Mirage

Mirage
Jadilah Mari kecilku, selamanya


__ADS_3

Lingga segera memeluk wanitanya. Hatinya terasa sakit mendengar penuturan Mira, akan masa lalunya yang sangat sulit.


"Maaf. Maaf karena aku tak ada bersamamu. Maaf karena aku sudah meninggalkanmu dulu. Maaf karena aku terlambat menemuimu. Maaf, Mari. Maaf," ucap Lingga sambil sesekali mengecup puncak kepala wanita itu.


Mira pun membalas pelukan prianya, dan menyandarkan semua beban yang membuat dadaya terasa sesak.


Bulir bening lolos dari sudut mata pria tampan itu, sambil bibirnya terus mengucapkan kata maaf berkali-kali.


"Kakak minta maaf sebanyak apapun, tidak akan pernah bisa mengubah apa-apa." Mira mengurai pelukannya dan melihat lingkar mata pria besarnya itu telah merah, dengan aliran yang telah terbentuk di pipinya.


Mira pun menangkup wajah Lingga, sambil menghapus jejak air mata di pipi pria itu dengan ibu jarinya.


"Semua udah terjadi, Kak. Mau menyesal seperti apapun, sudah begini keadaannya. Aku bukan lagi Mari kecilmu yang dulu. Aku yang sekarang hanyalah wanita yang sudah kotor … sangat kotor. Jujur aku malu saat bertemu lagi dengan Kakak dan Riri di negara K," ucap Mira sambil berkaca-kaca.


"Ssstttt … aku tidak peduli siapa kamu, apa pekerjaanmu, bagaimana kehidupanmu. Karena yang aku tau, kamu tetaplah Mari kecilku … cinta pertama ku," ungkap Lingga.


Pria itu seketika mencium Mira dengan begitu lembut, menyesap manisnya bibir wanita itu, dan menyalurkan perasaan yang hangat.


Mira menitikan air mata dan lolos masuk kedalam celah pagutan mereka. Tangannya seketika melingkar di leher Lingga, sambil jemarinya mere*mas rambut belakang pria itu, dan membawa ciu*mannya semakin dalam.


"Jangan menagis lagi, Mari. Aku sudah datang. Aku akan selalu bersama mu, akan selalu melindungimu, akan selalu ada untuk mu," batin Lingga.


"Thom, maaf kalau secepat ini aku melupakanmu. Semoga kau tenang di sana. Aku janji akan selalu bahagia di sini bersama pria masa laluku," batin Mira.


Ciuman mereka semakin lama, semakin dalam. Tangan Lingga sudah tak bisa dikontrol lagi, dan mulai menyusup kebalik baju yang dikenakan oleh Mira. Ia menyingkap kain pembebat dada Mira ke atas sehingga terbebaslah dua bulatan padat yang menggoda tangannya untuk semakin mere*masnya.


"Ehm …,"

__ADS_1


Mita merintih pelan di sela ciuman Lingga yang terus menuntut dan semakin dalam.


Bibirnya kini berpindah keleher jenjangnya. Dia menjilat dan menyesap, hingga menimbulkan jejak cinta kemerahan di sana.


Dia perlahan turun hingga berada tepat di depan dada Mira yang begitu menantang.


Mira begitu menikmati setiap sentuhan Lingga yang selalu bisa membuatnya melayang. Kedua tangannya terus mere*mas rambut belakang Lingga sambil menekannya semakin dalam.


Erangan dan rintihan keluar dari bibir wanita cantik itu. G*irahnya semain terbakar seiring dengan gerakan-gerakan yang diciptakan oleh Lingga.


Paus bermain dengan kedua benda itu, kini dia menuntum Mira untuk meminpin. Ia memegang tangan wanita itu dan mengarahkan ke miliknya yang mulai mengeras.


"Apa Kakak yakin sudah tak apa-apa?" tanya Mira dengan mata yang telah sayu, dipenuhi kabut g*irah.


"Lakukanlah," sahut Lingga dengan suara yang telah serak menahan gejolak n*fsu yang muncul.


Mereka saling melepas kain-kain penutup yang melindungi kulit mereka masing-masing. Semua dibiarkan begitu saja berserakan di atas lantai.


Antara g*irah, n*fsu, cinta dan rindu melebur jadi satu. Deru nafas memacu, dan peluh mulai bercucuran dari tubuh keduanya.


Hentakan demi hentakan terus membuat Mira mend*sah penuh kenikmatan. Lingga yang menuntun pinggul wanita itu untuk bergerak naik turun dengan berirama, dibuat mengejang karena rasa yang begitu dahsyat.


Geleyar-geleyar yang timbul, membuat mereka kian memacu dengan celap, membawa mereka kepuncak syurga kenikmatan tiada tara.


"Aaaaahhhhhh … Kak …," pekik Mira di sela gerakannya.


"Bersama, Sayang," ucap Lingga yang menuntun pinggul Mira agar terus bergerak.

__ADS_1


"Kak … aaaahhhhhh … aku … ke … aaaaaaahhhhhh …," des*han panjang Mira menandai mereka telah sampai dipuncaknya.


"Aaaaarrrghhhh … aaaaarrrghhhh …," Lingga mengerang seirngi dengan semburan vanila yang menyirami rahim Mira.


Mira lemas dan menjatuhkan kepalanya di pundak Lingga. Pria itupun kemudian memeluk erat wanitanya sambil menciumi peliois Mira.


"I love you," bisik Lingga di telinga Mira.


Mira tersenyum mendengarnya. Sungguh kata-kata manis yang baru pertama kali ini diucapkan lawan mainnya, setelah pertepuran panas yang mereka lakukan.


Mira mengurai pelukannya dan mengangkat kepala, membuat Lingga pun turut mengurai pelukannya.


"Lalu, aku harus jawab apa?" tanya Mira menggoda dengan senyumannya.


"Nggak usah jawab apa-apa. Cukup jadi Mari kecilku saja, untuk selamanya." Lingga menempelkan keningnya ke kening Mira dan Senyum mengembang di bibir masing-masing.


"Ehm …," sahut Mira mengiyakan dengan sebuah kedipan mata.


Kebahagiaan begitu terasa di antara keduanya, dan bibir mereka pun kembali saling terpaut.


.


.


.


.

__ADS_1


Yang bacanya siang, maaf ya😋


Jangan lupa like dan komen yah😊 kembang ma kopi juga boleh banget😁


__ADS_2