Menikahi Adik Sahabatku

Menikahi Adik Sahabatku
Berbicara


__ADS_3

"Hey kenapa kalian menebak asal."


"Bagaimana jika tidak." Icha tak yakin dengan tebakan Hana.


"Tetapi aku sangat yakin jika dalam waktu dekat, kalian akan menjadi sepasang kekasih." Hana.


"Terserah kalian saja lah." Icha.


"Aku sependapat dengan Hana kali ini." Hyun ikut-ikutan memberikan pendapatnya.


"Aku ingin tanya sesuatu padamu, tapi kamu harus jawab jujur." Hana.


"Apa?" Icha balik bertanya, padahal ia sudah sangat was-was dengan pertanyaan Hana kali ini.


"Jika kamu berada di dekat dengan tuan Arka, apa kamu merasakan sesuatu yang lain?" Tanya Hana mendekatkan wajahnya, menatap wajah Icha dengan intens.


"Maksud kamu apa, aku tak mengerti." Icha berpura-pura tak mengerti dengan maksud pertanyaan Hana.


"Aku ulangi sekali lagi, dengarkan aku baik-baik "


"Apa kamu merasakan sesuatu yang lain dari dalam dirimu?"


"Ketika pada saat dirimu itu berdekatan dengan tuan Arka."


"Misalnya aja tiba-tiba jantungmu merasa berdetak lebih kencang dari keadaan normal, padahal kamu hanya mendengar namanya saja."


Icha terdiam menyimak pertanyaan Hana, mengingat kembali saat dirinya berdekatan dengan dosen Arka, baru mendengarkan namanya saja sudah berdetak lebih kencang jantungnya ini, kali ini bahkan ia tak sengaja memegangi dadanya.


"Bagaimana, apa kamu merasakan apa yang aku maksud tadi."


"Ehmmm aku rasa ti...tidak." Icha menjawab pertanyaan Hana dengan tergagap, dan tak berani menatap lawan bicaranya. Mukanya di palingkan ke arah yang lain.


"Benarkah tidak merasakan yang lain, seperti yang aku maksudkan tadi?"


"Itu tandanya apa?" Tanya Icha polos.


"Jatuh cinta." Hana.


"Jatuh cinta." Ulang Icha lagi.


"Kalau begitu sini aku pegang dadamu." Seketika seriangaian muncul di wajah Hana, Hana reflek memegang dada Icha tepat di area jantungnya.


"Hahahahahaha belum apa-apa saja kenapa muka kamu pucat." Tawa Hana seketika meledak, mereka mengamati pergerakan Hana.


"Hei apa yang kamu lakukan, pegang sana punyamu sendiri, lagi pula ngapain kamu menggrayangiku." Icha pura-pura cemberut memanyunkan bibirnya.


"Itu juga kenapa muka kamu ketakutan seperti itu." Hyun ikut menertawakan Icha.


"Apa-apaan kalian ini." Icha mencebik, wajahnya berpaling ke arah jalanan, dan tak mau menghiraukan teman-temannya lagi.


"Hei sudahlah jangan menyidak Icha terus menerus, nanti juga akan kelihatan jika dirinya menjadi kekasih tuan Arka." Yuju menengahi perdebatan di antara mereka.


"Baiklah-baiklah aku minta maaf, aku hanya becanda sayang." Hana memeluk Icha dari arah samping dan menciumi pipi Icha dengan sayang, sayang sebagai sahabat yang biasa mereka lakukan.

__ADS_1


Selang beberapa menit saja tak ada suara lagi di antara mereka, Icha pura-pura memejamkan matanya, sambil mencerna perkataan Hana barusan. Benarkah apa yang dikatakan oleh Hana jika dirinya jatuh cinta. Ah rasanya tidak mungkin, karena yang ia tahu Arka sudah memiliki seorang kekasih.


Icha rasanya mau pecah kepalanya, jika memikirkan hal ini. Sudahlah lebih baik ia memejamkan matanya saja dari pada berfikir yang tidak penting, pikir Icha.


Jarak dari hotel menuju ke sebuah pemotretan hanya satu jam lima belas menit, lumayan jauh, karena berada di daerah perkebunan teh. Udara di sangat sejuk dan membuat mata yang memandangnya terasa tenang dan damai.


