
Malam semakin larut, mungkin sebagian orang sudah berlayar ke dalam mimpinya, begitupun Megan yang sudah terlelap diatas ranjang king size yang bersebelahan dengan Icha.
Icha menoleh ke arah samping, dirinya melihat Megan dan menatapnya dalam. Sebentar lagi dirinya akan kembali ke negeri Ginseng, bagaimana dengan temannya Megan yang berada di sini, apakah bisa menjalani kehidupannya dengan baik. Mendadak dirinya menjadi sedih jika mengingat hal itu.
Otaknya telah diajak berfikir keras hingga dirinya tak dapat memejamkan matanya dengan nyenyak. Bagaimana jika dirinya yang kangen Megan atau sebaliknya.
Mereka sudah seperti saudara yang tak bisa di pisahkan, bagaimana tidak Icha yang selama ini tak memiliki teman yang setia, selain ke tiga temannya yang berada di asrama yaitu Yuju, Hyun dan Hana, dan sekarang bertambah lagi Megan.
Icha tipe orang yang ringan tangan, apalagi Megan adalah teman yang dikenalnya di kota ini satu-satunya, ketika dirinya sama sekali belum memiliki teman. Hanya satu yang ia sukai pada diri Megan, yaitu berteman tidak memandang kasta seseorang, hal itulah sehingga apa yang dia miliki dirinya juga membelikan untuk Megan. Walaupun kadang Megan tak enak hati menerima barang-barang Mewah darinya.
Dengan sedikit paksaan akhirnya Megan mau menerimanya juga. Lama Icha berfikir akhirnya dirinya memutuskan besuk pagi akan berbicara pada Megan empat mata. Sekarang dirinya memaksakan memejamkan mata, walaupun sedikit sulit.
Sedangkan Arka yang berada di kamar sebelah juga sama, dirinya tak dapat memejamkan mata, lantaran seseorang yang di anggap perusuh apartemennya sebentar lagi akan mencari kerja di tempat lain pikirnya, tanpa bertanya dulu pada yang yang bersangkutan. Arka hanya berspekulasi sendiri mengenai hal ini.
Tetapi jika di ingat-ingat lagi, memangnya siapa dirinya ini, pacar bukan, tunangan juga bukan, lalu tak ada alasan dirinya menahan Icha. Tetapi perusahaannya bisa menawarkan Icha jika bocah itu membutuhkan pekerjaan.
Dirinya mungkin akan mengutus seseorang untuk menawari bekerja di perusahaannya saja. Ahhh iya itu sepertinya ide yang cemerlang. Baiklah sekarang dirinya harus memejamkan mata dan mengistirahatkan tubuhnya sejenak, sebelum besuk dirinya di buat kacau oleh dua gadis yang sering ribut itu.
Baru saja dirinya akan memejamkan matanya, terdengar notifikasi di ponselnya. Tangan mencari-cari dimana letak ponselnya berada dengan keadaan mata setengah terpejam, lalu menyipitkan matanya.
"Amber." Gumamnya pelan.
"Aku akan ke apartemen kakak, menginap." Begitulah isi pesan chat di dalam ponselnya Arka.
"Kapan pulang?" Arka membalas dan menanyakan kapan perempuan itu akan pulang ke apartemennya. Karena dirinya saat ini tak berada di rumah.
"Mungkin dua hari lagi, sambut kedatanganku dengan spesial iya." Balasnya singkat, mengisyaratkan bahwa dirinya gadis yang spesial dan harus diperlakukan dengan spesial.
Arka tak membalas pesan perempuan itu, dirinya kini berusaha memejamkan matanya sebisa mungkin, agar bisa bangun lebih awal untuk mengawasi bocah-bocah nakal yang saat ini berada dikamar sebelah.
Arka baru bisa memejamkan mata ketika jam sudah melewati dini hari. Alarm juga sudah dinyalakan, tidur empat jam sudah bisa membuat tubuhnya kembali segar.
Suasana pagi dikota London memang berbeda, saat ini sedang musim dingin. Dirinya tidur memeluk guling dan menyalakan penghangat ruangan. Jam alarm terdengar sangat nyaring, dirinya bangun mematikan jam alarm di ponselnya, lalu membersihkan dirinya.
Selesai sudah semua urusannya, kini dirinya akan pergi membangunkan dua gadis dikamar sebelah.
Tokkk....tok.......!!!!
