Menikahi Adik Sahabatku

Menikahi Adik Sahabatku
Perjodohan


__ADS_3

"Siapa yang mau kalian jodohkan." Tiba-tiba saja Arka mendengarkan sepotong pembicaraan mereka berdua.


"Ehh cepat sekali mandinya." Ibunya Arka mengalihkan pembicaraannya.


"Siapa memangnya yang mommy jodohkan tadi."


"Ehmm begini, duduklah dulu."


Arka mengikuti kemauan ibunya, duduk di kursi yang sudah di tarik oleh. Sepasang suami istri itu saling memandang satu sama lain, lalu ayahnya hanya mengangkat bahunya tidak tahu sambil memulai makan malamnya.


Arka tentu saja memandang sikap aneh mereka, melihat ayah dan ibunya bergantian. Lalu menggelengkan kepalanya pelan.


"Ehmmm begini nak, karena kamu adalah putra kami satu-satunya, maka kami berniat akan menjodohkanmu dengan perempuan yang memiliki latar belakang yang baik."


Seketika Arka mendengarkan hal itu mendongakkan wajahnya, menatap ayah dan ibunya bergantian.


"Tetapi tak usah khawatir, ini hanya perkenalan dulu, belum serius, jika kalian merasa tak cocok juga tak apa-apa kok."


"Mommy tak usah repot-repot mencarikanku jodoh, aku sudah memiliki pilihanku sendiri." Jawab Arka setenang mungkin sambil menyuapkan makanannya ke dalam mulutnya.


"Benarkah, wahh kalau begitu jangan lama-lama, karena mommy sudah ingin menimang cucu seperti teman-teman mommy yang lainnya."


"Apakah dia memiliki latar belakang yang baik,seperti bibit, bebet dan bobot." Tanya ibunya sangat antusias.


"Mommy tak usah memandang yang tinggi dulu, karena sekalipun aku menikah dengan perempuan miskin pun masih bisa menafkahi sampai tujuh turunan."


Seketika itu pupus sudah harapan nyonya Felix yang ingin memiliki menantu seperti Iren, Dia adalah model cantik kelas atas, memiliki latar belakang yang sama dengannya, dan salah satu anak dari kolega bisnis tuan Felix.


"Apa kamu yakin dengan pilihanmu itu?" Ucap nyonya Felix memandang tajam putranya, sementara tersangkanya malah makan dengan tenang tak begitu tegang menanggapi ucapan ibunya.


Pasalnya Arka sendiri juga bekum tahu dengan jelas latar belakang Icha, sepertinya identitasnya sengaja di sembunyikan, sehingga sulit sekali di tembus oleh detektif sekali pun.


"Memangnya apa yang mommy harapkan dari menantu kaya pilihan mommy?"


"Tentu saja harus memiliki kasta yang sama dengan kita." Nyonya Felix tak henti-hentinya menahan kekesalan pada putra semata wayangnya ini.


"Yang mau menikah ini mommy atau aku."


"Kenapa malah mommy yang repot sekali mencari calon pasangan." Ucap Arka telak. Sementara itu ayahnya diam tak mau ikut campur urusan dua orang ini.


"Sudahlah mom, mommy ini juga seperti tak pernah muda saja."


"Biarkan saja anak mommy itu menentukan pilihannya sendiri."


Seketika nyonya Felix tak bersuara lagi mendapatkan peringatan dari suaminya. Sungguh hal ini tentu saja membuat nyonya Felix sebal.


"Apa jangan-jangan dari kemaren mommy memintaku pulang ke rumah hanya mau membahas soal hal ini." Tanya Arka curiga.

__ADS_1


Tetapi ibunya bungkam tak bersuara lagi, itu sudah bisa di tebak oleh Arka jika tebakannya adalah benar adanya.


Selesai makan malam Arka berbincang-bincang dengan ayahnya di teras belakang, membahas bisnis dan perkembangannya. Hingga terdengar sebuah notifikasi masuk di ponselnya.


" Icha sedang pergi ke suatu tempat." Alex mengirimi pesan padanya dan seketika itu, Arka berdiri dan meninta ijin pada ayahnya untuk menghubungi seseorang dengan dalih membicarakan bisnis.


"Apa benar pesan yang telah kau kirimkan padaku tadi?" Arka ketika melakukan panggilan di ponselnya. Dirinya saat ini sudah berada di balkon kamarnya, sedang berbincang dengan Alex asistennya.


"Ehmm iya, berdasarkan gps yang aku lihat, dirinya sedang pergi ke suatu tempat, tetapi masih belum jelas dirinya pergi ke mana."


"Baiklah pantau terus keberadaannya." Lalu mematikan panggilan itu sepihak.


