Menikahi Adik Sahabatku

Menikahi Adik Sahabatku
Dia Akan Menikah


__ADS_3

Kapal pesiar yang membawa mereka menepi di pantai laut Turki. Setelah sampai Kakak beradik itu mencari hotel terdekat, tanpa di duga Alex mengikuti mereka.


"Kau akan mencari penginapan di hotel mana?"


"Itu terserah padaku," ketus Devan sambil menyeret koper miliknya, sedangkan koper Icha dibawa oleh pengawalnya.


Icha ingin bermain kuda dan memanah di Turki, sehingga dirinya sudah pesan pada Devan, ketika sampai di Turki nanti ingin pergi berkuda sambil mamanah.


"Aku sedang serius, karena aku tak begitu tahu kota daerah sini,"


"Apa kau akan mengikuti kami?" tanya Devan menoleh pada Alex.


"Tidak, kebetulan aku ada janji temu dengan klien di daerah Istanbul."


"Hemm baiklah, kau bisa ikut bersama kami."


"Kakak nanti aku mau langsung berkunjung ke Lucky Horse Ranch."


"Tidak, kau harus beristirahat dulu jika ingin bermain kuda."


"Tapi kakak, aku sudah tidak sabar ingin kesana."


"Beristirahat dulu, atau tidak kesana sama sekali." tegas Devan.


"Ehmm baiklah kalau begitu,"


Mereka saat ini sudah perjalanan menuju ke hotel di daerah kota, dan mencari kuliner khas Turki untuk mengisi perut mereka. Untuk makan kali ini di traktir oleh Alex.


"Apa kau sedang banyak uang, sehingga mentraktir makan besar seperti ini?" tanya Devan sambil mendongak menatap wajah Alex.


"Ck, kau ini ... hanya mentraktir kalian makan, aku tak akan bangkrut karena hal ini." Alex menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.


"Ehmm gaya bicaramu sudah pantas menjadi bos." Devan menginterupsi.


"Ehmm iya, nanti kalian akan berkunjung kemana saja?" tanya Alex sambil menyesap minumannya.


"Adikku ingin berkunjung ke suatu tempat." jawab Devan singkat, membuat orang yang mendengarnya sangat kesal.


"Apa kalian tidak capek jika langsung melanjutkan kunjungan kalian?"


"Siapa bilang kita akan langsung melanjutkan perjalanan." bantah Devan.


"Iya siapa tahu saja."


"Karena tadi yang aku dengar, adik kamu ingin langsung ke sana."


"Aku tak akan menurutinya, sebelum dia beristirahat dulu."


"Hei aku ada didepan kalian, kenapa malah membicarakanku." Icha menyahut dengan ketus.


"Aku bukan membicarakanmu, tapi sedang bertanya saja."


"Tapi sama saja tahu."


Alex mengamati gerak gerik Devan, bagaimana ia memperlakukan adiknya bagaikan ratu, bahkan makan saja masih di layani olehnya.


"Apa semua orang jika memiliki adik perempuan akan dilayani seperti bayi." tanya Alex tiba-tiba.

__ADS_1


"Kalau kau yang punya adik, mungkin tak akan kau urus dengan baik."


"Makanya suka bicara sembarangan."


"Bukan itu yang aku maksud." Alex menjadi gelagapan sendiri dengan yang ia bicarakan, niat hati mau meledek Devan, malah dirinya yang kena batunya.


"Tentu saja seorang kakak harus memperlakukan adiknya dengan baik."


"Kau tak pernah merasakan kehilangan, makanya suka bicara asal." Devan sambil membuka cangkang lobster dengan tangannya lalu di taruh didepan Icha. Hingga makan Icha selesai.


"Ehmm iya, maafkan aku jika menyinggungmu."


"Baiklah, aku akan membayar tagihannya dulu."


Alex bangkit dari duduknya untuk meminta bill tagihan dan menghampiri dua orang kakak beradik itu kembali.


Mereka melanjutkan perjalanan kembali untuk check in ke hotel.


"Hari ini gunakan waktumu untuk beristirahat,"


"Besuk pagi saja kita pergi berkeliling." Icha mengangguk mengerti lalu masuk ke dalam kamarnya yang bersebelahan dengan kakaknya dan juga Alex, dirinya yang berada dikamar tengah.


Hari itu karena lelah, Icha membersihkan diri, lalu merebahkan tubuhnya yang lelah diatas ranjang, dan tak terasa matanya sudah terlelap dialam mimpinya.


