Menikahi Adik Sahabatku

Menikahi Adik Sahabatku
Idola Icha


__ADS_3

"Cepatlah tidur, istirahatkan tubuhmu dengan baik."


"Atau kau akan kelelahan saat pemotretan nanti." Megan mengomel, saat ini mereka sudah berada di Hotel Bintang lima, dengan berbagai fasilitas telah mereka dapatkan.


"Iya iya nyonya, ampun, tapi aku mau menelpon suamiku dulu boleh kan." Icha meraba ponsel diatas nakas. Dengan cepat disambar Megan.


"Waktunya hanya lima belas menit, tidak boleh lebih dan tidak boleh kurang."


"Kau mengerti?" Megan memelototkan matanya seperti sedang memberikan tugas seorang guru pada muridnya.


"Ehmmm iya, baiklah baik, tapi siniin dulu ponselku." Icha menengadahkan tangannya.


Icha bangkit dari duduknya, berjalan keluar ke arah balkon kamarnya, dan duduk di kursi tunggal, menikmati keindahan kota New York.


Asyik menelpon suaminya membuatnya rindu setengah mati, "Sudah...?" tanya Megan, mengamati pergerakan Icha.


"Hemmm."


"Ini kalau kau mau sita lagi ponselku."


"Aku rasa tidak perlu lagi, karena kamu sudah jadi penurut gini, kan manis jadinya." puji Megan.


"Tak usah berlebihan, setiap hari aku juga menjadi Idol K-Pop yang manis kan."


Icha mendengus, mulai merebahkan tubuh lelahnya, lalu memejamkan matanya dan menarik selimut sebatas dada.


Pagi menjelang, bahkan ini baru jam empat, tapi Icha sudah terbangun dari tidurnya. Membersihkan diri dan berdandan ala kadarnya.


"Tumben sekali Aktrisku ini sudah menjadi anak yang rajin."


"Oh iya aku tahu, apa jangan-jangan karena mau bertemu idolamu?" tebak Megan asal.


"Sssstttt jangan keras keras, takut nanti ada yang dengar tahu."


"Hah konyol sekali, ruangan kedap suara seperti ini masih ada yang dengar."


"Sudah sana, mandilah jangan banyak tanya, nanti bisa menyebabkan pendek umur." usir Icha menggunakan tangannya.


"Ck, mana ada seperti itu."


Pemotretan kali ini dilakukan di hotel tempat Icha menginap, kali ini dirinya berkolaborasi dengan Aktor tampan idolanya.

__ADS_1


"Kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya Megan memegangi kening Icha.


"Tidak panas."


"Ck, kau ini, kau pikir aku sakit apa." Icha terlihat gugup sendiri dan bercermin berulang ulang di depan cermin cekung yang tingginya hampir sama dengan tubuhnya itu.


"Huh, aku tak biasanya melihatmu seperti ini." Megan duduk di sofa tunggal. Menunggu siapa partner kerja Icha kali ini.


Menyesap minuman dinginnya sekali lagi, matanya tak lepas dari pandangan Icha yang terlihat sangat gugup, bahkan beberapa kali berputar-putar di depan gambarnya sendiri, lalu merapikan rambut serta pakaian yang dikenakannya.


"Hei nona ingatlah jangan ganjen, kau sudah menikah, atau mata-mata akan mengirimkan laporan tentangmu." seru Megan berbisik pelan dibelakang Icha.


"Kau tak usah menakutiku seperti itu, membuatku gugup saja."


Megan masih mencari tahu dengan situasi keadaan Icha yang tak biasannya, bahkan saat Around the Word saja tidak seperti ini.


Selang tidak lama, seorang Aktor tampan berjalan dengan gagahnya, menyapa mereka lalu menyalami satu persatu sebagai rekan kerja.


"Permisi, saya masih belum telat kan." suara itu menginterupsi pendengaran Icha.


"Hah jantungku."


"Jadi, itu dia idolamu, hah kau memang memiliki selera yang tinggi nona." Megan yang awalnya mencibir, bahkan ikut takjub dengan pemandangan didepan matanya saat ini.


"Hah, sadarlah nona kau jangan konyol, jika bicaramu ini tidak hati-hati, maka aku rasa kamu akan pensiun dini menjadi Aktris impianmu." bisik Megan lagi.


"Hah iya kau benar, ahh mulut ini benar-benar tidak bisa terkontrol."


"Sudahlah, siapkan dirimu, pemotretan akan segera dimulai." Megan merapikan rambut Icha sekali lagi.


