Menikahi Adik Sahabatku

Menikahi Adik Sahabatku
Pengambilan gambar Lagi


__ADS_3

"Kakak sudah, aku sudah kenyang, dari tadi kakak terus yang menyuapi aku."


"Ayo sekarang aku yang akan menyuapi kakak, buka mulutnya."


Makan pun mereka masih sempat-sempatnya berdebat. Tak mengenal waktu dan tempat. Bahkan ponsel Icha beberapa kali berdering saja masih tak di hiraukan, karena dalam mode diam.


"Apa rencana kakak setelah ini." Diakhir makan siangnya.


"Ke kantor, kenapa?"


"Tak ada, aku hanya bertanya saja."


Arka memandang Icha dan menaikkan sebelah alisnya, hingga terangkat ke atas dan membentuk sebuah kerutan di keningnya.


"Kak, aku berbicara sesuatu."


"Katakan."


"Kakak jangan sering-sering menemuiku."


Arka masih terdiam, menyesap kembali minuman yang tinggal sedikit itu.


Benar-benar gila, bahkan hanya menyesap minuman saja terlihat aura tampannya, Icha diam-diam mengagumi Arka sejak lama. Namun ia tak menganggapnya serius.


Setiap apa saja yang dilakukan oleh mantan dosennya itu membuatnya kagum, seperti saat ini.


"Aku tahu, aku sangat tampan."


"Tak usah curi-curi pandang seperti itu."


Icha yang kepergok memandanginya wajahnya berubah memerah seperti tomat, rasanya ingin menenggelamkan seluruh tubuhnya di dasar laut saja, karena menahan malu.


"Apa yang kakak bicarakan." Elaknya masih menyangkal.


"Aku tadi tak sengaja melihat semut melintasi wajahmu." Hal itu malah terdengar konyol di telinga Arka.


"Lanjutkan saja bakat berbohongmu itu nona, jika ingin mendapatkan hukuman lebih."


"Ma...maksud kak Arka apa, jangan bicara sembarangan."


"Aku tahu kamu sedang berbohong,"


"Apa mau aku cium di sini, karena kamu telah berkata bohong." Bisiknya mendekatkan kursinya, dan berbisik di telinga Icha hingga menimbulkan hawa merinding di sekujur tubuh Icha.


"Aduhhh." Teriak Arka tiba-tiba mendapatkan cubitan di perut Arka.


"Kamu mau menganiayaku iya."


"Jangan di sini jika ingin menganiaya aku, tapi di tempat tidur saja." Ucap Arka asal.


"Kakak mesum."


"Sudah ah, ayo kembali, aku sudah di tunggu oleh teman-temanku."


"Tidak nanti dulu."


Tadi saat Icha pergi ke tempat ini dirinya satu mobil dengan Arka, tentu saja ia tak bisa balik sendiri jika Arka tak mengajaknya kembali.

__ADS_1


***


.


.


Sedangkan di tempat lain seseorang telah mengikutinya kemana pun Icha pergi. Sehingga hal apa saja yang di lakukan oleh Icha akan di laporkan pada tuannya.


"Nona sepertinya sedang berkencan tuan,"


"Apa kamu yakin dengan apa yang kamu lihat."


Devan tidak menelan mentah-mentah ucapan seseorang yang di tugaskan mengawasi adiknya.


"Iya tuan, tunggu sebentar aku akan mengirim gambar nona."


Tak berapa lama setelah panggilan itu di tutup, terdengar bunyi notifikasi dari ponselnya, Devan sangat penasaran dengan isinya, mungkinkah orang yang ditugaskan mengawasinya ini telah salah melihat.


Ternyata benar dengan penglihatannya, foto-foto itu beneran adiknya, mana mungkin Icha bisa berkencan, sementara dirinya sangat sibuk dengan pemotretan sebagai model sebuah produk. Tetapi hal itu tak bisa di sangkal. Nyatanya saat ini Icha bersama seorang lelaki, dan hanya duduk berdua, ada juga vidio pendek Icha.


Seseorang yang di tugaskan mengawasi dan mengikuti diam-diam adiknya ini tidak mengambil gambar wajah lelakinya dengan jelas. Karena pada saat mengambil gambar, lelaki itu kebetulan membelakangi kamera.


Namun Devan masih mengamati gambar di dalam ponselnya itu dengan seksama, sepertinya pernah mengetahui postur tubuh lelaki di dalam gambar ini, tetapi siapa, lama dirinya mengingat-ingat, namun tak menemukan.


"Baiklah lanjutkan tugasmu." Mengirim pesan kembali ke orang pesuruhnya tadi.


"Sepertinya hukuman kali ini sedang berlaku, setelah sekian lama kamu tak mengingkarinya." Gumam Devan pelan. Lalu menekan nomor asisten pribadinya dan memberikan perintah.


