
Tangannya baru saja memegang gagang pintu, tapi tertahan pundaknya. "Aku sangat merindukanmu." Arka memeluk erat Icha dari belakang.
Icha yang tiba-tiba saja mendapatkan pelukan dari orang yang telah lama ia rindukan mendadak detak jantungnya tak bekerja dengan normal.
"Kakak jangan seperti ini, aku tak mau merusak rumah tangga orang, dengan dicap sebagai pelakor." ucap Icha merasa sesak nafas yang ia rasakan.
"Tak akan."
"Tapi aku tak mau mengganggu rumah tangga kakak,"
"Aku..."
"Diamlah, biarkan aku seperti ini dulu."
Belum sempat Icha meneruskan kata-katanya tapu sudah di sela Arka. Arka membalikkan tubuh ramping Icha menghadap ke arahnya.
"Lihatlah mataku."
Icha melihat mata Arka dengan pandangan yang sangat dalam. "Aku tahu kamu juga merindukanku kan." lirihnya.
"Apa kalau aku tidak jadi menikah kamu mau kembali lagi bersamaku?" tanya Arka sangat pelan, suaranya bahkan hampir tak terdengar.
"Aa...aku tidak tahu kak." ucap Icha tergagap.
"Katakan, katakan kalau kamu juga merindukanku."
Icha menggelengkan kepalanya pelan, "Tidak kak, maafkan aku." wajahnya menunduk menahan buliran bening sekuat tenaga agar tak keluar tanpa permisi.
"Tapi aku sangat merindukanmu." bisiknya memeluk Icha sekali lagi.
"Apa kamu telah membenciku?"
"Aku tak memiliki dendam pribadi pada kakak, dan tak membenci kakak."
"Lalu kenapa kamu tak mau lagi kembali denganku?"
"Aku merasa nyaman kalau kita menjadi teman saja,"
Icha mengurai pelukan Arka, dan memandang wajah Arka kembali.
"Karena dengan menjadi teman, kita tak akan saling menyakiti."
"Kita bisa mensuport satu sama lain."
"Tapi bagaimana jika aku merindukanmu?" tanya Arka lagi.
"Kita bisa jalan bersama, makan bersama, dan melakukan banyak hal bersama."
"Tapi apa masih bisa seperti itu?"
"Kenapa tidak, tapi aku juga tak janji." Icha menarik nafas dan membuangnya kasar. Kini ia telah lega karena salah faham diantara mereka yang selama ini hinggap pada masing-masing sepasang kekasih itu sudah menemukan titik terangnya.
"Apa kamu tak bisa sedikitpun memberikan aku satu kesempatan saja?"
__ADS_1
"Apa kakak akan menjadikan aku yang kedua?"
Seketika Arka tertawa pelan, ia lupa mengatakan pada Icha jika dirinya telah batal menikah dengan calon tunangannya.
"Kenapa kakak tertawa?"
"Ini tida lucu." Icha mengerucutkan bibirnya lucu, hal ini malah membuat Arka gemas ingin menciumnya sekali lagi.
"Sini, lihatlah dirimu di depan cermin." Arka menarik tangan Icha ke depan cermin.
"Kakak, bibirku ada bekas gigitan."
"Oh Tuhan, tidak mungkin aku keluar dengan keadaan seperti ini."
"Aku akan sangat malu jika bertemu orang."
"Apa kakak punya masker." Icha memegang bibirnya yang lebam akibat gigitan sewaktu ciuman tadi.
"Kenapa, itu sangat seksi."
"Karena aku bisa melihat hasil karyaku." Arka yang berdiri di belakangnya menarik sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman yang tertahan.
Icha berbalik dan memukuli dada Arka dengan brutal, "Kakakkkkk......, aku sedang kesal denganmu." teriaknya.
Arka memegangi tangan Icha yang menyerangnya terus menerus itu, "Baiklah, baiklah...sini duduk dulu."
"Diam dulu aku akan membantumu."
Lalu dirinya mengambil baskom yang berisi air hangat dan kain putih sapu tangan. "Buat apa kakak mengambil benda-benda itu?"
Arka tak menjawab pertanyaan Icha, tapi langsung duduk didepan Icha, mengambil kain lap itu dan mencelupkan ke dalam baskom yang berisi air panas setengah hangat. Lalu mengompres pada bibir Icha yang tadi membiru akibat ulahnya.