"Siapa yang akan menjadi partnerku?" tanya Hero merapikan jasnya.


"Lihatlah kesana, perempuan cantik itu yang akan menjadi partnermu."


Berbagai gaya dan tempat telah diambil gayanya, dengan Icha sebagai model utama perempuan dan Hero sebagai model utama lelaki.


Pemotretan itu memakan waktu kurang lebih tiga jam. Setelah itu selesai, "Hah kenapa aku merasa jika aku sedang melihat pangeran dan ratu, ahh cantik dan tampan." kala Megan melihat Icha berjalan beriringan dengan Hero, menuju kearahnya, setelah selesai pemotretan.


"Baiklah aku tunggu di restauran iya."


"Oke." Icha terlihat senyum manis serta mengangkat ibu jarinya tanda sedang menyetujui sesuatu.

__ADS_1


"Apa yang kalian rencanakan?"


"Oh Tuhan, aku akan makan siang dengan Hero, kau tahu jika aku sudah sejak lama mengidolakannya, ahh senangnya diriku bisa bertemu hari ini, rasanya seperti mimpi."


Icha tersenyum sendiri membayangkan adegan pemotretan tadi, bahkan tangannya terasa dingin dan beberapa kali harus mengulang adegan, karena Icha yang nervous jadi terlihat kaku.


"Hah aku rasa otakmu harus dibawa ke sungai dulu deh."


"Kenapa?"


"Supaya tidak eror, kau kan sudah menikah, mana bisa mengidolakan lelaki lain," celetuk Megan, namun sepertinya tidak di dengarkan oleh Icha, Icha berjalan mendahului Megan, untuk berganti pakaian dan melepas perhiasan yang tadi di gunakan saat pemotretan.


Lain tempat lain aktifitas, Arka yang sedang merebahkan tubuhnya, karena perbedaan waktu antara Indonesia dan New York sebelas jam. Jika saat ini Icha sedang bersiap makan siang, maka Arka sedang mengistirahatkan tubuhnya.


Melihat laporan dari Frans dari beberapa potret foto membuat darahnya mendidih seketika, ia tak dapat memejamkan matanya, untung saja pekerjaan ia selesaikan hingga tadi menjelang jam sepuluh baru selesai. Itu artinya dirinya baru saja akan merebahkan tubuhnya.


"Rupanya dia sedang bersenang-senang." entahlah mungkin saja Arka sedang menyusun strategi untuk menyusul istrinya.


Pagi pagi buta sekali Arka sudah meminta dijemput helikopter, dan Jenifer semalam ia telfon, sehingga membuatnya bersiap mau tidak mau.


"Kamu terlihat buru-buru sekali, mau kemana?" tanya Jenifer yang sengaja duduk di samping Arka.


"Aku masih ada urusan, kamu aku turunkan di Villa."


Jenifer menebak jika Arka sedang ada dalam masalah besar, melihat raut wajahnya yang tidak bersahabat, dan mata elangnya siap memangsa lawannya membuatnya tidak berani bertanya banyak.


"Masih ada waktu kan," batin Jenifer.


"Titip salam buat yang lainnya." setelah Jenifer turun dari Helikopter dan sampai di Villa.


Jenifer mengangguk, lalu melihat kepergian Helikopter hingga menghilang dari pandangan matanya.


Sejak semalam membuat Arka sama sekali tidak bisa memejamkan matanya. Padahal hatinya sudah berusaha tenang, ditambah ponsel istrinya yang sulit dihubungi membuatnya ingin menghilang saat itu juga, dan menemui istrinya.


Perjalanan yang begitu jauh rupanya tak membuatnya lelah, walupun beberapa kali Pesawat yang ia naiki transit di beberapa negara, hingga membuatnya terlambat datang dari waktu yang telah ia prediksi.


Arka mendapatkan alamat Icha dari Frans, untung juga dirinya mengirim Frans untuk istrinya, ada di saat saat seperti ini.


Dirinya langsung membuka kamar hotel tempat istrinya beristirahat. Ia telah meminta kunci dari resepsionis di depan sebelumnya, awalnya sang resepsionis enggan memberikannya alasan privasi pengunjung, namun setelah melihat siapa dirinya dengan menunjukkan kartu identitasnya membuat resepsionis memberikan kuncinya.


"Sepertinya dia lelah bermain main." gumam Arka, menaruh asal kopernya dan menyelinap masuk ke dalam selimut Icha.

__ADS_1


Urusan Hero biar besuk saja lah, pikir Arka walupun ia menahan api cemburu


__ADS_2