
"Mau apa?" Icha menjadi gugup sendiri, bahkan detak jantungnya bekerja lebih cepat dari biasanya.
"Menurutmu?" Arka menyeringai menatap manik hitam milik istrinya.
"Ini siang hari sayang."
Bahkan disiang hari dengan terik panasnya mentari yang menyengat kulit itu, menambah suasana panas kegiatan dua orang yang dimabuk asmara.
"Dimana mereka, kenapa tiba-tiba saja menghilang." Megan menyenggol lengan bodyguard Icha.
Bodyguard yang baru saja di tugaskan oleh Arka, terhitung semenjak mereka menikah. "Mana aku tahu." mengangkat bahunya menyebalkan.
"Baiklah kau tunggu saja disini, siapa nama kamu?" Megan yang memang beberapa kali baru melihat wajahnya, tapi belum mengenal pasti siapa lelaki berparas tampan dan memiliki tubuh tegap itu.
"Frans..."
"Apa Rans ? aku tak dengar, coba kau ulangi lagi."
"Are you kidding me?" jawab Frans sebal, tidak begitu menghiraukan ucapan Megan.
"Baiklah Rans, kau jaga dulu barang-barang ini, aku akan jalan kesana mencari Icha."
Frans entah pura-pura tidak mendengar atau hanya malas meladeni Megan, dirinya berdiri ditempatnya dan sama sekali tidak melihat kepergian Megan yang berjalan semakin menjauh dari penglihatannya.
"Ini panas sekali, huh kemana perginya bocah itu." Megan yang berhenti mencari tempat teduh, berdiri di dekat dinding yang terbuat dari Spandek itu tidak sengaja mendengarkan suara-suara aneh yang semakin lama membuat bulu kuduknya merinding.
"Suara apa itu."
"Sayannnggg akuhh akuhhhh ahhhhh..."
"Suara apaan itu," Megan semakin menajamkan telinganya kala ******* ******* menembus indera pendengarannya dengan sangat jelas.
Berusaha mencari ke arah sumber suara, lalu menemukan celah kecil, dan mengintipnya.
"Oh Tuhan..., mataku yang suci telah ternodai." seketika Megan berlari menjauh, dengan nafas tersengal.
"Huhhh huhhhh..."
"Itu anak tidak tahu tempat sama sekali iya, baru juga beberapa menit akan mencari suaminya, mana tahu-tahu udah ganti acara lagi." kesal Megan ngedumel sendirian.
"Kamu kenapa, berbicara sendiri seperti orang kesambet saja?" tanya Jenifer yang melihat Megan dengan nafas mgos-ngosan, dan keringat membanjiri dahinya.
"Itu... itu..." Megan bahkan tak mampu lagi berkata-kata, ucapannya terputus-putus, jari telunjuknya menunjuk ke arah bangunan yang mirip seperti bilik, tapi itu adalah tempat tinggal sementara mereka sebelum adanya bangunan untuk proyek baru kerjasama yang tergabung dalam organisasi pengusaha muda.
__ADS_1
"Kamu lihat saja sendiri sana, ada hal yang lebih menyeramkan."
Jenifer tidak lagi bertanya, dirinya berjalan menuju tempat tinggal sementara yang mirip bilik itu, dan berdiri disana.
"Memangnya ada apa disini." Jenifer berhenti sebentar, mencaritahu apa kata Megan baru saja. Namun dirinya sama dibuat terkejut oleh suara-suara aneh.
"Arka... ak..aku..."
"Panggil namaku sayang." desah Arka masih dalam memacu tubuhnya yang menguasai tubuh ramping istrinya.
"Ak..aku, akan keluarrr..." teriak Icha dengan gelisah, menarik rambut Arka, terkadang mencengkram dan terkadang membenamkan kala mulut suaminya itu sedang melakukan kegiatannya seperti bayi.
Jenifer mengintip dari celah tadi yang dipakai oleh Megan, "Ternyata wanita murahan itu." melihat hal demikian membuat Jenifer mengepalkan tangannya, menggigit giginya sendiri yang bahkan terdengar gemelutuk, mata Jenifer menjadi merah padam menahan amarah.
"Wanita murahan, kurang ajar, awas saja kamu sudah mendahuluiku."
***
.
.
.
"Ini siang hari sayang."
Bahkan Icha sendiri lupa dengan niat protesnya yang akan menolak suaminya, dirinya ikut terbawa suasana yang diciptakan oleh Arka.
