
"Aku juga serius." kata Arka.
Icha terdiam, memikirkan soal foto Arka yang ada di dalam ponsel Hana. Entahlah pikirannya campur aduk, ia menduga jika Hana begitu naksir suaminya.
Tetapi sayang sekali pernikahan mereka rahasia. Itu karena dirinya masih terikat kontrak dengan pihak agensi idol K-pop.
"Kenapa? apa ada hal lain mengganggu pikiranmu?" tanya Arka. Masih dengan posisi yang sama.
Icha menggelengkan kepalanya, tetapi manik matanya telah berbohong pada Arka.
"Sayangnya kamu tidak pandai berbohong nona." kata Arka, menghujani istrinya ciuman bertubi tubi di pipi halusnya dan terkadang di bibir manis istrinya.
"Katakan, apa yang membuatmu tidak bisa tenang begini." kata Arka mencecar Icha.
Icha masih terdiam, belum mau bersuara, bahkan mulutnya masih terkatup rapat, pandangannya ia buang ke segala arah. Untuk menghilangkan kegugupannya.
"Sayang, dengarkan baik baik."
"Aku ini suami kamu, aku rasa tidak ada lagi rahasia diantara kita, masalahmu adalah masalahku, dan masalahku adalah masalahku sendiri."
"Apa maksudnya?" tanya Icha, memberanikan diri menoleh pada suaminya.
"Disini akulah kepala keluarganya, sudah seharusnya kan aku memberikan perlindungan yang terbaik untuk istriku."
"Manis sekali." kata Icha, menarik sudut bibirnya, membuatnya tersenyum simpul.
"Jangan alihkan pembicaraan."
"Ayo katakan dengan jujur, atau aku akan mencari tahu sendiri."
Icha menggelengkan kepalanya, lalu tersenyum simpul, "Tidak ada sayang, aku hanya sedih saja, jika aku konser keliling dunia, aku akan meninggalkanmu sendirian, dan kita akan berjauhan."
"Aku merasa menjadi istri yang buruk." ucap Icha beralasan. Untuk menutupi rasa gundah di hatinya.
Arka mengangguk setuju, namun sama sekali ia masih tidak mempercayai ucapan istrinya, terlihat dari manik matanya, jika istrinya ini telah berbohong. Sedang menutupi isi hatinya yang sebenarnya.
"Baiklah, aku akan menemanimu." ucap Arka terlihat sungguh sungguh.
"Sayang kau gila ya."
__ADS_1
"Itu tidak mungkin, kamu harus bekerja, jangan ikuti aku terus, nanti bagaimana dengan pekerjaan kamu?"
"Bagaimana dengan ribuan karyawan kamu yang hidupnya menggantungkan bosnya daru pekerjaan yang mereka tekuni, sedangkan bosnya tidak bekerja dan malah mengikuti istrinya kemana mana." omel Icha bersungut sungut, menegakkan punggungnya.
"Hemmm apa istriku sedang marah?" tanya Arka.
"Jangan meledekku aku serius tahu."
"Aku juga serius." jawab Arka, terlihat santai, menaikkan sebelah alisnya.
"Sayang, aku sangat kesal denganmu." teriak Icha, memukul brutal dada Arka.
Detik berikutnya wajahnya ia benamkan di dada suaminya, menangis tertahan. "Jangan kamu tahan, jika ingin menangis menangislah."
"Aku tidak sedang menangis, aku sedang kesal." bantah Icha berkilah. Namun membuat kemeja yang dikenakan Arka basah karena air mata.
Arka terdiam sejenak, membiarkan istrinya menumpahkan emosinya, Arka juga tidak ada niatan untuk bertanya pada istrinya. Biarlah nanti Icha sendiri yang jujur padanya.
Namun ia diam diam telah menghubungi Frans, untuk mencari tahu apa yang terjadi sebenarnya dengan istrinya. Kenapa istrinya bisa sesedih ini.
Padahal yang ia tahu selama ini, jarang sekali Icha menangis, apa lagi masalah hal hal sepele. Setahu Arka hal berat saja Icha tidak menangis.
"Ada tas keluaran terbaru limited edition, apa kamu tidak ingin?" tanya Arka. Saat ini ponsel pintarnya sedang membuka gambar tas tas merek fashion brand dunia terkenal.
