
Icha saat ini terdiam cukup lama di dalam kamar mandi, dirinya membasuh muka dan melihat pantulan wajahnya di cermin wastafel.
"Apa malam pertama, aku rasa tidak akan terjadi secepat ini, atau kak Arka nanti akan membayar penaltinya jika aku melanggar kontraknya." Icha bergumam menggelengkan kepalanya sendiri.
"Sedang apa kamu di dalam kamar mandi?"
"Aku rasa tadi kamu sudah mandi, apa mau mandi lagi setelah mendapatkan jatahmu?"
"Apa yang kau bicarakan itu, ngaco saja sama sekali tidak ada yang benar."
"Hemmm baiklah nona, tapi aku rasa alangkah lebih baiknya bibir seksimu yang lebam itu kau tutup dengan crayon lip, atau sejenisnya mungkin."
"Oh my...." Icha mengobrak abrik isi tasnya, untuk mencari pewarna bibir itu, namun ternyata tidak juga ia temukan.
"Apa benda itu ketinggalan? jika iya ambil saja di dalam tasku sana." ucap Megan yang mengamati sahabatnya.
"Tolonglah ambilkan untukku." Icha memelaskan wajahnya.
"Ck, aktingmu sangat bagus sekali nona, baiklah akan aku ambilkan." Megan bangkit dari duduk santainya untuk mengambil tasnya yang berada di dalam kamar sebelah.
"Kau memang terbaik." puji Icha pada Megan setelah dirinya mendapatkan apa yang dia inginkan.
"Tentu saja, kalau tidak terbaik, tidak mungkin persahabatan kita terjalin bertahun-tahun."
"Kau benar, " kini beralih ke dirinya yang bercermin dan memoleskan pewarna bibir di depan meja rias itu.
"Kapan kita balik?"
"Nanti saja, atau besuk mungkin."
"Kau gila, jadwalmu sangat padat, jangan menunda-nunda pekerjaan kamu lagi, atau aku akan keteteran mengatur ulang jadwalmu." keluh Megan.
"Baiklah, menurutmu aku harus kembali kapan?"
"Nanti siang saja, aku sudah membuat jadwal untukmu satu minggu ke depan, dan kau harus melakukannya dengan sempurna, tak boleh membantahnya."
"Baiklah nona manager yang bawel," ucap Icha setelah tertutup sempurna, pewarna bibir yang warnanya sangat kontras dengan kulitnya itu.
"Kalau begitu kau harus mulai packing packing dari sekarang, supaya barang kamu tak ada yang tertinggal, dan tak membuatmu susah ketika dijalan." perintah Megan memberi usul.
"Ck, nanti saja kenapa, aku baru saja mau menenangkan tubuhku dan juga pikiranku." Icha memanjangkan kakinya di sofa panjang, dirinya beralih membuka ponsel pintarnya.
"Tak ada bantahan, atau kamu akan kerepotan dijalan."
"Tidak, nanti saja, aku masih ingin tidur, semalam tidurku tidak bisa nyenyak."
"Ck, siapa yang percaya jika semalam tidurmu tidak bisa nyenyak, bilang saja malas." Megan berdiri dari duduknya, dan berinisiatif untuk packing packing segala keperluan Icha, sedangkan sang aktris tak peduli dengan kesibukannya.
"Cielah tidur beneran, apa bener kamu semalam telah melakukan malam pertamamu, tapi aku rasa belum, karena tak ada yang aneh dengan jalanmu." Megan memandang wajah damai Icha, yang terlelap dalam tidurnya, dirinya masih menerka-nerka soal malam pertama.
__ADS_1
"Masak iya di novel itu tidak benar, ahh otakku jadi tercemar kan." Megan memukul kepalanya sendiri, setelah semua peralatan Icha beres, dirinya pergi ke kamar sebelah, merapikan barang-barangnya sendiri.
***
.
.
Megan mondar mandir di dalam kamar Icha, pasalnya Icha bilang jika siang hari mereka akan berangkat pergi ke villa, namun apa kenyataannya malah sampai waktu memasuki jam dua lebih masih saja terlelap dalam tidurnya, dirinya melihat jam dipergelangan tangannya, helikopter yang mengantarkan mereka pun juga sudah siap, tinggal menunggu nona besarnya bangun dan setelah itu berangkat.
"Anak ini kenapa juga masih jam segini tidak bangun-bangun, ahh membuatku kesal saja jika begini."
Terdengar dering ponsel Icha berdering, terpaksa Megan membangunkan Icha. "Cha... bangunlah, ponsel kamu bunyi itu."
