Menikahi Adik Sahabatku

Menikahi Adik Sahabatku
Hilang


__ADS_3

"Ada apa dengan wajahmu?" tanya Arka mengamati wajah Icha yang sepertinya panik.


"Sayang sepertinya aku harus kembali lebih cepat, aku terlalu lama berada di sini membuat teman-temanku akan kebingungan mencariku."


Icha beranjak dari tempat duduknya, bergegas kembali ke kamarnya. Namun sebelum itu Arka menahan tubuhnya menarik ke dalam pelukannya.


"Berikan Aku ciuman penyemangat dulu sebelum kau pergi." kata Arka, namun Icha sudah ada dalam dekapannya.


Mendapatkan perlakuan demikian, Icha yang awalnya terdiam, akhirnya membalas pelukan suaminya dengan hangat. Lalu terjadilah ciuman di antara keduanya. Ciuman perpisahan sebelum akhirnya ia kembali ke dalam kamarnya.


"Sudah."


"Satu lagi yang sebelah sini dan sini belum." Icha menuruti permintaan suaminya untuk mencium pipi kanan dan juga pipi kirinya.


"Sudah apalagi?"


"Tunggu dulu,kau harus ingat jika dirimu sudah bersuami. Kau tidak boleh genit-genit, terlebih lagi ketika bertemu dengan laki-laki manapun."


Pesan dari suaminya membuat Icha menarik nafas panjang. Lalu membuangnya dengan kasar. "Apa tidak cukup, kau mengirim Frans padaku." tanya Icha ada Arka.


"Aku hanya berjaga-jaga saja pada milikku." jawab Arka konyol. Membuat Icha mendengus kesal.


Icha tak menjawab lagi, dirinya berjalan menuju ke arah pintu keluar. Sebelum itu membuka gagang pintu dan membukanya sedikit, lalu kepalanya terulur keluar. Menengok kanan dan kiri melihat situasi. Jika situasinya menurutnya sudah aman barulah tubuhnya keluar dan menutup pintu kamar suaminya kembali.


Icha teringat jika dia rambutnya masih basah, sehingga ia kembali lagi masuk ke dalam kamar suaminya. Untuk mengeringkan rambutnya, jika tidak semua teman-temannya akan curiga padanya.


"Kenapa lagi?" tanya Arka ketika melihat istrinya nongol.


"Aku lupa jika aku belum mengeringkan rambutku."


Mendengar kata demikian, Arka berdiri dari tempat duduknya. Berinisiatif untuk menuntun istrinya di meja rias. Lalu mengeringkan rambut istrinya dengan telaten.


Dirasa sudah kering dengan sempurna, barulah Icha kembali berdiri dan mengulang pamitannya seperti di awal tadi. Kali ini ditambah dengan rasa terima kasih kepada suaminya.


Semua ini tidak gratis Nyonya, Nyonya Arka harus membalasnya nanti."

__ADS_1


"Hah apa, apa yang suamiku katakan tadi." tanya Icha terkaget-kaget.


"Sudah sana kembali dulu ke kamarmu, atau kau akan dilaporkan ke polisi dengan laporan kehilangan teman, jika berlama-lama di sini."


Tanpa menjawab suaminya, Icha berbalik badan. Kembali berjalan keluar dengan kaki yang dihentak-hentakkan. Karena kesal, tapi itu malah membuat daya tarik bagi Arka tersendiri, menurutnya istrinya itu sangat lucu jika tingkahnya demikian.


"Oh Tuhan, jangan sampai aku mati karena jantungan dengan tingkah suamiku." gumam Icha pelan ketika sudah keluar dari kamarnya.


Baru Jalan beberapa langkah Icha sudah disamperin oleh Frans. "Anda dari mana nona? dari tadi teman-teman anda mencarimu." tanya Frans pada Icha. Reflek membuat Icha menengok ke arah sumber suara.


"Aku?" Icha membeo menunjuk dirinya sendiri.


"Ya tentu saja saya bertanya pada anda."


Untuk beberapa saat membuat pemikiran Icha ngelag, belum konek ketika diajak berbicara oleh lawannya.


"Kau tidak lihat? jika aku sedang jalan-jalan menghirup udara segar." ketus Icha pada Frans.


" Saya hanya bertanya nona, bukan mengajak anda untuk berperang." Icha mendengus kesal, mendengarkan jawaban Frans demikian.


"Ya lah."


***


"Kemana perginya anak itu kenapa pergi nggak bilang-bilang." kata Megan, dirinya sama sekali tidak bisa tenang berjalan ke sana kemari bagaikan setrikaan kusut.