Namun pada saat hampir tengah malam, dirinya terbangun dan pergi ke cafe terdekat, di dalam area hotel itu.


Cafe itu buka dua puluh empat jam, sehingga suasana masih tetap ramai, walaupun hampir tengah malam sekali pun.


Icha membeli minuman dingin dan snack ringan, lalu duduk mengambil posisi di pinggir, dibalik kaca itu terdapat kota Turki yang sangat indah dengan hiasan lampu warna wani.


"Ehmmm." Alex berdehem, berusaha menyapa dengan memberikan isyaratnya.


"Aku baru saja bangun, makanya kemari."


"Kamu sendiri juga kenapa belum tidur?"


"Aku sedang menyelesaikan tugasku untuk persiapan besuk bertemu klien di Istanbul."


Icha menganggukkan kepalanya pelan. "Lalu kenapa tak kau gunakan waktumu untuk beristirahat?"


"Aku belum mengantuk."


"Apa kau terbiasa tidur tengah malam?" tanya Icha sambil menyesap minumannya yang tinggal setengahnya itu.


"Tergantung."


Icha mendongak menatap Alex, dirinya ragu-ragu ingin bertanya banyak hal mengenai Arka.


"Apa kamu sudah benar-benar putus kontak dengannya." celetuk Alex tiba-tiba.


Icha diam sebentar, dirinya tahu siapa yang dimaksud oleh dia dalam pertanyaan Alex ini.


"Dia akan menikah, tak sepantasnya membicarakan orang yang sebentar lagi akan menjadi milik orang." Icha menjawab pertanyaan Alex dengan suara lemahnya.


"Tapi belum tentu juga dia akan jadi menikah."


"Dia sudah ikhlas melepaskanku, lalu apa lagi yang mau aku harapkan darinya?" Icha menatap netra Alex.

__ADS_1


Alex sekilas merasa salah tingkah ditatap oleh Icha seperti ini.


"Apa kamu sudah tak mencintainya lagi?"


"Dia yang tak mencintaiku lagi."


"Ehmm maaf kalau aku lancang dalam hal ini,"


"Tapi aku selama ini hanya bertanya-tanya saja dalam hati."


"Apa benar dengan semua yang dikatakan oleh Arka?"


"Apa maksud kamu?" tanya Icha tak mengerti.


"Arka mengatakan padaku, jika kamu memiliki hati yang lain selain dirinya?"


"Aku tak mengerti apa yang kamu bicarakan?"


"Sebulan setelah kalian putus hubungan, Arka bercerita padaku, jika kamu telah berselingkuh, atau memiliki kekasih hati yang lain!"


"Apa benar dengan yang dikatakan Arka itu."


Icha terdiam sejenak, "Bukankah dia yang telah mengkhianatiku lebih dulu,"


"Pada malam ulang tahunnya, aku datang ke apartemennya, dan aku mendapati dirinya sedang tidur dengan perempuan lain."


"Seharusnya dia tak memilihku, jika ingin segera menikah,"


"Karena aku masih meniti karirku, kau pasti paham soal itu."


Alex yang mendengarkan cerita Icha menyimpulkan, ucapan siapa yang harus dipercaya.


"Aku tak masalah kau tak ada dipihaku, aku juga tak ingin mencari pembelaanku sendiri."


"Apa lagi mencari muka untuk masalah ini."


Icha kembali menyesap minumannya yang sudah tidak begitu dingin lagi, dan hanya tinggal sedikit.


"Aku tak membela siapa-siapa, tapi yang aku simpulkan dari ceritamu dan ceritanya, sepertinya kalian salah paham."


"Terserah apa kata kamu saja, yang jelas aku ingin hidupku tenang, dan tak ada siapa pun yang mengusik hidupku."


"Aku permisi dulu, aku rasa sudah terlalu lama berada disini, aku juga takut jika kakakku nanti mengecek keberadaanku."


"Aku permisi dulu."


Alex mengangguk, mengamati kepergian Icha yang sudah tidak terlihat lagi punggungnya.


"Dari mana saja kamu?" tanya kakaknya berkacak pinggang. Berdiri didepan pintu masuk kamarnya.


"Maafkan aku kak, aku terbangun dari tidurku tadi, terus aku pergi ke cafe mencari minuman dingin dan beli ini." memamerkan benda ditangannya, aneka macam snack.


"Masuklah ini sudah tengah malam, tak baik keluyuran malam-malam begini."


Icha mengangguk lalu, menutup pintu kamarnya perlahan


dan

__ADS_1


bersambung


__ADS_2