
"Ah masak iya harus minum ini lagi?" tanya Icha saat ini sedang makan berdua dengan Megan. Pagi-pagi sekali dirinya sudah terbangun dari tidurnya, pasalnya dirinya akan menyusul suaminya yang saat ini sedang meninjau proyek.
"Tentu saja, ini minumlah." semuanya sudah disediakan oleh Megan, sehingga Icha tinggal meminumnya saja, tapi penuh drama.
"Kamu jangan drama, ini hanya pil kecil." ketika Megan melihat Icha tak ada pergerakan untuk diminumnya.
"Baiklah sebentar dulu."
"Ini hanya pil kecil, jangan banyak menunda, atau kamu akan menjadi ibu muda."
Mendengar penuturan Megan baru saja membuat Icha begidik ngeri, pasalnya dirinya sendiri masih suka bermain-main, masak iya harus menjadi ibu muda, tidak luci kan, begitulah pikir Icha. Akhirnya membuatnya bersemangat untuk meminum pil kecil berwarna putih itu.
"Baiklah ini sudah selesai aku minum, habis ini kamu ganti bajumu, aki tunggu dalam waktu sepuluh menit harus sudah kembali." Icha melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Mau kemana kita?"
"Kau akan ikut bersamaku."
"Kemana?"
"Adalah, makanmu sudah selesai kan, kalau sudah sana pergi, aku tunggu, ingat waktunya hanya sepuluh menit."
"Ck, kau balas dendam nona."
"Menurutmu." Icha berdiri dari duduknya dan berjalan menuju kamarnya.
"Bahkan aku memberinya waktu lima belas menit, kenapa dia membalasku dengan waktu sepuluh menit." gumam Megan menghentakkan langkah kakinya.
**"
.
.
"Kok naik helikopter, mau kemana?"
Icha masih dalam mode diamnya, belum memberikan jawaban.
"Aku mau menyusul suamiku lah, mau kemana lagi."
Setelah Icha berhasil mengelabui Megan, dirinya baru menjawab pertanyaan Megan.
"Kau sangat membuatku kesal, kenapa tidak bilang dari tadi, aku kan tidak perlu ikut."
"Tidak perlu ikut bagaimana, alat kontrasepsiku kan ada di kamu,"
"Ck, menyebalkan." Megan merenggangkan kakinya di kursi penumpang, melihat pemandangan dari ketinggian.
Hari ini Icha mau menyusul suaminya, memberikan sebuah kejutan kecil. Dengan hadirnya dia.
Perjalanan dari Villa sampai pada tempat lokasi suaminya tidak memakan waktu lama, hanya satu jam setengah.
"Hah sudah sampai, Megan kamu bangunlah," Icha mengguncang tubuh Megan.
"Sudah sampai?"
"Iya, ayo bangunlah, lihatlah disana banyak pemandangan yang bagus."
__ADS_1
"Sebentar, tasku."
"Sudah dibawa seseorang ayo."
Helikopter sudah mendarat di tanah lapang, namun untuk sampai ke tempat suaminya Icha masih membutuhkan lagi alat transportasi. Melihat jalanan yang medannya sulit dilewati membuatnya berpikir ulang, jika jalanan itu tidak dapat dilewati oleh mobil.
"Oh Tuhan Icha, sepertinya ini bukan tempat manusia." keluh Megan merasa ngeri melihat jalanan yang berlumpur dan becek.
" Selamat pagi Ning ?" tanya tukang ojek daerah.
Mereka hanya pergi bertiga, Icha, Megan dan satu lagi pengawalnya. "Pagi juga bang."
"Ning mau kemana?"
"Kami mau ke tempat sebuah desa XX."
"Baiklah Ning, ayo kami antar,"
Megan menunjukkan aura mengerikan jika jalanan licin itu akan dilalui motor. "Sudah..., ayo naiklah, jangan drama."
"Haih, mungkin ini yang dinamakan artis masuk kampung, eh bukan deh masuk desa."
"Terserah apa katamu." Icha segera menaiki motornya yang sudah siap dibonceng oleh abang tukang ojek.
"Jauh apa tidak pak?"
"Lumayan Ning, pegangan yang kenceng Ning, ini jalannya sangat licin, takut Ning terjatuh aja."
"Hah iya pak,"
"Disini belum ada pembangunan Infrastruktur iya pak?"
"Masih jauh pak ini?"
"Masih Ning, apa Ning takut iya melewati jalanan seperti ini?"
"Bukan hanya takut saja pak, tapi takut pake banget pak, mana melewati hutan-hutan rindang begini lagi, semoga saja kita tidak ketemu hewan buasnya pak."
