
Megan terdiam di tempatnya, menyaksikan keindahan konser keempat member PinkV itu. Diantara kerumunan orang yang menggemakan nama penggemar mereka masing-masing, dengan membawa stik yang menyala.
Megan yang notabenya sebagai perempuan, ia begitu takjub melihat penampilan Icha. Mulai dari kecantikannya, postur tubuhnya, latar belakangnya, semuanya adalah kehidupan yang sempurna dan ideal yang dimiliki Icha.
Ia hanya bisa berandai-andai dalam hati. Andaikan ia menjadi Icha, pasti kehidupannya akan sempurna. Tetapi inilah jalan takdirnya, takdir hidupnya. Ia hanya memiliki seorang ibu. Bahkan ibunya hanya bekerja pabrik yang dibayar mingguan, dan dia harus berjuang mati-matian untuk biaya hidup.
Namun dalam hati kecilnya, Megan juga sangat bersyukur karena masih memiliki pendidikan yang tinggi hingga Dia memiliki title sarjana. Dan juga teman-teman yang baik pekerjaan yang baik menurutnya. Walaupun dia tidak bekerja di suatu perusahaan, namun Icha menggajinya dengan sangat tinggi.
Ditambah lagi Icha memiliki kehidupan asmara yang sangat sempurna. Suami yang kaya raya. Ayah dan ibu mertua yang sangat menyayanginya.
Megan merasa lelah berdiri di sana, lalu mencari tempat yang menurutnya tidak terlalu bising. Karena acara konser akan berlangsung hingga tengah malam.
Begitu acara selesai, Icha dan kawan-kawannya turun dari panggung. Disambut Megan dan juga Frans secara bersamaan. Hyun, Yuju Hana dan Icha dapat melihat dengan jelas penyambutan Megan dan juga Frans.
"Oke aku duluan ya, karena aku ada perlu dengan pengawal dan juga asistenku. Bye." pamit Icha pada ketiga sahabatnya.
"Nanti kita bertemu lagi ya." kata Hana sambil melambaikan tangannya ke arah Icha.
"Ada yang bisa dibantu nona?" tanya Frans datar, namun penuh perhatian.
"Tidak, aku hanya lelah saja membawa barang-barang bawaanku. Tolong kau bawakan barang-barangku yang ada di sana." kata Icha sambil menunjuk di mana arah barang-barangnya berada.
Untuk beberapa saat Megan terdiam mendengarkan percakapan Icha dan juga Frans. Sekuat tenaga ia harus menekan detak jantungnya agar kembali normal.
"Apa Anda sudah menghubungi tuan Arka nona?"tanya Frans pada Icha.
"Belum, kenapa?"
"Tidak, saya hanya mengingatkan saja nona."
__ADS_1
"Aku heran, kenapa pemikiran kalian berdua ini bisa sama sih. Tadi Megan juga berbicara seperti itu."
"Kami hanya mengingatkan saja nona, jangan sampai Anda ada masalah dengan tuan Arka. Atau kami semua akan terkena imbasnya." batin Frans bermonolog.
"Kalau sudah perang dingin memang susah untuk membuat mereka akur, terlebih-lebih Icha Dia sedikit kaku." batin Megan.
***
Konser di Atlanta selama 5 hari sudah berakhir. Mereka akan melanjutkan perjalanannya menuju London. Tentu saja hari-hari itu diwarnai dengan canda tawa keempat member itu, ditambah lagi Megan dan juga Frans. Sedangkan penari latar baik laki-laki maupun perempuan memiliki kamar terpisah sehingga membuat penyanyi girl grup band itu jarang berkumpul bersama penari latar.
Keempat member Pink V itu lebih sering berinteraksi dengan Frans dan juga Megan, ketimbang dengan penyanyi latar. Walaupun terkadang mereka juga berinteraksi sesekali saja.
Sejak terakhir kali Icha menghubungi suaminya itu, ia tidak lagi melakukan panggilan video call maupun pesan singkat. Walaupun Megan dan juga Frans terkadang juga mengingatkan untuk memberikan kabar kepada Arka.
Icha merasa jika suaminya itu baik-baik saja. Sehingga tidak perlu lagi ia mengabari suaminya, atau mungkin dirinya yang terlalu sibuk dengan urusannya sendiri. Sehingga secara tidak sengaja ia melupakan Arka.
