
"Baiklah pak dosen, aku memandang wajahmu yang sangat menyebalkan ini." Icha menekan kata-katanya, halus namun memperjelas.
"Apa harimu menyenangkan setelah pergi dari London?" Tanya dosen Arka tiba-tiba.
"Iya sangat menyenangkan?" Jawab Icha lagi.
"Sebegitu cepatkah kamu melupakanku?"
"Maksud kakak apa, aku sama sekali tak mengerti." Icha.
Saat ini Arka berdiri dari duduknya, dirinya melihat hamparan luas pemandangan yang sangat menyejukkan matanya, di sana terdapat berbagai tanaman, membuat pengunjung ingin berlama-lama di sana.
Arka memasukkan salah satu tangannya, dan memasukkan ke dalam saku celananya, dirinya berdiri membelakangi Icha.
"Selama kamu tak ada, hariku terasa sepi, tak ada lagi hal lain yang membuat hidupku berwarna." Ucap Arka pelan, namun masih jelas di telinga Icha.
Tak berapa lama pelayan datang, menyajikan makanan dan minuman pesanan mereka, lalu pamit undur diri dari sana. Mungkin pelayan itu mengira jika mereka adalah pasangan suami istri, sangat serasi cantik dan tampan, begitulah batin pelayan itu.
Icha mengambil gelas minumannya, dan menyesap sedikit minuman jus lemon dengan campuran susu dan teh itu.
Icha masih mendengarkan kata-kata yang keluar dari mulut Arka, dan masih mencerna dengan seksama apa yang dikatakan dosen Arka itu.
"Apa sebegitu menyebalkannya aku di kehidupan kak Arka, sehingga saat aku tak ada saja kak Arka seperti hilang beban."
"Bukan hilang beban, tetapi bebanku semakin bertambah." Lanjut Arka, masih tak mengalihkan pandangannya, dirinya masih fokus melihat tanaman hijau yang di tanam di sekitar cafe itu.
Icha ikut berdiri, berjalan menghampiri dosen Arka, bersanding di sebelahnya dosen Arka.
"Maksud kakak bagaimana, aku sama sekali tak memahami kata-kata kakak."
"Aku kehilangan cahaya hidupku, hidupku kembali seperti dulu lagi, terasa membosankan dan datar saja, tak ada yang membuat hidupku berwarna selain dirimu." Di akhir kalimatnya Arka menoleh ke arah Icha, dirinya mendekatkan wajahnya tepat beberapa senti jaraknya dari wajah Icha.
Seketika itu detak jantung Icha bekerja dua kali terasa lebih cepat dari biasanya. Bahkan hembusan nafas Arka terasa hangat di pipi Icha.
Icha merasa kedua tangannya terasa dingin, dan dirinya tak dapat berkata-kata lagi, karena sibuk mengontrol detak jantungnya.
"Aku tak bisa jauh darimu." Bisik Arka lagi di telinga Icha untuk yang ke dua kalinya.
"Ke...kenapa kak?" Tanya Icha masih bingung.
"Iya aku tidak tau apa yang aku rasakan ini." Mengambil salah satu tangan Icha dan meletakkan di dadanya tepat di bagian detak jantungnya yang bekerja lebih cepat.
Ternyata bukan hanya dirinya saja yang merasakan seperti ini, Icha takut jika ini mimpi, dirinya masih terdiam.
"Tetapi aku sepertinya tak bisa jauh darimu, apa kamu keberatan?" Tanya Arka lagi.
"Ehmmm aku rasa tidak." Icha memberanikan diri menatap wajah tampan di depannya ini.
Tatapan Arka kali ini sangat dalam, mengisyaratkan jika hatinya sangat bahagia bertemu seseorang yang selama ini membuat harinya berwarna.
"Apa kamu keberatan jika memiliki hubungan denganku?" Arka memperjelas lagi apa yang dia rasakan saat ini.
"Hubungan apa yang kakak maksud?"
"Bukankah selama ini kakak sudah memiliki seorang kekasih?" Tanya Icha mengumpulkan keberaniannya lagi.
"Kekasih mana yang kamu maksud?"
"Apa tempo hari saat kamu datang ke kampusku, untuk yang terakhir kalinya kamu berada di negara London itu."
