Mirage

Mirage
Jangan Sentuh Wanitaku


__ADS_3

Paradise fall.


Mira yang baru saja tiba bersama dengan Steve, masuk ke dalam dan langsung menarik perhatian setiap pengunjung yang datang.


Rekan seprofesinya dan juga samuel yang ada di balik meja barnya pun turut memperhatikan kedatangan wanita cantik nan seksi itu.


"Ehm ... maaf, Tuan Steve ...," ucap Mira.


"Steve. Panggil aku steve saja. Bukankah tadi kita sudah sepakat sewaktu di dalam mobil," ucap Steve.


"Oke, maaf. Maksudku Steve, kita berpisah di sini saja. Aku ada urusan lain," ujar Mira yang tersenyum kemudian berlalu meninggalkan pria yang baru ia kenal itu.


Namun, Steve terus memperhatikan ke mana wanita itu pergi. Bahkan, setiap orang yang menyapa pun tak luput dari perhatiannya.


"Hai, Mir. Gimana kabar lu? Lama banget lu nggak ke sini," sapa Marsha yang kebetulan sedang berada di lantai dansa.


"Kabat gue baik. Lu sendiri gimana? Adik lu aman sekolahnya?" tanya Mira.


"Aman. Thanks ya buat bantuan lu yang waktu itu," ucap Marsha kepada teman seprofesinya.


"Kaya sama siapa aja sih lu, Sha. Nyantai aja lagi." Mereka terlihat tertawa bersama.


"Ya udah. Gue ke tempat Sam dulu, yah. Bye," pamit Mira yang kemudian berlalu dari tempat Marsha berada.


Dari kejauhan, Steve yang masih memperhatikan Mira pun tersenyum dengan mengangkat sebelah sudut bibirnya, ketika melihat di mana wanita itu berada.


"Dari awal, kau memang sudah memikatku. Jadi, aku akan terus mengikutimu ke mana pun kau pergi," gumamnya.


Pria itu kemudian berjalan menuju ke bar yang ada di seberang panggung DJ. Ia duduk di sebelah wanita cantik berbaju hitam, yang selalu memikat hatinya.


"Tuan ... ehm ... maksudku, Steve. Kenapa kamu mengikutiku kemari?" tanya Mira yang terkejut karena pria itu terus mengikutinya.


"Hei, aku nggak ngikutin kamu kok. Aku cuma mau pesan minuman saja. Apa tidak boleh?" Kilah Steve.


"Oh ... baiklah. Kalau begitu silakan. Samuel ini adalah bartender terbaik lho," ucap Mira sambil melirik sekilas ke arah Samuel.


"Benarkah?" tanya Steve menoleh ke arah Samuel.


"Dia terlalu memuji, Tuan. Kemampuan saya biasa saja," ucap Samuel merendah.


"Ckk! Sok jaim lu, Sam." Mira mencebik menyindir sikap Samuel.


"Baiklah, kalau begitu aku akan memesan yang ringan saja. Aku tidak sedang dalam kondisi patah hati, jadi aku tak ingin mabuk malam ini," tutur Steve.

__ADS_1


"Baik, Tuan." Samuel pun mulai meracikkan minuman untuk tamunya tersebut.


"Wah ... sepertinya kamu sedang bahagia sekarang, Steve." Mira mengejek pria di sampingnya


"Bukankah sangat menyenangkan bisa bertemu dan berbincang bersama wanita cantik sepertimu, Mir." Steve menatap wanita yang mempesonanya itu lekat-lekat.


"Yah ... aku memang selalu menyenangkan untuk para pria. Betulkan, Sam?" Ucap Mira yang melempar tanya kepada sang bartender.


"Yah, selalu menjadi pusat perhatian," ucap Sam yang tengah sibuk dengan racikannya.


"Wah ... sepertinya, sainganku banyak juga. Apa kau sering ke sini?" tanya Steve.


"Kau terlalu terlihat baru di kota ini, Steve." Mira terkekeh mendengar ucapan pria itu.


"Yah ... aku memang baru sekitar dua minggu di sini. Bukankah sudah ku beri taukan tadi saat di mobil," jawab Steve, bersamaan dengan Samuel yang menyajikan minuman pesanannya.


"Di mana kamu sebelumnya?" tanya Mira yang semakin tertarik dengan pria asing ini.