"Baik tuan sesuai perintah anda." Jawab asisten pribadinya di dalam mode panggilan setelah mendengarkan perintah dari bosnya untuk menyita seluruh kartu milik Icha.


Ronald asisten Devan bersiap saat itu juga, dari Moscow terbang ke Tokyo hanya untuk menjalankan tugasnya menyita semua kartu Icha.


Icha yang menjadi topik pembicaraan kakaknya ini bersin-bersin.


"Apa kamu tak enak badan?" Arka bertanya sangat khawatir dengan keadaan Icha, lalu memegang keningnya yang di tepis oleh Icha.


"Aku tak apa-apa, tak usah berlebihan seperti itu kak, mungkin saja ada yang membicarakanku."


"Baiklah, ayo kembali sekarang, aku akan mengantarmu ke teman-temanmu."


Sebelum keluar Arka membayar di kasir dan meminta bill tagihan mereka. Lalu kembali berjalan ke arah Icha dan menggandeng tangan Icha.


Di dalam mobil tak ada yang mereka bicarakan, seketika suasana menjadi berbeda sebelum dan sesudah pergi saat ini.


"Apa ada yang kamu pikirkan?" Tanya Arka.


Icha menoleh memandang Arka sekilas, lalu kembali menoleh ke arah jalanan di depan.


"Katakan apa yang membuatmu gelisah seperti ini."


"Tidak kak, sepertinya hal buruk akan terjadi padaku."


"Apa itu?"


"Aku juga tidak tau, tetapi aku merasakan dengan nyata."


"Lalu bagaiamana?"

__ADS_1


"Aku minta salah satu kartu kak Arka." Ucapnya enteng.


"Kartu, kartu apa maksudnya, aku tak mengerti."


"Kartu gesek kak Arka, kakak ini bagaimana sih."


Seketika itu Arka meminggirkan mobilnya dan mengeluarkan sesuatu di dalam dompetnya, lalu mengambil salah satu kartu geseknya seperti yang diminta oleh kekasih barunya ini.


"Ini ambillah, dan gunakan jika kamu perlu menggunakannya."


Icha mengangguk senang, lalu menerima kartu balckcard ditangannya dan menyimpan di saku tasnya.


"Terimakasih kak, aku menyayangimu."


"Tak usah tersenyum genit seperti itu jika berbicara dengan pria selain diriku."


"Ihh kakak ini apaan sih, membuat moodku berubah jelek saja karena menganggu kesenanganku." Icha mencebik kesal.


"Apa kamu memerlukan sesuatu yang lain?" Tanya Arka lagi menoleh pada kekasihnya.


"Aku rasa tidak,"


"Jika kamu menginginkan sesuatu jangan sungkan-sungkan untuk memintanya padaku."


"Apa kamu mengerti."


Icha mengangguk setuju, tak berapa lama mereka sudah sampai di tempat shooting tadi, untuk mengambil gambar berikutnya.


Di sama banyak kru shooting yang bisik-bisik membicarakan mereka. Jika bos besar perusahaan sedang mengencani aktris K-Pop dan model cantik.


Tetapi tak ada yang berani bertanya, mereka hanya berani bisik-bisik saja.


Rupanya ke tiga teman Icha juga nyampai di sana lebih dulu sebelum Icha datang, dan mereka yang datang paling akhir sehingga menjadi pusat perhatian banyak orang di sana.


"Cie yang habis berkencan." Hana meledeknya.


"Pasti hatinya sedang di hinggapi ribuan kupu-kupu nih iya." Hyun menyahut.


"Mana oleh-olehnya orang yang habis berkencan ini?" Megan malah menanyakan hal lain.


Untung saja sebelum kembali Icha sempat meminta di bawakan oleh-oleh cemilan khas di cafe tadi.


"Tidak ada kencan, hanya makan siang saja."Elaknya, mampu menyembunyikan kegugupan di hatinya.


"Mana kami percaya, iya tidak." yuju mencari pembelaan dari Megan, Hana dan Hyun. Mengisyaratkan untuk menyetujui pendapatnya.


"Iya betul, aku berani bertaruh jika mereka sudah jadian." Hana sambil menyahut snack yang di ada di tangan Icha.


"Ck..terserah kalian saja jika tak percaya."


"Hayo tadi kamu ngapain saja." Bisik Hana mendekat ke arah Icha.


Icha malah menampakkan wajah gugupnya sekilas. Tetapi setelah sadar mampu menguasai kegugupannya lagi.


"Sudah ayo, sebentar lagi shooting pengambilan gambar berikutnya akan di mulai." Aba-aba dari kru shooting itu memberitahukan informasi pada mereka.


"Kamu berhutang penjelasan pada kami." Cecar Hana.

__ADS_1


Icha menggelengkan kepalanya saja, dan berjalan ke arah make up artis, untuk berganti kostum selanjutnya.


__ADS_2