"Ke...kenapa kakak bisa tau jika aku datang ke sana?" Tanya Icha berusaha setenang mungkin, untuk menyembunyikan kegugupannya.
__ADS_1
Arka hanya membalas dengan senyuman tipis, dan melanjutkan apa yang ingin ia sampaikan.
"Apa kamu merasa cemburu dengan semua itu?" Tanya Arka menajamkan matanya, seperti sedang berhadapan dengan musuh yang siap menerkam lawannya.
"Untuk apa aku merasa cemburu, aku tak memiliki hubungan apa pun dengan kakak, jadi tak ada yang perlu di cemberui." Ucap Icha membentak.
"Lalu dengan kata-katamu yang seperti ini, apa kamu pikir aku percaya."
Detik berikutnya Arka mencium bibir Icha sekilas, dirinya sudah dibuat gila oleh gadis imut di depannya ini. Kecupan itu terlihat sekilas, namun ada sedikit ******* dari bibir Arka, Icha seketika merasa seluruh tubuhnya menegang, dirinya seperti tersengat listrik beberapa volt. Tak bisa mengumpulkan kesadarannya untuk beberapa saat karena merasa terkejut atas perlakuan Arka baru saja.
"Aku telah melihat kecemburuan di matamu,"
Arka seperti tak terjadi apapun, dirinya kembali santai berucap.
"La...lalu." Setelah beberapa menit Icha baru bisa mengumpulkan kesadarannya, dan menoleh pada Arka.
"Entah sejak kapan rasa ini hadir dalam diriku, kamu adalah milikku mulai saat ini dan ke depannya nanti." Ucapnya terdengar arogan.
"Aku bukan milik kakak, aku milik keluargaku, enak saja mengaku-ngaku. Memangnya kakak ini siapa." Sikap bar-bar Icha mulai kembali seperti dulu lagi, tak dapat dipungkiri, hal seperti inilah yang paling di sukai oleh Arka pada Icha.
Icha orangnya apa adanya, dan tak bisa berpura-pura. Icha merupakan orang yang ekspresif, di tambah lagi tipe kinestetik, sehingga banyak bergerak dan tak bisa diam.
Arka mendekat dan memeluk Icha dari samping, sepertinya rindunya selama ini telah terobati oleh kehadiran gadis yang tergolong hiperaktif ini.
"Apa kamu tahu, aku sangat merindukan kamu yang seperti ini."
"Icha yang bar-bar, pembuat rusuh di segala suasana, apa adanya, pandai menghibur dan mudah memaafkan kesalahan orang lain."
"Apa kamu bisa menerimanya jika aku mengklaim kamu akan menjadi milikku?"
"Aku tak mempercayainya." Icha mendongak menatap wajah Arka, dirinya masih bersikap datar, sehingga tak membalas pelukan Arka.
"Kamu ingin aku bagaimana, agar kamu mempercayainya?"
"Baiklah sesuai permintaan tuan putri."
Tak berapa lama Arka merogoh saku celananya, di sana ia mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang. Tentu saja Icha mendengarkan percakapan mereka. Icha mau mencegah perbuatan Arka itu, namun sudah terlambat, jari telunjuk Arka mengarah ke mulutnya Icha, mengisyaratkan untuk diam.
"Tunggu beberapa hari lagi, kebun pesanan tuan putri akan segera ada."
Icha mendengus kesal, padahal dirinya tadi hanya berbicara asal saja, lalu kenapa malah dikabulkan, benar-benar gila pikir Icha.
"Bagaimana, apa sekarang kamu mempercayainya?" Arka menunggu jawaban Icha.
"Tetapi tidak seperti itu caranya, tadi aku hanya ngomong asal kenapa kakak malah membuatnya beneran."
"Tentu saja aku ingin mengabulkan permintaan tuan putri yang ada di hadapanku ini."
"Bagaimana?" Desak Arka lagi.
"Baiklah, tetapi ada syaratnya."
Arka menautkan sebelah alisnya, membentuk sebuah kerutan dikeningnya, dirinya masih heran, karena Icha memiliki sebuah syarat untuk dirinya.
"Katakan apa itu?"
