
Icha mencuci muka tanpa tahu jika dibelakangnya telah dibuntuti Arka. Begitu ia berbalik. Ia menjadi kaget setengah mati.
"Kakak kau mengagetkanku."
"Aku juga mau cuci muka."
"Kan bisa bersabar setelah aku keluar dulu." Icha sambil berlalu keluar dari dalam kamar mandi. Namun naas kakinya tersandung kaki Arka, seketika tubuhnya melayang kebawah, tetapi Arka lebih dulu menangkapnya.
"Aahhhhhh..., aduhh sakiit." teriaknya karena kepalanya sempat ke jedot pembatas kaca. Tangannya memegangi kepalanya.
"Berhati-hatilah, kenapa denganmu?" omel Arka ketika menahan tubuh rampingnya.
Tidak sengaja juga hidungnya mencium kepalanya, yang wangi shampo rambutnya menguar sampai pada indera penciumannya.
Megan yang mau mengambil ponselnya ketika tertinggal dikamar, mendengar suara teriakan melengking Icha jadi berhenti di depan pintu, mengurungkan niatnya untuk masuk kedalam kamar mereka.
"Apa yang mereka lakukan," gumamnya bertanya pada dirinya sendiri.
"Oh Tuhan jangan-jangan mereka." menggelengkan kepalanya, pikirannya sudah terkontaminasi hal-hal berbau mesum.
"Tidak...tidak, lebih baik aku kembali saja ke kebun, aku tak mau mengganggu aktivitas bercinta mereka." Megan berbalik, berjalan kembali ke gazebo di taman buah dan sayur.
Saat ini mereka sudah duduk di sofa berhadap-hadapan. "Kakak ada perlu apa?" tanya Icha memecahkan keheningan lebih dulu setelah lama saling berdiam diri.
"Kau belum memberikan jawabanmu?"
"Jawaban yang mana?" tanya Icha mendongak, memberanikan diri menatap wajah Arka.
"Kau pura-pura tidak tahu, atau memang sudah melupakannya, hemmm..." Arka berpindah posisi menjadi duduk bersebalahan di sebelah Icha yang saat ini duduk di sofa panjang.
"Kakak, ehmmm itu anu."
"Ahh kakak, pindah sana, kenapa pindah kesini?" Icha menjadi salah tingkah sendiri di dekati seperti ini.
Namun detik berikutnya Arka mendapatkan telepon dari Jenifer jika kakinya kemaren masih sakit, padahal sudah di panggilkan tukang pijat oleh orang suruhan Devan.
"Aku akan kembali lagi nanti, kau harus bersiap-siap." Arka berdiri dari tempat duduknya, berjalan tergesa menuju pintu keluar.
"Oh Tuhan, benar... benar, membuat jantungku mau lompat saja rasanya." Icha memegangi dadanya sendiri selepas Arka keluar dari kamarnya.
Di ikuti dering ponselnya, Icha mengangkat, ternyata kakeknya yang sedang menelponnya.
"Baiklah kek, aku akan kesana sekarang, tunggu sebentar iya."
🌷🌷🌷
.
.
"Kakek ada apa memanggilku kemari?" tanyanya pada tuan Kusuma.
__ADS_1
"Duduklah dulu." perintahnya.
"Aku pikir kakek sedang sakit, makanya aku terburu-buru kemari." Icha sambil mendudukkan tubuhnya di depan tuan kusuma. Saat ini mereka sedang duduk di kursi santai di tengah perkebunan teh milik tuan Kusuma.
Sebagian tanaman disana ditanami teh, dan seperempatnya lagi ditanami buah dan sayuran.
Hawa sejuk membuat apa saja yang ditanam akan tumbuh subur,"Sebenarnya ada apa kakek memanggilku kemari?"
"Ehmm Begini, kalau misalkan ada anak muda yang sangat tampan dan berbakat dalam berbisnis apa kau mau jika kakek jodohkan." ucap tuan Kusuma sangat hati-hati.
Lama Icha terdiam, ada rasa kaget juga jika dilihat dari responnya, ketika mendengarkan dirinya akan dijodohkan oleh kakeknya.
"Kenapa kakek seyakin itu kalau pemuda yang kakek maksud adalah orang yang berkepribadian baik?"
"Iya karena kakek sudah mengenal baik keluarganya, dan kakek tau latar belakang keluarganya." ucap tuan Kusuma.
"Bagaimana jika pemuda itu ternyata berbanding terbalik dengan dugaan kakek?"
