Menikahi Adik Sahabatku

Menikahi Adik Sahabatku
Salah Paham


__ADS_3

Waktu petang hampir saja tenggelam, menampakkan semburat merah di ufuk barat, "Hah lelahnya." kala sebuah helikopter mendarat fi belakang Villa kakek Kusuma.


"Hah..., apa aku tak salah dengar, kamu kan baru saja bangun, masak iya sudah merasa lelah saja, atau kamu semalam habis ngapain saja dengan kak Arka?" tanya Megan menghentikan langkah kaki Icha yang baru saja akan turun dari helikopter.


"Hemm kamu ini selalu itu saja yang kamu tanyakan, mending cari saja tuh pasangan baru buat kamu, atau kalau tidak sana sama Anton saja."


Anton merupakan bodyguard baru yang di tugaskan oleh Devan untuk mengawal kemana saja Icha pergi. Baru beberapa bulan Anton bergabung dengan mereka.


"Ogahh ahh, aku masih tidak tertarik untuk itu."


"Supaya kamu tidak kudet, taunya mengikuti aku saja kan."


"Iya itu karena aku kerjanya bareng kamu nona." sergah Megan.


"Hemmm baiklah, ayo kita masuk, aku sudah ingin merebahkan tubuh lelahku." Icha menyeret kopernya sendiri, karena rupanya Anton lebih dulu sampai di Villa tadi pagi berangkat dengan Arka.


"Baiklah, jangan lupa menggunakan pengaman dulu atau alat kontrasepsi, agar kamu tak kebobolan,"


"Apaan itu?"


"Ck, sudah menikah tapi tak tahu alat begituan, yang benar saja kamu itu?"


"Kalau tahu iya ngapain juga aku tanya nona."


"Hemm baiklah, ponselmu kan canggih, iya tinggal ketik-ketik saja di aplikasi pencarian apa yang kamu mau."


"Pelit sekali kamu itu."


"Aku hanya malas saja menjelaskan padamu, karena nanti kamu akan bertanya banyak hal, sudah sana masuklah, aku juga akan beristirahat tahu."


Megan meninggalkan Icha yang berjalan dengan langkah gontai, "Habis menikah tapi sama saja kemana-mana sendirian, kan gak lucu." keluh Icha.


Ketika dirinya akan berjalan menuju kamarnya, dia lupa jika sudah menikah," Kamu ngapain muncul lagi?" tanya Megan yang tadi sudah membuka pintu kamarnya.


"Iya masu istirahat di kamar lah, mau ngapain lagi."


"Tidak, tidak tidak, sana iya, sekarang kondisinya sudah berbeda kamu sudah menikah, jadi kamu harus pindah kamar satu ruangan dengan suami kamu sana." usir Megan seperti mengusir sesuatu dari hadapannya.


"Aku mohon, untuk malam ini saja." Icha memohon dengan mengatupkan kedua tangannya.


"Tidak, sudah ku bilang tidak iya tidak." Megan bersedekap dada, memasang muka juteknya.


"Baiklah, semoga tidurmu nyenyak." Icha berbalik arah dan berjalan dengan malas menuju kamar yang di tempati Arka. Mau tak mau dirinya harus pindah di sana, karena seluruh kamar sudah full di isi oleh tamu-tamu rekan kerja kakaknya dan juga kakeknya.


"Kak Arka, ngapain dia berada dikamar Jenifer." Icha menghentikan langkah kakinya, tubuhnya ingin segera berjalan memasuki kamar Arka, tapi langkah kakinya memaksa untuk menahannya. Pintu yang terbuka sedikit itu tentu saja membuat dua orang yang berada disana kelihatan. Tetapi hanya punggung Arka saja yang kelihatan.

__ADS_1


"Kenapa perasaanku tiba-tiba saja tidak enak begini?" Icha memegangi detak jantungnya sendiri, seperti menahan sesuatu amarah yang siap meledak saat itu juga.


"Aduhh Arka, pelan-pelan saja, ini sakit."


"Ssttt diamlah, jika kamu berisik seperti ini akan membutuhkan waktu yang sangat lama."


Mendengarkan percakapan samar dua orang yang berada di dalam sana membuat hati Icha bergemuruh dan terbakar api cemburu. Bahkan kini tangannya mengepal kuat.


Detik berikutnya Icha sudah bisa menguasai emosinya dan pergi meneruskan langkah kakinya, "Dasar suami laknat, aku jadi curiga jika mereka memiliki hubungan." Icha menutup pintu kamarnya dan membanting daun pintu yang bahkan tidak bersalah.


"Aku sangat kesal kesal, bolehkan aku berteriak." berbicara sendiri dan menaruh tas jinjingnya asal.


