Menikahi Adik Sahabatku

Menikahi Adik Sahabatku
Rapat


__ADS_3

"Baiklah akan aku tunggu sampai kau siap." ucap Arka kemudian menarik diri, dan berjalan menjauh kearah balkon kamarnya.


"Oh jantungku, kamu benar-benar tidak bisa diajak berkompromi." Icha memegang dadanya sendiri, detak jantungnya bahkan bekerja lima kali lipat dari biasanya.


"Jika begini terus bisa-bisa aku mati muda."


Icha menegakkan duduknya, tangannya mengulur mencari ponsel yang tadi entah kemana perginya, akibat mendapatkan serangan mendadak dari suaminya membuat Icha hilang konsentrasi.


"Hah bertemu kamu." ketika mendapati ponselnya dibawah selimut tebal.


Kemudian jari-jari tangannya sibuk menekan tombol dan terlihat sedang menghubungi seseorang. "Hallo Megan kamu dimana?"


"Aduhh telingaku sakit tahu." Megan menjauhkan ponselnya kala mendengarkan teriakan melengking dari panggilan telepon itu.


"Kamu dimana?"


"...."


***


Disinilah Icha berada, dirinya melarikan diri dari hadapan suaminya, "Kamu gila, jadi selama ini kamu dan suami kamu belum melakukan malam pertama?" tanya Megan.


Saat ini Icha berada dikamar Megan, mengatur detak jantungnya dan fokus konsentrasinya.


Icha yang ditanya brutal seperti ini oleh Megan menggelengkan kepalanya polos. "Kau tahu kalau dirimu sekarang sudah menjadi seorang istri?" tanya Megan.


Icha tiduran tengkurap di ranjang kamar Megan, dan mendengarkan Megan mengomel padanya. "Jika sudah tahu, seharusnya kamu juga tahu apa tugasmu sekarang." Megan berapi-api.


"Apa memangnya tugas seorang istri?" tentu saja Icha tidak tahu, karena dulu waktu kecilnya ia dilayani kedua orang tuanya dan kakaknya sendiri, dia tidak tahu menahu soal pekerjaan rumah. Bisa dibilang hidupnya tidak pernah susah sejak lahir.


"Oh mayyy kamu." Megan menjadi gemas sendiri.


"Iya tentu saja tiga M yang wajib kamu lakukan setelah menjadi istri."


"Apaan itu tiga M segala."


"Iya melayani suami di ranjang, memasak membuat perut kenyang suami, menyenangkan hati suami."


"Kalau tidak salah satunya atau semuanya bagaimana?" celetuk Icha.


"Iya belajar nona, kamu tidak bisa lah berpangku tangan mengandalkan orang lain terus menerus seperti itu, bagaimana jika ada wanita lain yang memenuhi kebutuhan biologisnya, apa kamu tidak sakit hati?" tanya Megan melotot pada Icha.


"Iya tapi kamu juga tak usah melotot seperti itu juga nona." Icha melemparkan buku novel ditangannya kearah Megan.


"Iya tapi masalahnya aku tidak bisa semuanya." Icha berganti posisi menjadi duduk dan bersandar di dasboard ranjang.


"Bagian mananya yang kamu tidak bisa, yang ada kamu yang malas belajar." ketus Megan merasa kesal menasehati teman sekaligus sahabatnya ini.


"Oh Tuhan, kenapa ribet amat sih orang menikah itu."


"Mengeluhmu sudah terlanjur nona."


"Kenapa tidak dari kemaren-kemaren saja menolaknya."


"Iya mana aku tahu kalau orang menikah itu akan seribet ini, aku pikir akan indah seperti di novel-novel yang sering kamu ceritakan itu."


"Hah jadi kamu memakai panduan novel yang sering aku ceritakan ke kamu?" tanya Megan nampak terkejut.

__ADS_1


"Iyahhh." Icha mengangguk.


"Oh astaga sepertinya aku cerita pada orang yang salah." Megan menepuk keningnya sendiri.


"Salah apanya?"


"Ah sudahlah, pokoknya kamu harus belajar tiga M seperti yang aku sebutkan tadi."


"Mana ada seperti itu, masak iya orang yang belum pernah menikah yang akan mengajari aku."


"Iya tapi setidaknya ada kemajuan pada hubungan kalian."


Megan sepertinya kehabisan kata-kata jika menyangkut pernikahan, masalahnya dirinya sendiri juga belum pernah menikah, bahkan saat ini masih betah menyendiri.


"Iya pokoknya adalah referensi dari vidio."


"Hemmm kamu yang buka vidionya dan nanti kamu ajarin aku." ucap Icha santai sambil memainkan ponsel pintarnya.


"Pinter banget kamu iya kalau menyuruh orang."


"Bukan menyuruh, tapi aku minta tolong nona."