Tuan kusuma menggelengkan kepalanya, "Tidak, sudah kakek pastikan jika dia tidak pernah bermain wanita." ucapnya yakin.
"Memangnya kakek tahu orangnya, tahu kesehariannya?" tanya Icha lagi memastikan.
"Tentu saja, aku rasa dia pria yang sangat dewasa."
"Maksud kakek dia sudah tua?" Icha terlihat kaget lagi.
Tuan kusuma menjitak kepala cucunya yang sangat bar-bar ini,"Dari tadi kamu tidak mendengarkan kakek berbicara apa?" kesalnya.
"Coba sekarang buka telingamu baik-baik, dan dengarkan kakek,"
"Dia pemuda yang sangat tampan, dan pandai berbisnis, kelak kau akan bahagia jika hidup bersamanya."
"Kenapa kakek bisa seyakin itu?"
"Tentu saja,"
"Apa aku mengenal orangnya?"
"Dia ada di sini, nanti akan aku panggil kesini orangnya."
"Hah..., ada disini...?"
"Iya, apa perlu aku panggil dia sekarang?"
"Tidak... tidak, terimakasih kakek, tapi aku tak mau dijodohkan."
"Aku masih ingin berkarir dulu, kakek tahu kalau aku harus keliling dunia dulu, menghabiskan masa mudaku dengan bersenang-senang."
"Kau bisa berkeliling dunia dengannya nanti jika sudah menikah." ucapan tuan Kusuma penuh teka teki.
"Tapi aku tak mau menikah dulu, karena dia nanti akan banyak melarangku." bantahnya pada tuan Kusuma kakeknya.
__ADS_1
"Aku rasa dia pria yang baik, dia sangat pengertian."
"Itu yang kakek tahu, selebihnya kakek tidak tahu."
"Lalu apa sekarang keputusanmu?" tanya tuan Kusuma lagi.
"Aku masih ingin menghabiskan masa mudaku dengan berkarir dulu."
"Tapi kakek rasa kau bisa meneruskan karirmu sambil menikah."
"Udah...udah iya, stop, aku pokoknya tak mau lagi kakek berbicara tentang perjodohan."
"Jika kakek ingin menjodohkan, jodohkan saja dia dengan asisten atau pegawai kakek yang lainnya." Icha bersedekap dada angkuh di depan tuan Kusuma kakeknya.
Tuan Kusuma menggelengkan kepalanya pelan, melihat tingkah cucu kesayangannya ini, yang masih saja seperti anak kecil. Dia sudah memilih jodoh yang baik untuk Icha, namun tak mendapatkan sambutan yang baik. Malah perdebatan yang terjadi.
"Baiklah, tapi kau jangan menyesal nanti." ucap tuan Kusuma lagi, lalu bangkit berdiri dari hadapan Icha, dan berlalu dari sana.
"Oh Tuhan, kenapa kakek suka sekali memaksakan kehendaknya." ucapnya kesal tak habis pikir.
"Eh tunggu-tunggu, tadi kakek bilang katanya dia ada disini?"
"Siapa dia, disini kan ada teman-temannya kak Devan,"
Benar adanya jika di villa itu dihuni banyak pengusaha muda yang datang dari berbagai penjuru negara, ada Arka dosennya dulu, itu tidak mungkin.
Alex juga tidak mungkin karena asisten Arka, kalau Raka apa mungkin iya, tapi Raka sepertinya sudah memiliki istri, ada Rey tapi dia juga sudah memiliki istri dan kelihatan pria setengah matang. Icha tinggal menghitung sisanya pria yang masih ada disana, Reval, Chris dan juga Albern dan sisanya masih ada sepuluh orang yang Icha hitung menggunakan jari-jari tangannya.
"Ah bodoh amat, ngapain juga aku mikirin ini sih." bangkit dari duduknya dan akan mencari Megan.
"Lama-lama aku akan balik saja ke Seoul jika begini." sambil memegangi kepalanya.
Brukkk...
"Aduhh kepalaku." yang tidak sengaja membentur seseorang yang ternyata itu adalah Devan kakaknya.
"Kalai jalan pakai mata, " ketusnya.
"Kakak, aku sedang sakit kepala ini kak." drama dimulai jika ada kakaknya.
"Sakit kepala kenapa, apa kamu terlalu banyak pekerjaan?"
"Aku akan bicara pada asistenmu nanti."
"Tidak, jangan kak, bukan karena itu."
"Lalu.." Devan mengamati wajah panik Icha.
dan
Bersambung
__ADS_1