Jalanan yang mereka lewati kali ini sama persis dengan jalanan yang dilewati Icha dan juga Arka sewaktu mereka masih tinggal di sana.
"Ya aku masih ingat, ketika saat itu kamu sering melakukan panggilan video call kepada kita." Hana.
"A pa yang kamu lakukan sehari-hari dan kamu menceritakan, jika kamu memiliki teman laki-laki yang sangat akrab. dan tempat tinggalnya bersebelahan denganmu."
"Tetapi kamu tidak pernah membuka siapa identitasnya apakah kau ingat itu." kata Hana panjang lebar.
"Ya bahkan dia sering bercerita jika kau sering tidak memasak, karena sering meminta masakannya. Betul apa tidak ceritanya seperti itu?" Hyun menimpali.
"Itu benar, kau tahu ternyata dia itu dosen aku. Dosen pembimbing aku juga loh. Dan pada saat itu ternyata aku sedang magang di perusahaannya." jawab Icha membenarkan sahabatnya.
"Lalu di mana dia sekarang?" tanya Yuju.
__ADS_1
"Tentu saja dia kembali dengan pekerjaannya, sepertinya dia orang yang sangat sibuk. Dan tidak mudah diganggu. Dia kan bos mana bisa meluangkan waktu seenaknya sendiri." kata Icha santai.
"Tapi inilah saatnya kalian mengenalkannya pada kami, kamu bisa beralasan meminta traktiran padanya." kata Hana memberi usul.
Seketika membuat Icha kicep. Bagaimana ia beralasan lagi. Orang yang dia maksud kan suaminya, bukan orang lain. Icha melirik ke arah Megan, seolah ia meminta bantuannya. Lewat sorot matanya. Tentu saja Megan tahu maksud Icha.
"Oh iya. Megan pasti tahu. Kan kalian dulu sekolahnya satu kampus bukan." kata Yuju.
"Eh tapi bener, apa kata Icha. Jika Tuan itu susah untuk dihubungi. Karena dia memiliki ribuan karyawan ditambah lagi pekerjaannya yang menjadi seorang dosen sangat menyita waktunya."
" Kami akan sangat tidak enak jika merepotkannya." jawab Megan meyakinkan mereka.
"Ehmmm begitu ya rupanya." Hana menganggukkan kepalanya mengerti.
Perjalanan dari bandara ke Hotel kurang lebih memakan waktu 1 jam. Ditambah lagi mereka mampir ke restaurant tempat makan western yang terkenal di dekat istana Buckingham. Tetapi untuk kali ini mereka tidak mampir jalan-jalan, karena tujuannya agar segera sampai di hotel untuk mengistirahatkan tubuhnya.
Begitu mereka sampai di hotel, teman-teman Icha langsung merebahkan tubuhnya. Untuk beristirahat sejenak. Tetapi tidak dengan Icha, entah angin apa yang membuat Icha langsung mandi membersihkan dirinya, lalu berganti pakaian dan berjalan-jalan sendiri keluar dari hotel itu. Melihat situasi yang ada di depan.
Baru saja dirinya Jalan beberapa langkah keluar dari kamar Hotel, tetapi tangannya sudah ditarik oleh seseorang dan mulutnya di backup. Membuat Icha tidak sempat berteriak bahkan bernafas pun susah.
Tanpa diduga, tangan Icha reflek menyikut orang yang membekapnya dan kakinya siap menendang. Namun Icha dibuat terkejut ketika dirinya menoleh ke belakang.
"Siapa kamu?"
"Beginikah caramu sayang, untuk menyambut suamimu?" tanya Arka dengan santainya.
"Apaan, tidak lucu tahu. Kau tahu kalau dirimu itu sudah membuat jantungku hampir saja terlepas dari tempatnya." ketus Icha.
"Maafkan aku sayang." jawab Arka, ia berjalan mendekat ke arah Icha, lalu menarik istrinya itu ke dalam pelukan hangatnya.
__ADS_1
Arka memeluk istrinya dengan erat, menciumi seluruh puncak kepala istrinya, lalu merasakannya dengan perlahan. Menyalurkan rasa rindu yang beberapa hari ini sudah menumpuk menjadi satu.