Menikahi Adik Sahabatku

Menikahi Adik Sahabatku
Jadi Model Dadakan


__ADS_3

Arka mondar mandir seperti setrikaan, "Anda duduklah tuan, minum dulu kopi anda." tawar salah seorang pengambil gambar.


"Bagaimana aku bisa tenang, sementara apa itu."


Ah Arka menjadi kesal sendiri, lantaran permintaan Icha ketika hubungannya tidak mau dipublish, atau dirinya akan terkena masalah mengenai kontrak dengan agensinya.


"Apakah anda kekasih nona Icha tuan?" tanyanya lagi.


"Bukan,"


"Lalu?"


"Aku pengawalnya, kau tahu jika orang tuanya bilang, kalau melakukan sesi pemotretan tidak boleh pegang pegang tubuh sang model."


"Tetapi memang seperti inilah tuan aktingnya." bantah seorang pengambil gambar itu dengan menahan tawanya, mungkin dalam hati ingin tertawa kencang,mana ada bodyguard dengan watak konyolnya seperti Arka.


"Begini apanya memegang megang seperti itu, ah bagaimana aku membuat laporan pada kedua orang tuanya jika begini." kesal Arka mengelabui orang-orang disana.


"Ini hanya pengambilan gambar tuan, bukan sedang melakukan adegan ni no ni nu."


"Apa yang kau bicarakan itu?" tatapan matanya berubah mengintimidasi.


"Hah ti...tidak tuan, baiklah hanya tinggal satu kali sesi saja."


Berusaha menenangkan Arka, namun upaya itu tidak menghasilkan. Icha bahkan sampai pusing dibuatnya, mana ini tanda tangan kontrak sebelum dirinya menikah dengan Arka.


Akhirnya sang model pergi dari sana dengan kesal, dan meninggalkan pesan pada Icha jika mengambil bodyguard yang waras saja, jangan yang membuatnya pusing seperti ini, lebih tepatnya membuat kekacauan.


"Jadi bagaimana?" tanya produser pengambil gambar.


"Aku yang akan menggantikannya." celetuk Arka tiba-tiba.


"Whatt?" Icha menoleh suaminya yang tidak mau dipublish itu.


Perdebatan kembali terjadi, akhirnya dari pada urusannya panjang Icha menuruti kemauan Arka.


"Suami kamu sepertinya sedang cemburu buta." bisik Megan pada Icha terkikik geli.


"Ssttt jangan menertawakannya, atau dia akan keluar tanduknya." balas Icha berbisik.


Arka merapikan jas yang baru saja dia kenakan, rambutnya bahkan baru saja di benahi oleh stylish hair profesional.


"Bisa kita mulai sekarang?" tanya produser pengambilan gambar.

__ADS_1


"Baiklah bisa tuan." jawab Icha malas, niat hati mau berfoto dengan idolanya malah berganti foto dengan suaminya.


"Hah kenapa tanganku terasa dingin begini iya, padahal foto dengan dirinya." gumam Icha menggenggam tangannya sendiri.


"Kau tahu, ini lebih mirip sesi foto praweding." bisik Arka pelan kala dirinya sudah berdiri dihadapan istrinya.


"Terserah kamu ajalah."


"Kami tak senang, aku yang menjadi partner model kamu?" tanya Arka memicingkan matanya.


"Hah ti..tidak tidak, bukan begitu, kamu jangan salah paham." jawab Icha seketika dilanda panik.


"Baiklah bagaimana ini apa bisa dimulai." tanya Arka pada produser pengambil gambar dengan suara yang terdengar bersemangat.


"Baiklah, anda sudah siap tuan?"


"Kau tak lihat jika aku sudah rapi begini." ketus Arka merapikan jasnya sekali lagi, jas berwarna hitam pekat yang seharusnya dikenakan Hero berubah melekat ditubuh Arka, ukurannya begitu pas ditubuh atletis Arka, padahal ini diukur menggunakan tubuh Hero sang idola istrinya.


"Baiklah rapatkan tubuh nona Icha dan juga lawannya, saling pandang dan setengah memeluk satu sama lain." penata gaya sedang melakukan tugasnya.


Icha dan Arka menurutinya, lalu dilanjutkan dengan sedikit memajukan wajahnya agar terlihat seperti berciuman. "Kau dengar itu sayang."


"Jangan mencari kesempatan dalam kesempitan, malu tahu." bisik Icha ngedumel.


Namun Arka sama sekali tidak menghiraukan ucapan Icha baru saja, wajahnya mendekat dan diambil pengambilan gambar, terakhir memajukan bibirnya dan ******* sebentar.