"Aku bekerja di sebuah perusahaan yang mendesign bangunan-bangunan, hingga mengawal pembangunannya," papar Steve.


"Kamu seorang arsitek?" tanya Mira yang semakin terlihat antusias.


Bagus. Sepertinya dia mulai tertarik denganku, batin Steve senang.


"Terus, sedang apa kamu di sini?" tanya Mira sambil menopang kepalanya dengan kepalan tangan, sambil menatap ke arah Steve.


"Kebetulan sedang ada perusahaan yang mencari seorang perancang bangunan, untuk proyek pembuatan pusat perbelanjaan, dan aku mengajukan diri. Sekarang sudah masuk tahap seleksi final, dan tadi sebelum bertemu denganmu, aku diberitahu jika rancangangan ku terpilih," ucap Steve.


"Wah ... keren! Kalau begitu, malam ini kamu harus mentraktirku," ucap Mira.


"Bukan masalah besar," sahut Steve sambil menyesap minumannya.


"Ehm … Berarti kamu sering ngerancang-rancang bangunan gitu yah? Seru dong, bisa buat rumah sesuai yang kamu mau," ucap Mira dengan mata berbinar.


"Yah, bisa saja. Kalau nanti aku punya seorang pendamping, akan ku buatkan rumah impian untuknya," ucap Steve dengan tatapan lurus ke dalam manik hitam Mira.


Interaksi kedua orang itu pun, tak luput dari perhatian Samuel yang sedari tadi berada di dekat mereka berdua.


Tanpa mereka sadari, ada orang lain juga yang tengah menyaksikan kedekatan Mira dengan Steve. Orang itu tampak mengepalkan tangannya ketika melihat hal tersebut.


"Menyebalkan," gumamnya yang kemudian berbalik dan pergi dari sana.


Sementara itu, Steve dan Mira mulai terlihat begitu akrab berbincang seputar kehidupan masing-masing. Namun, lebih banyak Mira yang menanyakan seputar Steve, dan selalu mengalihkan topik ketika menyinggung dirinya.

__ADS_1


"Wah ... benar kah kau sudah pernah pergi keliling dunia? Itu sangat menyenangkan, Steve. Kamu tau, aku pengin banget bisa pergi kemana pun yang aku mau. Bertemu banyak orang yang tak mengenal ku," tutur Mira.


"Benarkah? Kalau begitu, ikutlah dengan ku saat aku kembali ke paris nanti," ucap Steve.


"Terimakasih, Steve. Tapi aku tidak yakin bisa pergi. Ada yang harus ku urus di sini," sahut Mira.


Terdengar sebuah kekecewaan ketika Mira mengatakan hal itu, dan Steve pun menyadarinya.


Pria itu mengulurkan sebelah tangannya, dan menyentuh pundak Mira. Ia mengusapnya lembut seakan menenangkan hati wanita cantik itu.


"Tidak perlu buru-buru. Aku juga masih lama kok di sini. Mungkin kamu bisa mempersiapkannya dari sekarang, kalau kau mau," ucap Steve.


Mira pun tersenyum mendengar kata-kata pri itu.


"Kau benar, Steve. Tidak perlu terburu-buru. Semua bisa diusahakan," ujar Mira.


Mereka berdua terlihat begitu akrab, hingga membuat seseorang yang baru saja tiba di tempat hiburan malam itu terlihat emosi.


Orang itu berjalan dengan cepat menuju ke arah bar, di mana Steve dan Mira berada.


Begitu sampai di sana, dia langsung menyingkirkan tangan Steve yang masih berada di atas pundak mulus Mira dengan kasar. Tatapannya tajam, dengan rahangnya yang mengeras.


Sam yang sedari tadi sibuk dengan urusannya pun, terkejut dengan kehadiran orang itu.


"Jangan sentuh wanitaku!"


.


.


.


.


Nah lho kan, othor bilang juga apa, bang. Ati-ati ada saingan. Ntara ketikung lho.


Hem ... kira-kira habis ini si nyai nasibnya bakal kek gimana ya?


Adakah yang masih setia dengan Mar-Ya, atau ada yang belok ke Mir-ve😁🤭😋


Yuk komen, othor pengin tau pendapat kalian😅


Jangan lupa like dan komen yah😊 kembang ma kopi juga boleh banget😁

__ADS_1


__ADS_2