Beberapa kali dirinya mengetuk pintu, barulah penghuni kamar itu berjalan membuka pintu, yang nampak di sana adalah wajah Megan.
"Anda Prof..."
"Hemmm dimana temanmu itu, apa masih bangun?" Tanyanya pada Megan datar.
Megan menggaruk rambutnya yang tak gatal karena malu, dirinya bahkan juga baru bangun. Entahlah mungkin kelelahan bisa jadi membuat tidurnya sangat nyenyak.
"Ehmmmm itu Prof.. Icha masih tidur nyenyak."
Megan lama baru menjawab pertanyaan Arka karena jika dirinya berbohong juga dosen Arka pasti tak akan percaya padanya.
"Baiklah, bangunkan temanmu itu dan suruh membersihkan dirinya, aku tunggu resto bawah dalam waktu setengah jam harus sudah berada di sana, dan ingat tak boleh telat." Ancamnya tak mau dibantah.
Dirinya berbalik akan berjalan menuju restauran yang berada di lantai dasar, tetapi dirinya berbalik lagi.
"Megan, ingat jika diluar kampus kamu tak perlu memanggilku dengan sebutan Prof. Kamu bisa memanggilku dengan sebutan yang lain."
"Hahhh, lalu aku memanggil apa?" Tanya Megan bingung.
"Terserah kamu saja, yang penting jangan Prof. " Perintahnha pada Megan.
"Bagaimana kalau saya memanggil kakak saja seperti Icha." Akhirnya Megan memberi usul.
"Hemmm iya." Jawabnya singkat, lalu berbalik lagi dan berjalan menuju lantai dasar.
"Hahhhh dosen Arka ini, sepertinya dirinya ramah hanya pada Icha saja, tidak dengan yang lain seperti diriku, hahhh bodoh amat lah." Megan berbicara sendiri sambil menutup pintunya.
"Apa istimewanya dia si muka datar itu, eh tapi tampan juga sih." Ralatnya.
"Siapa yang kau bicarakan tadi."
"Hahh kau ini membuatku kaget saja, bagaimana jika jantungku copot."
"Ck...lebay kamu, siapa yang kau bicarakan tadi?"
__ADS_1
"Sepertinya tadi aku mendengarmu mengumpati seseorang." Icha
"Hahh ti...tidak tidak ada, mungkin kamu salah dengar." Megan menjawab dengan gugup dan bahkan tak berani menatap matanya Icha.
"Benarkah, apa itu dosen Arka?" Tanya Icha mengintimidasi.
Megan berdiri kaku dan keluar keringat dingin, takut Icha akan mengadu yang tidak-tidak pada dosen Arka.
"Haaaahaaaaa, muka kamu lucu sekali seperti orang yang sedang terdakwa saja."
Icha malah mengerjai dirinya, seketika Megan malah menoel hidung mancung Icha. Membalas perlakuan jahil Icha.
Mereka malah beraksi seperti Tom and Jerry yang mana satu memukul satunya membalas, dan aksi saling kejar-kejaran terjadi di ruangan itu.
Sehingga Megan menjadi lupa apa pesan Arka tadi, karena dirinya sibuk membalas perlakuan jahil sahabatnya itu.
"Ampun....ampun....!!!"
Teriak Icha tertawa terus menerus karena perutnya di gelitiki Megan tanpa ampun.
"Itu pembalasan, karena dirimu tadi sudah mengerjaiku nona." Kata Megan gemas.
"Baiklah-baiklah aku minta maaf sekarang hentikan aku tak kuat tertawa terus menerus." Pintanya.
Seketika Megan menghentikan aksinya, lalu Icha berlari ke kamar mandi karena ingin menuntaskan hajatnya dan membersihkan diri. Sepertinya pagi ini dirinya akan berendam air hangat sebelum memulai aktivitasnya, agat tubuhnya terasa rileks.
Sedangkan Megan rebahan bermain ponselnya sambil menunggu Icha keluar dari kamar mandi. Dirinya malah asyik membuka sosial media di sana dan lupa dengan amanah dosen Arka tadi.
.
.
Dilan tempat, tepatnya di lantai dasar, dosen Arka menunggu kedatangan merek berdua, padahal ini sudah lebih dari setengah jam dirinya menunggu.
Tadi dirinya juga sudah berpesan pada Megan, untuk memberi mereka waktu setengah jam, hingga minuman yang ia pesan tadi Sudah habis, namun yang di tunggu tak kunjung menampakkan batang hidungnya.
