
Lingga menuntun Mira hingga sampai ke dalam lift. Dia terus merangkul pundak wanitanya dan sebelah tangan lainnya menggenggam tangan wanita itu.
Mira masih terlihat sesenggukan karena tangis sebelumnya. Dia masih tak menyangka jika akhirnya, dia akan bersama dengan Lingga.
Si ratu es sangat bahagia, namun dia masih terus saja menyalahkan dirinya sendiri, akan masa lalunya yang sangat kotor.
Meskipun, Aletta sudah memberitahukan bahwa dirinya dan Lingga sama saja. Tak ada bedanya.
Sesampainya di depan apartemen, Mira menghentikan langkahnya di depan apartemen lamanya.
Lingga menoleh ke arah wanita yang ada di sampingnya itu.
“Apa kamu masih mau tinggal di sini?” tanya Lingga.
Mira mendongak dan menatap mata Lingga.
“Temenin aku sebentar ke dalam yuk, Kak,” pinta Mira.
Lingga pun mengangguk. Dia menekan beberapa nomor passcode di pintu, dan membukakan pintu tersebut, seraya mendorong sedikit punggung Mira untuk masuk terlebih dulu.
Setelah saklar dinyalakan, tampak jelas semua kain putih yang menutupi hampir seluruh benda-benda yang ada di dalam sana. Meskipun setiap dua hari sekali, Lingga akan meminta orang untuk membersihkannya, namun kain-kain itu tetap berada di tempatnya.
Mira melangkah semakin masuk. Dia memegangi setiap benda yang dilewatinya, dan mengingat semua hal yang dia lewati di tempat itu.
Hampir seluruhnya adalah kenangannya bersama Thomas, dan kesendiriannya selama lebih dari empat tahun belakangan.
Lingga berjalan tak jauh di belakang Mira. Dia tak ingin mengganggu wanita itu. Lingga hanya memperhatikan dan menemani Mira untuk melihat tempat tinggalnya yang beberapa bulan ini ditingalkan.
Tampak Mira berdiri di samping dapur. Wanita itu terus terlihat mengusap pipinya berkali-kali. Lingga tahu betul jika wanitanya Tengah menangis.
Dia pun kemudian menghampiri Mira. Lingga meraih pundak wanita itu dan mengusapnya lembut.
“Apa kita keluar saja?” tanya Lingga.
Mira menggeleng. Dia kembali mengusap lelehan bening di pipinya itu.
“Antar aku ke kamar atas, Kak,” pinta Mira.
Lingga pun menuruti permintaan Mira. Dia menuntun wanitanya untuk naik ke lantai atas. Di sana hanya ada satu ruangan, yaitu kamar tidur yang dulu pernah ditempati Mira.
Mereka berdiri di depan pintu. Mira memutar gagangnya dan membuka papan kayu tersebut.
__ADS_1
Lingga masuk terlebih dahulu dan menekan saklar lampu yang ada di belakang pintu kamar tersebut.
Mira masuk perlahan, menyusuri setiap jengkal ruangan tersebut. Dadanya semakin sesak, dan sangat sulit untuknya bernafas.
Dia akhirnya duduk di tepi ranjang. Mira menangkup wajahnya dan menumpahkan tangisnya. Bahunya berguncang karena isaknya.
Lingga mendekat dan duduk di samping Mira. Dia merengkuh pundak wanitanya dan mengusap lembut lengan atas Mira.
“Apa kamu teringat Thomas lagi?” tanya Lingga.
Mira membuka wajahnya dan menegakkan duduknya. Dia menoleh ke arah Lingga berada.
“Ini adalah rumahnya. Aku hanya menumpang di sini. Dia akan selalu ada dalam ingatanku, sampai kapan pun,” ucap Mira yang kembali berlinang air mata.
“Aku tau, kamu sangat menyayanginya. Aku juga tak akan memintamu untuk melupakannya. Tapi akan lebih baik, jika saat kamu mengingatnya, bukan air mata yang tumpah, namun senyum yang mengembangkan di bibirmu. Ingat, bahkan sampai dia pergi pun, yang dia pikirkan hanya kebahagiaanmu. Dia akan merasa sedih, jika kamu selalu mengingatnya dalam tangis,” ucap Lingga.
