Menikahi Adik Sahabatku

Menikahi Adik Sahabatku
Salah Paham Lagi


__ADS_3

"Baiklah tuan Arka terimakasih atas waktunya sebagai pemimpin dari rapat kali ini "


"Ada beberapa hal yang harus saya jelaskan, sebelum rapat dimulai."


"Yang pertama disini saya sebagai penerjemah bahasa."


"Yang kedua, saya hanya membantu hanya dalam soal bahasa saja, selebihnya saya tidak berhak mengenai apa pun yang terkait dengan rapat ini."


"Dan rapat akan saya buka, "


Icha menjelaskan panjang lebar, beberapa lelaki banyak yang memandang takjub ke arah Icha. Ada juga yang memandangnya dengan tatapan memuja, namun hal itu tak lepas dari pengamatan Arka hingga membuat wajah dinginnya sangat kentara, ingin memangsa lawan hidup-hidup.


"Apa ada lagi yang di tanyakan tuan?" Icha setelah menerangkan panjang lebar.


"Aku rasa tidak ada hal lain lagi yang perlu ditanyakan, sudah jelas jika pembangunan proyek tambang kali ini akan di selesaikan dalam waktu tiga bulan."


Raka mengamati penjelasan Icha sedari tadi, dan merasa kurang suka kala Arka mengambil alih bagian dari Icha.


"Dan dalam waktu tiga bulan ini kita akan menyusun strategi pemasangan alat-alat tehnisi, pekerja baru dan masih banyak hal lain." Arka yang melihat Icha menjelaskan panjang lebar tadi merasa tidak suka, sehingga dirinya mengambil alih bagian dari Icha. Pasalnya tadi Icha di amati banyak laki-laki kaya yang akan menjadi partner kerjanya.


"Aku rasa kurang setuju dengan strategi tanpa adanya kepastian." Raka menyahut.


Yang lainnya sedang mencatat dengan apa yang diterangkan Arka, setelahnya Icha menerjemahkan ke dalam beberapa bahasa buat beberapa partner kerja yang belum memahami bahasa Inggris.


"Baiklah rapat kali ini saya tutup, dan akan dilanjutkan dua hari ke depan." Icha mengucapkan dengan nda wibawanya.


🌷🌷🌷


"Siapa yang mengundangmu kemari, menjadi penerjemah?" tanya Arka garang.


"Kenapa memangnya?" itu bukan urusan kakak.


Setelah Arka jalan berdua dengan Icha, Devan menyiapkan segala sesuatu buat tamu yang berada di Villa keluarganya saat ini yang menjadi tempat diadakannya rapat.


"Jawab pertanyaanku?"


"Aku rasa tidak wajib menjawab pertanyaan kakak barusan." Icha menoleh kearah Arka.


"Ehmmm benarkah tidak wajib." Arka menghentikan langkah Icha, dan berjalan mendekati Icha. Hingga sang empunya mundur ke belakang dan tak ada lagi celah untuk kabur, karena sudah menabrakkan tembok.


Arka tangannya bertumpu pada tembok yang berada dibelakang Icha. "Kenapa kakak begini?"


"Jangan begini? nanti akan dilihat orang."


"Aku tak peduli, sebelum kamu menjawab pertanyaanku." bisiknya pelan.


"Aku tak wajib menuruti semua perintah kakak."


Arka malah mendekatkan wajahnya, mencium bibir manis Icha dan menyesapnya dalam. Icha hampir saja terhanyut dengan buaian Arka.


"Kakak apa yang kakak lakukan." Icha menampar Arka dengan sangat keras, amarah telah menguasai dirinya, lalu berlari menuju kamarnya.


Hingga sudut bibir Arka mengeluarkan darah segar, "Kenapa dia semakin bar-bar saja tingkahnya." sambil mengusap sudut bibirnya yang basah karena darah segar.


"Hei kamu kenapa nona?" Megan yang sedari tadi asyik sedang membaca novel kesukaannya itu awalnya tidak menyadari jika Icha sudah memasuki kamar mereka.


Dirinya baru menyadari jika mendengarkan suara seperti orang menangis, dan setelah dilihatnya ternyata Icha sedang tidur tengkurap dan menelungkup kan wajahnya di atas ranjang.

__ADS_1


"Katakan,"


"Katakan siapa yang membuatmu menangis, aku akan menghajarnya." tanya Megan berapi-api. Menahan geram dalam hatinya.


"Megan, kenapa dia jahat sekali memperlakukan aku."


"Aku tak mau lagi ketemu dengannya."


"Tapi kenapa semakin aku membencinya, semakin aku terus menerus bertemu dengannya."


