku, nanti aku saja yang akan datang padamu."
"Segitu takutnya kamu, sampai mau bertemu saja harus seperti itu."
"Sayang, mengertilah posisi aku, ini impianku sejak lama, dan sekarang inilah saatnya aku berdiri dengan kakiku sendiri, aku rasa kamu tahu bagaimana aku dulu yang pernah dibully ketika disekolah umum kan."
"Hah iya, maafkan aku."
Arka menyelesaikan kegiatan makannya, lalu tidak membiarkan Icha mencuci piringnya sendiri, ia menyuruh istrinya beristirahat dan dia yang mengerjakan kegiatan mencuci piring.
"Sudah selesai?"
"Ehmmm..."
"Kau tahu, aku seperti sedang melakukan back street ala anak remaja jika seperti ini." Arka mendaratkan tubuhnya di samping Icha.
"Ehmmm sabarlah, hanya sampai lima tahun ke depan."
"Lima tahun ke depan?" Arka membeo.
"Selama itu?"
"Sayang..." Icha menoleh menatap mata suaminya dengan pandangan memelas.
"Baiklah, tak apa." seketika seluruh perhatiannya luruh hanya karena ia tidak ingin membuat istrinya memiliki beban.
"Tapi masih bisa kan kita bertemu sesering mungkin?" tanya Arka.
"Tentu saja, tapi kamu harus mengerti situasi dan kondisi."
"Ehmmm iya, aku sudah menanam disana, aku rasa aku bisa memberikan usul pada pihak Agensi."
__ADS_1
"Iya, terserah kamu, tapi jangan terlaku menonjol." mencubit hidung suaminya yang merebahkan kepalannya di pangkuannya.
"Kau tahu, aku seperti orang gila setelah putus denganmu." celetuk Arka tiba-tiba.
"Bukan aku yang memutuskan, tapi kamu." jawab Icha savage.
"Sayang jawabanku kejam sekali."
"Kejam bagian mananya? aku rasa memang benar faktanya seperti itu kan."
"Ehhhm iya iya kau benar dan aku salah." ucap Arka akhirnya mengalah.
"Dan aku tahu kalau kamu melakukan itu karena mau jati stalker kan."
"Hah mana ada, aku hanya ingin melebarkan bisnisku di dunia entertainment."
"Tapi sayangnya aku tidak percaya."
"Hah iya, memang istriku ini sulit dibohongi."
"Jadi jangan coba coba berbohong."
"Tidak akan lagi."
Seketika Icha jadi teringat akan sesuatu hal,"Sayang..."
"Iya." Arka mendongak, menatap wajah istrinya.
"Aku ingin meminta sesuatu darimu."
"Katakan apa itu?"
"Sudah aku urus kepindahannya,"
"Kamu pindahkan dimana dia?" tanya Icha, ia belum merasa tenang jika harus meninggalkan suaminya berbulan bulan, dan membiarkan Arka berinteraksi dengan mantan pacarnya, ini berbahaya, pikir Icha.
"Aku pindahkan dia di Kyoto." celetuk Arka yang membuat Icha menekuk wajahnya.
"Kenapa lagi? apa ada hal yang salah?"
"Iya, kenapa di Kyoto, tidak di Jerman atau di New York gitu, atau terserah deh mau dimana, tapi jangan di Kyoto."
Arka bangun dari posisi rebahannya, lalu menoleh pada istrinya yang sepertinya sedang ngambek padanya.
"Kenapa?" tanya Arka lembut.
"Karena kalau di Kyoto itu daerah yang aku sukai, dan aku sering berkunjung kesana, nanti jika aku berkunjung kesana akan ketemu dia."
Mendengarkan alasan Icha yang sedikit tidak masuk akal membuat Arka ingin sekali tertawa, namun masih ia tahan agar istrinya itu tidak tersinggung.
"Sayang, kau tahu kalau Kyoto itu luas, dan aku rasa dunia tidak seluas daun kelor."