Baiklah dirinya akan lebih bersabar lagi, menunggu sampai lima belas menit lagi, jika tak muncul juga sepertinya hukuman apa yang cocok untuk mereka berdua gemasnya.
Sedangkan yang ditunggu malah ketiduran saat berendam, dan Megan asyik sendiri bermain ponsel. Baiklah sepertinya lima belas menit sudah berlalu, dirinya akan menelpon Icha.
Megan melihat sekilas nama di sana "Si Muka Datar." Siapa ini pikirnya. Lalu memanggil nama Icha.
"Cha keluar, ponselmu sangat berisik, sepertinya penting ini dari Si Muka Datar."
"Ya angkat saja, aku akan membilas diriku."
Akhirnya mendapatkan ijin dari si empunya, dan Megan mengangkat.
"Hallo ini..." Belum sempat Megan menyelesaikan pertanyaannya sudah di potong suara seseorang dari seberang sana.
"Cepat kemari aku sudah menunggumu lebih dari setengah jam."
Seketika Megan menepuk jidatnya, mengingat dirinya belum menyampaikan pesan tadi yang disampaikan padanya untuk dirinya dan Icha, seketika dirinya panik menggedor pintu kamar mandi dan berteriak.
"Kamu ini kenapa sih dari tadi berteriak saja kerjaan mu." Tanya Icha mengamati Megan yang tak bisa tenang itu.
"Iya cepetan ganti baju sana gak pake lama, nanti aku ceritakan panjangnya, sekarang aku akan mandi duluan."
Megan masuk ke dalam kamar mandi dan sepertinya mandi bebek. Karena mandinya sangat kilat. Dirinya saat ini tak ada waktu berdebat atau pun menjawab pertanyaan dari Icha.
Sekarang yang Megan pikirkan hanya menyelesaikan ganti bajunya menggunakan make up kilat dan keluar menyeret Icha, jika tidak maka habislah dirinya dan juga Icha.
"Ayo cepetan Cha, kita tak ada waktu lagi." Kata Megan panik.
"Kamu ini kenapa sih sebenarnya," Icha yang bingung dengan sikap Megan yang seperti mau di kejar Anjing ketakutan dan pucat pasi.
"Sudah pokoknya sekarang kamu harus ikut denganku, pertanyaan kamu itu simpan dulu, ayo." Ajaknya menarik tangan Icha dan menuju ke lantai dasar dimana tadi dosen Arka memberikan pesan padanya.
Icha yang bingung dengan tingkah sahabatnya ini, ya sudahlah nurut saja, padahal mulutnya sudah sangat gatal dan ingin bertanya ini itu namun masih di tahan dulu.
Dari kejauhan wajah dosen Arka sudah kelihatan tak bersahabat, Icha santai saja, dirinya malah menyapa dosen Arka.
"Hallo pagi kak, kakak di sini juga, aku pikir kakak masih tidur." Tanyanya tanpa dosa. Bukan tanpa dosa memang dirinya tak tahu menahu soal pesan Arka tadi pada Megan dan Megan juga tak bilang apa-apa padanya, sehingga tampak santai saja Icha menghadapi wajah Arka yang diam menahan kekesalannya itu.
__ADS_1
"Ehmmm kamu tahu apa salahmu?" Tanya Arka setelah lama terdiam, melihat dua orang yang saat ini duduk di depannya dengan santai.
"Emangnya apa salahku?" Tanya Icha balik.
Sedangkan Megan sudah pucat pasi karena semua ini dirinyalah yang bersalah. 'Haduuhh bagaimana ini menjelaskan pada dosen Arka." Batin Megan bergumam.
"Kamu sudah membuatku menunggu ham satu jam, lalu sekarang kamu bertanya dimana salahku?" Jelasnya menahan rasa kesal dihatinya.
Icha malah menggedikan bahunya, memanggil pelayan dengan santai lalu memesan banyak makanan untuk dirinya dan Megan, karena suasana hati Arka tak baik, maka dirinya yang memilihkan menu buat dosen Arka.
Arka masih diam menunggu pelayan itu pergi dulu, lalu setelah pelayan restauran itu pergi barulah dirinya meneruskan acara mengomelnya.
"Kakak ini kenapa sih dari tadi marah-marah mulu, kayak perempuan yang lagi mau pms saja deh, apa jangan-jangan kakak juga pms juga." Bicaranya random.
