
"Mereka sudah terlelap saja." Arka meletakkan Coat di balik pintu yang terdapat kastok baju.
Lalu merebahkan tubuhnya ditengah-tengah mereka. Memeluk Icha dari belakang, karena jarak Icha dan Megan seperti menjauh, tak ada lagi tempat bagi Arka untuk merebahkan tubuhnya.
Tidak membutuhkan waktu lama, dirinya ikut terlelap. Malam hari Megan terbangun, karena tadi tidur lebih awal. Ia menajamkan telinganya, sepertinya ini mimpi atau nyata batin Megan, namun tidak berani menengok ke arah belakang.
"Apa yang mereka lakukan?" gumam Megan dalam hati.
"Sepertinya mereka sedang." ah Megan bahkan tak meneruskan kata-katanya lagi.
Suara suara aneh itu semakin membuatnya merinding, dan membuat telinganya panas, lantas Megan bergegas menggunakan handset, untung saja tadi dirinya membawa benda berharga di saat situasi lagi tidak memungkinkan seperti ini.
Memutar musik yang agak keras adalah solusinya, "Benar-benar tidak punya akhlak dua orang ini." batin Megan bermonolog.
"Sayang pelan-pelan, nanti Megan jadi terganggu." bisik Icha di sela-sela kegiatan panasnya.
"Sayang aku sudah mau sampaiiii... ahhhhh..." membeka0 mulutnya sendiri, Arka yang berada diatas tubuhnya mencium mulut Icha dengan nafas memburu, akal sehatnya bahkan sudah hilang, berganti nafsu dengan jiwa menggelora, tidak peduli kapan pun dan dimana pun.
"Ahhhhh Ichaaa..." desis Arka, menyesap bibir kenyal milik istrinya, kala dirinya membenamkan miliknya yang siap menyemburkan benih premiumnya.
Seketika rasa hangat mulai menjalar ke seluruh tubuh Icha kala pelepasan itu kembali terjadi, bahkan ini yang kedua kalinya, padahal ada Megan disana.
"Oh Tuhan, aku seperti sedang menyaksikan film yang pernah ditonton teman-temanku dulu." gumam Megan dalam hati lagi.
Seketika Arka mencabut miliknya dan menggunakan lagi pakaian yang tadinya berserakan. "Sayang gunakan lagi pakaianmu." bisik Arka pelan.
"Aku mengantuk." keluh Icha mulai malas.
Dengan bantuan Arka, akhirnya Icha mau memakai kembali pakaiannya, mungkin jika disampingnya tidak ada Megan, Icha tidak akan mau langsung menggunakan pakaiannya.
Malam yang seharusnya dingin itu menjadi sangat panas akibat pengantin baru yang saling memadu kasih penuh cinta, menyalurkan perasaan lewat cumbuan manis dan berakhir saling menumpahkan hasrat yang kian menggebu.
"Kapan kita pulang?" tanya Icha lagi, lupa dengan kata-kata Arka sewaktu mereka berbicara sore tadi.
"Tidurlah, itu bisa dibicarakan besuk lagi." memeluk Icha erat.
Kini Arka sudah berpindah posisi di samping Icha, Icha yang berada ditengah-tengah diantara keduanya.
"Kenapa? hemm apa kamu takut aku salah meluk."
"Tentu saja."
Tidak berapa lama mereka terlelap kembali ke dalam mimpi. Sedangkan Megan tak bisa kembali memejamkan matanya.
***
"Sayang aku ingin kembali lagi," pinta Icha cemberut kala menyelesaikan sarapan paginya, Megan sudah kembali lagi ke kamarnya.
__ADS_1
"Sabarlah, aku akan menyelesaikan lebih cepat lagi." Icha rasanya sudah kesal tinggal disana, dengan aktivitas yang kurang memadai dan juga ditambah Arka sering-sering bertemu Jenifer mantan kekasihnya.
"Kamu bisa jalan-jalan mengelilingi desa di sebelah jika mau, bukankah kamu menyukai trail, nanti akan aku pinjamkan salah satu motor milik salah satu pekerja disini." perintah Arka sambil merapikan kemeja yang dikenakannya.
"Bolehkah." mendengarkan demikian membuat semangat Icha menguar kembali.
"Tentu saja."
"Baiklah, ayo."
"Tidak sekarang, tapi nanti siang."
"Sayang lihatlah, ini masih sangat pagi, bahkan kamu habis sarapan, maka tak baik keluyuran di pagi buta."
