Mirage

Mirage
Tenanglah


__ADS_3

Malam hari, Mira terbangun dan melihat Lingga masih menemaninya di tempat itu, dan sudah berpindah tertidur di atas sofa kamarnya.


Dia bangkit dan duduk bersandar di head board sambil memeluk lututnya. Mira mengusap wajahnya dan berakhir di tengkuknya.


Kerongkongannya terasa kering. Ia hendak bangun dan berdiri, namun tangannya menyenggol sesuatu yang berada di atas nakas, sehingga menimbulkan suara gaduh.


Lingga pun terbangun, dan buru-buru menyadarkan dirinya. Dia terkejut melihat Mira yang telah bangun dan hendak pergi.


"Mau ke mana?" tanyanya sambil menghampiri Mira.


"Aku hanya haus," sahut Mira datar.


"Biar aku ambilkan," ucap Lingga.


Pria itu pun berjalan keluar menuju dapur, untuk mengambilkan air minum untuk Mira.


Disamping itu, Mira berjalan menuju balkonnya, dan duduk di tempat favoritnya. Ia mengangkat kedua kakinya ke atas kursi dan memeluk erat kedua lutunya.


Ia meletakkan kepalanya di atas lututnya, dengan posisi Miring ke arah kiri di mana pintu geser berada.


Tak lama, Lingga memasuki kamar, dan tak mendapati Mira di ranjangnya. Ia lalu melihat pintu balkon terbuka, dan buru-buru ke tempat itu dengan tergesa-gesa.


Dia seketika menghela nafas lega, kala melihat wanita itu berada di sana, duduk termenung dengan tenang.

__ADS_1


Lingga kemudian menghampirinya, dan menepuk punggung Mira pelan.


"Katanya haus. Ini minum," ucap Lingga sambil menyodorkan segelas air putih kepada Mira.


wanita itu pun mengangkat kepalanya, dan menerima gelas berisi air itu. Dia lalu meneguknya hingga tinggal separuh.


Mira mengulurkan kembali gelas itu, dan di terima oleh Lingga. Wanita itu kembali merebahkan kepalanya di atas lutut yang tertekuk.


Lingga meletakkan gelas itu di atas meja yang berada di samping kanan Mira. Ia lalu berlutut dengan bertumpu pada sebelah lututnya yang tertekuk menyentuh lantai, dan yang satunya tertekuk ke atas menempel pada dada bidangnya.


Ia meraih tangan Mira yang memeluk erat lututnya sendiri, dan mengusap lembut punggung tangan wanita itu.


"Di sini dingin. Kau bisa masuk angin nanti," ucap Lingga yang merasa iba dengan kondisi Mira saat ini.


Mira terllihat tak berekspresi. Sangat berbeda dari Mira yang ia lihat siang tadi. Jika sebelumnya Mira histeris dan terus menangis, kini dia cenderung diam dan datar.


Sikapnya kembali dingin dan datat, seperti saat dia ditinggalkan oleh keluarga Riri dan Arya di masa lalu.


Begitulah ekspresinya saat ini, ketika Lingga berusaha untuk menghiburnya.


Melihat Mira masih diam, Lingga semakin merasa khawatir dengan kondisi mental wanita itu. Ia sangat tau jika rasa kehilangan yang ia alami sangatlah besar.


"Ku dengar, besok dia akan dimakamkan," ucap Lingga yang membuat Mira menggerakkan bola matanya, dan memandang ke arah pria di hadapannya.

__ADS_1


"Istirahatlah. Jika kau berjanji menurut, aku akan bawa kau ke sana besok," lanjut Lingga.


Lingga pun bangkit berdiri, dan mengulurkan tangannya ke arah Mira. Namun, perempuan itu bangun sendiri dari duduknya, dan berjalan begitu saja melewati pria itu. Lingga pun hanya bisa menggenggam telapak tangannya sendiri, dan berjalan mengikuti Mira masuk ke dalam.


Mira terlihat berjalan menuju ka arah kamar mandi, dan menutup rapat pintunya. sedangkan Lingga, pria itu memilih untuk merebahkan dirinya kembali di atas sofa.


Tak berselang lama, Mira keluar dari kamar mandi, dan kemudian beralih menuju ke walk in closet. Ia pun lalu mengganti pakaiannya dengan baju tidur yang pernah diberikan oleh Lingga.


Mira tak ingin pria itu justru tergoda, disaat dirinya sangat tidak menginginkan melakukan hal membosankan itu, meski jujur, Mira tak pernah menolak setiap sentuhan yang Lingga berikan padanya.


Wanita itu lalu berjalan ke arah tempat tidur, dan naik ke atasnya. Ia pun menarik selimut dan membaringkan tubuhnya di sana. Ia sama sekali tak mempedulikan Lingga yang semenjak tadi terus mengawasi gerak geriknya.


Dia seolah tak peduli, seberapa khawatirnya Lingga terhadapnya. Di pikirannya saat ini, adalah rasa bersalahnya atas apa yang telah menimpa Thom.


Karena secara tidak langsung, dia lah yang membuat Thomas mengendarai mobil yang mengantarkannya pada ajal.


.


.


.


.

__ADS_1


Next eps besok lagi🤧🤧🤧


Jangan lupa like dan komen yah😊 kembang ma kopi juga boleh banget😁


__ADS_2