
Awas area dewasa++++
Bocil skip aja baiknya,++++
Yang udah nikah gaskeunnn
Icha mengerjapkan matanya, ada yang aneh dengan tubuhnya, seperti sedang ada yang menindihnya, bahkan semalam ia bermimpi sedang bercinta dengan suaminya, apa ini mimpi atau kenyataan, bahkan Icha merasa dalam mimpinya itu begitu indah.
Tetapi setelah dirinya membuka mata, ternyata bukan mimpi, Icha membuka selimut yang membungkus dirinya, ternyata ini nyata. "Oh Tuhan berarti semalam." Icha menutup dengan kedua tangannya. Betapa malunya dirinya jika semalam dirinya begitu liar sambil memejamkan matanya, padahal ia mengira sedang bermimpi.
"Kenapa menutup matamu?"
"Apa masih kurang yang semalam, kamu begitu liarnya, aku sampai kewalahan." ucap Arka masih dengan mata terpejam.
"Stop stop stop," menutup kedua telinganya.
"Jangan dibahas lagi, aku malu tahu." kesal Icha mungkin saat ini kedua wajahnya sudah memerah seperti tomat.
"Sudah ah aku mau bangun." bergegas turun ke lantai dan pergi membersihkan diri setelah dirinya berhasil memunguti pakaian yang berserakan dilantai.
"Dasar suami lucnut, tidak tahu aturan." Icha mengumpat setelah dirinya berada didalam kamar mandi.
"Kau mengumpatiku nyonya Arka."
"Ehh ehh tidak tidak, siapa yang mengumpati suamiku yang paling tampan ini." senyum cerah seketika terbit dari kedua sudut bibir Icha.
"Aku rasa kedua telingaku masih normal."
"Hah benarkah." Icha yang tangannya sedang mengisi Bath up air hangat itu menghentikan aktivitasnya sejenak.
"Hemm."
"Apa kamu tidak kangen dengan suami kamu ini sayang." Arka berjalan mendekat dan memeluk Icha dari belakang. Seketika reaksi tubuhnya menunjukkan yang berbeda.
"Sepertinya kau menginginkannya lagi sayang." bisik Arka suaranya sudah serak pertanda menginginkan hal lain.
"Hah tidak, aku mau mandi." Icha yang akan kabur dari cengkraman suaminya tertahan, sepertinya kalah start.
Ritual mandi pagi kali ini dibumbui dengan aroma pengantin baru yang berjalan dua ronde didalam kamar mandi, bahkan membuat seluruh tubuh Icha bagaikan dipukuli orang satu kampung.
Setelah satu jam lamanya, Icha keluar dengan langkah kaki menghentak. Mulutnya komat kamit seperti sedang mengumpat, tak ada wajah ceria, lain halnya dengan Arka, yang baru saja keluar kamar mandi membuat senyumnya cerah bagaikan mentari yang baru saja akan menampakkan sinarnya.
"Sini biar aku yang menyisir." Arka mengambil alih sisir ditangan Icha, lalu menyalah hair dryer dan mengeringkan rambut panjang Icha yang terlihat masih basah.
"Aku rasa kita butuh honey moon." celetuk Arka.
"Kau ingin honey moon kemana?" tanya Arka yang tangannya masih sibuk memegang hair dryer itu.
"Aku ingin keliling dunia dengan menaiki kapal pesiar pribadi." ucap Icha asal. Padahal memang itu impiannya dari dulu.
__ADS_1
"Kapak kau libur kerjamu?"
"Belum tahu, sebentar lagi grup girl band ku akan come back dengan album baru."
"Jadi aku belum bisa memastikan kapan."
Wajahnya kini sudah tak secemberut tadi, apa ini karena obrolan ringan atau karena pembahasan traveling hingga membuatnya bersemangat.
"Baiklah, kabari jika waktumu free."
"Ngomong ngomong soal pemotretanmu kemaren, apa tidak bisa diganti dengan perempuan lain?" tanya Arka duduk di meja cermin dihadapan Icha.
"Kenapa?"
"Aku sangat tidak suka jika istriku harus bermesraan dengan lelaki lain selain diriku."
"Hey itu bukan bermesraan, tapi sedang berpose tahu."
"Aku tahu, tapi bagiku itu sama saja."
"Tidak sama tahu."
"Sama saja, karena kamu bersentuhan dengan lelaki lain."
"Ck, jadi..., kau membuntutiku?" tanya Icha memicingkan matanya.
"Kamu..."
"Ihhh aku kesal kesal kesal."
"Berhenti aku minta."
"Tidak bisa, aku sudah terlanjur tanda tangan kontrak tahu."