Berulang kali Megan menggoyang goyangkan tubuh Icha agar segera bangun, tapi tak ada pergerakan juga. Icha menyahut namun matanya masih terpejam. "Baiklah rasakan ini nona besar, aku kesal sekali."
Megan membasahi salah satu telapak tangannya, lalu membasuh kan ke wajah Icha, siapa yang tidak bangun jika sudah begini. "Megan kamu..., aku kesal kamu sudah mengganggu tidurku."
"Lebih kesal aku tahu, ayo bangunlah, itu ponsel kamu dari tadi bunyi terus."
"Siapa?"
"Iya lihat saja sendiri."
"Iya hallo..."
"..."
"Apa yang mereka bicarakan?" gumam Megan bersedekap dada.
"Kamu kepo." Icha setelah mematikan ponselnya.
"Cepetan sana ganti baju, si heli sudah menunggumu sejak sejam yang lalu."
"Aku mau mandi dulu lah, masak iya langsung ganti baju, yang benar saja."
"Iya tapi cepetan, dalam waktu lima belas menit harus sudah selesai." Megan melihat jam dipergelangan tangannya.
***
.
.
"Jen apa yang kamu keluhkan?" tanya Arka yang baru saja tiba ketika dirinya sebelumnya menaruh kopernya di dalam kamarnya.
"Arka kamu dari mana saja, aku cari-cari kamu sejak kemaren tidak ada."
"Aku ada keperluan di luar," mulut Arka terkatup rapat dirinya hampir saja memberitahu jika dirinya sudah menikah, tapi pesan Icha tadi malam kembali terngiang di dalam pikirannya.
__ADS_1
"Dari semalam kaki masih terasa sakit."
"Ehmm jika begitu aku akan meminta tolong sopirnya Devan untuk mengantarmu ke dokter, bagaimana?"
"Ti..tidak bukan begitu, aku ingin kamu sendiri yang membantuku."
Arka terdiam sebentar, mengamati kaki Jenifer yang masih terbalut kasa. "Apa kamu habis terjatuh lagi?"
"I..iya tapi waktu itu aku tidak sengaja terpeleset."
"Sudah ku bilang, jangan banyak bergerak, aku akan meminta tolong pada Alex untuk memberiku pekerjaan di dalam kamarmu saja."
"Atau jangan-jangan Alex memberimu banyak pekerjaan."
"Dia sendiri ngeyel tidak mau mengerjakan di tempatnya, kenapa aku yang disalahkan." Alex yang tiba-tiba saja muncul menyahut.
"Bahkan aku semalam mengetuk pintu kamarmu, hampir setengah jam tapi kamu tak ada, kemana saja kamu semalam?" cecar Alex pada Jenifer.
"Aku sedang mencari udara segar di taman belakang."
"Sampai waktu hampir tengah malam?"
Kini bergantian Alex yang menatap curiga pada Jenifer,"Baiklah aku tak akan bertanya lebih jauh lagi, apa tugas semalam yang aku berikan sudah kau kerjakan? mengenai proposal itu?" tanya Alex.
"Ehmm sudah, nanti aku akan menyerahkannya padamu,"
"Baiklah aku tunggu di gazebo taman belakang." ucap Alex lalu meninggalkan mereka berdua.
"Ehmm Arka jangan berpikiran buruk dulu mengenai hal itu."
"Tidak masalah, jika badanmu atau kakimu merasa lelah, kau bisa bilang pada Alex, jangan memaksanya, aku masih ada pekerjaan, nanti akan ada seseorang yang memijat kakimu lagi."
Rasanya Arka sudah lelah dengan tubuhnya sendiri, ia harus segera menyelesaikan laporan untuk proyek baru tambang yang mereka tangani, karena setelahnya akan ada proyek baru mengenai tambang emas.
Hingga waktu tengah hari lewat, ia baru ingat jika dirinya belum mengabari Icha istrinya, istri ahh rasanya sungguh membuat hatinya bahagia jika mengingatnya.
"Hallo sayang..."
"Apa kamu baru bangun?"
"Iya..."
"Apa nanti kamu akan menyusul kemari?"
"Ehmmm iya,"
"Baiklah jaga dirimu dengan baik."
"Ehmm iya baiklah."
__ADS_1
Percakapan itu terus berlangsung hingga seperempat jam. "Kenapa rasanya seperti remaja sedang jatuh cinta." Arka menyandarkan kepalanya di sofa tunggal, setelah melakukan panggilan dengan istrinya.