
"Wahh cucu tuan kusuma sangat merendah."
"Aku rasa anda memiliki banyak inovasi baru dengan produk yang anda keluarkan nona." pujinya lagi.
Sedangkan tuan Kusuma dan juga Arka bingung dengan apa yang mereka bicarakan, pasalnya setaunya itu cucunya itu hanya senang-senang dan bermain-main saja. Berbeda dengan pandangan Arka, yang Arka tahu Icha adalah wanita karir yang terjun di dunia K-Pop.
"Memangnya lapangan kerja apa yang nona Icha tekuni?" basa basi Arka. Icha meliriknya sekilas.
"Ck, dia mengabaikanku, awas saja nanti." batin Arka kesal.
"Aku membuat produk bibit minyak wangi, dari sari bunga-bunga yang aku tanam."
"Wahh benarkah, siapa tahu Arka bisa menjadi relasi bisnis anda nona." sambut tuan Felix antusias.
"Kau tau, cucuku perempuan satu-satunya ini suka balap liar, bermain trail dan juga hobinya traveling."
"Aku sendiri bahkan tak tahu jika dia sudah mendirikan usahanya sendiri." tuan Kusuma merasa bangga pada Icha.
"Wahh kakek, tak usah buka kartu juga lah, aku kan jadi malu." wajahnya bersemu merah seperti kepiting rebus.
"Benar-benar nona Icha memang tipe orang kinestetik."
"Bagaimana Arka menurutmu, aku harap kamu tak menolaknya." tuan Felix menoleh pada putranya yang diam membeku.
"Ehmmm iya dad, akan aku pikirkan lagi nanti." ucap Arka seolah ia sedang menolaknya secara halus.
"Apakah itu sebuah penolakan tak langsung."
"Sangat memalukan sekali jika aku ditolak olehnya, tidak... tidak, aku tak bisa daim begini, berpikirlah Icha, ayo berpikirlah." dalam hati Icha terus bermonolog.
"Hah, mana mau tuan Arka yang tampan dan berwibawa mau dengan saya tuan, itu sangat mustahil." celetuk Icha tersenyum kecut melihat ayah dan anak itu secara bergantian.
"Aku rasa aku akan sangat bodoh tuan Kusuma, jika menolak wanita secantik cucu anda."
"Jadi...?" tanya tuan Kusuma melihat ke arah Arka, sorot matanya menandakan jika ia menginginkan jawaban yang pasti.
"Jadi aku menerima perjodohan ini." Arka menyeringai menatap Icha penuh maksud.
"Kurang ajar, dia telah mempermainkan aku, awas saja nanti."
"Aduh... sakit, ternyata ini nyata, aku pikir ini sedang bermimpi." Icha menepuk kedua pipinya sendiri dan berkata demikian.
__ADS_1
"Apakah nona Icha saking senangnya, hingga menepuk kedua pipi anda nona."
Gigi-gigi Icha atas dan bawah sudah beradu, bahkan terdengar gemelutuk saking kesalnya Icha.
"Awas saja kau, sudah mempermalukan aku di depan ayahmu dan juga kakekku." Icha tak terima, seperti itulah kata-kata dalam hatinya.
"Hemmm baiklah, karena kalian sudah menyetujui perjodohan ini, aku rasa bagaimana kalau malam ini juga kalian menikah."
"Tidak, aku tidak mau." Icha bertindak impulsif, menoleh pada tuan Kusuma.
"Kenapa tidak mau, bukankah kamu sudah menyetujui dan juga tuan Arka." ucap kakeknya terhenti kala Icha menyela.
"Itu baru tuan Arka yang setuju, aku kan belum menjawab iya... kakek." menekankan kata iya sebagai tanda persetujuannya.
"Tapi dengan nona Icha berkata tadi aku rasa anda sudah menyetujui nona." Arka malah menimpali hal yang membuat Icha serasa ingin menonjok mukanya.
"Sudahlah kamu diam saja, ini soal urusan aku dengan kakekku." bahkan Icha melupakan satu orang, jika disana masih ada tuan Felix yang meyaksikan anaknya berdebat dengan Icha itu.
"Kakek, kakek ini bagaimana sih, kemaren kan aku sudah bilang, kalau aku tak mau di jodohkan,"
"Aku bisa mencari pendamping hidupku sendiri kek." memegang tangan tuan Kusuma dan mengeluarkan jurus rayuannya.
