
Ceklek...
suara pintu terbuka, seorang pelayan mempersilahkan mereka memasuki kamar yang sebelumnya sudah di rapikan itu.
"Silahkan masuk nona,"
"Terimakasih bibi," jawab Icha ramah, sedangkan megan hanya menyimak dua orang yang berbincang itu, karena Megan memang tidak paham dengan bahasa yang mereka ucapkan dalam bahasa Indonesia itu.
Megan menaruh tasnya, dan membuka jendela, melihat banyak tanaman hijau dari dalam kamarnya.
"Ini Indonesia bagian mana?" tanya Megan memandang takjub di sekeliling sana.
"Ini berada di daerah Jawa Timur, tepatnya di kota Magetan,"
"Maksud kamu, kota yang berada di bawah kaki gunung tadi?"
"Ehmm iya kau benar, ini kalau kita jalan lagi memasuki desa-desa akan ada air terjun yang sangat indah, dan ada Telaga,"
"Besuk kapan hari aku akan mengajakmu berkeliling."
"Baiklah, sekarang kau istirahatlah,"
"Ehmm iya, aku akan mandi nanti dulu saja." Icha merebahkan tubuhnya yang terasa lelah, selang beberapa menit saja sudah memejamkan matanya.
"Ck, anak ini cepet sekali tidurnya," ketika Megan menoleh ke belakang ternyata Icha sudah terlelap di alam mimpinya.
"Aku akan mandi dulu, dan akan berkeliling." gumam Megan pada dirinya sendiri, lalu berjalan memasuki kamar mandi, menyelesaikan ritual mandinya.
Tidak lama lagi Megan keluar dengan tubuh yang sudah segar. "Enak sekali dia tidurnya." ketika Megan menyisir rambutnya sambil memandang Icha sekilas.
Setelah berganti pakaian santai dan sudah rapi, dirinya keluar, berjalan-jalan mengelilingi area Villa itu. Disana terdapat tanaman berbagai macam sayuran dan buah-buahan.
"Wahhh tanamannya banyak sekali, aku jadi ingin memetiknya dan membawanya pulang." lirihnya antusias menghampiri kebun yang sangat terawat itu.
"Wahh strawberry ini kecil-kecil, "
"Uhhhh, asem sekali ini buah," Megan memejamkan matanya sebelah ketika dirinya memetik buah strawberry di sana dan sepertinya strawberry di sini memang rasanya sangat asam, berbeda dengan yang ada di luar negeri.
"Ehhh pak, aku tadi memetik strawberry nya, apa boleh aku memetik buah yang lainnya?" tanya Megan pada seseorang yang berdiri tak jauh darinya.
Orang itu hanya kelihatan punggungnya saja, "Itu bapak-bapak denger tidak sih." gumam Megan bertanya-tanya. Dirinya mengucapkan dengan bahasa Korea.
"Dia tidak menengok, apa tidak dengar iya?"
"Ihhh Megan, kamu bodoh sekali, iya mana dengar bapak itu kamu ajak bicara dari sini." Megan berbicara pada dirinya sendiri. Lalu berjalan menghampiri seseorang tadi yang berdiri menggunakan kaos hitam, dan celana pendek sebatas lutut, dengan warna senada.
__ADS_1
"Pak, tadi aku..."
Ucapan Megan terhenti kala dirinya tahu siapa yang berada di hadapannya. "Kamu, aku kira kamulah pemilik kebun ini."
Megan melihat kesana kemari, takut jika Icha tiba-tiba saja muncul di hadapannya, karena Arka sedang ada di hadapannya.
"Mimpi buruk apa aku semalam, sehingga bertemu pengecut sepertimu." Icha bersedekap dada dan memicingkan matanya.
"Omong kosong apa yang kau bicarakan?" tanya Arka tak kalah sengit.
"Kenapa kemana-mana aku selalu bertemu sial, aku masih menghormati bapak, karena bagaimana pun anda adalah Dosen saya."
"Tapi karena sikap anda membuat saya membencinya."
"Bukan karena aku, tapi karena sikap teman kamu sendiri?"
"Maksud bapak apa iya, aku tak mengerti."
"Tanyakan saja pada teman kamu yang sok cantik itu, aku muak melihatnya."
"Hahhh..., benarkah...? apa aku tidak salah dengar."
