Menikahi Adik Sahabatku

Menikahi Adik Sahabatku
Drama Pagi


__ADS_3

"Aku masih mengantuk, kau jangan menggangguku." ucap Icha masih dengan mata terpejam.


"Ah iya-iya, sepertinya aku sudah mengganggu waktu istirahat pengantin baru iya." ucap Megan bangkit dari duduknya, pindah di kursi sofa tunggal yang ada di dalam ruangan itu.


Lalu Megan bermain ponsel disana, satu jam dua jam tiga jam hingga tiba waktu makan siang lewat. "Bahkan ini sudah jam dua,"


"Betah sekali anak ini tidurnya." kesal Megan. Bangkit dari duduknya, mondar mandir di dalam kamar Icha. Seperti setrikaan.


Megan bersedekap dada, lalu membuka pintu keluar dan berdiri di balkon kamar Icha. "Oh Tuhan kenapa tidak dari tadi aku disini, pemandangan disana sungguh membuat mataku bening." pasalnya Megan melihat seseorang yang akhir-akhir ini di incarnya.


"Sudah jam berapa ini, sepertinya aku tidur terlalu lama." Icha mengerjapkan matanya perlahan, bangkit dari tidurnya, kepalanya rasanya masih pusing dan seluruh tubuhnya bagaikan dicambuk orang satu kampung.


"Tubuhku, lelah sekali."


"Megan kamu sejak kapan disana." teriak Icha dari dalam.


Megan yang merasa namanya dipanggil menoleh ke arah belakang, "Sejak tadi pagi nona, kau tidur terlalu nyenyak sehingga tak mau diganggu."


"Ehmm iya, bahkan seluruh tubuhku seperti dicambuk orang satu kampung." keluh Icha memegang lehernya yang terasa kaku.


"Apa malam pertama membuatmu tidak menikmatinya, sehingga tubuhmu merasa demikian."


Mendengarkan penuturan Megan membuat pipi putih Icha memerah seketika, Icha jadi mengingat hal semalam, betapa brutalnya suaminya itu mengobrak abrik dirinya beberapa kali hingga membuatnya kelelahan.


"Tidak tahu, kau cari saja sana pacar dan menikah sendiri, maka nanti akan merasakannya sendiri."


Icha bangkit, dengan selimut menempel ditubuhnya dan berjalan ke arah kamar mandi. Icha berendam di air hangat dalam bath up kamar mandi.


"Megan ayo kita jalan-jalan lagi."


"Aku lapar, kau sungguh keterlaluan tidur seperti orang pingsan." Megan memicingkan matanya kala melihat leher Icha yang merah-merah.


"Siapa suruh menunggui orang tidur."


"Yahh aku pikir tidak akan seru jika aku keluar dan makan sendirian." berjalan mengambil foundation dan mengoleskan dileher merah Icha.


"Kau memang yang terbaik." cengir Icha.


"Baiklah mau kemana dulu kita sekarang?" lanjutnya lagi


"Tentu saja makan, tidak lihat jika tenagaku sudah hampir habis ini."


"Ck, lebay..." Icha mencibir.


***


.


.


.


"Kamu mau pilih menu apa?" Megan membolak balikan buku menu yang ada ditangannya, pasalnya dirinya tidak tahu ditulis dalam bahasa Indonesia, dan dia hanya mampu melihat gambarnya saja.


"Coba sini aku lihat?" Icha menarik buku menu yang dipegang Megan.


"Disini tertulis ada bakso, mie ayam setan, soto lamongan, lontong kikil, rawon daging," dan masih banyak lagi Icha membacakan buku menu pada Megan.


"Makanan apaan itu, aku tidak paham semuanya." Megan meletakkan tangannya diatas meja, dan kepalanya bertumpu diatas tangannya.

__ADS_1


"Baiklah, akan aku pesan semuanya kalau begitu."


Icha memesan semua makanan, karena menu makanan di Indonesia dengan western berbeda, di Indonesia akan disajikan dengan mangkuk dan isinya penuh kuah, Megan begitu terkejut ketika melihatnya.


"Oh Tuhan, ini makanan banyak yang berkuah." keluh Megan.


"Dan banyak mengandung kolestrol, jika kamu memakan ini semua, maka sehabis pulang dari sini kamu harus berolahraga sehari semalam."


"Tidak akan, aku akan menikmati semua ini untuk hari ini." Icha lalu mengambil piringnya dan mulai mengambil makanan diatas piringnya.


"Kau seharusnya tidak menggunakan piring." Megan.


"Kenapa?"


"Karena ini makanan berkuah, nanti kuahnya akan tumpah."


"Siapa yang mau makan makanan berkuah, aku kan mau makan ayam geprek."