"Tapi jika tuan Arka sudah menyetujui, aku rasa tak ada yang perlu di khawatirkan lagi kan seharusnya."
"Bukan begitu apanya?" tuan Kusuma.
"Apa anda menyetujui tuan Felix. "
"Ahhh iya, saya sangat menyetujui jika anak-anak akan berjodoh dan melakukan prosesi pernikahan malam nanti."
"Ihhh kak Arka, bicaralah kalau kamu belum siap, ayo." Icha berdiri dan memegang lengan Arka, seperti anak kecil yang ingin dibelikan permen.
"Kalian..., sudah se akrab ini, padahal baru juga perkenalan." Kakek Icha juga menemukan satu fakta lagi.
"Ehhh ti...tidak, tidak bukan begitu kek, aku rasa aku harus mengakrabkan diri kan dengan calon suami aku." Icha jadi terjebak sendiri dengan omongannya.
"Kalau begitu nanti malam di adakan pernikahan, untuk resepsi bisa menyusul." ucap tuan Kusuma meminta persetujuan Arka.
Icha menginjak kaki Arka sangat keras, hingga membuatnya meringis, namun masih mampu ia tahan.
"Baiklah tuan Kusuma, saya menyetujui."
__ADS_1
"Bagaimana nona Icha?" Arka bertanya pada Icha dengan pandangan lain.
"Hahhh aku tetap tidak, lalu apa mau nona Icha?"
"Apakah nona Icha ingin lamaran romantis di depan semua rekan bisnis di aula sana." tanya Arka lebih menjebak.
"Tidak, aku tidak mau?"
"Baiklah, saya memberikan penawaran, menikah nanti malam atau aku melamar nona Icha nanti malam di depan semua orang di aula." Arka mengulangi lagi hal yang sama.
Icha terdiam sebentar, jika dirinya dilamar romantis di depan semua orang-orang, apa lagi seluruh rekan bisnis kakaknya akan menyaksikan mereka. Maka itu hal itu akan bocor sampai ke media, berbagai dugaan telah muncul di kepalanya.
"Baiklah, aku mau menikah nanti malam saja." Icha akhirnya kalah juga berdebat dengan Arka. Arka tersenyum tipis dirinya bisa mengalahkan si ratu jahil ini.
"Tapi ada syaratnya... tuan, kakek."
"Apa itu?" tanya tuan Kusuma.
"Aku tak ingin pernikahan ini diketahui oleh banyak orang, jadi hanya keluarga inti saja, dan di adakan di rumah kakek."
"Baiklah, aku menyetujuinya." Arka menjawab dengan spontan.
"Baiklah tuan, karena putra saya menyetujui, maka saya juga akan mengikuti kemauan putra saya."
"Semoga ini menjadi awal yang baik untuk menjalin silaturrahmi kita." ucap tuan Felix.
"Anda benar tuan Felix, baiklah jika begitu kalian bisa kembali dan beristirahat untuk acara nanti malam." tuan Kusuma.
Icha dan Arka pamit undur diri dari hadapan mereka, setelahnya tuan Kusuma memberikan kabar pada ayah dan ibunya Icha, untung saja mereka juga berada di rumah tuan Kusuma, sudah beberapa hari disana.
Sedangkan tuan Felix memberitahu istrinya, ia begitu terkejut mendengar putra tunggalnya akan segera menikah, karena efek dari gagal menikah kemaren, nyonya Felix selalu merasa bersalah dan menyalahkan dirinya sendiri yang tidak bisa memahami keinginan putranya.
"Kakak, kenapa kakak menyetujui perjodohan ini?" tanya Icha kala mereka sedang jalan beriringan.
"Kenapa memangnya, itu hak aku dong mau menolak atau pun mai menerima." jawab Arka santai.
"Kakak, kenapa tak menolak saja, aku tak mau menikah dengan orang yang belum selesai dengan masa lalunya."
"Maksud kamu?" Arka menoleh pada Icha, tak mengerti dengan apa yang Icha ucapkan.
"Kakak apa kakak masih menjalin hubungan dengan mantan pacar kakak itu?" tanya Icha akhirnya.
__ADS_1
dan
Bersambung