Pak sopir yang di tugaskan dari perusahaan untuk mengantarkan kemana saja mereka pergi, telah memberitahu jika sudah sampai pada lokasi.


Mereka semua terbangun, dan betapa indahnya pemandangan di sana, semua terasa alami, belum tercemar oleh udara dari luar.


Shizuoka adalah tempat penanaman teh hijau terbesar di Jepang, memproduksi hingga empat puluh persen dari seluruh teh hijau yang dikonsumsi negara ini. Menurut sejarah. Diceritakan bahwa dulu penanaman teh ini sudah dari dulu,awalnya nenek buyut Icha yang tak sengaja melakukan perjalanan ke China, dan sewaktu pulang menanam teh ini. Wilayah ini berada di tempat yang sempurna untuk menanam teh, karena Gunung Fuji menyediakan tanah yang kaya nutrisi dan kemiringan alami yang berperan seperti sistem irigasi untuk menjaga akar teh agar tidak terlalu lembab.


Usaha ini semakin berkembang pesat, hingga kini tanaman teh telah di inovasikan dengan minuman-minuman yang diracik sedemikian rupa, dan telah di jadikan bahan dasar kosmetik juga selain untuk dijadikan campuran minuman kekinian.


Icha membuka matanya, dirinya dibuat terkejut saat melihat hamparan perkebunan teh yang sangat luas di sana.


Dirinya terkejut bukan pertama kali karena berkunjung di sana, tetapi karena saat ini berada di kebun teh milik nenek buyutnya. Icha menutup mulutnya terkejut. Apa jangan-jangan perusaan Arka bekerjasama dengan nenek dan kakek buyutnya kali ini, mengingat produk yang akan mereka promosikan akan kaya campuran bahan dasar teh.


Baiklah pertanyaan-pertanyaan nanti akan ia simpan dulu, dan akan bertanya pada Arka nanti pikir Icha.


"Kenapa di sini pemotretannya," celetuk Icha.


"Hei apa kamu berfikir jika kita akan melakukan pemotretan di gunung yang di tanami pohon pinus yang tinggi-tinggi. Menurutku pemotretan di sini jauh lebih baik tau." Hana.


"Iya aku, tapi aku bosan berkunjung ke sini."


Tak ada yang mendengarkan celotehnya, karena mereka sedang asyik menikmati indahnya panorama kebun teh yang luas dan sejuk ini. Mereka sibuk memotret dirinya sendiri menggunakan ponsel genggamnya masing-masing.


Ternyata di sana rombongan Arka sudah terlihat, mereka sudah menunggu model-modelnya sejak tadi sejam yang lalu.


"Pengambilan gambar pertama akan dimulai, apa kamu sudah sarapan tadi?" Tanya Arka tiba-tiba yang entah dari mana munculnya.


"Ehmm sudah, kenapa memangnya " Icha menjawab acuh tak acuh dan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku Hoodie nya.


"Tidak ada, ini untukmu, supaya kamu tak banyak melamun." Arka menyodorkan sebotol minuman dan juga coklat ke arah Icha.


"Aku lihat kamu akhir-akhir ini banyak melamun, kenapa?" Tanya Arka sambil berjalan mensejajarkan langkah Icha.


"Masak sih, enggak tuh." Icha sambil menerima pemberian Arka tadi.


"Iya aku merasa begitu, apa ada yang ada kamu pikirkan, dan kamu seperti menghindariku, tak seperti biasannya yang selalu berisik."


"Aku kangen dirimu yang berisik, yang selalu menggangguku setiap waktu."


"Bahkan aku tak punya waktu untuk tenang, karenamu."


"Sejak kepergian kamu, aku terasa ada yang kurang."


"Kak Arka, apa kamu hari ini sakit, coba sini aku pegang keningmu." Icha mengarahkan tangannya ke kening Arka.


"Tidak panas, kenapa kak Arka bicaranya melantur." Kata Icha.


"Aku tidak bicara melantur, aku hanya berbicara apa adanya."

__ADS_1


"Baiklah mengobrolnya kita lanjut nanti, aku akan mengajakmu ke suatu tempat, nanti teman-temanmu yang lain biar di bawa sopir keliling." Arka akhirnya memotong pembicaraannya sendiri.


