Menikahi Adik Sahabatku

Menikahi Adik Sahabatku
Teriakan di Pagi Hari


__ADS_3

Pagi itu aktivitas terjadi seperti biasanya, Aksara kakak Icha yang sedang duduk bersantai di ruang tengah dengan koran ditangannya begitu terkejut ketika mendengar suara teriakan seorang perempuan.


"Dasar pengantin baru tidak tahu adab." cibir Aksara.


"Iya wajar saja, mereka sedang memadu kasih mungkin." tuan Kusuma menimpali.


"Ah sepertinya kakek sebentar lagi akan menjadi seorang buyut."


"Kau benar, habis ini giliranmu."


"Aku masih belum siap menikah,"


"Nanti kalau sudah ketemu yang cocok juga menikah."


"Tapi belum, aku rasa gadis-gadis yang pernah bertemu denganku sangat agresif, membuatku mual saja."


"Jangan terlalu najis dengan gadis agresif, tidak lihat saja bagaimana adikmu itu." ungkap tuan kusuma, pasalnya Icha termasuk gadis agresif jika bertemu dengan orang yang dia kenal.


"Ahh kakek, jangan mengingatkanku seperti itu."


"Kau harus membuka matamu, agar tahu kenyataan."


"Baru saja kamu juga mendengar sendiri."


Aksara terdiam, menggedikkan bahu lalu kembali fokus melanjutkan membaca koran ditangannya.


"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Devan yang baru saja muncul dari arah dapur.


"Ck, kau tertinggal jauh." ungkap tuan kusuma.


"Kakek..., kenapa aku jadi merasa jika kita sedang menjaga pengantin baru yang sedang berbulan madu." Aksara.


"Ehmmm iya kau dengar, itu terdengar lagi teriakannya, oh sungguh adik kalian itu sangat agresif sekali bukan."


"Jadi kalian sedari tadi disini hanya ingin tahu apa yang mereka lakukan di dalam sana?"


"Bukan begitu kak, kita kan memang sudah duduk disini sejak tadi, mana tahu kita apa yang mereka lakukan." Aksara membela diri.


"Ehmmm Aksara benar,"


***


.


"Tidak usah berteriak seperti itu, orang mengira kita sedang menikmati indahnya cumbuan sebagai pasangan baru."

__ADS_1


"Apa yang kakak bicarakan itu?" Icha memicingkan matanya.


"Itu semua tidak benar." ketus Icha.


"Makanya tak usah menjerit sekeras itu,"


"Aku hanya terkejut saja tadi, kenapa kakak berpura-pura tidur lagi."


Arka menarik tangan Icha, sehingga membuat Icha terjerambah dan jatuh dipelukannya, teriakan nyaring kembali terjadi, hingga terdengar sampai di depan kamarnya yang merupakan terhubung dengan ruang tengah rumah tuan Kusuma. Wajah keduanya saling bertabrakan, bahkan mulut mereka saling menempel. Beberapa detik setelah Icha menyadarinya segera mengangkat kepalanya kembali.


"Kakak ihhh apa-apaan sih, aku kesal sekali." Icha memukuli dada suaminya dengan brutal.


"Supaya kau tak banyak bicara lagi."


"Tau ahh, aku mandi, lepaskan aku kak."


"Kakak ini apa kok rasanya..."


Ketika dirinya menyadari ada sesuatu yang mengeras dibawah sana, Icha menutup wajahnya malu. Keheningan kembali terjadi diantara keduanya. Tidak terjadi begitu lama setelah terdengar ponsel Arka kembali berbunyi, barulah Icha bisa melepaskan diri dari suaminya.


"Hah akhirnya aku bisa kabur juga."


"Ehh tapi tadi siapa yang menelpon, sepertinya dia menyebut nama perempuan lain, oh Tuhan aku kesal sekali padahal aku ini istrinya." setelah saat ini dirinya berada di dalam kamar mandi.


Lama Icha berada di dalam kamar mandi, Arka yang akan menyusul ternyata pintunya terkunci dari dalam.


"Cha keluarlah, kamu sedang apa di dalam sana?"


"Cha..., kenapa mandimu lama sekali." tangannya mengetuk daun pintu beberapa kali, namun Icha masih saja tak mendengarnya, padahal ia harus segera kembali ke Villa untuk rapat berikutnya.


"Iya kak tunggulah sebentar, aku sedang membilas tubuhku." teriaknya dari dalam.