Icha begitu tidak terima, memukul dada Arka pelan, antara kesal dan juga malu. "Apa kamu malu memiliki suami sepertiku?"


"Hemmm?"


"Sekarang katakan?" tanya Arka berbisik lagi, namun anggota kru mengira jika mereka sedang berdiskusi tentang sesuatu.


"Hey kalian fokuslah pengambilan gambar terlebih dahulu, jika ingin pacaran nanti dulu."


Setelah kurang lebih dua jam pengambilan gambar, tentu saja mereka cemistri, memang sejatinya suami istri, sehingga gambar gambar yang ketangkap begitu naturan, dan rencananya akan dipajang didinding perusahaan pemilik perhiasan pusat.


Icha dan Arka meminta ijin tidak mengikuti acara makan makan siang yang diadakan kru, lantaran dirinya sedang kesal dan badmood hari ini, semuanya tidak seperti yang ia inginkan.


"Biar ku tebak, apa kamu marah karena tidak bertemu dengan idolamu?"


"Apa sih kamu, ahh aku kesal sekali." melemparkan bantal brutal kearah Arka.


"Kenapa sih kamu itu, aahhhh aku kesal kesal kesal." Icha tidak bisa lagi berkata kata.

__ADS_1


"Sekarang kamu sana pergi, keluar aku ingin sendiri."


Entahlah, dia masih ingin bebas seperti dulu, kemana pun tak ada yang melarangnya dan tak ada yang mencegah, mendikte harus begini dan begitu.


Arka masih diam ditempatnya, dirinya tak lagi bersuara, memperhatikan istrinya yang sedang kesal menumpahkan amarahnya.


Ketahuilah saat seorang wanita marah itu tidak sesuai antara bibir dan tindakannya, bibirnya sedang marah menyuruhnya pergi, namun jika ditinggal pergi beneran juga akan tambah semakin marah.


Arka diam ditempatnya, lalu setelah beberapa saat Icha menumpahkan kesedihannya, Arka menarik Icha dalam pelukannya.


Tak dapat dipungkiri, memang ini semua diluar rencana Icha, hingga membuatnya kesal tidak berujung.


"Sudah marahnya?" tanya Arka, namun wajah Icha masih ia benamkan dalam pelukannya.


"Tidak usah dijawab jika belum ingin berbicara,"


"Tidurlah, pasti kamu sangat capek, nanti jika sudah bangun aku akan mengajakmu ke suatu tempat,"


"Aku akan meneruskan pekerjaanku jika kamu tidur." Arka begitu merasa bersalah membuat istrinya kesal dan marah.


Begitu Icha tertidur, Arka sedang mengerjakan sesuatu dihadapan laptopnya, terdengar sedang menghubungi seseorang untuk memintanya mengirim bunga dan juga coklat serta es krim kesukaan istrinya, kebetulan sekali hotel tempatnya menginap walaupun didalam banyak cemilan juga tersedia lemari pendingin serta dapur pribadi.


Sudah satu jam lebih lamanya Icha tertidur pulas, bahkan sampai melewatkan makan siangnya, kini Arka menutup laptopnya kembali dan bangkit dari duduknya, berjalan menuju lemari pendingin, ternyata disana tersedia aneka makanan ringan, minuman dan juga sayuran segar, tidak lupa juga daging.


Arka melakukan sesuatu didalam dapur sana, bertepatan ketika menyelesaikan kegiatan memasaknya, Arka menoleh dan ternyata Icha sudah terbangun.


"Kau sudah bangun sayang?" ucap Arka masih menggunakan Apron melekat ditubuhnya.


"Hemmm."


"Masak apa?" rasanya mulut Icha sudah gatal jika tidak berbicara dengan suami yang sering membuatnya kesal akhir akhir ini.


"Bangunlah dan lihat sendiri,"


Icha bangkit, lalu menghampiri meja makan yang sudah tersaji aneka makanan disana.


"Eittysss sana cuci muka dan tanganmu dulu." Arka memegang tangan Icha yang hampir saja mengambil makanan dengan tangannya, bukan apa-apa niatnya hanya mencicipi sedikit saja.


"Ck, pelit sekali.." padahal Icha sendiri juga sudah tahu jika Arka memasak itu untuk dirinya.


"Huh malatang, sepertinya aku sudah sangat lama tidak memakanmu, semenjak berada di London."


Setelah Icha mendudukkan tubuhnya disalah satu kursi, lalu mengambil piring dan langsung melahapnya.

__ADS_1


"Di London?"


"Eh ehmmm." Icha menjawab masih dengan mulut penuh, lantaran masakan Arka begitu sangat pas di lidahnya.


__ADS_2