"Hemm baiklah terserah kamu saja."


"Apa kegiatan kamu setelah ini?" tanya Megan pada Icha.


"Kegiatanku, tidak ada aku rasa."


"Benarkah," seketika membuat Megan berbinar bahagia, dirinya ingin mengajak Icha jalan-jalan sore mengelilingi kebun teh.


"Kenapa senyumanmu mencurigakan?" Icha melirik sekilas pada Megan.


"Aku malas jalan."


"Ck, kamu tidak asyik sekali."


"Sebentar-sebentar, ponselku ada panggilan masuk."


"Iya sayang hallo." ucap Icha..


"..."


"Baiklah."


"...


Setelah melakukan panggilan masuk Icha menutup ponselnya. "Eh Megan aku dipanggil suamiku."


"Cie yang udah manggil sayang."


"Oh Tuhan, apakah ini tanda-tanda aku akan memiliki keponakan baru."


"Berkhayal saja kamu, kontrak kerjaku masih lima tahun tahu."


"Iyah siapa tahu saja kamu mendapatkan cuti selama hamil, dan bisa kamu teruskan lagi setelah melahirkan." ucap Megan dengan entengnya.


"Tidak ada."

__ADS_1


"Sudahlah aku pergi dulu."


"Cha tunggu..., tunggu bagaimana dengan jalan-jalan sorenya?" tanya Megan menghentikan langkah Icha yang sudah berdiri diambang pintu keluar.


"Tidak ada jalan-jalan, sepertinya kak Arka akan meminta tolong padaku."


"Iyahh tidak jadi deh." Megan menekuk mukanya.


"Lain kali juga bisa, kita masih akan disini selama sebulan kan."


"Baiklah, sana pergi."


"Ehmm tentu, ini baru jalan, kamu jangan teruskan ngambeknya." Icha menjulurkan lidahnya, dan menutup pintunya dengan cepat.


"Ada apa kamu ketawa-ketawa sendiri?" tanya Arka memicingkan matanya curiga kala istrinya sudah kembali ke kamar mereka.


"Tidak ada sayang, ada apa memanggilku kemari?" tanya Megan.


"Jangan kebiasaan mengalihkan omongan, atau aku akan memakanmu sekarang." nafas Arka melemah melihat penampilan Icha yang hanya memakai pakaian rumahan dress mini yang panjangnya bahkan diatas lutut.


Arka memeluk Icha dari arah belakang, dan menggigit telinga Icha gemas. "Awwww kak sakit."


"Kamu memanggil siapa sayang?"


Gigitan berikutnya kembali terjadi,"Ahh sayang sakit...,"


"Begini baru benar," Arka membalik tubuh Icha, dan mendaratkan ciuman pada bibir manis nan kenyal itu. ********** dan bahkan lidahnya berusaha menerobos masuk.


Tangan Icha meremat dada Arka, yang diambil alih Arka untuk mengalungkan lehernya. "Ahhh..." Icha tak tahan jika tak melenguh, ciuman itu terasa memabukkan dan membuat Arka candu, ingin meminta lebih dari ini.


Lutut Icha semakin melemas, tubuhnya bahkan tak bertenaga, dan mundur perlahan hingga dirinya terjatuh duduk diatas ranjang, yang kemudian menjadi terlentang, namun Arka sedikit pun tak melepaskan ciumannya. Kini malah Icha berada dalam perangkapnya.


Tangan Arka bertumpu pada sisi kanan kiri tubuh Icha. Untuk menopang tubuhnya sendiri. Decapan, ******* dan lenguhan terjadi mengalir begitu saja. Hingga terdengar pintu diketuk dari luar.


"Sayang, ada yang mengetuk pintu, berhentilah." Icha berusaha melepaskan diri.


"Tak usah kau hiraukan."


"Sayang tapi tidak mau berhenti itu, kita buka saja dulu, siapa tahu penting."


Suara ketukan pintu terus menerus membuat kegiatan mereka terhenti, Arka bangkit dari atas tubuh Icha dan membuka pintu kamarnya.


"Apa Icha sudah siap?" tanya Devan yang mengingatkan Arka.


"Ehmm sebentar lagi dia lagi mandi." bohongnya.


"Baiklah, ditunggu."


"Kenapa juga dirimu belum bersiap, kita akan melakukan briefing dulu."


"Cepatlah bersiap."


Devan pergi setelah memberitahu tentang rapat. "Siapa sayang?"


"Sebentar lagi kita rapat, mandilah dulu, dan segera bersiap." ucap Arka melemah.


"Rapat."

__ADS_1


"Kapan?" tanya Icha, kenapa mendadak begitulah kesal Icha.


Tetapi Arka lebih kesal karena kegiatannya terganggu.


__ADS_2