
"Ini ponselmu, tadi aku tak sengaja melihatnya ada pesan masuk." Megan memberikan benda bentuk persegi panjang itu pada Icha.
"Siapa?" tanya Icha sambil memakai rok diatas lutut untuk outfit hari ini.
"Kau lihat saja sendiri."
Icha mengambil ponsel dari tangan Megan dan membukanya.
"Kak Arka mengajak bertemu." lirihnya.
"Iya... itu terserah kamu mau menemuinya atau tidak."
"Udahlah, ayo kita keluar, soal itu dipikir saja nanti."Icha.
Icha selesai menyisir rambutnya dan juga memakai make up, menarik tangan Megan keluar untuk sarapan pagi.
Ternyata disana sudah ada banyak orang, termasuk Arka. Namun ada satu hal mengalihkan perhatian Icha dan Megan. Megan bertanya-tanya siapa perempuan yang duduk di sebelah dosen Arka itu. Sedangkan Icha hanya cuek saja menarik kursi dan mendudukkan tubuhnya disana.
"Mengajak bertemu, apakah dia hanya mau menunjukkan kemesraannya saja di depan mataku yang suci ini." batin Icha kesal tetapi masih berusaha menarik sudut bibirnya untuk tersenyum.
"Selamat pagi semuanya, maaf kami terlambat." ucap Icha ramah.
Sebagian dari mereka ada yang menjawab langsung dan ada juga yang menjawab dengan menganggukkan kepala saja.
"Duduklah." Devan dengan muka datarnya.
Jika dalam posisi bekerja seperti sekarang, kakak adik ini akan bersikap profesional.
"Silahkan di nikmati hidangan yang ada, hanya ini yang bisa kami sajikan." ucap Devan merendah.
"Ehmmm ini semua sudah sangat istimewa," ucap Raka tiba-tiba rekan kerja Devan itu.
"Ehmm iya ini adalah makanan khas Indonesia," Devan membanggakan menu asal negara ibunya itu, disana tersaji berbagai aneka makan yang tersaji di meja makan.
"Semoga cocok dengan lidah kalian." Devan menimpali lagi.
"Ini adalah salah satu makanan kesukaanku ketika aku berada di Indonesia," Raka menyahut.
"Aku rasa kamu semuanya suka." Devan mencibir.
"Ck, kau ini..., hanya makanan tertentu saja yang aku sukai."
"Ini kak jika kakak mau." Icha mengulurkan serabi hangat yang diatasnya di taburi kelapa parut itu. Menyodorkan di depan Raka yang tak jauh darinya.
"Ehmmm iya terimakasih, aku akan mencobanya." Raka menerima dengan senang hati.
Berbeda dengan Arka, melihat interaksi antara Raka dan juga Icha membuat hatinya terbakar api cemburu, ia menjadi hilang nafsu makannya.
"Anda mau makan apa tuan?" tanya Jenifer yang melihat piring Arka masih kosong.
"Tuan..." menoel lengannya pelan, menyadarkan Arka dari lamunannya.
__ADS_1
"Anda ingin makan menu apa tuan?" tanya Jenifer mengulangi sekali lagi.
"Tak usah repot-repot, duduklah aku bisa mengambil sendiri." ketusnya.
Ia mengambil alih piring yang tadi sempat di pegang Jenifer, untung saja yang lainnya tidak menyadari perdebatan mereka. Sehingga Jenifer kembali duduk di tempatnya dan meneruskan acara sarapan paginya.
Walaupun mendapatkan bentakan dari Arka, tapi Jenifer tak patah arang untuk mendekati Arka, dirinya tetap bersemangat memberikan perhatian pada bosnya ini.
Icha hanya melirik sekilas perdebatan kecil antara Arka dan juga Jenifer sekretarisnya.
"Sok-sokan menunjukkan kemesraan lagi." batin Icha yang jika hanya di lihat sekilas mereka seperti tampak saling memperhatikan.
Acara sarapan pagi selesai, Megan kembali ke kamarnya dan Icha memasuki aula meeting yang dihadiri beberapa orang pengusaha muda yang kompeten.
Kali ini Icha sebagai pemimpin rapat sekaligus penerjemah dan pemandu acara hingga selesai. Bisa dikatakan sebagai mc yang merangkap sebagai penerjemah.
"Baiklah, karena semuanya sudah berkumpul, maka rapat akan saya buka."