Lingga mengulurkan tangannya ke arah wajah Mira, dan mengusap lelehan bening dengan telunjuknya.
“Mulai saat ini, berlatihlah menganggapnya sebagai ayah angkat mu. Dia ingin kamu melupakan skandal mu dengan dia, dan ingin agar kamu bisa hidup lebih layak, dengan semua peninggalan yang diberikan kepadamu,” pungkas Lingga.
Mira seketika merebahkan kepalanya di dada Lingga, dan melingkarkan kedua lengannya di perut pria itu. Lingga pun mendekap erat wanitanya dan mengusap punggung rapuh itu.
Cukup lama mereka berdua di dalam apartemen Mira, kini keduanya sudah kembali lagi ke apartemen Lingga di sebelah.
Mira mengambil sebuah sketsa yang terpajang di dalam kamarnya yang dulu, tepat di depan tempat tidurnya.
Gambar yang sempat dilihat Lingga, dan membuatnya yakin jika Mira adalah Mari, dan memastikan jika wanita itu masih mengingatnya.
Mira menyimpan gambar tersbut di dalam lemarinya.
Hari sudah malam, Mira dan Lingga sudah membersihkan diri masing-masing dan berganti pakain yang lebih nyaman.
Pria itu memesankan beberapa makanan lewat layanan pesan antar. Dia duduk di ruang tengah, dan menunggu wanitanya turun ke bawah.
Tak berselang lama, Mira sudah selesai mengeringkan rambutnya, dan berjalan menghampiri Lingga di tempatnya.
“Sudah laper?” tanya Lingga.
Mira duduk di samping prianya, dan menyandarkan kepalanya di pundak Lingga.
“Emh... Belum terlalu,” jawab Mira sambil mengusap perutnya.
__ADS_1
“Belum terlalu berati udah yah,” sahut Lingga.
Keduanya pun terkekeh. Lingga ikut menyentuh perut Mira yang sudah kosong. Dia mengusap perlahan tempat yang pernah terdapat sebuah kehidupan di dalam sana.
“Maaf yah. Saat Daddy harus melindungimu dengan baik, justru kamu yang melindungi Daddy,” ucap longga.
Pria itu membungkuk dan memeluk perut wanitanya. Mira mengusap lembut surai hitam Lingga, dan mengecup puncak kepala pria itu.
“Iklaskan dia, Kak. Mungkin, ini emang yang terbaik buat anak itu. Jujur, aku juga sempat bingung dengan nasibnya yang adalah anak di luar nikah,” sahut Mira.
Lingga kembali menegakkan duduknya, dan memandang wajah wanita di sampingnya.
Seolah mengerti arti tatapan Lingga, Mira pun kembali melanjutkan kata-katanya.
“Aku sempat berpikir untuk membesarkannya seorang diri, misalnya kamu nggak mau ngakuin anak ini, Kak. Tapi, ternyata kamu justru sangat perhatian pada kami berdua,” lanjut Mira.
Lingga menatap dalam manik hitam wanita itu. Dia mengusap lembut pipi Mira, dan mengecup keningnya.
Mira memejamkan matanya, meresapi sentuhan Lingga yang terasa begitu hangat. Cukup lama, setelah sekian detik, Lingga meregangkan jaraknya hingga bisa melihat wajah kekasihnya itu dengan jelas.
Mira pun membuka matanya kembali dan tersenyum ke arah prianya.
“Jangan pernah berpikir untuk pergi dariku lagi yah. Aku benar-benar bisa gila kalau harus mencarimu lagi, Mira,” ucap Lingga.
Mira diam. Namun, matanya menjawab semua permintaan Lingga padanya. Namun, Lingga ingin mendengarnya langsung dari bibir Mira.
“Katakanlah, kalau kau berjanji tidak akan pernah meninggalkan aku lagi, Hem,” pinta Lingga.
Mira semakin mengembangkan senyumnya, dan mengedipkan kedua matanya seolah mengatakan iya. Tanpa kata-kata, Mira menjawab dengan sebuah kecupan manis yang mendarat di bibir prianya.
Cukup singkat, namun begitu terasa dalam dan hangat di dada.
.
.
.
.
Jangan lupa like dan komen yah😊 kembang ma kopi juga boleh banget😁
__ADS_1