
"Kapan suamiku datang? kenapa tidak mengabariku, kenapa aku tidak tahu?" tanya Icha bertubi-tubi kepada Arka suaminya.
"Satu jam sebelum istriku datang," jawab Arka masih tidak menghentikan aktivitasnya, memeluk erat istrinya dan menciumi seluruh wajah manis Icha.
"Bukankah suamiku berada di New York?" tanya Icha, lalu mengurai pelukannya. Badannya berbalik, menghadap ke arah Arka. Manik mereka bertemu saling mengunci untuk beberapa saat.
Arka tidak menjawab pertanyaan istrinya, tetapi malah melahap bibir manis Icha. Yang terlihat berwarna pink menggoda, ciuman mereka berlangsung beberapa menit hingga Icha kehabisan nafas.
"Tarik nafas sayang, kenapa kau lupa bernafas. Apa kamu lupa caranya ciuman? padahal tidak bertemu hanya beberapa hari saja."
" Jangan ngaco, Kau tiba-tiba saja menyerangku, dan aku tidak siap." Icha berkilah.
Memang benar Icha tidak siap dengan serangan tiba-tiba dari suaminya, namun seolah-olah Arka menuliskan pendengarannya, hingga serangan kedua kalinya kembali ia lakukan.
Kali ini sedikit demi sedikit Arka menuntun Icha ke atas ranjang, lama tidak tersentuh oleh suaminya. Membuat Icha bagaikan seperti disengat listrik, seluruh tubuhnya menjadi aktif kembali, pikirannya sudah hilang dikendalikan oleh hasrat yang menggebu-gebu. Kedua tangannya reflek memegang kepala suaminya, menekan lebih dalam.
Sing hari dengan cuaca yang dingin di kota London, tak menyurutkan kedua pasangan itu untuk saling melepaskan hasrat kerinduan yang sudah menumpuk. Bagaikan setahun tak bertemu.
Di dalam sebuah ruangan yang sangat mewah, ruangan khusus orang-orang tertentu. Hanya ada suara-suara decapan demi decapan, suara nafas yang menderu-deru. Tak menyurutkan keduanya untuk saling mengakhiri. Namun yang terjadi saling meminta dan saling memberi tubuh yang sudah terlanjur aktif dengan kegiatan percintaan.
Diakhiri dengan teriakan keduanya yang saling meneriakan nama masing-masing. Hingga puncak kenikmatan itu telah berakhir Arka menjatuhkan tubuhnya di atas istrinya, lalu ia gulingkan di samping. Tangan kanannya terulur meraba perut istrinya, ia berdoa dalam hati semoga saja benih-benih premiumnya segera tumbuh di sana walaupun mustahil untuk saat ini.
"Apa kamu lapar?" bisik Arka di telinga Icha, karena terdengar suara berisik yang berasal dari perut Icha.
Tidak ada jawaban dari empunya, hanya terdengar sebuah gumaman saja. Membuat Arka penasaran. Akhirnya kepalanya ia angkat ke atas sedikit untuk melihat apa yang dilakukan istrinya, ternyata Icha sudah berlayar ke pulau mimpi. Karena kelelahan dengan aktivitas bercinta di siang hari.
Sore menjelang, mentari yang semula tinggi kini tak lagi menampakkan sinarnya. Hanya ada guratan-guratan yang berwarna kuning, bersemu merah di langit yang semula biru nan indah. Terdengar suara gemericik air di luar sana. Rupanya gerimis telah menyapa untuk membasahi bumi membuat suasana sejuk bertambah menjadi sangat sejuk.
Namun masih tak ada pergerakan dari dua anak manusia yang saling mendekat satu sama lain. hingga tubuh polos Icha yang terdapat banyak stempel di sana merasakan kedinginan, bercampur lapar yang sangat melilit perutnya. Membuatnya harus mau tak mau membuka matanya, untuk mencari apa saja yang bisa ia makan.
__ADS_1
Icha melenguh mengumpulkan kesadarannya mengerjapkan matanya perlahan. Menyesuaikan cahaya lampu yang ada di dalam kamar mewah yang mereka tempati.
"Kau sudah bangun?" tanya Arka, padahal matanya masih terpejam.
"Ehmm iya aku lapar sekali, apakah tidak ada makanan yang bisa ku makan?" jawab Icha.
Mau tidak mau membuat Arka ikut terbangun juga, karena ia tidak bisa melihat istrinya yang kelaparan. Apalagi habis ia kerjai hampir seperempat di siang hari ini.