Mereka berjalan mendekat ke arah kru, sepertinya persiapan pengambilan gambar akan dimulai. Kemaren mereka telah menandatangani kontrak kerjasama, dan girl gruop band mereka sudah di tetapkan sebagai brand ambasador produk mereka, hingga dalam waktu satu tahun ke depan, bisa di perpanjang juga kontrak kerjasama mereka.


Penata rias telah menyiapkan alat make up nya, dan akan merias mereka berempat satu persatu. Sementara bagian camera dan dekorasi sudah menyiapkan alatnya untuk pengambilan gambar pertama, di usahakan sedemikian rupa, agar berkesan di mata para penggemar mereka, yang akhirnya akan ikutan membeli produk yang telah mereka iklankan.


Arka mengamati Icha saja di antara mereka berempat, tiba-tiba sebuah suara menginterupsi pendengarannya.


"Yang mana yang menjadi incaran kamu di antara mereka berempat?" Tanya Alex tiba-tiba dari arah belakang.


"Apa yang memakai baju hijau dipinggir bagian timur itu, hah pilihanmu oke juga," yang di maksud oleh Alex adalah Icha.


"Sok tahu sekali kamu ini." Arka.


"Iya aku perhatikan dari tadi matamu terus saja mengarah pada pandangan perempuan yang berada di ujung paling pinggir."


"Tak dapat dipungkiri jika sebelah timur itu sangat cantik."


"Jika belum ada yang punya boleh juga aku mendekatinya." Alex memanas-manasi Arka dengan sengaja.


"Kamu jangan berani-beraninya mendekati perempuan itu, dia sudah jadi milikku." Geram Arka dengan tangan mengepal dan giginya gemelutuk menahan amarah.


"Atas dasar apa kamu mengklaim bahwa dia milikmu." Alex sepertinya sengaja meladeni kegilaan ini, ide jahilnya menggoda Arka ini lumayan membuatnya senang.


"Kau tak usah banyak bicara, pergilah sana, kerjakan yang lain, tangani bagian trouble di bagian teknisi." Geram Arka.


"Ck...baiklah. Aku pergi dulu."


"Bisanya hanya memerintah saja." Gumam Alex sambil berlalu dari sana.


Megan juga melihat jika sedari awal Arka telah memperhatikan Icha dengan pandangan takjub. Untung saja Icha tak begitu menghiraukan dirinya, jika mengetahui dirinya sedang di perhatikan dosen Arka sudah pasti akan salah tingkah, dan membuat konsentrasinya buyar saja.


Beberapa jam, proses pengambilan gambar telah selesai, sesuai janji Arka, teman-teman Icha yang lain lain seperti Hana, Hyun, Megan dan Yuju telah pergi dibawa jalan-jalan oleh pak sopir, sedangkan Icha dibawa Arka pergi ke suatu tempat.


Yaitu cafe yang tak jauh dari kebun teh tempat mereka shooting tadi, Arka ingin berbincang santai dengan Icha kali ini. Sepertinya dirinya telah merindukan gadis pembawa rusih di apartemennya. Waktu mereka tinggal di London dulu.


"Apa yang ingin kak Arka bicarakan?" Tanya Icha tiba-tiba, setelah mereka memposisikan tubuhnya masing-masing, duduk berhadapan.


"Apa kamu selama ini sedikitpun tak pernah ingat denganku?" Tanya Arka pada Icha.


"Tidak tahu." Jawab Icha cuek saja. Tak lama pelayan datang membawa buku menu dan menulis pesanan mereka.


"Kalau berbicara dengan lawan, pandanglah jangan melihat ke arah yang lain, itu tidak sopan."


"Memangnya kenapa, bukankah selama ini ya inilah aku."


"Iya aku tahu, tapi aku sedang mengajarimu sopan santun." Arka.


Padahal Icha tak mau memandang Arka hanya nanti akan salah tingkah saja. Sehingga tak berani memandang wajah Arka.


"Baiklah pak dosen, aku memandang wajahmu yang sangat menyebalkan ini." Icha menekan kata-katanya, halus namun memperjelas.


dan

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2