Menikahi Adik Sahabatku

Menikahi Adik Sahabatku
Berubahnya Arka


__ADS_3

Arka sengaja melakukan hal yang membuat Icha agar membencinya, dirinya sudah mengetahui dari orang suruhannya jika Icha akan datang ke apartemennya. Sehingga Arka menyewa perempuan bayaran yang wajahnya cantik rupawan.


"Kau bisa pergi sekarang, bayaranmu sudah ku transfer."


"Tapi anda bahkan belum melakukan apa pun tuan."


"Jangan harap, pergi sekarang atau aku akan menyeretmu sendiri." Mendengarkan suara horor Arka perempuan sewaan itu lari terbirit-birit. Menggunakan bajunya dengan tergesa-gesa dan mengambil tasnya.


Ketika berjalan keluar dirinya mengecek ponselnya."Sungguh tuan tampan yang sangat murah hati, walaupun sangat arogan, mungkin sedang ingin balas dendam dengan kekasihnya."


Arka saat ini tak bisa berfikir jernih hingga melampiaskan amarahnya dengan membuang benda-benda yang ada di meja kamarnya.


Malam itu Alex berkunjung ke apartemennya ingin membahas proyek baru dengannya. Namun Alex ketika membuka pintu apartemennya mendengarkan suara barang-barang yang seperti sedang di lempar.


Ternyata benar dugaan Alex, Arka melempar ponselnya ke lemari kaca hingga retak tak berbentuk.


"Hentikan perilaku bodohmu itu."


Alex menyeretnya keluar ruangan, melempar tubuh Arka di sofa depan televisi.


"Katakan apa yang membuatmu seperti ini?"


"Apa ini semua ada hubungannya dengan Icha dan lelaki itu." Tanya Alex memandang tajam Arka.


Arka diam tak menjawab, malas mendengarkan nama Icha. Sungguh hatinya saat ini berbalik menjadi sangat benci dengan semua apa pun yang berhubungan dengan Icha.


"Jika iya, kenapa tak kamu selidiki sekalian siapa lelaki itu." Alex menyuarakan idenya dengan menekankan kalimat yang ia ucapkan.


"Aku rasa kamu hanya salah paham saja pada Icha, lalu kenapa kamu bisa segila ini."


Alex mengambil ponselnya, menghubungi seseorang di balik panggilan telepon itu.


"Lakukan penyelidikan siapa lelaki yang berada di dalam foto bersama perempuan itu." Perintahnya. Kemudian sambungan telepon ia matikan sepihak. Beralih menatap wajah Arka yang berantakan tak seperti biasannya yang cerah berseri dan selalu rapi.


Kali ini seperti pakaian kusut tak berbentuk, bahkan tatanan rambutnya yang biasanya rapi saja saat ini terlihat acak-acakan. Wajahnya terlihat murung tak bersemangat, berat badannya juga menurun.


"Aku sudah membuatnya dia membenciku." Kata Arka lirih.


Alex yang berdiri di depannya menoleh padanya dengan pandangan tak biasa, wajahnya tak bersahabat memandang sahabatnya ini.


"Kamu sudah gila, belum memastikan siapa lelaki itu kau sudah membuatnya membencimu."


"Tidak, ini sudah menjadi keputusanku."


"Baiklah terserah kamu saja. Aku malas mengurusimu soal ini."


"Jika ini keputusanmu, seharusnya kamu bahagia, bukan malah membuat hidupmu seperti orang yang kekurangan dan sedang berputus asa."

__ADS_1


Arka terdiam, pikirannya berkelana kemana-mana. Dirinya sudah dibutakan oleh rasa cemburunya, sehingga membuat keputusannya sepihak tanpa mencari tahu kebenarannya.


Dirinya mendengarkan celotehan Alex yang saat ini sedang mengomelinya. Tetapi sepertinya ia tak mendengarkan sama sekali.


Beberapa menit kemudian petugas kebersihan datang, membersihkan kamar Arka yang sudah seperti kapal pecah tadi, petugas tadi sempat di hubungi Alex sebelum dirinya memberinya petuah pada sahabatnya ini.


"Jika ini keputusanmu, aku rasa kamu tak akan pernah menyesal."


Alex sedang malas berdebat mengenai hal ini, sehingga dirinya berjalan keluar, sebelum membuka pintu berbalik dan berucap.


"Aku rasa dirimu tak akan melakukan hal bodoh jika sedang sendirian."