"Cepatlah, aku sedang buru-buru."


Ceklek pintu kamar mandi terbuka dengan Icha membalut tubuhnya hanya sebatas dada, Arka yang melihatnya tentu saja tubuhnya bereaksi, "Kakak ini kenapa berisik sekali?"


"Sudah kubilang kalau aku harus segera kembali ke Villa."


"Sekarang?"


"Tentu saja sekarang, masak iya tahun depan?" Arka segera menerobos pintu masuk kamar mandi, sebelum dirinya khilaf pada istrinya.


"Aneh, kenapa dengan kak Arka." menggelengkan kepalanya pelan.


"Apa mereka belum keluar?" tanya tuan Kusuma pada kedua cucunya Devan dan Aksara.

__ADS_1


"Biarkan saja, mereka kan pengantin baru kek, untuk apa membuat mereka sarapan pagi bersama." celetuk Aksara.


Saat ini seluruh keluarga sudah berkumpul, kecuali ayah dan ibunya mereka sudah kembali ke negara tempat mereka tinggal.


"Hallo semuanya selamat pagi?"


"Panjang umur sekali kamu, baru saja di bicarakan sudah nongol saja." Aksara.


"Kakak..., bicaramu ini membuatku kesal saja." Icha berjalan menuju meja makan dengan Arka yang berada dibelakangnya.


"Silahkan duduk cucu menantu, Icha apa kamu akan diam saja seperti itu, tolong layani suami kamu." tuan Kusuma yang merasa gemas dengan cucunya itu akhirnya buka suara juga.


Bagi Icha ini adalah hal baru, makan bersama keluarga dan juga suaminya, ah terasa geli sekali dirinya jika harus menyebutnya suami. Padahal dirinya masih ingin bermain-main.


"Ehmm iya terimakasih tuan." ucap Arka mendudukkan tubuhnya.


"Jangan panggil aku dengan sebutan itu lagi, sekarang kamu sudah menjadi cucu menantuku, jadi panggil saja aku seperti Devan, Aksara dan juga Icha ketika memanggilku."


"Ehmm iya ka..kek." ucap Arka, lidahnya masih kaku, butuh penyesuaian.


"Kami tidak tahu makanan kesukaan kamu apa, jadi ini ada masakan dari yang tradisional sampai masakan western."


"Semoga saja cocok."


"Ehmm tidak masalah kek, ini juga sudah cukup kok." Arka masih bersikap segan dengan tuan Kusuma, pasalnya dulu tuan Kusuma merupakan relasi bisnisnya, dan sekarang malah dirinya menjadi cucu menantunya.


Icha dengan gerakan lincahnya, tangannya mengambilkan nasi, sayuran, dan saus kacang, ditambah telur ceplok mata sapi, dan juga tempe goreng. "Silahkan dimakan suamiku, ini namanya sarapan pakai pecel kalau disini."


"Ehmm iya ini salah satu menu kesukaan istri kamu di kala sarapan pagi nak Arka." ucap tuan Kusuma lagi.


Arka mengangguk mengerti, mengamati makanan diatas meja satu persatu, lalu terakhir mengamati makanan yang ada di piring Icha, katanya Icha suka makan pecel, tapi kenapa malah mengambil nasi di tambah sayur berwarna kuning di dalam piringnya.


"Ini juga makanan kesukaan aku kak, namanya soto, adanya cuman di Indonesia saja, kalau di luar negeri itu sudah KW nya." kata Icha yang sepertinya Arka bertanya-tanya soal menu yang ia ambil.


Lalu Arka mulai menyuapkan makanan ke dalam mulutnya menggunakan sendok dan garpu, ini pertama kali dirinya sarapan menggunakan nasi, biasanya ia akan sarapan dengan menu ringan, seperti roti bakar, sandwich, atau stik dan semacamnya.


"Sepertinya nak Arka akan ada keperluan, mau kemana?" tanya tuan Kusuma setelah kegiatan sarapan paginya, dan mengelap mulutnya menggunakan tisu.


"Ehmm iya kek, saya harus kembali ke Villa, karena masih banyak hal yang harus kami kerjakan."


"Dengan istrimu juga atau sendiri?"


"Tentu saja dengan istriku kek." kata Arka tanpa meminta persetujuan dari Icha.


Seketika Icha menoleh dan rasanya bersungut-sungut ingin membuka mulutnya.

__ADS_1


__ADS_2