"Walaupun dengan cara ini tak langsung berubah, setidaknya ini bisa membantumu meredakan nyeri." ucapnya pada Icha.
"Dari mana kakak tahu hal semacam ini?"
"Apa kakak sering melakukannya dengan mantan-mantan kakak?"
"Atau sama istri kakak?"
"Istriku baru saja mengomel, jadi aku rasa lebih harus lebih bersabar lagi, dan akan mengawasinya dua puluh empat jam."
Seketika Icha terdiam, mendengarkan ucapan Arka barusan. Menepis tangan Arka yang akan mengelap mulutnya, bangkit dari duduknya dan berjalan keluar dengan tergesa-gesa. Bahkan Arka kali ini tak bisa lagi menahan langkah kaki Icha.
Sepertinya Icha sedang terbakar api cemburu, "Dasar pria gila, bicara hal semacam itu didepan mantan pacarnya." Icha mengomel sendiri sepanjang jalan ia kembali dari kamar Arka.
"Aku tak akan sudi lagi bertemu buaya darat satu itu." sumpah serapah bahkan ia lontarkan demi melampiaskan rasa kesalnya.
"Hei..., Cha kau dari mana saja?"
"Aku sudah dari tadi mencarimu?" Megan yang menghampiri dirinya.
"Aku sedang mencari udara segar,"
__ADS_1
"Memangnya kau mencariku kemana saja?" tanya Icha pura-pura tak tahu.
"Kau tak usah berbohong,"
"Aku bahkan keliling di setiap sudut taman, dan villa, tapi tak juga menemukan keberadaanmu?"
"Ehhh bibir kamu, itu kenapa?"
"Tak apa-apa, tadi tersengat lebah ketika aku sedang berada di kebun teh." ucap Icha santai.
"Apa kamu memiliki obatnya?" tanya Icha berpura-pura polos di hadapan Megan.
"Benarkah? tapi kenapa membekas seperti habis di gigit seseorang."
"Kau jangan asal bicara."
"Ayo, beri aku obat." Icha menarik lengan Megan untuk mengikutinya, menuju kamar yang mereka tempati.
"Nanti malam rapat sudah akan dimulai, dan kau harus persiapkan dirimu dari sekarang." ucap Megan memberitahu.
"Hah...malas sekali aku menghadiri rapat itu, jika saja aku tak berniat membantu kakek aku, aku tak akan mau." celotehnya pada Megan.
Sementara Megan sedang mengolesi salep dibibir seksi Icha. "Jangan sampai ini terkena air liurmu, karena akan terasa pahit nanti." ucap Megan lagi.
"Ehmmm iya mami, kau ini sudah seperti momku aja."
"Sangat, sangat super bawel."
"Ehhh bawel mana sama kamu?" tanya Megan membereskan salep yang habis dipakaikan pada Icha.
"Sebelas dua belas kali iya." seterusnya merek malah tertawa terbahak-bahak. Hingga menimbulkan suara gaduh didalam kamar itu.
🌷🌷🌷
Malam hari, rapat akan dimulai, kali ini rapat yang diadakan adalah rapat pertemuan para pengusaha muda, yang dihadiri sahabat Devan dan kakeknya.
Sementara yang menjadi pemimpin rapatnya adalah Arka, sedangkan penanggung jawab tempat sendiri Devan.
Icha memasuki sebuah ruangan aula itu dengan santai, Outfit yang ia gunakan saat ini atasan blouse yang dimasukkan ke dalam rok yang panjangnya sebatas lutut.
"Selamat malam semuanya." seluruh isi ruangan yang lebih dominan di isi oleh lelaki itu, sontak menoleh pada sumber suara.
Disana juga ada beberapa wanita saja, "Apa rapatnya sudah bisa dimulai, karena penerjemah tuan Yamada sudah hadir." tanya salah seorang pengusaha muda yang bernama Raka.
"Baiklah, kalau begitu langsung saja saya mulai, mohon maaf saya terlambat lima menit." ucap Icha sangat sopan.
Yang menjadi pemandu rapat kali ini tentu saja Icha, karena memang dirinya di tugaskan sebagai penerjemah oleh tuan Yamada, kakek Icha.
Icha menerjemahkan beberapa bahasa ke dalam bahasa inggris, sesuai kesepakatan awal, karena pengusaha yang hadir kali ini dari berbagai negara.
dan
Bersambung
__ADS_1