"Batalkan, aku yang akan membayar royaltinya." ucapnya datar, namun Icha sama sekali tak gentar untuk membantah omongan suaminya.
"Tidak bisa suamiku sayang, aku janji tidak akan mengurangi jatah bercinta kita,"
"Walaupun aku lelah bekerja sekalipun." ucap Icha menahan kekesalannya, berekspresi seimut mungkin didepan Arka.
Hal itu malah membuat Arka menyeringai, boleh juga ucapan istrinya baru saja. "Benarkah?"
"Iya aku janji."
"Baiklah, akan aku hitung berapa kali dia menyentuhmu, berapa kali juga kau harus membayarnya."
"Membayar bagaimana?"
"Membayar dengan tubuhmu sayang." bisik Arka ditelinga Icha hingga membuatnya merinding.
__ADS_1
Icha sama sekali tidak mempermasalahkan akan hal itu, ia menganggap ini hanya sebuah candaan Arka.
"Baiklah, hari ini aku akan ada pemotretan lagi dengan tema yang berbeda, sekarang aku akan berganti pakaian." ucap Icha yang bangkit dari duduknya, lalu berjalan menuju dimana kopernya berada.
"Sekarang?" tanya Arka melihat aktifitas istrinya.
"Iya jelas saja sekarang, masak bulan depan, ini aku mau berganti pakaian."
"Sudah berani membantahku sayang, rupanya kau senang akan bertemu idolamu lagi."
"Hahaha ampun sayang, ampun suamiku, baiklah baik setelah ini aku tidak akan mengulanginya lagi." Icha ketawa terbahak bahak, akibat digelitiki Arka.
"Sekarang katakan, tampan mana aku dengan idolamu?"
"Ck, tentu saja tampan idolaku, huh macho." batin Icha terdiam sejenak. Namun tida mungkin juga dirinya mengatakan hal yang sebenarnya.
"Tentu saja tampan suamiku, apa lagi sangat hot jika diranjang, ahh membuatku kewalahan, suamiku memang perkasa."
"Baiklah, jika begitu, beri aku semangat pagi." seketika ide jahil Arka muncul begitu saja.
"Selamat pagi suamiku sayang, semangat selalu iya." berjalan mendekat lalu mengecup pipi suaminya.
"Bukan itu."
"Bukan itu, lalu apa lagi sayang." Icha memutar tubuhnya setelah selesai mengenakan pakaian yang menurut Arka sangat terbuka itu.
"Tentu saja hal lain." memeluk Icha dari belakang untuk yang kedua kalinya.
Lalu menurunkan tali gaunnya yang berada dipundak istrinya, mengecup dengan sentuhan sensual, hingga membuat Icha yang awalnya akan berontak terhanyut juga untuk yang kedua kalinya pagi ini.
"Ahhh sayang kau."
"Apa kamu tidak kangen dengan senjata tonggakku."
"Dia memang sangat perkasa." tidak sadar lagi-lagi Icha memujinya, Arka begitu puas dan tersanjung mendengarkan pujian dari mulut istrinya, pasalnya membuatnya semakin percaya diri, dan selalu ingin lagi dan lagi servis dari istrinya.
Detik berikutnya terjadi ciuman mesra pengantin baru itu, mulut manis Arka turun menyusuri leher Icha, bulu bulu di dagunya yang sudah tumbuh halus mengenai kulit halus Icha hingga membuatnya merinding dan mengeluarkan suara sensual.
"Ahhh sayang, aku sudah tidak tahan lagi." tangan Icha bahkan menekan kepala suaminya kala mulutnya bermain main di d*** Icha.
Tangan Arka turun, berputar putar bermain main diarea inti pusat tubuhnya, "Mungkin beginilah rasa ga*** yang sesungguhnya, yang dirasakan seorang pel*k*r." rancau Icha di sela sela kegiatan bercintanya.
"Ahhhh aku tak tahan Arkahhh kamuuu kam..kamuuhh." suara Icha bahkan tersengal sengal menahan rasa nikmat yang membuat tubuhnya melayang, pikirannya kacau, tidak bisa lagi berfikir jernih hingga membuat pelepasannya terjadi lagi, Arka menyeringai puas menatap wajah istrinya yang menyiratkan rasa ingin terbang. Namun belum cukup sampai disini.
"Sayang lebih cepat lagi, aku nanti terlambat." rancau Icha ketika Arka melakukan kegiatan diatas tubuhnya.
Namun sepertinya Arka sama sekali tidak mendengarnya, dan menulikan pendengarannya hingga kegiatan itu berlangsung satu jam.
Gimana udah panas belum reader pengantin barunya merekašš¤£
__ADS_1