"Aku tak ingin hubungan kita ini di publis dan di ketahui banyak orang, aku takut akan banyak gosip tentang diriku, dan karir serta nama baikku akan tercoret dari dunia hiburan nanti, jika aku memiliki reputasi yang buruk."
"Hanya itu."
"Iya."
__ADS_1
"Baiklah, tetapi aku juga memiliki syarat untukmu."
"Apa? kenapa Kakak ikut-ikutan memberikan syarat padaku." Icha mencebik.
"Tentu saja, hal ini harus aku sampaikan padamu."
"Katakan apa intinya,"
"Aku tak ingin kamu berdekatan dengan lelaki manapun."
"Hei kakak, mana ada seperti itu, aku ini aktris populer, model, dan brand ambasador dari banyak brand ternama di dunia, tentu saja sekali-kali aku akan di peluk oleh pria lain." Kesal Icha berbicara lantang.
Arka hanya menanggapi santai saja, dan tak mau terpengaruh atas ucapan Icha baru saja.
"Itu dulu, tetapi sekarang tidak lagi, kamu harus menjaga tubuhmu untuk calon suami kamu kelak,"
"Bagaimana jika calon suamiku bukan kak Arka?" Seketika ide jahil Icha muncul begitu saja.
"Bagaimana jika calon suamiku lebih tampan, lebih kaya, lebih penyayang padaku, dan lebih dari segalanya dari kak Arka." Ucap Icha random.
"Itu hanya khayalan kamu saja, dan jika hal itu terjadi maka akan ku pastikan lelaki itu lenyap dari muka bumi ini."
Seketika Icha merasakan hawa dingin, penuh aura kemarahan di sana, dan dirinya harus mencairkan suasana ini.
"Dan tidak akan ada lelaki yang setampan dan sekaya diriku."
Padahal Icha sudah begidik ngeri dengan ucapan Arka tadi, namun mendengarkan ucapan Arka berikutnya jadi ingin menertawainya saja.
"Kakak hanya seorang dosen, memangnya kakak ini sekaya apa?" Tanya Icha lagi.
"Apa kamu meragukanku?"
"Tidak, aku hanya berbicara sesuai fakta saja, jika seorang dosen saja tidak akan bisa menjadi sangat kaya melebihi para pengusaha-pengusaha yang sukses di bidangnya." Ucap Icha mantap.
"Jika kakak bekerja menjadi seorang dosen saja, dan bekerja sambilan menjadi seorang asisten, akan sangat mustahil untuk menjadi sangat kaya."
"Tetapi aku tak peduli kakak kaya atau tidak," Senyum mengembang di wajah Icha dan kali ini dirinya yang memeluk Arka erat, Arka yang awalnya diam saja akhirnya membalas pelukan Icha.
"Bukankah hidup di dunia ini untuk saling melengkapi," Icha.
"Ehmmm iya kamu benar, tumben hari ini otakmu sangat ecer."
"Kakak menghinaku iya."
"Tidak, aku hanya berbicara fakta saja."
"Hey kenapa kakak menirukan gaya bicaraku, aku sangat kesal dengan kak Arka hari ini."
Icha bersedekap di dada, dan memasang muka cemberut.
"Jangan di majukan seperti itu bibirnya, jika tak ingin ku cium di sini."
"Baiklah ayo kita makan, perutmu sudah terdengar sampai ke telingaku suaranya."
Mendengar hal itu Icha sangat malu, dan dirinya kembali tersenyum. Mereka lalu menyantap makan siang bersama dan penuh dengan makna.
Arka hari ini telah mengungkapkan isi hatinya, mulai detik ini saat ini, di tempat yang indah ini mereka telah menjadi sepasang kekasih. Banyak hal yang mereka bicarakan, mulai karir hingga masa depan.
Hal itu membuat mereka merasa yakin, jika Icha dan Arka akan saling mendukung satu sama lain.
Arka tentunya menerapkan banyak aturan untuk Icha, walaupun beberapa kali mendapatkan protes dari Icha. Namun tak urung juga akhirnya Icha menyetujui.
__ADS_1
Icha juga tak mau jika Arka menemui dirinya di tempat umum dan menunjukkan dirinya sebagai sepasang kekasih.
dan