"Terserah kamu saja deh,"
"Lagian bukankah interaksi antara aku dan dengannya yang kamu takutkan, dan selama dia pindah disana, aku rasa tidak akan ada lagi interaksi."
"Karena aku juga akan pindah ke Seoul."
__ADS_1
"Hah kenapa begitu?"
"Tentu saja, karena istriku kan sedang di Seoul, mana bisa aku tinggal di Tokyo atau London."
"Iya iya kamu kan bosnya, jadi aku percaya kamu bisa melakukan sesuka hatimu."
Sesekali Icha fokus melihat drama yang dia sukai,"Tapi bagaimana dengan mengajarmu sebagai dosen?" tanya Icha.
"Aku bisa melakukannya dengan online, via Zoomeeting."
"Lalu kenapa dulu kamu membohongiku?"
"Membohongi?" Arka membeo, menaikkan sebelah alisnya.
Memikirkan ucapan istrinya,"Iya, kamu telah berbohong jika kamu asisten Alex."
"Padahal aku sudah percaya loh."
"Tidak ada, aku hanya iseng saja, bagaimana reaksimu."
"Jadi, kamu samakan aku dengan wanita matre di luaran sana," Icha memicingkan matanya, pandangannya berubah menakutkan.
"Sayang jangan memandangku seperti itu."
"Tidak ada jatah untuk malah ini." kesal Icha, bangkit dari duduknya, tidak jadi menonton drama, malah berjalan melangkah menuju kamarnya, terdengar hentakan kakinya.
Lalu menutup pintunya dengan sangat kencang, hingga mengenai hidung Arka,"Sayang jangan kejam begini." Arka memegang hidungnya sendiri yang terkena benturan daun pintu hingga rasanya seperti ingin menangis.
"Oh Tuhan, malam ini sepertinya aku harus tidur di sofa ini." sambil merasakan ngilu di hidungnya.
"Padahal saat itu banyak sekali wanita yang mendekatiku, aku hanya sedang menyeleksi saja, tapi kenapa malah jadi boomerang untukku." gumam Arka.
Sedangkan dibalik daun pintu, Icha sudah berbaring diatas ranjangnya, siang yang sudah beranjak malam. Tidak ada lagi yang ia kerjakan. Ingin sekali dirinya mengintip kegiatan suaminya, tetapi ada ketakutan tersendiri. Takut jika Arka dalam kondisi seperti ini malah menghubungi Jenifer.
"Hah kenapa aku mikir yang tidak tidak, dia kan ada diluar."
"Sudahlah mau tidur iya tidur saja." gumam Icha berusaha memejamkan matanya.
Seharian yang di isi menonton drama dan cerita cerita unfaedah itu malah membuat hubungannya dengan Arka kurang baik.
"Baiklah Icha, pejamkan matamu, katakan kamu bisa tanpa dia." menyemangati dirinya sendiri.
Tetapi nihil, ini sudah tengah malam, sekalipun Icha tak bisa memejamkan matanya, lantas dia membuang selimutnya asal, dan mencoba mengintip suaminya diluar.
Membuka daun pintu dengan hati hati,"Semoga saja tidak ketahuan kan."
"Hah enak sekali dia tidur begitu nyenyaknya, sementara aku sibuk memikirkan dia." Icha berjalan mondar mandir, hingga pergerakannya mengganggu tidur nyenyak Arka.
"Jika tidak bisa tidur, kemarilah." masih dengan mata terpejam.
Icha menoleh, seakan bertanya-tanya, kenapa bisa tahu apa yang dia pikirkan. "Tunggu apa lagi, ayo sini." merentangkan tangannya.
Tanpa ba bi bu Icha ikut berbaring disana, ah kenap bisa seperti ini, tidak bisa tidur jika tidak dipeluk suaminya, padahal dulu sebelum menikah juga tidur sendiri kan, eh salah dengan Megan.
Ah bagaimana kabarnya anak itu, batin Icha geli sendiri. "Jangan lagi suka ngambek." Arka.
Tangan Icha memegang sesuatu, untuk memancing hasrat suaminya. "Sayang apa kau ingin?"
__ADS_1
dan