"Dari awal memang mereka mencurigakan, tapi aku tak boleh lemah dan tak boleh kalah,"


"Okey pertarungan akan dimulai, kita lihat saja siapa pemenangnya." gumam Icha lagi.


Tok...tok...


Terdengar suara pintu diketuk dari luar, "Kakak..."


"Kamu sudah sampai?" tanya Devan yang entah kapan berangkatnya, tiba-tiba saja nongol di sana.


"Ehmm iya kak baru saja, kakak sendiri kapan berangkat kesini?"


"Sudah dari tadi siang, mana suami kamu?"


"Tentu saja, masih banyak hal yang harus kakak urus dengannya."


"Tapi dia tidak ada dikamar." ucap Icha kesal jika mengingat kelakuan suaminya.


"Ada apa kamu mencariku?"


"Dari mana saja kamu, apa kamu tidak tahu jika istrimu ini sudah pulang?"


"Aku ada urusan sebentar tadi."


"Sayang kamu kapan sampai?" Arka menghampiri Icha dan menaruh tangannya ke bahu Icha lalu mengecup puncak kepalanya, yang seolah hanya ada mereka berdua saja disana, tanpa menghiraukan keberadaan Devan.


"Ck, kalau mau bermesraan tunggulah nanti jika pekerjaan sudah selesai." ketus Devan.


"Syirik saja lihat orang senang."


"Baiklah sayang, aku akan mengurus pekerjaan dulu, kamu bersihkan diri dulu, kalau mau istirahat dulu juga tidak apa-apa."


"Hemm iya aku tahu." Icha juga menjawab malas.

__ADS_1


"Dasar sok sok an perhatian pula, aku rasanya sangat mual sekali, padahal baru saja dia bermesraan dengan perempuan lain, bisa-bisanya seperti itu."


"Hah membuatku kesal saja." Icha merebahkan tubuhnya diatas ranjang king size yang sangat nyaman itu.


"Lebih baik aku menghubungi Hyun, Hana dan juga Yuju."


Icha melakukan panggilan melalui Vcall. "Hallo..." Yuju pertama kali yang tersambung.


"Hey Yuju, bagaimana kabar kamu? aku sangat merindukan kalian." ucap Icha dan disusul dengan Hana dan Hyun sambungan Vcall itu.


"Heyy kalian, kenapa pada sibuk semua?" ucap Hana menginterupsi.


"Iya tentu saja sibuk, sibuk cari cuan." ucap Icha lalu tertawa menutup mulutnya sendiri.


"Icha..., kenapa aku jadi curiga?" ucap Hyun.


"Hyun kamu tak usah berprasangka buruk dulu, katakan kenapa kamu curiga?"


"Kenapa kamu akhir-akhir ini susah sekali dihubungi? apa kamu begitu sangat sibuk?" tanya Hyun.


"Iya..., apa jangan-jangan dia sedang ada gebetan baru?" Hana lalu tertawa.


"Ah kalian kerjaannya hanya berspekulasi sendiri saja, kan sudah ku bilang, jika aku sibuk mencari cuan yang banyak."


"Ehh padahal kalau iya juga tidak apa-apa loh." ucap Yuju menimpali.


"Ahh terserah kalian saja mau berkata apa deh, intinya aku menelpon hanya kangen kalian saja, apa kalian tidak merindukanku?" tanya Icha lagi.


"Tentu saja kami semua merindukanmu, katakan dimana kamu sekarang?" Yuju.


"Aku sedang berada di Villa kakekku, kapan-kapan aku akan mengajak kalian liburan kesini."


"ku tak akan percaya jika tidak langsung kamu ajak kesana?" Hyun.


"Ehh kenapa, itu muka kamu juga kenapa begitu," Icha.


"Tentu saja, janjimu dulu saja belum kamu tepati?" Hyun mengerucutkan bibirnya lucu.


Seketika Icha memutar memorinya yang dulu-dulu, kapan dirinya pernah membuat janji dengan Hyun ataupun mereka yang belum ditepati.


"Kamu sudah lupa kan?" tanya Hyun lagi.


"Janji apaan? aku tak mengerti." Hana.


"Itu loh masak kalian lupa, jika kita akan diajak olehnya berkeliling naik helikopter."

__ADS_1


"Oh asataga, Hyun." Icha membuatnya merasa bersalah karena lupa akan hal itu, percakapan mereka sangat asyik hingga berlangsung lebih dari satu jam hingga Arka kembali tanpa di hiraukan keberadaannya.


"Apa yang mereka bicarakan?" gumam Arka sedikit kesal, pasalnya dirinya jadi dicueki istrinya


__ADS_2