"Kau bisa tidak, duduk semenit saja. Kepalaku pusing tahu melihatmu mondar-mandir begini." omel Hyun sambil memegang kepalanya seolah-olah terasa pusing.


"Bukan hanya kamu saja. Aku malah lebih pusing, bagaimana jika Frans bertanya tentang ini padaku? Bagaimana jika kakaknya menelponku." panik Megan.


"Baiklah baiklah, kalian tenang dulu, jangan berdebat seperti ini. Ini tidak memecahkan masalah, apa kau sudah menghubungi Frans?" tanya Yuju menengahi perdebatan dua perempuan yang sama-sama mencemaskan Icha.


Tidak berapa lama pintu terbuka. Menampakan si tersangka "Apa yang kalian bicarakan? Kenapa kalian semua pada tegangan seperti ini." tanya Icha menoleh ke empat sahabatnya itu bergantian.


Keempat sahabatnya itu menoleh ke arah sumber suara secara bersamaan. " Kamuuuu." teriak Hana pada Icha, sambil mengepalkan tangannya gemas ingin mempitas-pitas.

__ADS_1


Icha menunjuk dirinya sendiri " Aku? kenapa memangnya?" bertanya seolah-olah tidak ada hal berbahaya yang terjadi pada dirinya.


"Sini kau duduklah." Yuju menarik tangan Icha, mendudukkan sahabatnya itu di sofa single.


Sepertinya keempat orang itu siap mengintrogasi satu orang yang membuat mereka gemas. Yuju menarik nafas sebanyak-banyaknya, lalu membuangnya dengan kasar.


Yuju menoleh ke arah Hana, Hyun dan juga Megan secara bergantian, seolah-olah mengisyaratkan siapa dulu yang ingin bertanya pada Icha, kemudian Hana mengangguk menandakan Ia siap mengajukan pertanyaan pada sahabatnya itu.


"Sekarang katakan pada kita? dari mana saja kamu?" tanya Hana sedikit galak kali ini.


"Yayaya maafkan aku, kalau aku salah dengan tindakanku. Aku hanya ingin melihat suasana kota London saja, aku kan ingin bernostalgia. Kalian tidak perlu mengintrogasiku seperti ini." jawab Icha santai.


Megan rasanya sudah gemas ingin mencubit kedua pipi Icha, namun Hyun menahannya dan menggelengkan kepalanya, agar menahan dulu egonya.


"Ya tapi dari mana saja? kau tahu kalau Frans itu berputar-putar di seluruh hotel ini. Dan kau tahu kalau seluruh security itu dikerahkan untuk mencarimu." kata Hana.


"Kenapa mencariku memangnya siapa yang mau menculikku?"


"Memang tidak ada yang mau menculikmu, kau kan sudah besar. Kalaupun kau diculik kau bisa berteriak. Dan semua orang akan menolongmu siapapun yang melihatnya." sahut Megan sudah gemas.


Hana yuju dan juga Hyun masih meneruskan introgasinya terhadap Icha. Sedangkan Megan terdiam mendengarkan perdebatan di antara mereka, namun Megan baru sadar. Mungkinkah jika Icha diculik oleh suaminya sendiri, kenapa dia baru menyadari akan hal ini. Ini sangat konyol pikir Megan bermonolog.


"Sudahlah lain kali jangan kau ulangi lagi. Kau tahu dengan tindakanmu yang tidak bilang-bilang ke kita-kita ini membuat semua orang khawatir. Terlebih lagi kita berempat." kata Megan menyilangkan kedua tangannya memandang tajam ke arah Icha.


"Baiklah nona Megan Aku tidak akan mengulanginya lagi maafkan aku."kata Icha memandang Megan dengan senyum yang ramah, serta mengangkat salah satu tangannya yang membentuk sebuah hormat.


"Tadi aku di depan bertemu Frans, mungkinkah Dia juga mencariku?" tanya Icha pada Megan.


"Menurutmu?" Megan.


"Menurutku dia sedang mau apel, mengapeli Hyun tahu."


"Kau jangan mengada-ngada, mana ada seperti itu." bantah Hyun.


"Yaah itu kan hanya tebakanku saja."Icha.

__ADS_1


Mendengarkan nama Frans, membuat Megan tidak bisa berkonsentrasi. Detak jantungnya mulai bekerja dua kali lebih cepat, dari ukuran normal. Namun sekuat tenaga ia berusaha menekan rasa yang bersarang di dalam hatinya.


__ADS_2