"Aku tadi sudah berpesan padamu, memberimu waktu setengah jam untuk membersihkan dirimu, lalu ini apa, bahkan ini sudah sejam lebih aku duduk disini menunggu kalian." Kesalnya.
Seketika Icha menoleh pada Megan bingung, kapan dirinya menerima pesan tersebut, apa jangan-jangan lewat pesan chat. Perasaan bangun tidur dirinya juga langsung mengecek ponselnya, tetapi tak ada apa-apa di sana.
"Ehmmm itu anu Prof. Ehmm maksud saya kak Arka, itu semua salah aku, tadi itu ehmmm anu, aku bisa jelaskan ke kalian." Gugup Megan.
"Megan, kamu ini iyahh." Icha.
"Ehmm saya mintak maaf kak tadi saya yang lupa memberikan pesan pada Icha." Kata Megan penuh penyesalan.
"Benarkah itu Megan," kata Icha meminta penjelasan darinya.
"Ehmmm iya aku minta maaf pada kamu Icha yang sudah mendapatkan amarah dari dosen Arka, ehmm maksud saya kak Arka, itu karena tadi kamu terus mengerjaiku." Kata Megam mencari pembelaan.
"Heii tapi kamu sudab membalas tau," Icha tak mau kalah.
"Tapi kan kamu duluan tadi yang menjahiliku," Megan membela dirinya.
"Habisnya juga salah kamu sih, kenapa ditanya malah tak mau menjawab." Kata Icha.
"Oh sekarang aku tau, orang yang tadi kamu umpati jangan-jangan." Ucapan Icha menggantung, dirinya menoleh ke arah dosen Arka.
"Eh..bukan...bukan, itu bukan dosen Arka, dirimu jangan mengacau iya." Megan panik sendiri hingga membuka sendiri apa yang tadi di dirahasiakannya dari Icha.
"Hahhh padahal aku belum bicara kalau orang yang kamu umpati tadi dosen Arka loh, eh tapi kamu malah membuka nya sendiri, hahahaha lucu sekali kamu ini " Icha menertawakan Megan.
Sedangkan orang yang dibicarakan saat ini berada di depannya, tanpa ingin tahu bagaimana perasaan dosen Arka yang dibicarakan di depannya.
"Ehhh...kamu jangan ngacau iya, bukan kak Arka, Icha hanya mengacau saja,"
"Tidak kak itu benar, jika tadi pagi kak Arka di umpati Megan, katanya si muka datar tapi tampan, ha ha aha." Icha ketawa tak henti-hentinya.
Sedangkan Megan wajahnya saat ini jangan di tanya, sudah sangat memerah karena malu.
"Sudah-sudah, kalian ini dimana saja pasti ribut-ribut, bisa tidak sehari saja tak ribut."
Arka yang dari tadi menyimak perdebatan dua gadis di depannya ini sepertinya sudah sangat gemas pada mereka ingin memberikan hukuman yang pas. Tapi apa supaya mereka akur dan tak membuat keributan terus menerus walaupun bentar lagi akur.
"Baiklah aku tegaskan di sini, karena kalian berdua sudah bersalah, jadi aku akan memberikan kalian hukuman."
Sontak saja Icha menoleh pada dosen Arka tak terima, enak saja dirinya kan tak tahu apa-apa soal ini, enak saja harus dapat hukuman juga, ini tidak adil, pikirnya.
"Aku tidak mau, karena aku kan tak tahu apa-apa, kenapa harus mendapatkan hukuman juga."
"Hei tidak bisa, tapi tadi kamu mandi sangat lama dan tadi kamu mengejekku."
"Ehh mana ada seperti itu."
"Sudah-sudah berhenti dulu, Megan kamu saya hukum karena kamu sudah tahu apa kesalahanmu?"
Megan mengangguk lemah di depan Arka, tetapi tidak dengan Icha, dirinya tersenyum bangga karena tak mendapatkan hukuman.
"Icha...kamu juga saya hukum,"
"Ehh tidak bisa begitu kak, kan yang salah Megan, kenapa aku ikut dihukum juga, aku tak mau."
"Iya karena tadi kamu sudah mengejek Megan, kamu tahu kalau seseorang itu tak boleh saling mengejek satu sama yang lain."
Icha diam
__ADS_1
dan
Bersambung