"Terimakasih para tuan muda yang terhormat, yang datang dari berbagai negara, dan disatukan dalam rangka kerjasama ini."
Icha menjelaskan panjang lebar mengenai perkembangan proyek yang akan dimulai, kali ini kerangka yang mereka buat akan dimatangkan dan disahkan. Setelahnya proyek akan segera di laksanakan.
Para tuan muda yang menyimak penjelasan Icha yang runtut dan juga jelas membuat mereka semua takjub, tak terkecuali Arka yang statusnya mantan kekasih Icha.
"Baiklah rapat saya tutup dan akan kita lanjutkan dua hari lagi." ungkapnya.
Icha pamit mohon undur diri dari ruangan itu, dan berjalan tergesa menuju kamarnya.
"Kau sudah kembali?" tanya Megan.
"Tidak.."
"Apa kau akan menemui dosen Arka sekarang?" tanya Megan menutup ponselnya, memandang ke arah Icha.
"Sudahlah, aku malas menemuinya." Icha melepas jasnya dan menaruh asal, dirinya duduk di sofa sebelah Megan, memejamkan matanya lelah.
"Kenapa cepat sekali rapatnya?"
"Memangnya mau berapa lama, lima jam juga sudah melelahkan." Icha sambil menyenderkan kepalanya pada sandaran sofa.
"Tapi bagaimana jika dosen Arka mencarimu."
"Aku tak peduli."
Icha beralih tempat, menuju ranjang dan tidur tengkurap disana.
"Hah bingung juga aku melihat hubungan kalian." Megan memandang Icha lama, menggelengkan kepalanya pelan.
Namun tak berapa lama terdengar suara pintu diketuk dari luar,"Siapa siang-siang begini ada yang mengetuk pintu." Megan bergumam sambil berjalan kearah daun pintu.
"Iya ada apa?" tanya Megan namun begitu terkejut kala pintu terbuka menampakkan wajah Arka.
__ADS_1
"Mana Icha?" tanya Arka langsung tanpa basa basi, dan memandang tajam pada Megan.
"Ehmm itu, anu." Megan menjadi bingung sendiri dan salah tingkah.
"Apa ada yang kau sembunyikan."
"Cepat katakan, aku tak suka mengulangi pertanyaan yang sama."
Megan yang sudan paham asli wataknya Arka bagaimana menjadi kaku dibuatnya.
"Icha sedang tidur kak." Megan.
Arka mengisyaratkan matanya agar Megan keluar dari kamar mereka.
"Oh Tuhan, kenapa aku gemetaran dan ketakutan sih, padahal kan yang salah Icha bukan aku." dumelnya sepanjang jalan ia keluar dari kamarnya.
"Awas saja Icha jika sudah bangun nanti, kena getahnya juga kan aku."
Megan pergi ke taman sayuran dan juga buah-buahan dan duduk disana.
Didalam kamar sepeninggal Megan Arka duduk disebelah Icha, lama ia memandang wajah berkulit putih pucat itu. Terlihat damai jika sedang tidur seperti ini.
Lama kelamaan Arka menjadi mengantuk dan merebahkan tubuhnya di samping Icha dengan tidur terlentang.
Satu jam Arka ikut tertidur, Icha yang sudah nyenyak dalam mimpinya memeluk benda di sebelahnya yang ia kira guling namun ketika membuka matanya pelan.
"Ahhhh....."
"Hei, kenapa kau berteriak." Arka reflek ikut terbangun dan membungkam mulut Icha.
"Kak Arka, kenapa kamu ada disini?"
"Kenapa memangnya."
"Ini bukan kamar kakak."
"Sana keluar, nanti kalau ada yang melihat bagaimana?" paniknya, terbangun dari tidurnya dan mengucek matanya yang masih sedikit mengantuk itu.
"Biarkan saja, sama calon istri sendiri." ucapnya santai.
"Calon istri apanya, kepedean sekali." ketusnya.
Arka ikut menyipitkan matanya, mengumpulkan kembali nyawa yang masih setengah sadar dan tidak sadar.
Mungkin jika selain Icha entahlah, sudah mendapatkan omelan dan juga hukuman dari Arka.
"Tunggu dulu kau mau kemana?" tanya Arka menghentikan langkah kaki Icha.
"Aku mau cuci muka, kakak mau ikut."
Arka tanpa berpikir panjang membuntuti Icha dari belakangnya.
__ADS_1
dan
Bersambung