"Lalu ini semua?"


"Iya kamulah yang makan."


"Icha are you crazy..." kesal Megan.


"Yes I'am."


"Kamu itu selalu saja membuatku kesal."


"Bukan membuatmu kesal nona, aku rasa hanya memanjakan lidahmu." ucap Icha santai lalu menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.


Disela-sela perdebatan mereka. Terdengar suara dering ponsel Icha. "Iya Hallo sayang."


"Ehmmm iya, kenapa?" tanya Icha datar.


"Buka vidio di ponselmu." Arka merubah panggilan masuk menjadi vidio call.


"Apa kamu sedang makan?"


"Iya,"


"Bersama siapa?" tanya Arka. Rasanya ia sudah sangat rindu dengan istrinya, padahal baru tadi pagi dirinya berangkat dengan menggunakan Helikopter menuju lokasi pertambangan.


"Dengan cowok, eh salah dengan Megan maksudnya."


"Coba arahkan Vidionya di depanmu." perintah Arka.


"Kau tak mempercayaiku." kesal Icha, tapi menuruti juga kemauan suaminya.


"Ehmmm, aku mempercayaimu, tapi aku sedang menjaga apa yang menjadi milikku."


"Ck, itu sama saja tahu."


Megan yang berada di depan mereka seolah seperti tidak ada, karena percakapan suami istri itu lama-lama mengarah ke hal-hal lain.


"Apa nanti kamu tidak kembali?" tanya Icha melihat kembali wajah suaminya.


"Belum tahu, melihat dulu situasinya nanti bagaimana."


"Ah aku kesal jika harus tidur sendirian."

__ADS_1


"Apa kamu mulai sekarang tidak bisa jauh dariku." goda Arka pada Icha.


"Aku tidak tahu, karena aku tidak suka tidur sendiri, Megan mana mau tidur bersamaku."


Percakapan itu lama-lama menjadi pembicaraan romantis suami istri hingga Jenifer tiba, "Suara perempuan, siapa itu?" tanya Icha memicingkan matanya dibalik layar ponsel Arka.


"Apa kau lupa, jika yang bertugas meninjau proyek aku dan Jen."


"Ah aku kesal, kenapa kalian cuman berdua saja." Icha mengerucutkan bibirnya.


"Iya sudah nanti aku telpon lagi, aku mau melanjutkan pekerjaanku dulu iya." lalu Arka mematikan sambungan teleponnya, setelah berpamitan.


"Ck suami datar, membuatku kesal saja."


"Memangnya apa yang terjadi?" tanya Megan menaikkan sebelah alisnya.


"Tidak tahu."


"Tadi aku dengar ada Jenifer, apa dia ikut bersama suami kamu?" tanya Megan lagi.


"Ahhh aku malas jika harus membicarakannya."


"Apa kamu sedang cemburu?" tanya Megan menahan senyumnya.


"Tidak tahu, aku sedang kesal saja."


"Biar ku tebak, kalau kemungkinan terjadi dua hal dengan dirimu,"


"Apaan itu?"


"Yang pertama kamu kangen dan gengsi mengutarakannya pada suami kamu, yang ke dua kamu sedang cemburu." Megan menatap intens wajah Icha.


"Tau ahhh," Icha kembali menyuapkan makanan ke dalam mulutnya hingga tak tersisa.


Bahkan dirinya sampai menghabiskan tiga porsi ayam geprek, yang ayamnya di ungkep dulu, sehingga bumbunya meresap hingga sampai ke tulang-tulangnya.


"Sungguh aku sangat kenyang." Icha memegangi perutnya sendiri.


Sementara hal yang sama terjadi dengan Megan, "Jangan langsung tidur habis ini." kesal Megan.


"Kenapa?"


"Kamu harus mampir ke tempat gym dulu, atau tubuhmu akan berubah menjadi Gajah."


"Ck, kau mengataiku."


"Iya,"


"Baiklah, tapi nanti dulu tunggu satu jam lagi."


"Tidak, ayo sekarang kita kembali."


"Atau nanti kamu akan kabur."


Megan sangat menjaga keindahan bentuk tubuh Icha, pasalnya dia sebagai member K-Pop haru memiliki bentuk tubuh yang ideal dan juga indah.


Berbagai olahraga telak dilakoni Icha agar mendapatkan bentuk tubuh yang ideal, dan indah jika sedang konser. Karena sebagai aktris global keindahan tubuh dan seluruh badan adalah aset yang paling utama.


"Megan aku sangat mengantuk, kamu beri aku waktu setengah jam dulu lah."

__ADS_1


"Tidak ada ayo..." Megan menarik tangan Icha masuk ke dalam gym ketika sudah sampai di Villa tempat tinggal mereka.


__ADS_2