"Baiklah bersihkan dulu dirimu, aku akan menyiapkan makanan untukmu."
"Memangnya kau tidak mau membersihkan diri?"
"Tentu saja, atau." Arka terdiam beberapa saat, lalu mengerlingkan matanya. Begitu ia duduk dan bersiap untuk turun dari ranjang.
Icha yang sudah hafal dengan pandangan mata suaminya seketika selimutnya yang melorot ia tarik kembali sampai sebatas dada.
"Apa?"
"Tidak aku tidak mau, kamu duluan saja, atau aku duluan." jawab Icha waspada.
"Aku berjanji tidak ada hal lain selain kita membersihkan diri bersama."
Namun entah mengapa omongan Arka sulit sekali dipercaya olehnya. Hingga membuat Icha terdiam untuk beberapa saat. Tidak merespon ucapan suaminya. Hingga tanpa sadar tubuhnya sudah diangkat oleh Arka.
"Aaaaahhh kamu terlaluan dasar suami nakal."
Dengan refleks kedua tangan Icha memukul-mukul tubuh suaminya dengan brutal. Tetapi sama sekali tidak mempengaruhi Arka. Arka tetap mendekap tubuh ramping Icha masuk ke dalam kamar mandi, lalu menaruhnya di dalam bath up dan mengisinya dengan air hangat, tidak lupa juga menambahkan aroma terapi untuk merilekskan otot-otot yang tegang dan juga pikiran.
Jika sudah begini Icha pasrah saja apa yang akan terjadi kedepannya, ternyata dugaannya salah. Memang kali ini murni benar-benar hanya mandi, tidak ada kegiatan yang lainnya. Arka mengambil sabun menaruh ke telapak tangannya, dan menggosok punggung istrinya perlahan lalu membilasnya dengan air di shower.
__ADS_1
"Tunggu beberapa menit makanan akan tersaji." kata Arka lalu dirinya berjalan menuju pantri.
Sambil menunggu suaminya memasak, Icha duduk di depan cermin rias untuk menyisir rambutnya yang tadi basah. Ia masih belum sadar, di mana keberadaan dirinya saat ini. Padahal teman-temannya yang lain sudah mencari serta menunggunya di dalam kamar sana.
"Cepat sekali masaknya. Memangnya masakan apa itu yang Suamiku masak?" tanya Icha mengamati suaminya yang sedang menata makanan di atas meja.
"Hanya makanan sederhana yang disukai oleh istriku. Lihatlah sendiri, ku rasa aku tidak perlu menjelaskannya." jawab Arka sembari melepaskan apron yang masih menempel di tubuhnya.
"Ehmm baunya sangat wangi, membuat perutku yang keroncongan ini segera minta diisi."
Akhirnya mereka makan dengan lahap, hanya makanan sederhana kesukaan Icha, yang dimasak oleh Arka, yaitu malatang yang berisi jamur enoki, jamur kancing, cumi-cumi laut, aneka jenis kerang, pakcoy, mie dan juga masih banyak lagi beberapa sayuran lainnya yang ia campurkan ke dalam sana.
"Pelan-pelan saja makanya, tidak akan ada yang merebutnya."
"Kenapa malah diam saja, kan yang masak suamiku, seharusnya ikut makan juga lah, masa aku sendiri yang makan." kata Icha di sela-sela kegiatan mengunyahnya.
"Aku sudah kenyang hanya melihat istriku makan saja."
"Mana ada begitu? Atau jangan-jangan cara makanku ini sangat jorok ya?" tanya Icha pada suaminya, lalu pura-pura cemberut memanyunkan bibirnya.
"Mau lanjut makan atau mau lanjut yang lainnya."
"Baiklah kalau suamiku tidak ikut makan, aku yang akan menyuapinya."Icha sedikit memaksa suaminya.
Akhirnya Arka makan dari suapan tangan Icha, hingga makanan yang tersaji di atas mangkuk yang berukuran jumbo itu tandas tak tersisa.
"Huh aku sudah kenyang." Icha meraba perutnya sendiri.
"Jangan sampai sudah makan segitu banyaknya tapi masih belum kenyang." jawab Arka sedikit menggoda istrinya.
__ADS_1
Untuk beberapa saat Icha duduk di atas sofa untuk menetralkan tenaganya kembali. Setelah tadi sibuk dengan kegiatan mengunyah makanannya. Beberapa saat kemudian barulah ia ingat jika saat ini mungkin teman-temannya sedang sibuk mencarinya.