Saat ini Arka sedang duduk di kursi balkon kamarnya, dirinya begitu kesepian tanpa keberadaan Icha. Sungguh suasana hatinya kurang baik. Hingga dini hari barulah dirinya masuk ke kamarnya dan memejamkan matanya pada saat waktu sudah memasuki dini hari.


***


.


Pagi hari menjelang, Arka baru saja turun dari atas dan menuju ke teras belakang untuk melihat tanaman ayahnya, namun dirinya melihat ibunya itu sedang berbincang dengan seorang perempuan.


Arka hanya melihat punggungnya saja, wanita itu hanya terlihat punggungnya saja, Arka berjalan mendekat menghampiri ibunya.


"Siapa yang menanam bunga-bunga ini mom?" Tanya Arka pada ibunya. Tentu saja perempuan cantik yang tingginya ideal itu ikut menoleh padanya.


"Oh itu daddy kamu."


"Tidak ada, hanya saja bunganya cantik-cantik."


"Oh iya Ka, kenalkan ini Iren yang mommy ceritakan ke kamu kemaren."


"Iren kenalkan ini Arka putra mommy."


Mereka bersalam dan menyebutkan tangannya masing-masing, tadi Iren di suruh ibunya mengantarkan kue untuk nyonya Felix. Tidak di sangka ternyata anaknya nyonya Felix sangat tampan.


Iren sampai dibuat tak berkedip untuk beberapa saat, barulah sebuah panggilan menyadarkan lamunannya.


"Ayo kita mengobrol di sana." Ajak nyonya Felix pada anaknya dan juga Iren.


"Oh iya tante, aku baru tahu jika tante memiliki putra, aku kira tante hanya memiliki seorang putri saja."


"Oh Yara maksud kamu."


"Iya begitulah mereka itu jarang sekali di rumah, sehingga om dan tante sangat kesepian."


"Tante juga berharap, agar putra tante ini segera menikah dan memiliki anak, agar kami tak kesepian lagi."


Dalam hati Iren bersorak senang, karena dirinya adalah kandidat pertama yang akan menjadi calon mantu keluarga kaya ini.

__ADS_1


"Kalian bisa saling mengenal dulu, siapa tahu cocok dengan anak tante,"


"Ehmm tante tinggal sebentar dulu iya." Tante Felix pura-pura pergi ke belakang, agar misinya ini berhasil. Namun Arka hanya cuek saja tak begitu memperhatikan wanita cantik di depannya ini.


"Ehhmm Arka apa kesibukan kamu selama ini." Tanya Iren basa-basi.


"Bekerja." Jawab Arka singkat, pandangannya masih memperhatikan ponselnya.


"Ehmmm apa akhir pekan besuk ada kesibukan?" Tanya Iren lagi.


"Belum tahu."


"Jika tak ada kesibukan, bolehkan aku meminta tolong padamu?"


Arka mendongak menatap wajah perempuan cantik di depannya ini. "Jika aku tak sibuk."


"Ehmm baiklah, kalau begitu aku akan menghubungi kamu lagi besuk."


Arka hanya diam saja tak menjawab. Iren merasa dirinya di cuekin, namun tak patah arang dengan usahanya mendekati Arka, apalagi dirinya mendapatkan lampu hijau dari ibunya.


"Baiklah kalau begitu aku permisi dulu."


Arka hanya mengangguk saja dan menjawab seperlunya ketika berbicara dengan Iren. Padahal Iren jantung sudah melompat-lompat di dalam sana.


"Nak Iren mau kemana?"


"Ehmm saya mau pamit pulang dulu."


"Tidak bisa begitu, tante sudah menyiapkan sarapan banyak, ayo kita sarapan bareng dulu."


Iren akhirnya mengikuti saja kemauan ibunya Arka, dirinya duduk berhadap-hadapan dengan Arka, sesekali mencuri-curi pandang pada lelaki tampan di depannya ini.


"Sungguh lelaki yang sangat tampan," batin Iren bermonolog.


"Silahkan nak Iren makan yang banyak, supaya tante tak sia-sia memasak tadi."


"Mommy terlihat sangat ramah sekali dengan perempuan ini, apa istimewanya dia." Batin Arka tak peduli dengan semua itu.


Dirinya hanya fokus makan saja, tak mau memikirkan hal lain, apa lagi soal permintaan ibunya untuk mengenal Iren lebih dekat dan menikah lebih cepat.


Sungguh semua itu butuh kemantapan hati dan tak bisa sembarang asal pilih saja. Tetapi bukan itu tujuan utama Arka, dirinya lebih mengutamakan kenyamanannya saja. Dengan siapa hatinya memilih. Namun saat ini sepertinya hatinya sudah tertaut oleh satu perempuan yang menyimpan nama di hatinya.


dan


Bersambung


Bang Arka sudah kangen banget ma pujaan hatinya kayaknya

__ADS_1


__ADS_2