Decapan demi decapan saling bersahut-sahutan, tangan Arka turun meraba benda kenyal yang membuat sang empunya mendesah, turun lagi ke leher dan memberikan stempel disama, hingga tercipta beberapa warna lagi disana.
"Sayannnggg akuhh akuhhhh ahhhhh..."
Ketika tangan Arka bermain-main diarea inti tubuh istrinya, membuatnya melayang, bahkan akal sehatnya tidak lagi bisa berfikir dengan jernih.
Detik berikutnya Icha menggelinjang tak karuan, dan melepaskan pelepasannya yang pertama, dilanjutkan dengan permainan pada inti.
"Sayang aku sudah tidak tahhaaan." suara Icha mulai tersengal akibat dengan kuat dipompa oleh
"Si Owl kau membuatku kelelahan."
Arka sama sekali tidak mendengarkan ocehan istrinya, dirinya fokus untuk mencapai tujuan utamanya.
"Arka... ak..aku..."
__ADS_1
"Panggil namaku lagi sayang, aku menyukainya." suara serak Arka, matanya yang sudah berkabut gairah tak dapat lagi dibendung.
"Ak..aku, akan keluarrr..."
"Tunggu aku sayaangg." desah Arka saat miliknya di cengkram kuat dibawah sana.
Mereka baru saja pecah telur dua hari yang lalu, dan Arka langsung kembali dengan tugasnya, sehingga rasa sesak pada jalan inti tubuhnya masih sangat kuat cengkeramannya.
"Ahhhhh....Arka..." mencengkram rambut suaminya brutal kala pelepasan yang ke tiga kalinya.
Arka begitu puas kala miliknya keluar bersamaan dengan istrinya yang dibawah sana merasakan berkedut mencengkram senjatanya, benih premiumnya telah tumpah ruah, tubuhnya ambruk diatas istrinya, kepalanya ia benamkan diantara ceruk leher Icha, nafsnya masih memburu karena pelepasan baru saja terjadi.
Dan dalam hati ia menyematkan doa. Harapannya agar segera tumbuh benihnya disana, agar istrinya berhenti dari karirnya dan fokus mendampingi dirinya dalam berkarir. Padahal kemaren lusa ia dan istrinya telah sepakat untuk menunda memiliki anak, dan dia menyetujuinya.
Namun ia tidak tahu jika Icha diam-diam sudah menggunakan alat kontrasepsi.
"Aku lapar." bisiknya pelan ditelinga Arka.
"Baiklah, tunggu sebentar." Arka terlihat menetikkan sesuatu lewat ponselnya.
"Tidurlah dulu jika kamu kelelahan, aku akan keluar sebentar, nanti akan ada seseorang yang datang kemari mengirim makanan."
"Hemmm."
Arka bangkit, memunguti kembali pakaian yang tadi ia buang ke sembarang arah, laku mengenakan ditubuh tegapnya, dan menyelimuti tubuh polos istrinya yang kelelahan akibat ulahnya tadi.
Lalu pergi keluar melihat kembali para pekerja, "Pak ini sudah waktunya makan siang, kalian bisa beristirahat dulu." perintahnya.
"Arka.." Jenifer begitu kesal melihatnya, karena mengingat ulahnya tadi.
Namun Arka yang ditatap demikian tidak gentar dan tidak begitu mempedulikan Jenifer lagi, walaupun Jenifer tergolong mantan terindahnya Arka.
"Jen tolong kau urusi makan para pekerja, aku akan kembali lagi nanti."
"Dan tolong bersikap sopanlah padaku, aku ini bos kamu."
"Arka tunggu..."
"Aku mau bicara," Jenifer berusaha menghentikan langkah Arka yang sudah berbalik dan berjalan menjauh.
"Apa lagi, bisa tidak kamu lebih sopan."
"Tapi kita sedang berdua saja, dan tidak ada siapa-siapa lagi disini, mereka semuanya juga tidak mengenal kami."
__ADS_1
"Jika kamu menghentikan aku hanya mau berbicara demikian, maka bisa dilanjutkan nanti, ada hal lain lagi yang lebih penting yang harus aku urusi."
Arka tidak lagi menghiraukan Jenifer, dia teringat ucapan Devan beberapa hari yang lalu, jika dirinya harus memberi jarak dan tak ada celah sedikit pun untuk membuka jalan dirinya dan Jenifer, bisa saja saat ini dirinya dikirim kemari bersama Jenifer hanya sebagai upaya menguji kekuatannya saja, seberapa besar dirinya mampu membuat pembatas antara dirinya dan Jenifer.