Lalu melanjutkan langkah kakinya berjalan keluar dan pergi ke tempat tinggalnya yang jaraknya tak begitu jauh dari apartemennya Arka.


***


.


.


Hari-harinya ia lalui sendirian tanpa adanya sang pujaan hati seperti dulu, bahkan hampir tak pernah putus dirinya menghubungi Icha.


Tetapi kenapa saat ini dirinya malah merasakan ada yang hilang. Arka yang sekarang berubah tidak seperti Arka yang dulu, Arka yang dulu adalah Arka yang hangat pada siapa pun, akibat pengaruh sikap ramah Icha.


Tetapi dirinya saat ini berubah seratus delapan puluh derajat dari tingkah lakunya yang dulu. Setiap ada karyawan yang melakukan kesalahan sedikit saja dirinya tak menerima toleransi dan main pecat, hal ini sudah ia lakukan bolak balik hingga terdengar ke telinga Alex.


"Ini tuan mau mengantarkan file yang memerlukan tanda tangan tuan Arka."


"Bawa sini, kau kembalilah ke mejamu, jika sudah beres aku akan menghubungimu."


Sejauh ini hanya Alex yang bisa menangani Arka. Jika hal ini terdengar sampai ke telinga tuan besar yaitu ayahnya Arka. Entahlah apa yang akan terjadi selanjutnya.


"File yang perlu kau periksa." Alex menyodorkan setumpuk file padanya.


"Kenapa kamu yang memintanya, kemana karyawan yang bertugas mengurus hal ini."


"Aku rasa kamu akan lebih mirip seorang tempramen dari pada lelaki waras."


"Dam it, kau mengejekku." Umpatnya.


"Menurutmu, kau tidak seperti sahabat yang ku kenal dulu."


"Seseorang bisa berubah kapan saja."


"Benarkah, lalu kau berubah menjadi gila."


"Sudahlah, pergi sana kau tak usah menghakimiku."

__ADS_1


"Aku tak menghakimi dirimu, karena dirimu bosku, tetapi sikapmu yang semena-mena terhadap karyawan itu sudaj keterlaluan."


"Kau berubah lebih tidak manusiawi sekarang."


"Jika kau membutuhkan bantuan, bicaralah."


"Atau kau bisa mencari seseorang yang bisa mengisi hatimu dan bisa membantu mengatasi masalahmu."


"Atau perlu ku carikan seorang wanita untukmu."


"Itu tidak perlu, dirimu saja belum laku sudah sok-sokan."


Arka tertawa mencibir, mana percaya dirinya terhadap Alex, jika mungkin saat ini Alex sudah berkeluarga mungkin dirinya akan mempercayainya.


"Iya terserah padamu, aku hanya menyarankan saja. Jika tak di terima juga tak masalah kan."


"Aku hanya berharap Arka yang dulu kembali lagi."


"Sudahlah, katakan yang lain saja, ada apa kamu kemari?"


Arka mengalihkan topik pembicaraan. Agar Alex tak terus menerus membahas soal ini.


"Kapan kau akan bertemu dengan Devan?" Tanya Alex tanpa basa basi.


"Dua minggu lagi, setelah pekerjaanku ini selesai. Kau bisa menyiapkan keberangkatanku."


"Hemm iya, sepertinya proyek kerja sama kali ini sangat besar keuntungannya jika di lihat dari pasar umum."


"Ehmm iya tentu saja, aku akan membahas banyak hal jika bertemu dengannya nanti."


"Iya aku percaya, Devan adalah seseorang yang bisa di andalkan."


"Ehmm kau benar, dia memiliki karir yang cemerlang, tapi kenapa dirinya juga belum menikah." Tanya Arka pada Alex.


"Mengenai hal itu sepertinya dia memiliki alasan khusus." Alex mengemukakan pendapatnya.


"Ehmm iya, padahal tak sedikit wanita yang menyukainya, semua dari kalangan atas."


"Apa lagi yang dia cari, bahkan dirinya sudah memiliki segalanya. "


"Kamu berbicara seperti itu, seperti sedang membicarakan dirimu sendiri." Alex mencibir. Pasalnya saja yang di ucapkan Arka barusan itu adalah cerminan dirinya.


"Aku berbeda dengannya." Arka.


"Apa yang membedakan dirimu dan Devan, aku rasa kalian sebelas dua belas. Sama-sama terlahir dari keluarga kaya, memiliki segalanya dan banyak perempuan cantik mendekatinya."


dan

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2