"Iya Ning, harus banyak berdoa saja, untung Ning nyampai di lokasi masih termasuk pagi,"
"Memangnya kenapa pak kalau sudah sore atau malam?"
"Iya Ning bisa bayangin sendiri lah jalanan seperti ini, mana ada yang berani lewat malam-malam, takut ketemu binatang buas lah Ning,"
"Iya juga iya Pak."
"Itu desanya sudah kelihatan Ning."
"Hah mana pak?" Icha terlihat antusias, dirinya menengok ke belakang, mencari motor yang membawa Megan dan juga pengawalnya tadi.
"Ini pak Tipsnya, makasih ya pak."
"Wahh ini kebanyakan Ning, tidak apa-apa pak, anggap saja itu rejeki bapak hari ini."
"Wahh makasih ya Ning kalau begitu."
"Tinggal dimana mereka?" tanya Megan yang baru saja melangkah mendekat.
__ADS_1
"Iya mana aku tahu, makanya kita cari. "
"Mungkin dirumah-rumah yang mirip tenda itu nona." tunjuk bodyguardnya.
"Hah yang benar saja, cuman ada satu tapi."
"Iya kita coba saja kita kesana."
Terlihat dari pandangan mereka, jika ini masih jauh dari pedesaan, namun tidak terlalu jauh, terdiri ada seperti bangunan yang terbuat dari Spandek, mulai dari dinding dan juga atapnya, ada juga beberapa pekerja yang sudah mulai mengerjakan sesuatu, bahkan sudah banyak alat berat.
"Bener tidak disini?" tanya Megan putus asa.
"Nah itu dia suami aku, aku nitip dulu iya, biar aku samperin dulu."
"Sayangggg....," teriak Icha terdengar nyaring berlari ke arah Arka yang sedang menemani pekerja.
"Sayang, ini aku..." Arka masih juga tak menyadarinya, malah terlihat pandangannya Jenifer sedang mendekat ke arah Arka.
"Jangan-jangan mulai dari kemaren dia bersama terus." watak Icha yang memang pencemburu namun gengsi untuk mengungkapkannya itu malah membuatnya berhenti sejenak.
"Hah kamu tak boleh kalah Icha, kamu kan istrinya, sedangkan dia, memangnya dia itu siapanya." Icha menyemangati dirinya sendiri, dan berlari sekencang yang ia bisa.
Brukkkk...
Tubuhnya menabrakkan tubuh Arka, dari belakang, "Jen jangan seperti ini Jen, tidak enak dilihat orang."
"Jen..., apa kakak bilang Jen."
Arka dibuat terkejut, ternyata yang memeluknya istri kecilnya yang sangat bandel, "Sayang kamu kesini?"
"Jadi selama ini kakak pacaran sama Sekertaris kakak itu iya?" suaranya terdengar nyaring.
"Sayang, sayang..., ayo sini minumlah dulu, kamu pasti kecapekan kan." Menarik lengan Icha dan membawanya duduk, lalu menyodorkan segelas air mineral ke tangan Icha.
"Sayang, aku terkejut kamu kemari, dengan siapa memangnya?" Arka melihat belakang Icha yang tak ada siapa-siapa.
"Iya aku memang mau membuat kejutan untuk suamiku."
"Sudah ku bilang, aku akan secepatnya kembali, tapi kenapa malah begini."
"Kenapa? apa tidak senang aku kemari?" Icha mengerucutkan bibirnya kesal.
"Jangan dimonyong-monyongin, atau aku cium disini?"
"Cium aja siapa takut."
Arka yang mendapatkan tantangan dari istrinya langsung saja menyerang Icha tanpa aba-aba, Icha yang sudah merindukan suaminya setengah mati membalas ******* yang diberikan oleh suaminya.
"Selalu saja lupa bernafas, "
"Tunggu sebentar," Arka berdiri dari duduknya, menghampiri para pekerja, entah apa yang mereka bicarakan, kemudian setelah selesai kembali lagi menghampiri Icha.
"Ayo istirahat dulu, kamu baru saja datang, pasti sangat capek kan."
"Ehmm tidak, capekku hilang setelah bertemu suamiku."
"Tapi disini fasilitasnya terbatas, tidak seperti di Villa, apa tidak apa-apa tidur disini apa adanya,"
__ADS_1
Icha menggelengkan kepalanya, lalu merebahkan dirinya diatas busa spon, melihat istrinya rebahan, seketika membuat Arka memikirkan hal lain.
dan