"Iya udah iya." membuat istrinya itu kembali mengerucutkan bibirnya.
"Jangan cemberut seperti itu, atau aku tidak usah berangkat bekerja saja."
"Ehhh ehhh jangan jangan, iya iya aku tersenyum ini." Icha terlihat panik sendiri kala Icha melihat suaminya yang membuka kancing kemeja satu persatu.
Arka mencium kening istrinya sebelum berangkat bekerja, hal itu tentu saja membuat Icha senang.
Tidak berapa lama setelah kepergian Arka, ponsel Icha berdering, dari pihak Agensi model yang menjadikan dirinya sebagai brand ambasador global yang membintangi perhiasan di perusahaan ternama.
"Ada apa muka kamu panik begitu?" tanya Megan yang kembali lagi mengunjungi kamarnya.
"Sekarang?"
"Tentu saja sekarang, masak besuk lusa,"
"Apa yang terjadi?"
"Aku baru saja menerima telepon dari pihak Agensi, untuk memintaku kembali, karena akan ada pemotretan dalam dua hari ke depan."
"Hah..., lalu bagaimana dengan suami kamu."
"Aku akan berbicara lagi dengannya nanti, ayo kamu bersiaplah."
"Aku rasa aku gak perlu berganti pakaian."
"Baiklah terserah kamu."
Hal itu membuat lutut Arka lemas, kala mendengarkan istrinya harus cepat-cepat kembali ke New York lantaran pihak Agensi memintanya hadir.
"Baiklah, kamu berhati-hatilah, maaf aku tidak bisa mengantarmu sampai sana." ucap Arka lesu, menekuk wajahnya.
Icha menyeret kopernya keluar dari kamar yang terbuat dari spandek itu, lalu memeluk suaminya sekali lagi.
__ADS_1
Rasa berat dan tak rela ditinggal sangat terlihat di wajah Arka, namun Jenifer yang turut menyaksikan kepergian Icha itu bersorak senang, dalam hati dialah pemenangnya.
"Pergi jauh-jauh sana, mengganggu saja." dalam hati Jenifer, memang pernikahan Icha dan juga Arka belum banyak yang tahu, tapi karena kondisi kehidupan orang-orang barat, sebelum menikah lalu berkencan itu adalah hal yang biasa.
Seperti saat ini, Icha yang tidur satu kamar dengan Arka, "Ck, lihat saja nanti, siapa pemenangnya." gumam Jenifer.
Tangannya bersedekap dada, menyaksikan drama yang menurutnya sangat seru.
"Sayang jaga dirimu baik-baik." pinta Icha menoleh ke belakang sekali lagi.
"Hemmm, seharusnya kebalik kan, kata-kata itu yang aku ucapkan untukmu." Arka tersenyum manis pada istrinya.
"Baiklah, semoga pekerjaanmu selesai lebih cepat."
Setelahnya Icha memasuki helikopter, dan di ikuti Megan serta Frans pengawal baru Icha.
"Drama yang romantis." sindir Megan kala dirinya baru saja mendudukkan tubuhnya di kursi kabin.
"Tentu saja, aku ingin membuat seseorang kebakaran jenggot."
"Ck, dapat kata-kata dari mana kau ini?"
"Dari angkasa," sahut Icha asal.
"Sepertinya pengantin baru bicaranya suka mendapatkan kosa kata yang aneh iya."
"Hahhhh, makanya cepat nikah sana."
"Atau..." Icha melirik Frans setelah melihat ke arah Megan.
"Apa?"
"Kau menikah dengan Frans juga tidak apa-apa kok."
"Bicaramu suka ngawur," Megan tidak lagi meladeni kekonyolan Icha, lantas dirinya mengeluarkan handset dari dalam tasnya, dan mengenakannya.
"Ck, pura-pura tak dengar lagi, diajak bicara juga."
Sedangkan Frans yang dibicarakan du perempuan di di sampingnya tak bergeming sama sekali.
"Memang dasar, dia sangat kaku kayak kanebo kering."
"Butuh pendinginan kayaknya." batin Icha melihat Frans kesal.
"Baiklah, jangan menyerah Icha, kau pasti bisa menyatukan mereka." dalam hati Icha bermonolog, seketika ide jahilnya muncul begitu saja.
"Baiklah, misi dipikirkan nanti lagi." Icha tersenyum simpul membayangkan jika mereka bersama nanti, pasti akan seperti kucing dan tikus.
__ADS_1