Masih tidak ada respon dari Icha, "Lihatlah ini, kau bisa memilih dua atau tiga, untuk koleksi terbarumu, apa kamu tidak ingin melihatnya?" tanya Arka lagi.
Mendengar hal demikian membuat Icha mengusap air matanya kasar, ingusnya yang keluar ia usap dengan kemeja bersih Arka.
"Sayang kau sangat jorok sekali." ucap Arka merasa jijik.
"Biarin, apa kamu merasa jijik, jika merasa jijik aku akan kembali ke kamarku sekarang, dan kita tidak usah bertemu dulu." ucap Icha asal.
Icha baru saja akan turun dari pangkuan suaminya, pergi keluar kamar. Namun Arka berhasil mencegahnya. "Ehh jangan jangan, siapa bilang begitu, aku tidak bilang jijik." jawab Arka menahan pergerakan Icha.
Lalu Arka terlihat menggapai sesuatu di atas meja. Mengambil tisu dan mengelap ingus istrinya, mengusap air sisa air mata Icha dengan lembut.
"Istriku ini sangat cantik, tapi alangkah lebih baiknya jika tidak jorok begini." ucap Arka hati hati.
Icha mencebik, mengerucutkan bibirnya. Membuat Arka gemas ingin melahapnya saat ini juga. "Ehhh ehhh tunggu dulu mau apa?" ucap Icha menahan suaminya.
__ADS_1
"Mau mencium istriku, mau apa lagi memangnya."
"Belum waktunya, tadi kamu nawarin aku apa?" tanya Icha masih ingat dengan tawaran suaminya beberapa menit yang lalu.
"Ck, ingat saja kau ini." ucap Arka sambil menyodorkan ponselnya ke arah Icha.
"Wauuu ini bagus bagus semua, aku ingin memilih model ini, ini dan ini,"
"Aku suka semuanya, aku belum punya warna ini, aku rasa aku harus beli warna ini, karena pakaianku warna seperti ini belum ada pasangan tasnya warna begini." kata Icha bersemangat.
"Sayang aku sudah milih tiga." ucap Icha, masih memelaskan wajahnya pada Arka.
"Lalu?"
"Ehmmm itu, boleh tidak kalau aku nambah dua lagi?" tanya Icha. Wajahnya berubah jadi imut, matanya terlihat puppy eyes.
"Tentu saja, apa sih yang tidak buat istriku bahagia." jawaban yang membuat Icha kembali segar.
"Oh sayangku, cintaku, kamu sangat baik pengertian, pokoknya suami yang diharapkan semua wanita." ucap Icha, lalu menciumi wajah suaminya bertubi tubi. Hingga membuat Arka sulit mengambil nafas.
"Sepertinya aku harus bekerja keras untuk membuat istriku senang."
"Kenapa?"
"Supaya istriku setiap hari bisa berbelanja tas, dan memberikanku ciuman setiap hari." ucap Arka konyol.
Ciuman terakhir, membuat Arka tidak tahan, dan melahap benda kenyal itu, lalu ********** dengan lembut. Menjelajah isinya. Tak ada satupun yang ia lewatkan.
Icha yang awalnya akan protes dan menarik, tengkuknya sudah tertahan lebih dulu oleh tangan suaminya.
Lama kelamaan membuat Icha terhanyut, tangan Arka membimbing tangan Icha lalu mengalungkan ke lehernya.
Suara berisik Icha berubah menjadi suara decapan dan nafas keduanya yang memburu berubah menjadi hasrat yang menggebu gebu, saling meminta satu sama lain.
Secara tidak sadar, Icha merubah posisi duduknya menjadi menghadap suaminya. Lalu meneruskan kegiatannya. "Sayang aku menginginkan." suara serak Arka berbisik di telinga Icha.
Icha menganggukkan kepalanya lemah, seluruh otaknya sudah dikuasai hasrat yang kian menjadi jadi. Arka berdiri dan mengangkat tubuh ramping istrinya, rasa sesak dibawah sana sudah memenuhi celana yang ia kenakan.
"Kali ini aku akan membuatmu tidak bisa jalan sayang," bisik Arka nakal.
__ADS_1
"Buatlah sayang, aku rasa aku tidak akan mempercayai ucapanmu?" balas Icha, tertawa nakal.