"Aku sudah berusaha sekuat tenaga, agar bisa melupakannya setelah dia menuduhku yang tidak-tidak."


"Aku juga mendapatkan perlakuan buruk dari saudaranya,"Icha terus menerus bersuara, mengungkapkan isi hatinya yang selama ini terpendam.


"Dengarkan aku baik-baik."


"Apa yang kamu lakukan itu tidak salah,"


"Turuti kata hatimu, tapi jangan turuti egomu."


"Sekarang kamu ingin bagaimana?" tanya Megan pada Icha.


"Aku tak mau melihat wajahnya." ungkapnya.


Icha masih saja terus menangis, hingga dirinya kelelahan dam tertidur dengan posisi tengkurap.


Megan mengelus rambutnya penuh kasih sayanh sebagai seorang sahabat.


"Apa dosen Arka telah melakukan hal buruk padanya."


"Ini seperti bukan dirinya." Megan berbicara pada dirinya sendiri, menelaah hal-hal buruk yang terjadi selama ia bersama Icha.


Megan turun dari tempat tidurnya, berniat akan menemui dosen Arka.


Tetapi ia lebih dulu mengirim pesan singkat,"Kak... maaf mengganggu waktunya, apa bisa bertemu sebentar di taman belakang Villa?" isi dari pesan singkat Megan yang di kirmkan pada Arka.


"Aku sedang sibuk, nanti malam saja." balasan dari Arka.


Setelahnya Megan tak membalas lagi, menaruh kembali ponselnya diatas nakas, dirinya mondar mandir di dalam sana seperti setrikaan kusut.


"Aku rasanya ingin sekali menonjok dosen Arka itu,"


"Dia itu seorang dosen tapi kenapa sangat bodoh dalam hal asmara." Megan mengepalkan tangannya membentuk tinjuan bebas.


Seperti ingin meninju seseorang. Hingga waktu beranjak malam hari. Dosen Arka menepati janjinya.


"Mohon maaf sebelumnya kak."


"Aku bukan membela Icha dan juga siapa pun di sini."


"Aku hanya membela kebenaran saja, apa yang kakak lakukan dengan Icha?"


"Dia menangis terus menerus setelah kembali dari acara rapatnya tadi, hingga melewatkan makan siang dan juga malamnya."


"Aku kawatir jika dia kenapa-kenapa."


"Tolong kak, jika kakak sayang padanya jauhi Icha."

__ADS_1


Arka mendongak menatap Megan tak suka, dengan kata-kata yang baru saja Megan lontarkan padanya.


"Siapa kamu, kamu tidak berhak melarangku." ketusnya.


"Iya aku tahu, aku bukan siapa-siapa."


"Tapi Icha memiliki trauma yang besar dalam hidupnya, ia pernah mengalami hal buruk semasa kecil."


"Dan aku rasa jangan sampai trauma masa lalu kini datang lagi padanya, hanya karena masalah percintaan."


"Karena dia masih memiliki banyak tanggung jawab."


"Kakak sekarang sudah menikah, dan tak sepantasnya mendekati Icha lagi."


"Aku belum menikah." potongnya pada Megan.


"Hah belum menikah, bukankah..."


"Pernikahanku batal,"


"Batal.." Megan membeo.


"Iya, dan sepertinya Tuhan mentakdirkan aku hidup bersamanya."


"Kenapa kakak begitu yakin sekali akan takdir kakak."


"Tentu saja, karena beberapa kali aku bertemu dengannya setelah kami berpisah."


"Tapi bagaimana dengan Icha, dia taunya kakak sudah menikah." Megan.


"Apa kamu mau membantuku?" tanya Arka memberikan penawaran.


"Apa maksud kakak."


"Kamu tak ingin kan kesalahpahaman ini terus menerus berlanjut."


Megan mengangguk pasti, dia setuju dengan ucapan Arka baru saja." Tolong bantu jelaskan padanya jika aku belum menikah."


"Apa untungnya buat aku dan dia jika sudah menjelaskan hal ini."


"Karena aku tak rela jika dia dimiliki lelaki lain selain diriku."


"Aku masih mencintainya dan merindukannya."


"Kakak berbicara setelah ini apa karena kakak batal menikah dengan tunangan kakak?" tanya Megan menyelidik.


"Kau salah, aku telah dijodohkan oleh kedua orang tuaku, dan sebenarnya aku tak mau, tapi karen sesuatu hal orang tuaku memaksaku."


"Inti itu saja, aku tunggu hasilnya sampai besuk sore."


"Aku pergi dulu,"


Sebelum Arka pergi, ia mengeluarkan sesuatu dari dalam saku bajunya, sebuah kotak berwarna merah yang diserahkan pada Megan.


dan


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2