"Tapi kenapa, aku merasa kalau anda selalu mengawasi dan mengikuti sahabat saya iya,"
"Bukankah sekali dua kali kebetulan, tapi kalau ketemu berkali-kali namanya penguntit."
Megan terus saja berbicara panjang lebar tanpa bisa di sela, bahkan sampai Arka tak ada sela untuk membalas perkataan Megan.
"Tentu saja kamu akan membela teman kamu yang sudah jelas-jelas salah, menggaet banyak pria dalam hidupnya."
"Hahhh, aku rasa terbalik sih, "
"Tapi percuma juga jika aku menjelaskan panjang lebar, anda juga tak akan percaya dengan apa yang saya katakan."
"Silahkan anda berasumsi semau anda, tapi jangan pernah lagi mengejarnya, atau aku sendiri yang akan pasang badan untuk melindungi temanku."
"Megan, ... kamu sedang berbicara dengan siapa." Icha yang baru saja bangun dari tidurnya mencari keberadaan Megan. Ia memutuskan mencuci muka, lalu berkeliling Villa.
"Icha ..., " Megan menoleh ke arah Icha, niat hati ingin menjauhkan Icha dari Arka tapi malah kini mereka sedang berhadapan.
"Aku pikir tadi itu halusinasiku saja, ternyata beneran dia." dalam hati Icha bermonolog.
"Apa yang kalian lakukan disini?" Icha mau tak mau menghampiri mereka berdua, yang sepertinya sedang berdebat panas itu.
"Tidak ada, aku pikir tadi dosen Arka pemilik kebun ini."
__ADS_1
"Tadinya aku mau minta ijin memetik buahnya." ucap Megan santai.
"Dosen Arka, ternyata anda di sini juga?" Icha menyapa ramah. Toh walaupun sudah tak ada hubungan lagi dengan dosen Arka, setidaknya membangun hubungan baik juga tak apa kam, pikir Icha.
Icha memang tak memiliki dendam pada dosen Arka, namun sekali saja hatinya tersakiti, ia tak akan mau lagi kenal akrab dengan seseorang itu, mungkin jaga jarak juga lebih baik baginya.
"Ehmmmm." jawab dosen Arka yang terdengar seperti gumaman.
"Megan, jika kau menginginkan buah-buahan disini, kau tinggal petik saja."
"Ehhh, kau ini, bagaimana jika ketahuan oleh pemiliknya?" tanya Megan memelototi Icha.
"Ketahuan iya tinggal kau ganti rugilah." Icha muncul ide jahilnya.
"Makanya tak bisa sembarangan begitu, kau cari orangnya, dan bilang padanya jika teman kamu ini ingin mengambil buah-buahan di kebun." perintahnya pada Icha.
"Aku tak mau, kau cari saja sendiri, sekarang aku akan mandi."
"Mari pak." Icha ikut-ikutan mengubah nama panggilannya. Karena kini semuanya sudah berbeda, tak seperti dulu lagi. Waktu yang telah mengubah segalanya.
Arka masih terdiam di tempatnya, melihat kepergian Icha hingga tak terlihat lagi punggungnya.
"Jantung ini.." Arka memegang dadanya, yang berdetak lebih cepat dari biasanya.
"Tidak mungkin aku masih mencintainya."
"Dia telah mengkhianati aku." Arka bergumam, memejamkan matanya sekilas.
"Hei, aku cari kemana-mana kenapa kamu berada disini?" Alex yang tiba-tiba menghampirinya.
"Kau ini, mengagetkanku saja, apa tak bisa menyapa orang dengan cara yang baik." ketusnya, berlalu dari hadapan Alex.
"Hei tunggu aku, kau tadi di cari oleh tuan Rey."
Tuan Rey adalah paman Arka, yang tinggal di bali, dan kini tuan Rey kemari untuk menghadiri sebuah bisnis yang diadakan konversi bersama.
"Dimana dia?" tanya Arka berbalik lagi dan menghentikan langkahnya.
"Makanya jangan main tinggal-tinggal saja,"
"Ayo aku antarkan ke tempatnya."
"Tadi dia menunggumu berada di kebun teh, dibawah sana." tunjuknya pada sebuah tempat, yang terdapat banyak gazebo.
dan
__ADS_1
Bersambung